Rasanya Berpacaran Beda Agama

by - 10/31/2016

Ketika ada orang di sekitar kita yang berpacaran beda agama, kemudian ternyata hubungan mereka tidak berhasil dan kandas di tengah jalan, kalimat apa yang biasanya pertama kali terucap?

"Sudah tahu daridulu beda agama, masih saja tetap jadian."

Kalau mendengar ada orang yang berkomentar seperti itu, saya hanya bisa senyum-senyum. Senyum-senyum antara ingin ikut nimbrung atau senyum-senyum karena, "Ah, sudahlah."

Dulu saya adalah salah satu pelaku pacaran beda agama. Kami berpacaran selama hampir 5 tahun, tepatnya 4,5 tahun. Kami mulai berpacaran saat kelas 2 SMA (kami satu angkatan), dan kami putus kalau tidak salah saat kami kuliah semester 8. Alasan kami putus tentu saja karena alasan klasik, yaitu karena kami berbeda agama.

Rasanya berpacaran beda agama
Sumber: www.nyunyu.com

Kembali lagi ke komentar orang, "Kan memang dari awal sudah beda agama. Aneh banget masih diterusin dan alasan putusnya karena beda agama."

Alasan "beda agama" sebenarnya adalah kalimat penyederhanaan dari sekian banyak pertimbangan dan alasan yang ada. Dan mumpung saya sudah menjadi jomblo move on, boleh lah kalau saya share sedikit tentang kenangan-kenangan zaman pacaran dulu tanpa ada baper-baperan.

Besar kemungkinan mantan saya akan membaca tulisan ini. Jadi, sebelumnya saya sapa dulu. Halo, Mas Bro!!! Penak jamanku ta?! #eh

Demi keselamatan masa depan mantan saya, saya samarkan namanya. Saya takut kalau orang-orang tahu dia punya mantan gila seperti saya, masa depannya jadi hancur. Oke, sebut saja namanya Mukidi #padahalnamanyamemangmukidi

Rasanya berpacaran beda agama
Sumber: www.wajibbaca.com

Saya pertama kali berkenalan dengan Mukidi saat kelas 1 SMA, dan waktu itu kami satu kepanitiaan suatu acara sekolah. Kemudian, kami pun menjadi dekat. Waktu itu, kami masih dekat sebagai teman. Teman dekat buat enak-enakan.

Seingat saya, awal-awal saya kenal Mukidi, dia sudah punya pacar. Eits, jangan suudzon dulu. Saya bukan tukang tikung. Saya tukang timpuk. Mukidi memang tipe yang punya banyak teman dekat perempuan. Bingung juga kenapa. Padahal muka pas-pasan, kurus, item, jelek. Waktu sudah pacaran dengan saya saja, masih dekat dengan perempuan lain. Ckckckckck..

Singkat cerita, setelah kami dekat selama beberapa bulan, kami pun jadian.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa saya mau menerimanya padahal saya sudah tahu kami berbeda agama? Alasannya klasik. Karena idealisme yang terbentuk dari gejolak asmara anak SMA #ngomongwuopooooh.

Saya pribadi, tidak masalah apabila berpacaran dengan yang berbeda agama. Walaupun pada saat kami dekat, dan ada tanda-tanda kami akan jadian, saya mikir juga karena Mami saya adalah orang yang saklek kalau masalah agama. Tapi, karena Mukidi sudah berani menembak saya, saya anggap dia sepemahaman dengan saya. Lagipula, siapa yang menolak indahnya masa pacaran saat SMA? #dasarmurahan.

Karena itu, kami pun berpacaran dengan berbekal kalimat "jalani dulu saja". Namanya juga masa muda. Maunya memikirkan yang enak-enak. Yang susah mah dipikir nanti, ngahahahaha.

Rasanya berpacaran beda agama?

Rasanya sama seperti pacaran "normal" lainnya. Hanya saja saya tidak bisa, "Ay, ke gereja bareng yuk!" Atau, "Ay, ziarah ke Sendangsono yuk!" Dan Mukidi pun tidak bisa, "Ay, ke masjid bareng yuk." Atau, "Jangan lupa sahur ya, Ay.." Selebihnya, kami pacaran layaknya orang pacaran lainnya seperti ke mall, nonton film, nongkrong, cipok-cipokan.

