Senyum Nurani

by - 11/05/2012


Sudah lama aku berdiri di sini, di bawah pohon mangga ini, di halaman samping rumah mungil yang menua. Mataku tajam menatap jendela kecil yang langsung mengarah ke sebuah kamar. Pikiranku terpatri tak bisa teralihkan, sekeras apapun aku mencoba memikirkan hal lainnya. 

Yang kurasakan hanyalah amarah dan kesedihan. Yang kurasakan hanyalah ketersiksaan. Berkali-kali hati nuraniku mengingatkan untuk melupakan segala dendam, untuk berserah saja kepada yang Maha Mengerti. Tapi mana bisa? Siapakah yang bisa memaafkan setelah disakiti sedemikian dalam? Siapakah yang bisa berserah dan membiarkan dia yang menyakiti kita berbahagia?

Mengapa aku bisa berada disini, akan kukisahkan.

Akan kukisahkan, dari awal mula, hingga aku berada disini.


***

Kisah ini berawal dari sebuah desa di pinggiran kota Solo. Di desa inilah aku dilahirkan. Bapakku seorang petani, dan simbokku seorang ibu rumah tangga. Janganlah membayangkan Bapak mempunyai sawah berhektar-hektar. Bapak tidak punya sawah. Bapak hanya diupah untuk menggarap sawah milih Pak Kerto, Juragan lemah di desa kami.

Kata orang, kami ini miskin. Tapi kami sesungguhnya berkecukupan. Keluarga kami cukup makan dan berkelimpahan kasih sayang. Aku juga bisa sekolah sampai tamat SMP, meski tidak bisa membeli sepatu dan seragam baru seperti teman-teman yang lain. Tapi aku berkecukupan. Aku bahagia dan disayang.

Banyak orang bilang wajahku sangat cantik. Badanku juga sangat indah. Maklum, Simbok juga sangat cantik kala muda. Kabarnya sebelum bertemu dengan Bapak, Simbok sudah dipinang oleh banyak orang. Beberapa orang kaya. Bahkan ada satu orang kota yang katanya pejabat, meminang Simbok untuk dijadikan istri keduanya. Tapi Simbok menolak semuanya. “Simbok hanya mau laki-laki penyayang, harta bukan ukuran,” katanya. Dan akhirnya Simbok bertemu Bapak.

Duh, Simbokku. Akupun ingin sepertimu. Membangun keluarga bersama laki-laki penyayang pilihanku. 

Usiaku 18 tahun saat itu. Kecantikanku semakin nyata terlihat, semakin mirip dengan Simbok sewaktu muda. Para pemuda dan duda desa ini dan desa tetangga meminangku. Tua ataupun muda, miskin ataupun kaya, semua terpukau pada kecantikanku. Tapi aku tidak mau. Sama seperti Simbok, aku pun ingin menunggu laki-laki penyayangku. 

Sampai pada suatu waktu, bertemulah aku dengan mas Arda. Pertemuan pertama kami adalah di pematang sawah, ketika aku menghantarkan rantang nasi putih dan sayur lodeh masakan Simbok untuk Bapak. Mas Arda yang tampan dan dengan gayanya yang sangat modern khas orang kota. Mas Arda yang mahasiswa, yang sedang KKN di desa kami.

Awalnya aku biasa saja, karena aku tahu mahasiswa kota tak kan mungkin melirik perempuan udik yang hanya tamat SMP sepertiku. Di sini aku cantik. Tapi di kota pasti banyak sekali perempuan yang lebih cantik. Sampai saat kami bertemu pandang, mas Arda tersenyum.

Aku tersipu. Menunduk dan cepat-cepat pergi dari situ.

image source: http://img13.deviantart.net/

Sorenya mas Arda datang bertamu ke rumahku. Keluargaku menyambut ramah, menyuguhkan pisang goreng dan ubi madu. Mas Arda yang orang kota ternyata sangat menyukai ubi madu, “enak sekali. Di kota jarang ada."

