Mengulik Kasus Awkarin dan Mario Teguh: Ketika Konflik Pribadi Menjadi Komoditas Bernilai Rupiah

by - 10/13/2016

Saya termasuk yang (ngakunya sih) jarang ngikutin gosip terkini. Kecuali circle saya yang secara rela memberikan info sebuah gosip terhangat di grup, yang mau nggak mau saya jadi ikutan baca. Kalau tertarik sih saya ikutan nimbrung, kalau enggak ya mlipir dulu. Tapi sampai sekarang belum ada yang mengalahkan ketertarikan saya terhadap kejombloan yang dialami oleh salah satu anggota Besok Siang ini. #yagitu. Pokoknya kalau ada bahas masalah gebetan ter-gress atau bahas cowok Tinder bertampang teduh kebapakan tapi punya wajah ngislami yang membikin kawan saya itu mundur itu, saya pasti turun tangan. Turun tangan ngapain? Ya pokoknya turun tangan aja, entah ikutan nimbrung atau bantuin qepo-qepo.

"Bradhik, cariin info dong, Mas Anu itu agamanya apa? Punya anak berapa? Suka anjing nggak? Kemplu nggak? Judul skripsinya apa?"
Dan begitulah kira-kira. Kalau jawabannya secara berurutan adalah: Islam, 2, nggak, nggak, 'Pengaruh lamanya jomblo terhadap kemudahan mencari pacar', dijamin kawan saya yang satu itu akan mundur teratur dan menawari saya cowok lain untuk lanjut diqepoin. Jadi hati-hatilah kamu wahai pria pemilik akun Tinder, Setipe, dan atau yang lain. Bisa jadi salah satu fotomu pernah mampir di history browser saya. Ha ha ha.

Oke, itu cuman opening saja kok. Yang utama dalam artikel ini ada di bawah.

Nah, masih kaitannya sama kisah kejombloan yang diangkat di Besok Siang, ternyata menurut saya ada korelasinya dengan bermacam gosip akhir-akhir ini. Beberapa yang menggoda saya adalah kasus Awkarin yang punya polemik rumit dengan seputar problematika hidup remaja (punya pacar, mencoba nakal, rebel, bikin sensasi, putus, bikin sensasi lagi, dipanggil KPI). Dan satu lagi: kasus Mario Teguh menyoal apakah Kiswinar lantas akan diakui anak dan mereka berbahagia selamanya?

FYI, saya tadinya beneran nggak tahu menahu soal Awkarin, setelah secara brutal si Arum membawa topik hangat tersebut di grup. Lalu saya jadi ikutan qepo dan terkaget ketika ada anak belasan tahun secara konsisten menyebut kata 6 huruf berawalan a, berakhiran g di hampir sepanjang videonya.

Korelasinya antara kejombloan, Awkarin dan Mario Teguh adalah: ada seputar konflik pribadi yang diangkat menjadi kisah yang bisa 'dinikmati' oleh publik. Jujur sajalah, kau pasti berdecak ketawa atau minimal senyum-senyum sendiri ketika membaca tulisan Arum berkisah soal blogger lelah yang typo menyebut ngontrol menjadi ngontol, atau Momon cerita cowok-cowok di biro jodoh online. Mereka, kawan-kawan saya ini, mengangkat kisah itu di blog dan dibaca banyak orang. Sementara Awk mengangkat kisah putusnya dengan Gaga di Youtube dan Mario Teguh di stasiun televisi swasta. Sama-sama dinikmati publik secara bebas. Bedanya hanya di media yang digunakan dan tingkat kepopuleran massa.


Jangan cari papa Nak,

Memang sih katanya butuh bikin puluhan video 'njing, ngalay bareng pacar, bikin derama putus, dipanggil KPI, punya rambut botak, punya mantan istri, menuduh mantan selingkuh, nggak mau ngakuin anak untuk bisa mencuri perhatian publik. 

