Rebranding. Katanya.

by - 6/06/2016

"Kita sering ngobrolin macem-macem, brainstorming. Tapi sadar nggak sih, kalau eksistensi kita itu hampir nggak ada?" ~ Dhika, anak kuliahan, halu mau dinikahi.


Mungkin saya perlu bercerita mengenai asal-muasal blog ini. Jadi, blog ini dipunyai oleh tiga orang, yaitu saya (Sekararum, beauty blogger yang merasa terkenal, istri solehah), Momod (Monica Agustami, karyawan swasta, member berbagai biro jodoh online), dan Dhika (Andhika Lady, yang cangkemannya bikin saya terbangun dan menulis di sini).

Kami bertiga ini dipertemukan oleh dunia yang sungguh lenjeh, yaitu dunia make up. Kami sama-sama aktif menulis soal kecantikan di blog pribadi masing-masing. Dan sebagai sesama mbak-mbak berpenampilan mbois, kami bertiga dulu lumayan sering hang-out bersama. Tapi itu dulu, sebelum nasib membawa saya ke Jakarta.

Setelah saya di Jakarta, ternyata kami bertiga tetap saja sering ngobrol ngalur-ngidul. Dan yang lucu adalah, kami jarang mengobrolkan perihal kecantikan. Tiga orang blogger kecantikan disatukan dalam suatu forum, tapi malah jarang mengobrolkan soal kecantikan. Lalu apa yang kami obrolkan? Apa saja! Serius! Lemparkan topik random ke forum Besok Siang, dan kami bertiga akan mengupas tuntas dari berbagai sudut dan dengan berbagai pose.

Bahkan pada suatu titik saya menyadari, forum ini adalah tempat dimana saya bisa membicarakan segala topik, tanpa khawatir ada yang bakalan baper. Contohnya topik agama atau seks. Saya benar-benar harus berhati-hati membicarakan topik yang saat ini dianggap sensitif itu di forum lain. Tapi saya bisa membahasnya dengan enak di Besok Siang. Pun curhat-curhatan geje dari salah seorang di antara kami, bisa saja diolah menjadi suatu bahasan yang menarik.

Blog ini sudah lama ada, walau hidup segan mati tak mau. Awalnya kami kepingin blog ini menjadi sarana kami untuk menyalurkan imajinasi dalam bentuk cerita fiksi. Karena kami pikir waktu itu, dengan berlindung dibalik kata fiksi, kami akan lebih bebas berekspresi tanpa rasa takut, malu, jaga image, apalagi baper.

Tapi seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa membuat se-encrit cerita fiksi itu membutuhkan mood yang tepat dan (mengutip kata Dhika) sebuah perjalanan sakral. Kami bertiga ini adalah orang yang jauh dari kata sakral, apapun artinya itu. Sesuka-sukanya kami membaca buku dan berdiskusi, kami tidak mau mengingkari jati diri kami sebagai cewek-cewek mbois dan kekinian. Saya jadi ingat mbak Dian Sastro, yang selalu berusaha mengungkapkan secara tersirat bahwa dibalik wajah ayu kekinian dan penampilan modisnya, tersimpan sebuah otak yang cerdas dan pribadi yang artsy. Kami ini kayaknya kebalikannya deh. Dibalik cangkem-cangkem kami yang suka sok keminter, kami ini adalah perempuan bergincu tebal dan gemar sekali berburu fashion item diskonan. Nggak cocok sekali kalau kami disandingkan dengan kata sakral dan Dian Sastro.

Maka kami bertiga memutuskan mengubah konsep Besok Siang. Daripada tetap ngotot pengen membuat karya fiksi secara rutin, yang mana kami yakin kami ini tidak mampu, lebih baik blog ini kami pakai untuk menampung obrolan-obrolan kami yang saya pikir menarik dan sayang juga tidak pernah terarsip.

Berminat mengikuti obrolan kami?


Catatan:
  1. Yang bertanggung jawab untuk mengisi sesi setelah ini adalah Momod. Maka apabila blog ini kembali berhenti setelah tulisan ini, kesalahan sepenuhnya ada di Momod. Dyar we!
  2. Baper = Bawa Lemper
  3. Kami terbuka apabila ada di antara teman-teman yang tergerak untuk menyumbang tulisan kepada kami

You May Also Like

4 komentar

  1. Minaaat! Ditunggu loh postingan ngalor ngidul selanjutnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doakan istiqomah yaw! :D

      Hapus
  2. Kak, mau lempernya Kak..
    Yuk lempar2an lemper! Hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu sudah dapet banyak mas-mas dari biro jodoh online, masih minta lemper? Terlalu!

      Hapus