Mas Arda berkata kepada Bapak dan Simbok, bahwa dia ingin berdekatan denganku. Tingkahnya sopan, tutur katanya halus, wajahnya tampan. Simbok senang. Bapak mengizinkan.

“Nak Arda boleh berteman dengan Nurani,” kata Bapakku.

***

Mulai sejak itu, aku dan mas Arda sering keluar bersama. Atas seizin Bapak tentunya. Mas Arda suka memotret dengan kamera besar yang dibawanya kemana-mana. Sering aku difotonya diam-diam. Favoritku adalah foto ketika aku berdiri di tengah lapangan yang menghijau dengan rok panjangku yang berkibar-kibar. Mas Arda memberikan cetaknya kepadaku. Sering kupandangi diam-diam.

Mas Arda bilang aku cantik sekali. “Ah, mas Arda gombal. Di kota pasti banyak yang lebih cantik,” kataku. “Nggak ada yang secantik kamu, Nurani.” Dan oleh ucapannya itu aku terbuai. Bibirku diciumnya. Dadaku berdebar-debar. Dan seperti ada ribuan kupu-kupu di dalam perutku.

Aku menunduk malu. Mas Arda meraih tanganku. Kami sama-sama tersipu.

***

Semakin hari, kami semakin dekat. Sering aku diam-diam menyelinap keluar rumah kala malam tiba, hanya untuk ke tepi sungai bersama mas Arda. Di bebatuan yang besar-besar kami duduk diam memandangi berjuta bintang-bintang di langit malam. Seringkali kepalaku menyender ke bahunya. Dan sesering itu pula mas Arda mengelus rambutku, mencium bibir dan juga leherku.

Pernah di suatu malam aku bertanya, “kenapa aku ndak pernah dikenalin sama teman-teman mas Arda yang lain?”. Dan mas Arda menjawab, “Aku nggak ingin berbagi kamu, Nurani.” Aku tersenyum dalam dekapannya. Aku tak peduli walau dunia tak tahu. Yang penting aku tahu bahwa mas Arda mencintaiku.

Sampai tiba saatnya mas Arda harus pulang. Masa KKN tiga bulan usai sudah. Malam itu aku menangis dalam dekapannya. Kami berciuman dan saling mengelus sampai pagi. “Aku nggak akan pernah melupakan kamu, Nurani,” janjinya kepadaku. Yang kuamini dengan tulus dan lugu.

Paginya mas Arda berpamitan kepada Bapak dan Simbok. Aku masih menangis di bilik kamarku. Ketika mas Arda sudah berjalan keluar rumahku, aku pun menyelinap keluar, menghambur ke pelukannya. Masih menangis. Mas Arda mendekapku.

Lalu Mas Arda Berlalu.

***

Malam demi malam berlalu. Aku menunggu dengan sabar kabar dari mas Arda, yang tak kunjung datang. Hari demi hari berlalu, perutku semakin membuncit.

“Nur si kembang desa anakke pak Jarwo itu ternyata lonthe!” Begitu sering dibisikan dari mulut ke mulut. “Meteng ra ono lanangane, wedokan ra nduwe isin. Mesakake Bapak Simboke.”

Simbok menangisiku siang malam. Bapak hanya sesekali memandangku dengan sorot mata tua yang kecewa. Tapi mereka tetap mengelus rambutku, tetap menyuruhku makan, memijit kakiku kalau aku lelah dan mual. Walau tetangga-tetangga mulai menjauhi kami, aku tahu Bapak dan Simbok sangat menyayangiku.

Aku sedih sekali. Tidak rela rasanya Bapak dan Simbok ikut dicaci. Akupun berbicara kepada Bapak, “Pak, aku mau ke kota.”

Ndak usah, nduk. Kalau dia tresno kowe, dia yang akan datang kesini.”

Kowe nang kene wae, ngancani Bapak Simbokmu. Manuto, Nduk,” timpal Simbok.

