Antara Agama dengan Memanusiakan Manusia

by - 6/13/2016

Biasanya, saya paling malas membicarakan masalah agama, terutama di muka publik karena kalau sudah membicarakan masalah agama, suka pada baper-baper cantik. Makanya, sebenarnya saya lebih bahagia apabila membicarakan masalah selangkangan seperti blogpost tentang biro jodoh online yang sudah pernah saya tulis sebelumnya.

Tapi, saya sungguh tergelitik dengan berita yang sempat menjadi kehebohan di berbagai sosial media beberapa hari belakangan ini. Berita tentang Warung Bu Eni yang terkena razia Satpol PP karena Bu Eni berjualan makanan di siang hari saat bulan puasa. Saat pertama kali menonton video penyitaan makanan dagangan Bu Eni, saya hanya bisa melongo. Haluuuuuu.. sepertinya Satpol PP Kota Serang, Banten pada kurang lawuh untuk buka puasa sehingga harus main sita makanan di warung yang berjualan di siang hari saat bulan puasa.

Saya tidak habis pikir melihat para Satpol PP yang tidak menghiraukan Bu Eni yang sudah sepuh memohon-mohon agar makanan dagangannya tidak disita. Makanan dagangan Bu Eni disita dengan alasan Bu Eni sudah melanggar peraturan karena sudah melayani pembeli yang makan di siang hari saat bulan puasa. Eh, lah, oh, leh, ah, lah kalau memang pembelinya itu tidak puasa karena memang bukan Muslim atau tidak puasa karena memang sedang menstruasi atau hanya sekedar membeli lauk untuk anaknya yang masih kecil sehingga tidak puasa piye?

Sumber: www.facebook.com

Dan saya agak geli saat melihat para Satpol PP memasukkan makanan dagangan Bu Eni ke dalam plastik. Eh, lah, oh, leh, ah, lah setelah semua makanan itu disita, lalu mau diapakan? Ah, saya tahu. Para Satpol PP mana tahan melihat makanan jualan Bu Eni yang begitu menggiurkan mulai dari ayam goreng sampai dengan opor ayam. Yummy! Pastilah para Satpol PP langsung berkonspirasi satu sama lain, "Eh, nanti aku ambil opor sama ca kangkung ya!", lalu Satpol PP lainnya menimpali, "Yaelah, bro! Kagak nyambung amat opor sama ca kangkung! Tuh semur jengkolnya keliatannya lebih menarik!" Ya. Pastilah begitu yang terjadi di balik layar penyitaan semua makanan dagangan Bu Eni. Saya orangnya memang gampang suudzon. Jadi, memang suka membuat skenario sendiri.

Mmmmm.. sepertinya saya terlalu menyoroti para Satpol PP seakan-akan hanya para Satpol PP yang salah. Iya, saya tahu kalau para Satpol PP tersebut juga termasuk "korban" dari peraturan yang ada. Mereka hanya menjalankan tugas. Iya, saya paham akan hal itu. Yang saya sayangkan adalah cara yang ditempuh oleh para Satpol PP tersebut. Apa iya, nggak bisa dengan cara baik-baik, misalnya dengan langsung ngobrol dengan Bu Eni, "Bu Eni, maaf ini ada peraturan bahwa tidak boleh berjualan makanan di siang hari saat bulan puasa. Bla bla bla.." Saya rasa cara seperti itu akan lebih baik, bisa lebih diterima, dan lebih memanusiakan manusia tentunya.

Saya memang bukan Muslim, saya tidak ikut berpuasa. Justru karena itu, banyak teman-teman saya yang malah, "Mon, makan siang di mana?", "Mon, minum aja loh kalau emang haus.", "Tak temenin makan pa, Mon?" Terharu sekali saya ketika diperhatikan seperti itu. Saya murahan sih, diperhatikan sedikit sudah luluh.

Saya Katolik, saya pun ada masa di mana saya juga berpuasa (masa Pra Paskah). Dan di masa puasa tersebut, saya masih santai nginthil teman-teman saya yang Muslim makan siang, walaupun saya hanya bisa memandangi mereka menyantap gurihnya ayam goreng dan menyeruput segarnya jus jambu. Males lah kalau istirahat makan siang, saya disuruh di kantor saja. Saya dan teman-teman saya sudah sama-sama terbiasa dengan kondisi seperti itu. Yang makan tidak berniat mingin-mingini yang puasa, yang puasa juga tidak lalu mengeluh.

Di masa-masa seperti itu dan di bulan puasa Ramadan seperti sekarang ini lah saya merasakan betapa indahnya keanekaragaman suku dan agama di Indonesia. Bisa saling menghargai satu sama lain. Dan saya yakin yang menjadi masalah utama pada saat berpuasa bukanlah masalah haus dan lapar. Yang menjadi masalah utama adalah bagaimana kita bisa menahan segala emosi negatif dari diri kita, mulai dari tidak membicarakan keburukan orang lain, tidak marah-marah, tidak berbohong. Setidaknya bagi saya, tidak ngomong, "Anjrit!" saat saya lagi mangkel itu lebih sulit dibandingkan dengan menahan lapar dan haus.

Saya sedih kalau harus setiap tahun, saat bulan puasa Ramadan tiba, selalu ada berita seperti ini. Lebih sedih lagi karena ternyata masih ada peraturan dari beberapa pemerintah daerah yang tidak memperbolehkan berjualan makanan di siang hari saat bulan puasa, dan melakukan razia dengan cara-cara yang tidak manusiawi dengan mengatasnamakan "toleransi umat beragama". Dan saya yakin bahwa kasus di Kota Serang, Banten ini hanya satu dari kota lain yang menerapkan peraturan yang serupa. Sebenarnya "toleransi" bagaimana yang dimaksud?

