Sasmita dan Bidadari

by - 11/17/2012

Di sebuah waktu di abad dua puluh dua di mana tahun kejadian tidak disebutkan, lantai Khayangan tingkat 7 sedang heboh-hebohnya. Karena apalagi kalau bukan gara-gara salah satu wanita Bumi yang namanya Sasmita hendak mengadakan pesta Midodareni di rumahnya. Sasmita akan menikah. 

Diceritakan, Sasmita adalah satu dari sekian milyar penduduk bumi yang masih mau melakukan prosesi Midodareni sebelum akad nikah. Di mana-mana, orang kalau mau nikah maunya yang simpel-simpel tapi pestanya cetar membahana sampai menyewa gedung pencakar tanah dengan pemandangan aurora buatan. Tapi tidak dengan Sasmita. Wanita berdarah 30% Indonesia, 20% Cina, 20% Arab, 20% Bule dan 10% sisanya campuran ras lain itu memilih untuk mengadakan prosesi adat Jawa. Katanya, cuma prosesi Jawa yang membolehkan Bidadari turun ke bumi. Sasmita adalah penggemar cerita fantasi Bidadari sejak kecil.
 
Perkara menurunkan Bidadari untuk ritual Midodareni bukanlah hal susah untuk warga Khayangan tempat Dewa-Dewi, Ibu Peri, Bundadari, dan Bidadari berada. Mereka punya stok Bidadari banyak. Bahkan kalau seluruh wanita Bumi menikah sepuluh kali pun cadangan Bidadari di Khayangan tidak akan pernah habis. Apalagi konon, ketika seorang Bidadari didaulat untuk menemani proses ritual Midodareni, kecantikannya akan bertambah sepuluh kali lipat. Dan pula, Bidadari itu berhak untuk memilih Bidadara manapun yang dia mau untuk dijadikan kekasih. Untuk itu, proses Midodareni selalu menjadi momen penting untuk bahan perbincangan dan incaran profesi para Bidadari di Khayangan.

Jaman dahulu, hampir semua wanita yang hendak menikah melakukan prosesi Midodareni. Tapi tahun demi tahun, dasawarsa demi dasawarsa, abad demi abad, makin sedikit wanita yang mau melakukan prosesi itu. Boro-boro Midodareni, mendapatkan lelaki serius yang mau dinikahi saja susahnya minta ampyun. Kalaupun sudah dapat jodoh, bisa juga si pasangan itu tidak mau prosesi yang repot-repot. Kalau bisa malah setengah jam saja ijab Kabul menghadap pemuka agama, sumpah setia, kemudian kabur ke resepsi yang megah membahana. Urusan rumah tangga bahagia atau cerai, pikirin nanti. Toh sudah ada di kitab perjanjian pranikah. Pokoknya party dulu yang megah.


Jaman dulu pulalah Bidadari-Bidadari Khayangan selalu muda dan cantik-cantik. Mereka tidak pernah membutuhkan krim anti aging untuk menunda keriputnya. Bahkan, berslendang beterbangan sambil berdecak gurau di bawah matahari tanpa memakai sunblock mereka tidak takut kulit menjadi sunburn. Mau dijemur berjam-jam, kulit Bidadari-Bidadari itu tetap berkilau kuning keperakan. Wajah mereka juga tetap bersih dan mulus dari bermacam jerawat dan noda hitam. 

Kalau ada wanita Bumi yang hendak Midodareni, mereka lebih mendahulukan Bidadari yang matanya sudah berkeruh untuk turun ke Bumi. Mereka tidak pernah berselisih, mereka tetap adil, cantik satu cantik semua. Dunia Khayangan aman tenteram dan damai.

Keadaan berubah semenjak abad 21, di mana energi kecantikan para Bidadari itu perlahan memudar. Habis gimana, makin ke sini makin sedikit wanita yang Midodareni. Saat ini, sudah sedikit sekali terlihat Bidadari sedang bersayap selendang warna-warni beterbangan di sela-sela awan. Mereka pada takut dengan matahari. Kulit Bidadari-Bidadari itu juga mulai kusam kehilangan kesegaran mudanya. 