Saya masih ingat momment di mana saya nongkrong di kantin sekolah sambil menunggu Mukidi balik Jumatan, atau saya yang liyer-liyer di pinggiran masjid sambil menunggu Mukidi sholat Maghrib. Ketika bulan puasa, saya pun selalu berusaha bangun sebelum sahur untuk telepon dan membangunkan Mukidi. Yah, walaupun saya selalu gagal bangun :))

Saya masih ingat pula ketika kami KKN (Kuliah Kerja Nyata) bareng, Mukidi mengantarkan saya untuk mengikuti misa hari Minggu di Gereja Ganjuran (kami KKN di daerah Bantul). Nggak hanya mengantarkan, dia juga ikut masuk ke gereja duduk di samping saya sambil menanyakan detail setiap prosesi yang ada, walaupun saat itu ketika ditanya, saya malah lebih sering ngah ngoh.

Pacaran beda agama biasanya paling terasa pada saat hari raya, yaitu pada saat Lebaran dan Natal.

Saya sedikit merasa kaget ketika bulan puasa tiba. Kaget karena sebenarnya saya nggak ikut puasa di bulan puasa, tapi kok pacar saya sendiri adalah orang yang wajib puasa. Rasa nggak nyaman timbul di awal-awal pacaran, "Ay, nggak apa-apa aku makan di depan kamu?" atau saya yang berusaha, "Aku nggak apa-apa kok ikut puasa. Ngirit." Padahal kerongkongan dah seret serasa ada anak kodok di dalamnya.

Tapi, di bulan puasa tahun-tahun berikutnya, kami mulai terbiasa. Kalau saya lagi nggak banyak tingkah, saya bisa ikut puasa, kemudian kami buka puasa bersama. Tapi, kalau saya lagi banyak tingkah, Mukidi menemani saya muter-muter cari warung yang buka di bulan puasa.

Saat Natal tiba, di saat teman-teman saya membawa pacar masing-masing di Misa Malam Natal, saya masih menjadi orang berpacaran rasa jomblo. "Pacarnya mana, Mon?" Saya, "Hahahaha, noh di masjid!"

Selain pacaran sayang-sayangan, tak jarang kami saling diskusi lintas agama #belagakjadipemukaagama #benerinhijab. Tapi, tak jarang pula setelah itu kami berantem, ngahahahahaha.

Rasanya berpacaran beda agama
Sumber: www.bagas.org

Oiya, dulu pernah ada kejadian lucu, yaitu pada saat pertama kali saya punya anjing. Anjing saya bernama Gyo. Nah, saat saya bilang bahwa saya akan punya anjing, kami sempat berantem, hahaha.
"Aku mau punya anjing, Ay! Lucu banget mukanya!"
"Hah, anjing? Terus aku gak bisa main ke rumahmu lagi dong?"
"Hah? Kenapa?"
"Kan haram, Aaaay.."
"Kan bisa dibasuh pakai tanah kalau kena air liurnya."
"Tapi, kan tetep ajaaa.."
"Ya, udah terserah."
Endingnya? Mukidi malah sayang banget sama Gyo. Kalaupun nggak sengaja dijilat Gyo, Mukidi buru-buru cari tanah, hahahaha. Setiap main ke rumah saya, Gyo nempel banget sama Mukidi. Mukidi pun demen elus-elus kepala Gyo, habis itu elus-elus kepala saya. Muka saya kalau lagi dielus-elus kepalanya katanya kayak Gyo. Anjing. Gyo memang anjing.

Bagaimana tanggapan orang tua kami?

Kalau dari orang tua saya, mereka masih santai. Saya tau banget pikiran mereka adalah, "Halah, masih anak bau kencur. Paling juga ntar putus." Tapi, saya paham banget Mami saya nggak suka kalau saya pacaran dengan Mukidi karena kami berbeda agama. Jadinya, kalau Mukidi menemui Mami saya, senyum Mami saya irit banget boooookkk.. Mukidi mah tetep aja cengangas cengenges. Dia malah demen banget menirukan raut muka Mami saya. Kurang ajar memang, hahahaha.

Sedangkan dari keluarga Mukidi, saya tidak menemukan kendala yang berarti. Beberapa kali main ke rumah Mukidi, saya disambut dengan hangat tanpa ada judes sedikitpun dari orang tuanya. Saya memang lovable sih anaknya #dibalangtai.

