Dua Wajah Penari

by - 10/30/2012



Kendang pertama telah dibunyikan. Drupadi menanti tiga puluh detik pertamanya untuk mengira-ngira kapan dia harus mengebyar sampur kuning yang terikat manis di pinggangnya. Tubuhnya laksana pualam berbalur emas. Kulit leher dan dadanya cerah berkilau akibat borehan bedak kunyit. Cemara rambut bergerai indah di bawah sanggulnya yang teronce kembang kamboja. Mahkotanya yang berwarna emas tak ubah sebagai perlambang keanggunan seorang wanita dewata. Belum lagi kilau matanya yang siap menyihir siapapun yang dilihatnya. Tampaknya seseorang bertangan besi pemegang benda ajaib berwarna-warni telah berhasil mengubah Drupadi menjadi seorang Bethari.

Tiga puluh detik telah berlalu, Drupadi menyungging senyum, berjalan pelan-pelan ke tengah arena dengan meliukkan pinggang sintalnya dan mulai menggebyak sampur. Hitungan demi hitungan. Seledet demi seledetan, dengan senyum yang rupanya tetap dia pertahankan di bibirnya.



“Nama saya Anigara," ujar seorang lelaki bermuka tegas pembawa koper dengan wajah hampir kelelahan.

“Boleh saya tau nama belakang Anda, Pak?” sapa tamu hotelnya dengan keramahan khas resepsionis hotel.

“Kamaparasu. Anigara Kamaparasu.”

Nama yang indah, batin Drupadi. Dia pikir, nama yang paling indah adalah namanya sendiri, pemberian dari ayahnya yang sudah bertahun-tahun meninggal. Drupadi Dewimahisa. Ayah Drupadi pernah memberitahunya, bahwa Dewi Drupadi dalam kisah Mahabarata adalah sosok Dewi yang keras hati, lembut dan penepat janji. Untuk itulah Drupadi senang mendapati dirinya memiliki nama yang sama dengan Dewi kisah epik itu.

Namun kali ini, mau tidak mau Drupadi harus terpesona dengan nama baru si pengunjung hotel bintang lima tempat dia bekerja. Lelaki bermata tegas, dan bernama indah. Khayalan aneh mendadak menyeruak dalam hati Drupadi. Tapi dia tetap menuliskan nomor check in tamunya itu.

“Terimakasih, Nona Drupadi," ujar Anigara setelah sepersekian detik memandang nametag Drupadi yang terpasang di dadanya.

Nona? Dia memanggilku “Nona”? Rupanya khayalan yang menyeruak dalam hati Drupadi masih berlanjut.


Dengan senyum yang tetap menawan, Drupadi, si wanita pualam itu melakukan ulap-ulap dengan indahnya. Menurut guru tarinya, ulap-ulap adalah filosofis gerakan mencari seseorang dari jauh dengan penuh pengharapan. Drupadi sangat mengingat kata-kata dari Jeng Niluh tersebut. “Lakukan dengan mimik mata yang harap-harap cemas”. Drupadi tidak mengerti bagaimana pandangan –harap harap cemas- , tapi rupanya dia berhasil melakukannya dengan baik. Disusul gerakan ngliyer mata plus sledetan yang mampu membuat orang terkesima. Semua orang di gedung resepsi itu pasti setuju bahwa tidak ada pelototan mata yang seindah seledet milik Drupadi.


“Jadi bagaimana Nona?" ujar Anigara di sela tiupan angin laut senja.

“Eh, apanya Tuan?” Drupadi menjawab sambil tetap melihat matahari sunset Uluwatu di depannya.

Mereka saling duduk bersandar di tebing, di bawah gazebo peristirahatan di Uluwatu. Di samping mereka duduk terdapat dua pasang sepatu, satu sandal gunung dan satu lagi wedges kayu yang kalau dilihat dari logonya pastilah itu sepatu impor. Kaki telanjang sepasang manusia itu berpeluh pasir. Begitu pula dengan rambut mereka yang berminyak. Angin laut senja itu pun tak mampu lagi mengibarkan rambut indah Drupadi. Dia lebih memilih mengibarkan perasaan hatinya kepada lelaki di sampingnya ketimbang mengibarkan rambut dari samudera di hadapannya.