Krim anti aging dan sunblock laku keras di kalangan Bidadari. Dari mana lagi mereka peroleh kalau bukan dari Bumi. Kadang satu orang Bidadari yang kalah arisan turun ke Bumi memborong berbagai macam krim-krim kecantikan di salon-salon aesthetic yang menjamur di Bumi. Sekali borong, mereka dapat membawa satu lusin dus berisi krim malam yang katanya mengandung Treti apaitu untuk menghilangkan keriput di wajah-wajah Bidadari penduduk Khayangan. Sekali dua mereka juga sering menjumpai MUA yang berbelanja kosmetik untuk mantenan.

“Mbak BA, saya mau eyelinernya.kata seorang Ibu-Ibu MUA.

“Baik Bu, mau merk apa, untuk merias siapa?” Tanya BA yang ramah.

“Oh, itu, untuk merias Roro, putrinya Bapak Edward. Katanya mau menikah minggu depan.”

“Tidak sekalian pidihnya, Bu?” Tanya si BA sambil menunjuk sekumpulan krim-krim berwarna hijau dan hitam di rak paling bawah. Kalau dilihat sekilas, sepertinya krim-krim itu sudah hampir lapuk.

“Ah, tidak. Jeng Roro tidak kepingin rias yang macem-macem.”

Seorang Bidadari bernama Supraba yang hari itu kebagian membeli dus krim malam tidak sengaja mencuri dengar. “Tidak memakai pidih? Berati tidak memakai Paes? Berati tidak Midodareni? Sial, satu peluang awet muda berkurang satu,” kata Supraba dalam hati.

Hari itu, Supraba pulang ke Khayangan membawa tiga dus krim malam yang mengandung Treti apaitu dan lima dus sunblock. Jangan Tanya bagaimana Supraba menggotongnya ke Khayangan. Meski saat itu sudah abad 22, para Bidadari tetap mempunyai kemampuan untuk terbang dan membawa apapun dengan mudah.

“Huh, kenapa tidak ada toko online krim malam yang memberikan fasilitas antar ke Khayangan via JNE ya?” Keluh salah satu Bidadari yang bernama Huurin Lin pada suatu hari.

“Ya ndak bisa begitu, nanti identitas kita sebagai Bidadari ketahuan. Lagian mana ada pesawat bisa mencapai Khayangan tingkat tujuh," ujar Menaka, temannya.

“Siapa yang bakal menebak kita ini Bidadari, Wong kulitnya sudah mulai penuaan dini begini,” ujar Pohaci menimpali.

“Sudah, sudah, selama ada salah satu dari kita yang mau turun ke Bumi membeli krim-krim ini, kita tidak perlu repot-repot mengeluh. Teknologi manusia Bumi itu sudah modern. Katanya mereka sudah bisa membuat krim ini membikin kulit jadi tambah cerah, tidak keriput,” kata Shakuntala, seorang Bidadari yang sudah dianggap paling senior.

Begitulah kegiatan percakapan mereka di mayoritas waktu senggang. Percakapan semacam itu sudah sangat seringnya hingga pada suatu hari datanglah gosip si Sasmita itu. Mereka saling melempar keinginan untuk mewakili bidadari yang ingin menunda ketuaannya. Siapa sih, yang tidak mau muda kembali? Siapa yang tidak mau keriputnya hilang ditelan bumi? Di mana-mana, Bidadari membicangkan Sasmita itu, bagaimana rupanya, siapa MUAnya, dan lain sebagainya. Negeri Khayangan seperti mendapat durian runtuh, akhirnya ada juga wanita Bumi yang hendak Midodareni.

Bidadari-Bidadari itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka saling bersaing dan berlomba agar menjadi Bidadari yang terpilih untuk menemani Sasmita di malam keramat itu.

Hingga tiba saatnya tiga hari menjelang malam Midodareni, Sasmita mengalami kejang-kejang sakit. Calon suami dan seluruh anggota keluarganya panik bukan buatan. Kepanikan itu pun merajah hingga ranah Khayangan. Bidadari-Bidadari ikut panik. Dewa-Dewi juga tidak tahu apa sebabnya. 

