Kesalahan-kesalahan yang Biasa Dilakukan Oleh Blogger yang Lelah

by - 10/10/2016

Kalau blog dengan tema random kayak Besok Siang begini, sebenernya hal yang paling gampang untuk dijadikan bahan tulisan sih ya hal-hal yang paling dekat dengan kita sehari-hari. Kayak misalnya Momon, paling gampang tentunya nulis soal biro jodoh. Karena kesibukan paling hakiki dalam hidupnya saat ini adalah mencari jodoh.

Kalau saya, jujur saja tema yang lagi kepikiran adalah soal menulis. Menulis itu pekerjaan saya saat ini. Iya, pekerjaan. Kalau kalian lihat ada tante-tante atau om-om usia produktif tapi kesehariannya ndekem aja di rumah, tidak selalu berarti dia nganggur lho. Karena saat ini banyak banget opsi pekerjaan kreatif yang lebih membutuhkan pemikiran ketimbang kehadiran secara fisik. Yang nganggur itu ya justru kalian yang sempet-sempetnya cangkeman nggosipin om-om yang ndekem di rumah.

Keseharian saya adalah menulis di sini, di sana, di sana, dan di sana. Yang awalnya adalah sebuah hobi, kini beneran jadi pekerjaan. Kerjaan saya ya isinya nulis dan mikirin konten. Biarpun saya nggak kantoran, tapi saya paling males kalau diajakin hura-hura dan nongkrong-nongkrong pada jam kerja. Why? Becoz itu jam saya nulis. Sayakan wanita bersuami yah. Jadi saya juga harus membagi waktu antara hobi, pekerjaan dan keluarga #benerinjilbab. Karena jam kerja saya lebih fleksibel dari suami, ya saya yang menyesuaikan dengan jam kerja suami. Kan nggak asik kalau suami pulang kerja, eh saya malah lagi kerja.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com

Sebenernya, menulis adalah sebuah proses kreatif. Itu berarti kita harus punya kreatifitas untuk bikin sebuah tulisan, untuk merangkai kata dan menentukan tema. Masalahnya adalah saya nggak selalu berada dalam kondisi otak yang sehat dan on fire. Ada kalanya otak saya nge-hang dan kalau sudah begitu, mau dipaksakan nulis juga hasilnya kurang kece. Ya otak lagi nggak fit masa dipaksa kreatif? Tapi ya apa mau dikata, terkadang saya terpaksa mengedepankan kuantitas daripada kualitas tulisan, atas nama deadline.

Banyak hal "sedeng" yang bisa terjadi kalau saya memaksakan otak berkerja keras tanpa henti. Saya nggak maksud mengeluh ya, karena boleh dibilang, yang sedang saya lakukan saat ini adalah dream job versi saya. Saya suka nulis, saya nggak suka keluar rumah, saya nggak suka keseringan kumpul-kumpul sama manusia, jadi ya pas banget lah saya kerja beginian. Momon aja yang jomblo nggak pernah mengeluh kok mosok saya mau mengeluh. Malu lah sama jomblo.

Oh...nggak boleh bully jomblo ya?

Ya udah, saya nggak bully jomblo lagi. Tapi nggak janji ya. Dan kalau nggak lupa #kemudianlupa.


gambar-gambar--lucu.blogspot.com

Saya cuma mau berbagi, hal-hal anu yang terjadi kala otak saya nge-hang parah dan dipaksakan terus berkerja:
  1. Nggak nyambung diajak ngomong.
    Pernah pada suatu hari saya habis menyelesaikan empat buah artikel yang kebetulan deadline-nya bersamaan. Dari pagi sampai menjelang malam, saya nyenuk aja di depan leptop. Setelah semua selesai, waktunya saya istirahat, menjauh dari laptop, dan bersosialisasi dengan manusia.

    Tapi ternyata otak saya nggak bisa berfungsi penuh. Grup Besok Siang ngajakin diskusi masalah politik, saya malah ngomongin Ayu Tingting. Grup satunya ngajakin diskusi masalah tema kolaborasi, saya malah nge-share vlog terbaru Awkarin yang sekarang banyak bunyi "tiiiitttt"-nya itu. Suami ngajak diskusi masalah ganti merk pakan kucing, saya malah nanggepin mesum. Oke skip.

  2. Membalas komentar dengan judes.
    Yheaaa, blogger juga manusia. Nggak selalu dalam kondisi hati berbunga-bunga dan mood beramah tamah, apalagi kalau nemu komentar yang marai pengen ngising. Kondisi lagi capek ples dapet komen anu adalah perfect combo buat misuh-misuh.

