Hanya Kamu. Hanya Kamu?

by - 7/14/2015

Entah sudah berapa lembar baju melayang dari lemari Aina. Tempat tidur Aina, yang seharusnya berfungsi sebagai tempat melepas penat sehabis seharian bekerja, kini bak pelangi warna-warni. Karena penuh dengan ceceran baju warna-warni pelangi yang Aina keluarkan dari lemarinya. Tetap saja sia-sia, Aina tak menemukan tanda-tanda ia memiliki baju yang dia cari.


"Ingat, buka puasa kali ini, dresscode kita adalah monokrom, hitam, putih, atau abu-abu" ujar Nita dua hari sebelumnya di sebuah grup Whatsapp kawan kuliah Aina.

Ada satu nama di anggota grup itu yang membuat hati Aina tersetrum sejenak. Dialah Kevin. Kevin adalah mantan pria ketua organisasi kampus. Waktu kuliah, Kevin adalah katalisator utama penentu detak jantung Aina di setiap rapat organisasi, atau setiap apapun kesempatan jika Aina sedang bersama dengan Kevin. Sebetulnya separuh dari pertemuan Aina dan Kevin adalah rencana yang dibuat-buat Aina. Termasuk pada waktu itu ketika Aina butuh bantuan untuk membetulkan komputernya. Dia sengaja meminta bantuan Kevin, padahal sebetulnya cuma kerusakan kecil yang bisa ditangani oleh Nita, sahabat Aina. Namun karena Nita dan Aina satu komplotan dengan tujuan sama: Mendekatkan Aina pada Kevin bagaimanapun caranya; Nita mau-mau saja menurunkan derajat kepintarannya dengan masa bodo si Aina meminta bantuan Kevin. Aina sebagai sekertaris organisasi tentu saja punya akses yang cukup besar kepada Kevin

Namun itu kisah masa lalu, bertahun-tahun sebelum hari ini. Sebelum Aina sibuk mencari-cari pakaian monokrom yang ia inginkan. Atau sibuk mencari tempat mendapatkan model baju yang ia inginkan. Berlembar katalog ia buka. Termasuk dari portal belanja online Shopious.com. Pilihan terakhir ini sepertinya sangat menjanjikan. Halaman demi halaman full dengan pilihan pakaian dan aksesori unik, termasuk monokrom.

Seperti kata Arum, di mana ada reuni, kadang di situlah ada serpihan kenangan-kenangan mantan. Entah itu mantan gebetan, mantan pacar, atau mantan pasangan platonik (jika enggan disebut friendzone). Prinsip itulah yang sedikit banyak mempengaruhi Aina dalam mempersiapkan penampilan sebaik-baiknya ketika buka puasa nanti.

"Aku hanya bisa curhat dengan kamu. Hanya kamu yang bisa memahami jalan pikiranku. Aku tau laporan keuangan organisasi yang dibuat bendahara itu overbudget dan punya banyak celah mencurigakan. Aku dipanggil senat kampus tadi, ditanya dan disidang ini-itu. Ketika disidang tadi, masalah ini adalah masalahku. Aku harus hadapi. Mukaku menjadi pertaruhan keberlangsungan organisasi ini. Kita akan lakukan rapat lagi setelah ujian semester selesai. Aku tak ingin beban pikiran ini meranjak ke teman-teman." Bentuk tanggung jawab dan kepercayaan Kevin pada Aina, plus kalimat yang didahului dengan 'hanya kamu...', membuat hati Aina melambung, mengingat masa lalu.



Temuan baju monokrom lucu di Shopious.com/koleksi membuat lamunan Aina buyar. Nah, ini dia baju yang aku cari. Setelah beberapa kali klik dan melakukan pembayaran, barulah Aina bisa tenang. Akhirnya baju yang ia inginkan dalam beberapa hari sudah di tangan. Segera Aina membereskan baju-baju 'pelangi' yang bertebaran di kamarnya. Mengembalikan seperti sedia kala.

"Aku akan pergi dari kota ini"
"Kenapa? Bukankah kamu sudah mendapatkan beasiswa untuk meneruskan ke S2?" nada Aina lebih terdengar sebagai 'kamu tidak akan tinggalkan aku kan?'.
"Setelah aku pertimbangkan, Ibuku sedang sakit keras. Aku harus merawatnya. Beasiswa itu. Ah, beasiswa itu akan kucoba nego agar bisa diundur barang dua atau tiga semester. Semoga saja"
"Aku menghargai keputusan kamu, Kevin, tapi Profesor Hartono bilang.."
"Bukan Profesor Hartono yang bisa mengatur jalan hidupku, Aina" Cara bicara Kevin yang seakan menganggap itu adalah hal biasa saja, membuat hati Aina diam-diam geram. Sadarkah kamu Kevin, aku tak ingin berpisah denganmu?

Aina mengenang percakapan beberapa tahun lalu itu dengan sendu sekaligus senyum. Aina butuh waktu beberapa bulan untuk menyadari bahwa hubungan platonik ia dengan Kevin harus berakhir. Sejak saat itu, Aina berusaha untuk mengabaikan setiap chatting yang diawali dengan "hanya kamu..". Namun setiap kali "hanya kamu..." itu datang, saat itulah Aina harus melambungkan hati dan harapannya tinggi-tinggi bahwa Kevin kelak akan ucapkan "hanya kamulah satu-satunya di hatiku". Kabar terakhir yang ia dapatkan dari Kevin adalah dia sedang lanjutkan kuliah di luar negeri, meneruskan beasiswa yang ditawarkan Profesor Hartono.

Hingga pada suatu hari, datanglah invite dari Nita di grup Whatsapp. Dan segala usaha yang dilakukan Aina untuk melupakan satu nama itu, menjadi sia-sia. Perasaan detak jantung itu kembali datang tanpa permisi.

"Hayoo, ada Mr. K lhoo,"
"Apaan sih kamu, Nita. Tak tabok lho"
"Tabok aja nihh"

------------

Tibalah di hari H, Aina telah membuka bingkisan dari Shopious.com, long cardigan cantik berwarna abu-abu dan bawahan berwarna hitam polkadot putih telah dikenakan Aina. Setelah menyapukan makeup tipis-tipis, Aina memanggil:

"Papah, Dion, sudah siap berangkat?"
"Papa kayaknya lagi manasin mobil, Ma. Abis ini kita buka puasa sama teman-teman Mama yeee!"

Aina lalu mencubit gemas pipi putra kecilnya, dan berkata "Mas Liam, ayo berangkat".

~Lady

You May Also Like

1 komentar