Karena Sasmita tidak kunjung sadar selama dua kali dua puluh empat jam, Bidadari-Bidadari itu mengadakan rapat paripurna di gedung MPB, Majelis Permusyawaratan Bidadari. Pokoknya bagaimanapun caranya, Sasmita tetap harus melakukan prosesi Midodareni. Dapat dibayangkan, suasana ruangan rapat MPB itu tidak bakal ditemui pejabat korup yang sedang ngorok, tapi bertebaranlah di sana Bidadari-Bidadari dengan mahkota berkilauan dan selendang berwarna-warni pelangi. Ada yang berrambut pirang, hitam, burgundy, cokelat, dan ashy. Beberapa di antaranya melakukan bleaching di salon Dewi Aphrodite. Tapi tetap saja, kulit mereka lebih keriput dibanding beberapa dasawarsa lalu.

“Jadi bagaimana misi kita?” Kata Nawangwulan membuka pendapat.

“Kita bagi tugas saja” Usul Kaguya, Bidadari dengan kulit cerah seperti Bulan. Sama cerahnya dengan Nawangwulan. Hanya lebih sipit sedikit matanya.

“Jadi begini, Kamu, Maharsi, tugasmu melobi Dewa Shiva untuk menunda kematian Sasmita. Kamu, Uma, tugasmu memohon pada Dewi Kwan Im agar mau meminjami daun ajaib untuk menyembuhkan Sasmita. Tillotama, siapkan sepasukan kuda dan keretanya untuk membawa kita semua ke Bumi –jangan protes kenapa kita semua harus turun ke Bumi-. Urwasi, kamu belajarlah pada Dewi Aphrodite cara-cara merias pengantin. Kamu, Ulupi, siapkan gending gamelan terbaik.  Supraba, kerahkan seluruh anak buah kamu untuk menari di pesta Sasmita. Lainnya termasuk saya, siapkan diri menjadi pager ayu." kata Shakuntala panjang lebar membagi-bagi tugas.

“Semuanya jelas?” Tambah Shakuntala.

“Jelas, Bundadari.

“Baik. Tunggu apa lagi? Segera laksanakan.

“Siap, Bundadari!” Ujar Bidadari-Bidadari itu serempak.

Dan akhirnya, karena kekompakan mereka itulah, Sasmita berhasil menjadi seorang wanita yang siap menjalani prosesi Midodareni. Semuanya sudah siap. Kendaraan berkereta kuda kencana sudah disiapkan Tillotama dan Kaguya. Nawangwulan dan Maharsi pun sudah siap dengan kostum tarinya. Sasmita sudah berpaes ayu sekali. Pidihnya berwarna hitam hasil resep Dewi Athena. Sirih di bagian tengah kedua matanya dimanterai khusus oleh Dewi Sarasvati agar si pemakainya memiliki aura kecerdasan yang luar biasa. Gamelan sudah siap ditabuh untuk menggending Kebo Giro dengan Ulupi sebagai sindennya.Si pager ayu, Huurin Lin, Menaka dan Pohaci sudah bersolek dengan sanggulnya masing-masing. 

Bidadari-Bidadari yang menyaru menjadi manusia itu sudah sangat cantik sekali. Keriput-keriput mereka mendadak hilang. Mereka saling berpandangan satu sama lain dengan kekaguman dan keheranan.
Tiba-tiba Bundadari Mereka, Shakuntala berteriak, “ada berita buruk teman-teman! Kita belum menyiapkan Bidadari yang bertugas menemani Sasmita di malam Midodareni!”


Untuk Jeng Sekararum. Semoga pernikahannya bahagia lahir batin.

Andhika Lady Maharsi

Keterangan : Kecuali Maharsi, semua nama Bidadari yang disebutkan dapat dicari di halaman Wikipedia.

You May Also Like

1 komentar

  1. Hahahahaa aku ngakak bacanya mbak dik xD jadi bidadari itu pake krim malem dan sunbloK toh? Waaaah kalo aja bisa dikirim via JNE pasti enak. ongkir ke kahyangam mahal gak ya? :D

    Hmmm.. ternyata ini dibuat pas masa2 nya mbak Arum mau nikah toh ^^


    tulisandarihatikecilku.blogspot.co.id

    BalasHapus