    Contohnya, saya habis me-review suatu barang. Review tersebut bisa ada karena saya berkerja sama dengan toko tertentu, yang tentu saja pastinya saya cantumkan dong nama toko-nya gede-gede beserta link ke toko tersebut yang tinggal diklik aja nggak usah ribet. Udah kayak gitu, di bagian kolom komentar masih saja ada yang: "Belinya dimana, khak?!"

    Kakak ingin berkata kasar, dik.

  3. Membalas komentar dengan "terkesan" judes.
    Kalau sudah capek, terkadang hal-hal sepele semacam tanda baca, penggunaan kata ganti orang kedua, dan (apalagi) emoticon bakalan terlewatkan. Padahal kalau komunikasi menggunakan media tulisan; panggilan sayang, tanda baca dan emoticon itu penting, bruh!

    Misalnya pada pertanyaan: "Belinya dimana, khak?"
    Contoh Jawaban 1: "Nggak tau."
    Contoh Jawaban 2: "Waaahhh, saya kurang tau, dear :')"

    Penggunaan kata "wah" yang huruf "a"-nya diolor-olor, penggunaan panggilan "dear", dan penggunaan emoticon ":')" efeknya besar lho! Padahal artinya sama aja. Tapi ya gimana lagi, sesuai ramalan Jayabaya, kita sedang memasuki masa-masa dimana masyarakat Indonesia gampang baper.

  4. Membalas email resmi tapi lupa ngasih lampiran.
    Ini dulu lumayan sering kejadian. Dan ada satu yang lumayan lucu. Jadi kebetulan saya pernah ada kerjasama dengan suatu PT anu. Nah, kebetulan juga yang meng-handle kerjasama ini adalah seorang selebtwit yang udah lama saya suka dan saya follow.

    Singkat cerita, kami berkerjasama, dan saya mengirimkan pekerjaan saya via email.
    "Draft saya lampirkan ya."
    Tapi saya lupa melampirkan draft. Jadi yang saya kirimkan hanya body email saja!

    Saya baru sadar setengah jam kemudian saat saya iseng scrooling timeline twitter dan melihat twit dari yang bersangkutan: "Email kerjaan tapi lupa ngasih lampiran. OALAH MBLOOO, MBLO!"

    Saya langsung sadar dan segera mengirim ulang email saya, disertai permohonan maaf. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah terlanjur dianggap nggak serius dan dipanggil jomblo. Padahal saat ini saya yang bersuami dan dia yang jomblo. Semesta memang sebercanda itu. Hae, Mblo! :)).

  5. Typo horor.
    Dan ini baru saja kejadian di blog sebelah. Blog sebelah memang yang terkesan paling nyantai dibanding media-media lain tempat saya menulis. Eh, ya masih lebih nyantai Besok Siang sih. Tapi intinya, kalau ada dua deadline, yang satu di web lain dan yang satu di blog sebelah, saya lebih mendahulukan untuk menulis di web lain selagi otak masih fresh. Baru setelahnya saya nulis di blog sebelah.

    Baru-baru ini saya memaksakan menulis di blog sebelah setelah menyelesaikan dua artikel lain, dan mengalami typo yang cukup horor.

    Kata yang ada dipikiran saya: "Saya suka karena saya jadi mudah ngontrol-nya."
    Kata yang tertulis dan TERLANJUR TERPUBLIKASI: "Saya suka karena saya jadi mudah ngontol-nya"

    NGONTOL, BOSS!!

    Untung ada salah satu teman saya yang membaca sesaat setelah artikel tersebut tayang, dan langsung memberitahu saya. Saya langsung keringat dingin lalu seketika panik dan mengedit.

    Masalah selesai? Iya sih. Kata ngontolnya sudah hilang, tapi paniknya belum selesai. Saya sempat melihat sekilas pageview artikel terkait sesaat setelah diedit, dan sudah tertera angka 117. Jadi bolehlah disimpulkan bahwa ada 117 orang yang menganggap mbak Arum adalah orang yang suka bila mudah ngontol, apapun artinya itu :(.

Tapi secapek-capeknya, saya harus bilang kalau menulis itu menyenangkan. Apalagi nulis tanpa tema, tanpa aturan, dan tanpa mikir SEO di Besok Siang begini. Menulis itu bagi saya lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya.