Tapi coba kita lihat. Berapa nilai rupiah yang didapat dari hasil publikasi konflik pribadi? Awkarin menyebutkan bahwa penghasilannya dari endorse sehari ada sekitar 30 juta rupiah. Belum penghasilannya dari adsense Youtube. Kalau dia traveling ke kota besar dan ogah keluarkan uang, tinggal bikin event meet n greet ala ala artis dengan tiket 200 ribu rupiah per seat dengan bonus follow-back. Balik modal itu pasti. Bandingkan sama kamu. Buat plesir ke Bali saja harus nunggu bonusan yang boro-boro bisa dilakuin setiap bulan. Untuk dapat cuti saja kudu didapat dengan setengah mati. Masih untung kalau ada yang nemenin, lhah, jomblo. Kalah kau sama Awkarin, Mblo!

Lalu Mario Teguh vs Kiswinar. Saya nggak pengen bahas kasusnya secara detail, karena kamu semua sudah pasti tahu sendiri yee kan. Nah, yang agak menggelitik saya, itu kan konflik keluarga ya, kenapa begitu Om Maryono dibikin nggak nyaman oleh Kiswinar, bukannya menyelesaikan di balik layar, tapi malah memanggil stasiun TV untuk membahas kasusnya? Itu kan sama saja memberi pintu pada publik untuk stay tune terhadap masalah keluarga mereka. Seolah ingin mengatakan pada dunia:
Hei, saya Mario Teguh, punya aib begini-begini-begini. Kamu-kamu jangan lupa nonton yaaa!
Kiswinar bilang "Saya cinta ayah saya"
Om Maryono bilang "Saya berharap Kiswinar itu beneran anak saya"

Tapi yang dilakukan kedua pria (yang dari segi umur) dewasa itu bukannya ketemu antar pihak dan menyelesaikan dengan komunikasi yang sebaik yang bisa diusahakan manusia, tapi malah saling memakai pengacara, memanggil stasiun TV, menyeret pihak lain untuk ikutan nimbrung, dan segala macem. Lalu kita yang manusia-manusia pemakan sarden yang punya impian bisa keliling dunia dan sekaya Om Maryono cuman bisa menghujat di social media mereka, atau ngebahas di grup gosip ibu-ibu.

Secara tidak langsung Mario Teguh 'berhasil' menangkap massa yang mengikuti kisah mereka. Massa yang banyak adalah aset yang diukur berdasarkan jumlah follower. Coba dilihat pihak mana saja yang terkena dampak positif komoditas rupiah akibat kasus ini:
  1. Liputan talk-show TV swasta yang jadi punya materi wawancara dan menaikkan rating
  2. Pengacara masing-masing pihak namanya jadi terangkat. Makin laris, siapa tau entar dapet klien kalangan artis
  3. Akun-akun hater Instagram bermunculan dan mendulang follower lalu kemudian ketika kasus sudah meredup, mereka berubah secara ajaib menjadi olshop
  4. Portal berita yang membahas perkembangan kasus Mario Teguh vs Kiswinar. Hits naik dan penghasilan online pun naik
  5. Para pakar genetika yang dipanggil untuk membahas prosedur test DNA di stasiun televisi
  6. Pakar pembaca ekspresi wajah yang dipanggil untuk mendeteksi kebohongan di wajah Om Maryono pas wawancara
  7. dan lain-lain
Bayangkan saja! Satu kasus hukum pengakuan anak dari seorang motivator telah berhasil membuat enam atau lebih pihak yang mendulang rupiah. Saya jadi bingung, ini Om Maryono yang memang 'baik banget' sama mereka dengan memberi kesempatan pada massa untuk mengikuti kisahnya, atau gimana sih maunya? 

Portal berita, kalau nggak disodori kasus Mario Teguh, paling-paling bahasnya soal 'Sikap pemerintah terhadap pelanggaran HAM di Papua', yang sayangnya bagi masyarakat Indonesia ini nggak lebih penting dari cantiknya Mbak Nara si diplomat.

Miris ya?

Secara nggak langsung kita diajari oleh media bahwa mengangkat konflik pribadi seseorang bisa menjadi peluang datangnya rupiah. Awk dan Mario Teguh barulah dua contoh, masih banyak contoh yang lain. Bahkan secara nggak sadar kitapun jadi berpikir 'kalau konflik pribadi bisa jadi hiburan dan mengundang massa lalu (syukur-syukur) bisa jadi rupiah, kenapa nggak?'