Di usia pacaran yang belum genap 2 tahun, waktu itu kami kelas 3 SMA, saya mulai memikirkan bagaimana hubungan kami ke depan karena saya tau bahwa pernikahan beda agama tidak semudah bacot orang-orang. Maka, kala itu, saya mulai menanyakan hal yang sangat sensitif.
"Ay, hubungan kita kedepannya mau gimana?"
"Mau gimana apanya?"
"Hmmmm.. mau diteruskan berbeda agama, atau siapa ngikut siapa? Kalau siapa ngikut siapa, aku jujur nggak bisa. Kamu tau sendiri bagaimana Mamiku."
"Kok kamu berani nanya begitu? Kalau urusan keyakinan, aku aja nggak berani loh nanya-nanya."
"Ya, bukan masalah ituuu.. Bukan aku minta kamu ninggalin keyakinan kamu. Kan ada pilihan lain, yaitu terus berbeda agama. I just wanna make it clear."
"Liat entar lah. Jalani dulu." 
Begitulah. "Jalani saja dulu" entah sampai kapan.

Kala itu, setiap melihat Mukidi sholat, saya suka senyum-senyum sambil mikir. Nggak mungkin rasanya saya memaksakan keyakinan saya padanya. Saya pun nggak mau. Saya benar-benar merasa tidak berhak. Keyakinan adalah sesuatu hal yang sakral.

Kalau bertemu dengan orang tua Mukidi, saya juga mikir. Pasti mereka juga ingin melihat Mukidi menikah dengan "normal", dengan mengucapkan akad nikah. Begitu pula ketika saya melihat orang tua saya, ah pasti mereka ingin melihat saya mengucapkan janji perkawinan di gereja.

Singkat cerita, setelah berpacaran selama 4,5 tahun, Mukidi memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Padahal pada saat itu, saya masih santai-santai saja dengan hubungan kami. Sampai di titik kami putus, kami belum ada usaha yang berarti untuk mempertahankan hubungan kami yang sampai berdrama-drama berurai air mata di hadapan orang tua. Jadi, ketika Mukidi minta putus, saya iyain.

Lah, mau gimana? Waktu itu memang saya masih sayang dengan Mukidi. Di sisi  yang lain, saya tahu kalau keputusan Mami saya nggak bisa diganggu gugat. Benar-benar nggak bisa diganggu gugat. Menikah itu ya di gereja dan saling menerimakan Sakramen Perkawinan, bukan hanya sekedar Pemberkatan Perkawinan. Daripada saya drama nggak mau diputusin, padahal saya juga tahu hubungan kami nggak akan berujung indah, ya sudah saya iyain.

Kami berdua saling sadar. Mau sedrama apapun usaha kami, kedepannya akan ada yang terluka. Jadi, sebelum itu terjadi, ya sudahlah. Kami sama-sama nggak mau melihat orang tua kami sedih. Toh ketika menikah, yang menikah bukan hanya dua individu, melainkan 2 keluarga besar.

Setelah putus, Mukidi menemui Mami saya untuk pamitan. Udah so sweet pamitan, Mami saya malah, "Oh ya, hati-hati." Saya yang tadinya masih berlinang air mata, langsung pengen ketawa. Mami saya baru ngeh kalau saya nangis, "Eh, pamit apa ta, Mas?". Mukidi, "Anu, Tante. Pamit, sekarang saya sudah nggak sama Monic lagi." Lalu Mami saya, "Oalahhhh.. putus. Ya ya, saya kira tadi mau pergi ke mana! Hahahaha.. Nggak karena berantem kan?" Hmmmmm.. Pertanyaan terakhir itu basa-basi. Aslinya, bahagia saya putus :))

Secuek-cueknya dan sebahagia-bahagianya Mami saya ketika saya putus, ketika saya terlihat jarang tertawa di rumah, Mami saya pun bertanya, "Kamu nggak apa-apa kan?" Saya, "Nggak apa-apa gimana?" Mami, "Ya, jangan sedih terus. Bisa cari yang lain. Yang seiman ya lain kali."

Tampang dan kelakuan saya memang boleh urakan. Tindikan boleh banyak. Tapi, kalau sama Mami, saya nggak bisa mengelak. Hati saya hancur kalau melihat Mami saya menangis karena saya.

Rasanya berpacaran beda agama
Sumber: www.brilio.net

Kadang ada yang bilang, "Lah, kalau sudah cinta, mau bagaimana?"