Anigara tak perlu bertanya lagi apa jawaban Drupadi ketika tangan lembut wanita itu dengan pelan meraih tangannya dan menggenggamnya erat-erat. Di atas tebing itu, mereka terus bergenggaman tangan di suatu senja, dengan angin laut berdesir menguat dan senyuman matahari dari aroma deburan ombak jauh di bawah tebing mereka.


Kanan – tengah – kanan – tengah – gedheg – bawah – sir. Tanpa perlu mengingat-ingat arah, Drupadi sudah hafal kemana bola matanya diarahkan. Bersamaan dengan itu, Drupadi memperagakan gerakan agem kanan yang berkurva. Bagaimana dia bisa bertahan dengan tubuh seperti itu, apa tidak capek daritadi tangannya naik-naik terus? Cantik sekali penari itu, siapa namanya? Perhatian seluruh manusia di ruangan itu tertuju pada wanita berboreh kunyit yang sedang menari, Drupadi.


“Taraaa, lihat aku bawa apa, Nona?”

Drupadi terkejut melihat kekasihnya membawakan sekuntum mawar untuknya. Langsunglah dia balas dengan pelukan dan traktiran sup buah di sebelah Bandara kota itu. Seperti biasanya, mereka berbagi senja kembali. Kali ini bukan samudera di hadapan senja, tapi lalu lalang pesawat dan matahari yang termendung.
Selalu seperti itu, senja menjadi saksi senyuman mereka.


Urusan gerakan menari memang bisa dilakukan semua orang. Tapi untuk meragakan wirasa tarian, Drupadi adalah satu dari sedikit penari yang mampu melakukannya. Kalau orang Bali bilang, itu adalah mataksu. Mataksu adalah deskripsi kewibaan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan gerakan tari, ekspresi, dan penampilan. Konon mataksu adalah anugerah yang dibawa sejak lahir. Barangkali pengamat aura akan menyadari bahwa kewibawaan Drupadi ketika menari bersinar sungguh cerahnya. Secerah kostum emas yang dikenakannya.


Kaki Drupadi terkilir ketika mendapati dirinya terjatuh akibat berlatih Oleg Tambulilingan di sanggarnya. Raka pasangan tarinya membantu membetulkan posisi kakinya.

“Bagimana, Drupadi, sudah enakan?” Raka berkata sembari memijit kaki Drupadi yang terkilir.

“Tidak apa-apa kok, cuma jatuh kecil saja, besok pasti sudah baikan lagi. Terima kasih banyak ya, Raka," Jawab Drupadi serambi membetulkan letak sampurnya.

“Jangan begitu dong, kita masih ada tiga pelanggan lagi yang membutuhkan tarian kita. Kamu harus banyak istirahat supaya bisa cepat latihan lagi. Pekerjaanmu di hotel malam ini absen dulu aja gimana? Kasihan kamu tugas malem, padahal kaki kamu begini."

“Ah, terkilir begini masih biasa kok. Itu Anigara sudah jemput. Bye Raka, sampai ketemu besok ya," Ucap Drupadi sambil memasukkan sampur dan stagennya ke dalam tote ungu miliknya.


Tari Oleg Tambulilingan adalah tari yang penuh ekspresi emosi. Ada gerakan yang dibuat senyum gembira, ada seledetan yang membersamai wajah putus asa, ada pula ulap-ulap yang disertai pandangan kosong penuh harap. Kedinamisan gamelan Bali menambah suasana magis yang ditimbulkannya. Beruntung Drupadi mampu mengakomodir semuanya. Wirasa, Wirama, Wiraga dengan sangat baik. 


“Kita sudah sepakat hal ini, Anigara," Drupadi menangis mengulangi ucapannya yang sudah dikatakan pada Anigara ratusan kali. 

“Bukankah kau bilang… kita akan terus bersama?” lanjutnya tanpa sedikitpun isakannya berkurang.

“Maafkan aku Drupadi. Aku sedang ingin sendiri sekarang," ujar seorang lelaki dari balik telepon.

“Tapi… tapi… apa maksudnya dengan ingin sendiri?! Apakah aku kurang bisa membuatmu bahagia? 
Apa… Kamu sedang di mana sekarang?!” Tiba-tiba isak tangis Drupadi berubah menjadi kemarahan setelah sayup mendengar dentuman musik karaoke dan tawa perempuan dari balik telepon.

“Aku lagi di rumah, dengerin musik. Sudah ya, nanti aku telepon lagi. Bye."

Tut tut tuuut. Bunyi telepon mengakhiri obrolan mereka yang tidak menyenangkan itu.