Begitu terus. Sampai suatu ketika aku sudah muak terhadap cacian tetangga terhadap Bapak dan Simbok. Aku mengendap pergi. Membawa sebuntelan kain berisi uang sekedarnya, sisir, pupur, baju-bajuku, dan selembar foto diriku di tengah lapangan dengan rok panjang berkibar yang diambil oleh mas Arda dikala dulu. Aku berjalan sangat jauh dan kemudian naik bus, menuju kota tempat mas Arda tinggal. 

***

Perempuan desa yang sedang hamil dan kebingungan, begitu mungkin orang kota melihatku. Aku mencari kesana-kemari. Aku tidak mau pulang sebelum bertemu dengan mas Arda. Aku tidak mau melihat Bapak dan Simbokku bersedih lagi. Aku tidak punya alamat tujuan. Lamat-lamat yang kuingat hanya nama kampus mas Arda.

Bertanyalah aku kesana-kemari. 

Dan sampailah aku di kampus mas Arda. Nasib mempertemukan kami di gerbang kampusnya. Mas Arda dengan motor lanang-nya, memboncengkan seorang perempuan kota yang cantik dan bercelana panjang sangat ketat. Perempuan kota itu melingkarkan tangan ramping berjam tangan besarnya ke perut mas Ardaku. Sekali lagi, untuk pertama kali setelah sekian lama, kami bertemu pandang. Tapi tak ada senyuman di bibir kekasihku itu.

Aku berteriak, “Mas Ardaaa!!!!!”

Perempuan yang membonceng mas Arda menoleh. Dan motorpun berhenti. Perempuan itu turun, dan menghampiri aku, disusul mas Arda dengan motor lanang-nya.

“Siapa kamu?” Tanya perempuan itu.

Tolong katakan, mampukah seorang perempuan menjawab pertanyaan semacam itu? Aku hanya menangis sambil memegangi perutku. Mas Arda terdiam, sambil memandangi arah lain. 

“Siapa dia, Yang? Saudara kamu?” Perempuan itu semakin gusar.

Mas Arda mengambil dompetnya, kemudian menjejalkan berlembar-lembar uang ketanganku. “Pulanglah,” katanya. Lalu mas Arda berlalu bersama perempuan kota yang gusar itu.

Hancur sudah impianku untuk membangun keluarga bersama laki-laki penyayang pilihanku, seperti simbokku dulu. Hancur sudah harapanku untuk mengembalikan harga diri keluargaku. Aku berjalan tak tentu arah di kota yang ramai dan asing ini. 

Apa yang harus kulakukan?

***

Malam semakin larut di kota asing ini. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.

Terdengar siulan beberapa orang laki-laki. Aku menoleh. Mereka tersenyum. Bukan senyum seperti senyum Bapak menerima rantangku. Bukan senyum seperti senyum Simbok menyambut Bapak pulang. Bukan itu. Senyum ini mengerikan. Lebih baik mereka tidak tersenyum. Lebih baik mas Arda tidak tersenyum dikala dulu...

Aku berjongkok dan memejamkan mata menanti kedatangan mereka yang tinggal sejengkalan. “Tolong, bila memang ini harus terjadi, matikan rasa di setiap sendi tubuh dan hatiku.”

Aku hanya ingin bertemu dengan mas Arda. Bila ini bayarannya, pertemukan aku dengan mas Arda setelah ini.
 
***

Entah berapa jam, hari, atau tahun berselang kemudian. Aku membuka mataku. Terbangun di halaman rumah kecil, dengan pohon mangga disamping. Aku berkeliling. Kuputuskan untuk mengetuk pintu rumah. Pintu dibuka, oleh seorang laki-laki tua yang mirip mas Arda. Ah..inilah Bapak orang yang kucintai. Ternyata ini rumah mas Arda. Terima kasih telah membawa aku kesini.

Lelaki tua itu menutup lagi pintu rumahnya. Aku mengetuk lagi. Kujatuhkan foto diriku. Lelaki tua itu membukanya lagi. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Memungut fotoku. Kemudian menutup pintu lagi.

