Satu Kata yang Dapat Terucap

by - 10/31/2012


"Selamat pagi, Bernard!" kata Melinda sembari membelai rambut Bernard dengan lembut yang sedari tadi sudah menunggunya di depan pintu kamar yang dicat dengan warna pink. Bernard mengikuti Melinda ke dapur dengan langkah kecilnya.

"Yuk, sini makan bareng!" kata Melinda setelah selesai menyiapkan makanan untuk Bernard.

"Tahu saja kalau aku lagi pengen  makan daging ayam," batin Bernard. Bernard memakan nasi ayam yang telah dibuatkan Melinda dengan lahap sembari sesekali memperhatikan Melinda yang sedang menyeruput teh hangatnya.

***

Lima tahun yang lalu, malam hari di saat Melinda sedang berjalan ke warung bakmi di ujung gang rumahnya untuk membeli mi rebus kesukaannya, Ia menemukan Bernard sedang ketakutan dan menggigil kedinginan diterpa hujan. Bernard meringkuk di pinggir pagar sebuah rumah. Tubuh Bernard kotor terkena air hujan yang bercampur tanah. Kakinya terlihat sedikit berdarah.

"Ya, ampun. Siapa yang tega membuangmu di sini? Sini, jangan takut," kata Melinda yang lalu melepaskan jaketnya untuk menyelimuti Bernard agar tidak kedinganan dan menggendong Bernard. Melinda membawa Bernard pulang ke rumahnya dan melupakan rasa laparnya.

Sesampainya di rumah, Melinda membersihkan badan Bernard dan mengobati kakinya yang berdarah. Melinda membuat segelas air gula jawa untuk memulihkan tenaga Bernard, lalu menyuapinya perlahan.

"Nama kamu siapa?" tanya Melinda. Bernard terdiam.

"Bernard aja, ya! Kayaknya keren," lanjut Melinda sembari tersenyum.
***

"Wah, sekarang kamu makannya banyak ya! Piringnya sampai bersih gitu," kata Melinda yang melihat Bernard telah menyelesaikan sarapannya.

"Nanti jalan-jalan ke taman yuk! Kita main bola bareng," lanjut Melinda.

Bernard menunjukkan ekspresi gembira ketika mendengar ajakan Melinda. Bernard sangat senang bermain bola. Dia tak pernah merasa bosan bermain bola dan paling ahli menyundul bola. Bola adalah hal yang dapat membuang Bernard gembira.

Sejak kejadian enam tahun yang lalu, Bernard berjanji pada dirinya untuk selalu setia menemani perempuan cantik, bermata indah, dan berhati baik itu sampai kapanpun. Dia berjanji akan selalu melindungi Melinda. Walaupun sepertinya tak banyak yang bisa dilakukan oleh Bernard. Baginya, Melinda adalah malaikat.

Malam harinya, hujan turun dengan lebatnya, kilat menyambar-nyambar. Bernard terlihat meringkuk ketakutan di sudut ruangan tempat Melinda biasa menonton televisi.

"Bernard takut, ya? Ya udah sini, tidur sama aku aja," kata Melinda sembari membelai rambut Bernard. Tampaknya Bernard masih trauma dengan kejadian lima tahun yang lalu.

"Bagaimana aku bisa melindungi Melinda kalau hujan saja aku takut?! Hhhhhh.. aku nggak boleh takut!" Bernard mencoba menyugesti diri sendiri.

***

Seminggu belakangan, Bernard merasa Melinda mulai berubah. Waktu yang dimiliki Melinda tak lagi sepenuhnya dicurahkan untuknya. Bahkan ketika Bernard mengajaknya bermain bola, Melinda menolaknya dan pergi begitu saja.

Pada suatu hari, Bernard melihat Melinda turun dari mobil Avanza berwarna hitam bersama dengan laki-laki dengan tinggi sekitar 170 cm. Laki-laki itu terlihat membukakan pintu mobil untuk Melinda dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.

"Bernard, ini Aldo, masih ingat kan?" Melinda memperkenalkan laki-laki bernama Aldo tersebut kepada Bernard.

"Hai, Bernard! Wah, kamu sudah besar ya!" sapa Aldo.

"Ih, kamu siapa?! Sok kenal!" batin Bernard yang lalu masuk ke dalam rumah.

"Hahahaha, mungkin Bernard lupa sama kamu! Terakhir kamu ke sini kan Bernard umur dua tahun. Ya, sudah empat tahunan dia nggak ketemu kamu," kata Melinda.

Keesokan harinya, "Kamu main bola sendiri ya, Bernard. Aku hari ini ada janji dengan Aldo," Melinda membelai rambut Bernard.

"Ah, lagi-lagi Aldo! Aku jadi dicuekin! Memangnya apa sih hubungan mereka berdua?!" batin Bernard.

***

"Bernard, ayo main bola di taman! Maaf ya dari kemarin aku pergi terus," kata Melinda lembut. Sebuah mobil Avanza hitam terlihat memasuki halaman rumah Melinda. "Tapi kita perginya sama Aldo ya! Dia bawa teman yang seumuran kamu. Pasti kamu seneng deh!" kata Melinda.