Makanya saya suka sekali mengajak orang untuk ikutan menulis, bikin blog, atau kalau mau ikut-ikutan nulis di Besok Siang juga boleh. Karena saya pengen semakin banyak orang yang ngerti kalau menulis itu asik banget dan bukan pekerjaan wong kurang gawean. Karena sebenarnya yang kurang gawean ya justru kalian yang sempet-sempetnya cangkeman ngatain orang nulis itu kurang gawean :D.

You May Also Like

27 komentar

  1. Ternyata typo nya parah bener ses... Aku barisan yang baca telat, jadi sempet penasaran juga sebenernya. Terjawab sudah rasa penasaranku. Hhihi...

    BalasHapus
  2. baca tulisannya mbak arum selalu nambah kosakata jogja, hari ini nambah cangkeman sama nyenuk XD btw aku selalu slow type kalo udah ngetik kata kontrol hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaa...itu jawirrr bukan jogja :D.
      Kontrol memang merupakan sebuah kata berbahaya

      Hapus
  3. Ohhhhh.. jadi Mbak Arum suka ngontol?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka lah. Enak kok, Mblo!

      Hapus
  4. HAHAHA ngakak blas :))) selalu tulisan mba Arum mewarnai hari-hariku dengan tawa~~~~~~~
    Eh tapi jangan bawa2 'mblo'mulu dong, mba! :'( Surga di telapak kaki jomblo loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, baiklah cece Claren. Aku nggak akan bully jomblo lagi. Kalau nggak lupa.

      PIYE, MBLO? #Lagilupa

      Hapus
    2. #jomblosatunyalagidatang

      Hapus
    3. Jomblos...
      JOMBLOS EVERYWHERE!!!

      Hapus
    4. Gak papakan kan aku komen.. Hehe.. Aku juga jomblo.. #bangga

      Hapus
  5. Mba Arum bolehkah aku menjadikan mba Arum sebagai panutan? Eh tapi serius sih mba, dulu mampir ke blog sebelah cuman buat baca doang, gak tertarik sama reviewnya. Meskipun kadang keracunan.

    limlimzi.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan mba Limas.

      Kalau suatu saat anakku yang sudah tidak kutemui belasan taun datang, lalu minta pengakuan, tapi aku mengelak, lalu anakku diundang ke hitam putih, lalu aku somasi, lalu aku nolak tes DNA, lalu dibully, lalu gantian aku nantang tes DNA, lalu ditolak, nanti kamu kecewa. Karena tak ada yang sempurrrrna di dunia ini :'(

      Hapus
    2. Arum jangan dijadikan panutan, melainkan parutan saja :)

      Hapus
  6. ooo.. jadi itu typo nya
    *ngakak sampe nggak ada suara*

    BalasHapus
  7. Wakakakakak.. Amfun dije. Ngakak bacanya, ses. Tp itu yg poin 4 bs sampe segitunya bgt ya? Kan tinggal balas aja gitu kalau lampirannya ga ada. Pfftt..

    Fia ~~ www.fiarevenian.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaaha byasa ses jaman twitter dulu memang kezaamm :D

      Hapus
  8. Mbak arum, mksih ya tulisannya. Serius bikin hahaha, lupa sama masalah. Etapi ya jd keinget klo msh jomblo. Duh mblo, diingetin melu haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah lah Syifa, tidak usah dipikirkan kejombloanmu.
      Arum memang begitu...

      Hapus
  9. Pengangguran masih lebih bermartabat ketimbang dikatain ngepet mbak atau punya pesugihan :D

    Temenku freelance webdesigner (cowok) digunjing tetangga gitu konon katanya hahaha Padahal gajinya dia udah bukan Rupiah lagi dan jauh lebih besar ketimbang jadi pegawai kantoran.

    Itu juga sih kenapa aku mutusin kerja di kantor. Biar nggak dituduh yang tidak-tidak dan biar ada alesan keluar rumah meski aku juga males sih sering-sering ngobrol sama orang hahaha. So my current job is actually my dream job; madep komputer, internetan, less talking. Maapin malah curcol XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okelah faiinnn!
      Aku seharian ndekem di rumah, suka dapet kiriman barang onlen, ples punya kucing item horor. Kurang ngepet apa coba akoh?!

      Hapus
    2. gendut lagi kucingnya XD Pesugihan sukses nampaknya muahahahah

      Hapus
  10. Aku juga pengen kerja di rumah tapi belom kesampean nih, doakan aku ya cepat menggapai impianku :"D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, khak! Semoga segera tercapai cita citanya!

      Hapus