Aku berkeliling rumah. Jendela di samping pohon mangga itu terbuka. Aku berlari kecil mendekatinya. Ada Mas Arda di dalam kamar sedang berbincang dengan Bapaknya. “Aku menemukan foto ini di depan rumah. Foto yang bagus, perempuan yang sangat cantik,” kata Bapaknya. Mas Arda hanya tertegun melihat foto itu.

Kuketuk pelan jendela kacanya, mas Arda menoleh, aku tersenyum. Mas Arda menunjukku dengan mata melotot, kemudian pingsan.

Badan mas Arda panas sekali. Gemetaran. Bapak dan Ibunya bergantian menjaganya. Aku pun ikut menjaganya. Setiap dia membuka mata, kudekati wajahnya dan tersenyum di depan mukanya. Dan dia akan berteriak-teriak lagi. Aku sungguh tak mengerti. Tapi yang aku senang, dia meneriakkan namaku, “maafkan aku, Nurani. Maafkan aku, Nurani!!”

Begitu terus selama berbulan-bulan. Sampai kemudian mas Arda mencakar matanya sendiri, dan keluarganya membawanya ke rumah sakit jiwa. Kala itu sekilas kupandang wajahku dari spion ambulance yang membawa mas Arda. Wajahku begitu mengerikan. Sangat pucat tanpa darah, tanpa daging, penuh memar dan air mata. Senyumku pun seperti seringai tak wajar. Sungguh amarah dan dendam telah menggerogoti wujud cantikku.

Entah bagaimana semua orang tak bisa melihatku. Hanya mas Arda seorang yang bisa melihatku.  Karena hanya mas Arda-lah satu-satunya cintaku. Di hidup dan matiku.

***

Demikianlah ceritanya, mengapa setelah 30 tahun berselang, aku masih saja bertahan di bawah pohon mangga ini, di halaman rumah yang semakin menua. 

Tapi aku begitu kesepian. Tanpa teman di dunia ini. Dunia yang rasanya begitu asing dan hampa. Seakan bukan disinilah tempatku. Tapi mau pergipun aku tak bisa, karena rasa marah masih pekat di dadaku. Untuk mengusir sepi di malam yang gelap, sesekali aku menyenandungkan lagu yang membuat orang-orang baru tak ada yang mau menempati rumah ini:


Ayo mati kekasihku
Lekaslah mati, bunuh diri.
Agar kita jumpa lagi..

You May Also Like

15 komentar

  1. untung bacanya siang hari T_____T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siang ataupun malam, Nurani tetap ada di sisi...

      Hapus
  2. whaa medeni mba.. untung bukan film, jempol dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya kalau dibikin film malah ndak medeni :D

      Hapus
  3. Bagus banget, Mbak. Aku suka gaya tulisannya :D

    BalasHapus
  4. kesian nurani.. aku pun sedih baca nya..

    BalasHapus
  5. mba aku masih bingung deh, jadi sebenernya nurani matinya kenapa mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar nanti malam dijawab sendiri ya sama Nurani.
      Pastikan jam 2 pagi ini kamu sudah tidur :)

      Hapus
  6. Merinding... Tapi kasihan Nurani... Semoga tidak ada lagi Nurani-Nurani lain yaa 😰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga nggak ada gondes2lucknut lagi di dunia ini :(

      Hapus
  7. Mbak Aruuuumm,,,, seyeeemmmm ceritanya >.<
    habis baca ceritanya Lastri Bangkit Kak Momon, nemu link Nurani,
    habis zonk jadi ziiiing serem
    Mantaaap lah !
    kasian Nurani :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu cerdas! Baca Besok Siang memang harus secara keseluruhan :))

      Hapus
  8. romance horor
    keren mb awaly terenyuh sedih dg nurani kebawah merinding gak sabar nunggu nurani kedua mb ��

    BalasHapus