Kata toleransi berasal dari kata toleran. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti dari toleran adalah sebagai berikut:
"bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri"
See?
Melarang penjual makanan untuk berjualan di siang hari saat bulan puasa tidaklah tepat apabila disebut sebagai cara untuk menegakkan rasa toleransi antar umat beragama. Para penjual tersebut hanya berusaha untuk tetap mendapatkan uang yang mungkin akan digunakan untuk merayakan Hari Raya Lebaran bersama dengan sanak keluarga. Selama warung-warung tersebut dalam kondisi tertutup dalam artian orang-orang di luar warung tidak dapat melihat orang-orang yang sedang makan di dalam, saya rasa pemilik warung sudah cukup menunjukkan rasa toleransinya kepada orang-orang yang sedang berpuasa. Toleransi harus dilakukan dari dua arah, bukan satu arah. Melarang berjualan makanan di siang hari tanpa memikirkan kelangsungan hidup para penjual dan orang-orang yang sedang tidak berpuasa, itu namanya satu arah, dan itu bukan toleransi.

Janganlah kita mengatasnamakan agama sebagai perisai yang justru mengakibatkan penderitaan bagi orang lain. Janganlah mengatasnamakan agama, sedangkan dengan penderitaan sesama saja kita masih bersikap apatis. Janganlah mengatasnamakan agama apabila kita lupa untuk memanusiakan manusia. Dengan sesama saja masih sering lupa, apa iya, cintanya pada Tuhan benar-benar tulus? Hidup itu berjalan secara horizontal dan vertikal. Horizontal merupakan hubungan kita dengan sesama makhluk hidup termasuk juga binatang dan tumbuhan, sedangkan vertikal merupakan hubungan kita dengan Tuhan. Keduanya tidak boleh dilupakan. Jangan sampai kita terlalu fokus kepada sesama sehingga lupa kepada Sang Pencipta, atau sebaliknya kita terlalu fokus kepada Sang Pencipta sehingga lupa kepada sesama. Sebagai manusia, saya pun masih dalam tahap belajar untuk hal ini.

Untung saya tidak tinggal di Kota Serang, Banten. Kalau saya tinggal di sana, saya mau pakai mini dress setiap hari. Kemudian saya disita oleh Satpol PP karena paha saya menyerupai paha ayam KFC. Ah. Tapi, maaf, paha saya tidak crispy.

Selamat berpuasa bagi teman-teman yang merayakan ibadah puasa Ramadan. Mari bersama-sama membuat Hari Raya Lebaran benar-benar menjadi kemenangan besar bagi kita semua.

Salam damai bagi kita semua.

You May Also Like

9 komentar

  1. Aku setuju sama kakak,kadang aku suka kesel sama orang yang terlalu mementingkan kepentingan dirinya sendiri(Cth : larang orang jual makanan karena dia puasa,padahal apa untungnya kalau dia lihat?Kecuali kalau dia gak kuat imannya),aku ada beberapa teman yang muslim,mereka biasa" aja lihat aku dan teman-teman lain yang non muslim makan ataupun minum,bahkan pernah sakit maagku kambuh,lagi hang out bareng teman muslimku,dia bilang "Cin,kamu mending makan aja deh,ntar maag kamu makin parah." Dia sampe temenin aku makan,aku udah bilang sama dia "Mending kamu ke tempat lain aj,aku takut kamu batal pulak" Dia langsung ngomong gini "Kalau lihat makanan bikin batal,sama aja nyiksa orang lain. Lagian puasa bukan artinya melarang orang lain untuk makan,tapi menahan hawa nafsu,jadi kalau kamu jalan-jalan bareng aku,tenang aja. Aku gak gampang untuk tergoda kok."

    BalasHapus
    Balasan
    1. +1000
      "Kalau lihat makanan bikin batal,sama aja nyiksa orang lain..."

      Hapus
    2. Intinya toleransi kan itu, dear..
      Tidak mengganggu atau merugikan satu sama lain :D

      Hapus
  2. Mba momoonn...aq padamu 😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana? Aku orang beriman kan? :p

      Hapus
  3. Opo ya pas poso ndadak dilokalisasi kui pedagang maeman nang Serang?
    Salam damai~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide yang bagus itu Mbak Ajeng..
      Dipusatkan saja.......... biar swipingnya makin gampang #eh

      Hapus
  4. "kalau memang pembelinya itu tidak puasa karena memang bukan Muslim atau tidak puasa karena memang sedang menstruasi atau hanya sekedar membeli lauk untuk anaknya yang masih kecil sehingga tidak puasa piye?" inih pertanyaan yang juga berpendar berputar-putar di lubuk otak,hati dan perut saia kak.. dari jaman saia masih imut sampe skarang makin imut (idiih..muka tua), saya juga pingin nanya gtu? tapih..kepada siapa saia harus bertanya kak?? kepada Tuhan? aih malu saia kak. Ketemu aj belum pernah, kenalan juga malu-mlu, masak saia brani tonya-tanya kak? kepada alam? alam tuh luas bgt, capek sbelum tanya kak? mgkin yg ngelarang belum pernah ngrasain semaput gegara mens deres n kram perut, atau belum pernah lemes ndredeg kelaparan gegara hamil 7 bulan kembar 4 yang terpaksa kerja di lapangan angkat junjung kranjang 10 kiloan yang gada warung makannya, atau mgkin juga yang melarang lebay gtu, punya anak kecil tapi dari umur 2 bulan anaknya udah disuruh puasa kak.. entahlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak.. yang sabar ya, jangan ikut emosi 😂

      Hapus