Ataukah sebaiknya saya perlu memperbanyak cerita tentang keluhan hidup dan konflik pribadi saya lalu diungkap dengan mengucap 'ntol berkali-kali


Jogja tetap istimewa,
12 Oktober 2016

You May Also Like

9 komentar

  1. Dhika, aku baru ngeh kalau kamu punya alamat URL blog ini. Biasanyabaku baca Jenganten melulu, hahaha..

    Aku juga curiga sebetulnya urusan Maryono ini adalah akal-akalan Maryono sendiri.
    Karena sekarang sudah banyak motivator (apakah tidak ada yang menyadari bahwa Merry Riana sedang naik daun dan slot acaranya menggeser Mario Teguh?), sehingga Maryono harus membuat upaya untuk menaikkan rate dia sendiri.

    Motivator juga artis lho, dia juga selebriti yang punya kompetitor. Aku ingin tahu berapa tarifnya ngundang Maryono ke seminar sekarang, dan membandingkan tarifnya dengan tarif era pra-Kiswinar :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, yang ini blog bareng-bareng sama temen Mbak Vicky. Akupun curiga begitu. Memang sih doi kena rugi nama baik dll dll. Tapi seperti memanfaatkan momen untuk mendongkrak banyak popularitas atas nama rupiah.

      Sama Mbak, aku juga pengen tau. Pengen tau seberapa jauh konflik ini berefek seberapa dengan rupiah yang didulang

      Hapus
  2. Tapi harus diakui sih, konflik pribadi memang lebih menarik daripada konflik negara. Ngikutin berita ayu tingting-raffiahmad lebih mudah dan nggak pakai mikir dibandingkan ngikuti gejolak pilkada DKI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berati negara ini masyarakatnya males miqir ya, Khak?

      Hapus
  3. hmm sudah kuduga ini pasti karena budaya kepo yang kita miliki sudah mendarah daging tiada sirna, materinya juga lebih ringan dicerna jadi hiburan tersendiri. drama :v

    duh baru pertama kali aku main kesini, punten :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sepertinya. Daripada kepo prestasi politik Ahmad Dhani dan hasil mencalonnya jadi cawabup, mending qepo Mulan Jameela.. :p

      Hapus
  4. Aku dah ngumbar2 masa lalu, Kak..
    Tetep nggak dapet duit. Aku kudu piye? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antara kurang diumbar atau kaunya yang belum se-terkenal MT. Atau kamu ngaku anaknya artis siapaa gituh

      Hapus
  5. Haii~ Aku pembaca lama sebenarnya, tapi baru komentar sekali ini hehehe, salam kenal :)

    1. Aku sampe googling 'kemplu' itu artinya apa :))

    2. Every saint has a past, every sinner has a future (Oscar Wilde). --> berlaku buat Mario Teguh, Awkarin, atau siapapun.

    3. Kalau aku nggak sengaja nemu akun gosip atau akun haters (misal dari explore di instagram), aku baca komentarnya dan sering nemu orang-orang yang komentar kasar/sok tahu. Kadang aku iseng buka profil orang-orang itu....dan sedikit nge-judge mereka diam-diam. Aku tahu nggak boleh nge-judge but I can't help it! Terus akun-akun gosip tersebut aku block biar nggak tambah merusak nurani yang sudah rusak ini :))

    4. Mungkin youtubers awalnya nggak berniat untuk mengumbar konflik pribadinya. Niat awal cuman sharing untuk katarsis, sharing untuk mendapatkan support, mencari teman, atau pengen ngerekam diri aja ngomong apa aja di depan kamera. Ya kayak kita-kita ini yang suka nulis blog. Cuman, membaca membutuhkan proses kognitif yang lebih kompleks ketimbang menonton, nek ada yang mau ngumbar konflik pribadi, dijamin bakal lebih viral kalau pake video --> tips buat yang mau cari duit dengan cara mengumbar konflik pribadi :))

    Terus...apa lagi ya...hehehe

    BalasHapus