Penggamel dan pengendang tidak mampu mendiamkan kepalanya sendiri. Mereka ikut terpesona dengan tabuhan kendang yang mereka buat sendiri. Kepala mereka ikut bergoyang-goyang serupa gerakan penari kesayangan mereka. Meski mereka tidak disorot semua mata yang ada di ruangan itu, tanpa kehadiran penggamel, tarian Drupadi pasti terasa hampa. Memang ada kaset pita yang kerap dibuat mengiringi tarian Drupadi dan Raka, tapi bagaimanapun, tidak ada yang mampu mengalahkan irama rindik dari gamelan asli dan penabuh oroginalnya.


“Ada yang butuh tarian Oleg nih, kita menari lagi," kata Rakasiwi Amuspabhumi menyodorkan kertas pada makhluk murung di sampingnya.

“Apapun itu, masukkan saja daftar kita. Aku ingin menari lagi," dengung Drupadi memecah kesunyian irama rindik dari samping pendapa.

“Nah, gitu dong, jangan galau terus. Meski si anu sudah… ”

“Jangan sebut-sebut namanya lagi! Aku sudah muak mendengar namanya!!” kali ini pelototan mata Drupadi bukanlah seledet indah yang sering ditarikan olehnya, tapi bahasa kemarahan.

Butuh waktu tigapuluh menit bagi pria sesabar Rakasiwi untuk membuat Drupadi mau berlatih tari lagi. Pria itu memang tidak setegas dan bermata indah serupa milik Anigara, tapi kesabaran pria itu kiranya mampu juga membuat kelemahan Drupadi memuncak.


Sekuntum bunga kamboja jatuh dari untaian rambut cemara Drupadi. Dia saat ini sedang berposisi duduk dan berdiam. Perlahan-lahan pria Oleg itu memasuki arena tari. Dia memegang kipas. Wajahnya ceria menyungging senyum yang tak pudar. Raka dan Drupadi sekarang satu panggung. Drupadi dengan sampurnya, Raka dengan kipasnya. Lengkap sudah suasana panggung itu. Beberapa penonton berdecak kecewa karena penari pualam kesayangan mereka kini sudah dipemiliki orang lain. Sesekali mereka bertemu, berpisah lagi, bertemu, berpisah lagi. Memang begitu gerakannya. 

“Aku pasti akan mencomot kamboja yang jatuh itu," kata seorang anak kecil pada temannya yang juga berpendapat sama.


“Gimana, Drupadi, sudah siapkah?” kata Raka yang sudah berbusana kuning-pink lengkap dari luar bilik rias. Dua kuntum bunga kamboja menghiasi cuping telinganya.

Drupadi terdiam sebentar sebelum berkata “Iya, sebentar lagi, ini riasku belum selesai."

“Kamu baik-baik sajakan?”

Drupadi sudah berbusana cantik. Lengkap dengan sampur dan busana kuningnya. Rupanya manusia bertangan besi pemegang benda ajaib warna-warni yang mengubah Drupadi menjadi seorang Bethari adalah Drupadi sendiri! Tapi tiba-tiba ulir air matanya jatuh. Sialan, pikirnya. Mau tidak mau dia harus membenarkan posisi bedaknya. Entah mata panda yang ke berapa yang dia hapus. Mungkin sudah sekilo kapas dia keluarkan.

Dia berada di depan kaca, menatap cermin yang memantulkan wajah cantiknya. Tubuhnya rupa pualam, pakaiannya macam seroja emas. Di depannya terdapat macam-macam palet warna-warni, pensil yang susah dieja namanya, bedak berpola emas dan sebuah souvenir kipas yang sudah disiapkan panitia untuknya. Di tepi kipas itu tertulis.

Kami yang berbahagia, Srikunthi Dindabestari & Anigara Kamaparasu.


Di sebuah panggung di depan sejoli yang tengah bersanding di pelaminan, Drupadi tetap menari, dengan senyuman yang tetap tersungging di sudut bibir merahnya.


Keterangan :
Seledet : gerakan melirik sambil melototkan mata khas tarian Bali
Rindik : gamelan Bali yang terbuat dari bambu
Agem : posisi merendahkan lutut, mayuk, dan mengangkat lengan pada tari Bali.
Cemara Rambut : rambut sambungan yang dipakai untuk menggelung rambut.
Mataksu : keanggunan dan kewibawaan.

You May Also Like

0 komentar