Harmonisasi di Sebuah Lapangan

by - 1/27/2015

Sumber: www.majalahbola.online

Aku masih berdiri tegak di tanah lapang ini.

Tanah lapang yang tidak pernah berubah sejak aku masih kecil. Lapang, namun tidak pernah lengang. Selalu riuh dengan renyahnya tawa para bocah yang dengan lincahnya menendang sebuah benda bulat yang mereka sebut dengan bola. Hampir setiap hari mereka bermain. Aku sungguh takjub dengan energi mereka.

Aku memang tidak memiliki mata. Tapi, aku bisa melihat mereka semua, tanpa mereka sadari. Aku bukan pengintai, aku hanya seorang pengamat. Aku selalu mengamati gerak-gerik mereka dari salah satu sudut lapangan ini. Aku juga pemberi kehidupan bagi mereka.

Musim hujan telah tiba..

Terdengar suara merdu kaki-kaki yang berlari dan bergesekan dengan air yang menggenangi lapangan ini. Bersahut-sahutan dengan tawa dan ocehan para bocah itu.

"Oper! Oper kene! Kene kosong! Naaaaaaaah.."
(Oper! Oper ke sini! Di sini kosong! Naaaaaaaah..)

"Tendang sing banter! Awas mburimu!"
(Tendang yang keras! Awas belakangmu!)

"Gooooooool!!!"

Terdengar merdu.
Hujan rintik-rintik dan air yang menggenang, ternyata tidak menyurutkan semangat mereka.

Aku memang tidak memiliki telinga. Tapi, aku bisa merasakan harmoni yang luar biasa indah dari segala interaksi yang terjadi di sekitarku. Suara para bocah itu bermain, suara hujan, suara burung, desiran angin, dan energi di sekitar sungguh memberikanku energi yang luar biasa.

Di dekatku, berdiri seorang bapak paruh baya yang berteduh sedari tadi. Bapak itu memakai topi dan handuk kecil yang melingkar di lehernya, serta dua buah kotak yang dikaitkan satu sama lain menggunakan sebilah bambu. Di kotak tersebut tertulis Bakso Tusuk Pak Cepot Wuenak!. Aku memang tidak bisa membaca. Tapi, setidaknya itu yang sering bapak itu teriakkan ketika sedang berkeliling kampung menjajakan dagangannya.

"Bakso tusuk Pak Cepot Wuenak! Rp 2.000,00 dapat banyak!" teriaknya.

Kedua kotak yang berisi bakso dan kuah bakso itu selalu mengiringi langkahnya untuk mencari nafkah. Hari ini, air hujan telah menghapus segala peluhnya, hasil berkeliling kampung. Dia tersenyum sembari memijat bahunya sendiri yang pegal karena memikul kedua kotak "ladang uang"nya itu. Tentu saja bapak itu tersenyum memandangi bocah-bocah itu bermain bola, bukan tersenyum memandangiku.

Buat apa memandangiku?

Badanku tidak elok.
Aku berbadan besar.
Berkulit gelap, keriput, kasar, dan bersisik.

Rambutku tidak tergerai indah seperti gadis-gadis di kampung ini.
Panjang rambutku kurang lebih hanya 30 cm.
Aku tak bisa memanjangkannya, walaupun aku ingin.
Warnanya pun tidak hitam, melainkan hijau.
Jika tergerogoti oleh waktu, rambutku akan menjadi kuning dan coklat.
Walau begitu, aku sangat menyayangi rambutku ini.
Tanpa rambut ini, aku tidak akan bisa bertahan hidup.

"Pak, tumbas bakso tusuke Rp 2.000,00."
(Pak, beli bakso tusuknya Rp 2.000,00)

"Aku tumbas Rp 1.000,00 mawon, Pak."
(Aku beli Rp 1.000,00 saja, Pak)

"Aku Rp 5.000,00, Pak! Ngelih e, bar bal-balan!"
(Aku Rp 5.000,00, Pak! Lapar setelah main bola!)

"Woooooo.. weteng genthong! Emang duwe duit?! Ahahahahahaha.."
(Woooooo.. perut genthong! Memang punya uang?! Ahahahahahaha..)

Terdengar suara gaduh di dekatku. Ternyata pertandingan bola para bocah itu telah usai. Pertandingan usai, bukan berarti keriaan juga usai. Dengan tawa yang terus mengembang, mereka berebut untuk memesan bakso tusuk Pak Cepot.

"Sabar. Siji-siji. Nggo kecap ora?"
(Sabar. Satu-satu. Pakai kecap nggak?)

"Ngagem, Pak. Ngagem kecap kaliyan sambel."
(Pakai, Pak. Pakai kecap sama sambal.)