"Loh, Pretty mana?" tanya Melinda bingung melihat Aldo hanya datang sendirian.

"Pretty lagi sakit. Tadi dibawa Ibuku ke klinik," kata Aldo dengan nada menyesal.

"Pergi! Pergiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!" teriak Bernard.

"Bernard! Kamu kenapa sih?!" tanya Melinda.

"Pergi dari sini!! Pergi!" teriakan Bernard semakin menjadi.

"Bernard! Diam! Masuk rumah sekarang juga!" bentak Melinda. Bernard kaget, selama lima tahun bersama Melinda, baru sekali ini Melinda membentaknya. Bernard ketakutan dan berlari ke dalam rumah.

"Seharusnya kamu tidak perlu membentaknya begitu. Mungkin dia hanya tidak suka padaku," kata Aldo sembari mengelus bahu Melinda.

"Biar saja. Maaf ya, nggak biasanya Bernard bertingkah seperti itu," kata Melinda.

"Ya, sudah. Kita jadi ke taman?" tanya Aldo.

"Kalau nggak gimana?" tanya Melinda.

"Hehehehe, bad mood ya?" tanya Aldo. Melinda hanya mengangguk.

Melihat Melinda masuk ke dalam rumah, Bernard memandang Melinda dengan wajah penuh sesal, namun Melinda hanya melewatinya begitu saja.

***

Sedari pagi, Melinda sudah meninggalkan rumah, tampaknya Melinda masih marah dengan Bernard. Pagi ini pun Melinda sarapan sendirian di kamarnya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan.

Pukul 21.30, Bernard mengintip di balik jendela memastikan apabila Melinda pulang. Sudah dari pagi Melinda pergi, namun sampai saat ini dia belum juga pulang. Bernard menanti dengan cemas. Berulang kali Dia mengintip keluar melalui jendela dan memasang telinganya baik-baik.

Sudah dua hari Melinda tidak pulang. Baru kali ini, Melinda pergi lebih dari satu hari namun tidak pamit, bahkan Melinda tidak meninggalkan makanan untuk Bernard.

"Apakah Melinda benar-benar marah dengan sikapku kepada Aldo tiga hari yang lalu sehingga dia meninggalkanku begitu saja? Tapi aku kan hanya ingin melindunginya! Mmmmm.. OK. Aku iri pada Aldo. Aku iri karena melihat mereka mengobrol seakan-akan mereka benar-benar mengerti satu sama lain, sedangkan aku, aku bahkan kadang aku tidak mengerti apa yang dibicarakan Melinda apabila Melinda sedang mengajakku mengobrol. Dan aku iri karena waktu yang dulunya untukku, sekarang dibagi dengan Aldo."

Bernard duduk di dekat pintu depan dengan harapan ketika Melinda pulang, dia dapat segera menyambutnya dan meminta maaf atas kejadian tiga hari yang lalu.

Tiba-tiba saja terlihat mobil Aldo memasuki halaman rumah Melinda. "Hah, mau apa laki-laki itu datang ke sini?!" batin Bernard. Aldo turun dari mobil dan membuka pintu rumah Melinda. "Loh, kok Aldo punya kunci rumah?!" Bernard mulai bertanya-tanya.

"Hai, Bernard," sapa Aldo ramah. Bernard mundur pelan-pelan menjauhi Aldo.

Aldo membungkuk lalu berjongkok, "Ayo, sini nggak apa-apa. Kamu pasti khawatir sama Melinda ya?"

Bernard tak bergeming.

"Melinda nggak pulang karena dia kecelakaan dan baru tadi pagi siuman. Melinda sudah nggak marah kok sama kamu. Bahkan begitu bangun, dia langsung nanyain kamu loh! Ayo, sini. Jangan marah lagi sama aku dong," kata Aldo berharap Bernard mau mendekatinya.

Bernard tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan Aldo. Tapi, dari nada bicaranya, sepertinya Aldo berniat baik. Perlahan-lahan Bernard mendekati Aldo dan berlari kecil sembari mengibaskan ekornya. "Nah, gitu dong! Sudah nggak marah nih ceritanya? Hehehe, good boy!" kata Aldo sembari mengelus rambut Bernard.

"Pasti kamu belum makan ya?! Kasihan kamu. Yuk, ke dapur! Kata Melinda sih di kulkas masih ada daging ayam." Bernard segera menuju ke dapur untuk membuat makanan untuk Bernard. Bernard mengikuti Aldo, terdengar bunyi bergerincing dari lonceng kecil yang tergantung pada kalung Bernard.

"Wah, laper bener ya?!" kata Aldo melihat Bernard yang makan nasi yang dicampur dengan daging ayam rebus dengan lahap.

"Beberapa hari lagi Melinda pulang kok! Jadi, untuk sementara, aku bakal sering ke sini ya!" kata Aldo.

"Besok aku juga bakal ngenalin Pretty, anjing aku, ke kamu. Dia cantik loh!" lanjut Aldo.

"Guk!" satu kata yang keluar dari mulut Bernard, yang artinya, "OK, Bos!"

Monica Agustami Kristy

You May Also Like

0 komentar