"Aku kecap thok mawon."
(Aku kecap saja, Pak)

"Kecap thok ra nganggo bakso?"
(Kecap saja nggak pakai bakso?)

"Woooooo.. bapake ki! Ya, ngagem bakso lah! Hahahaha.."
(Woooooo.. bapak tu! Ya, pakai bakso lah! Hahahahaha.."

Ingin sekali rasanya ikut tertawa bersama mereka.

Dalam hitungan menit, hanya tersisa plastik yang telah berkerut di tangan mereka. Bapak penjual bakso tusuk pun telah pulang.

"Eh, kui delok! Ana pelem le gedhe-gedhe! Ayo, jupuk!"
(Eh, lihat itu! Ada mangga besar-besar! Ayo, diambil!)

"Ra ono tongkat nggo njupuk."
(Nggak ada tongka untuk mengambil)

"Halah, menek wae!"
(Halah, manjat saja!)

Tiba juga saat itu.
Saat di mana para bocah itu menyentuh, memeluk, dan memanjati tubuhku.

Mereka memang tidak suka memandangiku. Sebenarnya, mereka pun tidak terlalu senang menyentuh tubuhku ini karena begitu menyentuhku, akan ada serpihan kulitku yang menempel di tangan mereka. Tapi, mereka tetap harus menyentuhku karena mereka begitu menginginkan satu-satunya bagian tubuhku yang mulus dan harum ini. Bagian tubuhku yang mereka sebut pelem atau mangga.

Ingin sekali aku tertawa. Jemari mereka yang bergerak-gerak di tubuhku, benar-benar membuatku geli. Cepatlah kalian petik buahku dan cepatlah turun. Geli.

Au! Au! Au!

Tiga buah lepas sudah dari tubuhku.

Dalam beberapa detik, bocah itu turun dan berlarian bersama bocah-bocah yang lain.

Dari kejauhan, terlihat beberapa ibu-ibu sedang memanggili anak-anak mereka agar segera pulang karena langit senja mulai menampakkan dirinya. Hujan telah berhenti. Langit senja berwarna orange terlihat sangat indah.

Menyenangkan.

Aku akan merelakan buah-buahku demi melihat segala interaksi yang terjadi di lapangan ini. Aku ingin terus berdiri tegak di sudut lapangan ini dan merasakan energi mereka.

***

Seperti biasa, hari ini terlihat awan mendung menggelayut.

Tapi, hari ini tidak terlihat seperti biasanya.

Ada yang berbeda dengan tanah lapang ini.

Walau hujan turun, tak ada yang memakai jasaku untuk berteduh barang sejenak. Bocah-bocah yang biasa bermain bola, berganti dengan orang-orang yang memakai helm berwarna orange. Dan yang lebih aneh lagi, aku melihat benda asing yang sangat besar seperti raksasa dan berwarna kuning. Aku sama sekali belum pernah melihatnya. Raksasa itu memiliki tangan yang besar dan sepertinya bisa menghancurkan apa saja yang disentuhnya. Bahkan, tangan itu bisa mengeruk tanha dengan mudahnya.

Tak lama kemudian, ada beberapa raksasa lain yang datang. Memang tidak sebesar si raksasa orange, tapi tampaknya ia sama kuatnya dengan si raksasa orange karena ia membawa beban yang terlihat berat dan besar, puluhan lempengan yang entah itu apa.

Mereka menurunkan lempengan itu dan memagari lapangan ini. Oh, apa yang sebenarnya terjadi?

Tiba-tiba terlihat beberapa orang yang mendekatiku. Sepertinya ingin mereka berteduh sembari mengobrolkan sesuatu.

"Tempat ini sangat strategis untuk pembangunan hotel. Hotel yang kecil dan menawarkan suasana perkampungan sehingga pengunjung dapat melebur dengan masyarakat sekitar, pasti akan banyak wisatawan yang tertarik."

"Semua penduduk sekitar sudah setuju dengan pembangunan ini?"

"Ya, belum semua. Tapi, kita harus berusaha memberi pengertian kepada mereka karena hotel ini harus sudah jadi sebelum Januari 2015 datang."

Pembangunan?

Nguuuuuuuuungrrrrrrrrr...

Ah, suara apa itu? Sungguh memekak!

Oh, alat apa itu? Mereka memegang alat yang sangat aneh.

Apa yang mereka perbuat?! Mereka membunuh temanku satu per satu!

"Permisi, Pak. Kami harus menebang pohon ini juga."

"Oh, silakan."

Nguuuuuuuuungrrrrrrrrr...

***

Untuk Jogjaku, semoga engkau tetap istimewa dengan semua hotel modern yang bertebaran di wilayahmu.

You May Also Like

1 komentar