Bagi saya, cinta adalah pilihan. Kita bisa memilih mau cinta pada siapa. Tentu saja pilihannya adalah yang masih masuk dalam kriteria suami idaman. Cinta bisa dikontrol, bukan dikontol. Karena apabila cinta tidak dikontrol, bisa menjadi cinta buta, cinta yang nggak logis, dan cinta yang tai kucing.

Sekali lagi, itu menurut saya.

Karena itu, banyak yang bilang kalau saya ini pemilih, makanya jomblo sampai lumutan. Lah, saya saja mau makan pilih-pilih, masak ya cari pendamping hidup nggak pilih-pilih.

Memang nggak saya pungkiri, saya pernah terlanjur suka dengan laki-laki yang saya tau dia bukan laki-laki yang baik untuk saya. Kalau sudah begitu, saya kembali ke rule awal. Karena cinta adalah pilihan, maka berhenti jatuh cinta pun juga suatu pilihan. Istilah kerennya adalah "move on".

Saya tetap percaya kok dengan kekuatan cinta. Mau pacaran "normal" atau beda agama, pertahankan jika memang pantas untuk dipertahankan, pertahankan jika memang semua pengorbanan kalian sebanding dengan kebahagiaan yang akan kalian dapatkan. Harus tetap selalu ingat dan memikirkan segala konsekuensi yang akan diterima.

Memang kalianlah yang akan menjalani, tapi juga jangan lupa bahwa tidak menutup kemungkinan efeknya akan sampai ke orang-orang yang kita sayangi.

Selamat berpacaran!
Doa jomblo menyertai kalian.

You May Also Like

46 komentar

  1. ((( Doa jomblo menyertai kalian )))

    Doa apa iniiiii? #curigakeras

    BalasHapus
    Balasan
    1. (((((curiga keras)))))

      Doa biar cepet putuslah!
      Mana ada semoga langgeng :)))

      Hapus
  2. "siapa yang menolak indahnya masa pacaran saat SMA?" hahaha betul mbak mon, buaya kampus pun hayo aja dipacarin yang penting kelihatan keren pas masih SMA wakakakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha..
      Dulu berasa keren ya pacaran sama playboy cap buaya
      Sekarang mah dah tua, ogah bener :))

      Hapus
  3. Hehehee saya ketawa2 sendiri baca blog mbak monica ini dan sedikit baper karna efek berusaha move on
    Aku ngerti banget pengalaman nungguin doi sholat sambil senyum senyum sendiri tp sedih juga, ingetin buka puasa, nyariin dia masjid buat sholat, tp aku senang dia pemikirannya terbuka dan gak terlalu ngeribetin perbedaan
    Tp klo dua duanya sudah yakin pd keyakinan masing2, sebagaimanapun berjuang dan bertahan pasti ujung2nya putus dgn alasan klasik
    'jalanin dulu aja' itu memang kata2 yang PAS karna terjebak kenyamanan yang tdk terbatas di diri masing2 namun pada akhirnya terpaksa diakhiri karna jalan sdh berbeda hehehee
    Tp pasti ada hikmah dr putus, jadi lebih belajar menghargai dan mencintai diri sendiri (termasuk perawatan badan dan dandan hehee) sapa tau dengan diri kita yg lbh baik jd dapet jodoh yg lebih baik amin~
    Terimakasih mbak monica sudah share tentang ini
    Sangat memotivasi saya pribadi, tetap berkarya dan kreatif
    Saya jg termasuk rajin ngikutin blog mbak monica hehehee
    Semangat mbak :)))

    Doa jomblo menyertai, God bless you

    F,Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'jalanin dulu aja' itu memang kata2 yang PAS karna terjebak kenyamanan yang tdk terbatas di diri masing2 namun pada akhirnya terpaksa diakhiri karna jalan sdh berbeda hehehee
      >> Sadly truth. Ujung2nya malah nggak putus2 gegara masih saling sayang, nyaman, dan gak mau lepas. Harus tegas sih :D

      Awalnya susah sih, move on tp masih sama2 sayang.
      Tapi, tenang. Move on kan tergantung niat :-*

      Thank you ya udah mau ngikutin blog nggak jelas ini :p

      Hapus
    2. Hai Monica, saya baca ini mau ketawa. Karena saya juga mantan pelaku pacaran beda agama, hahahaha..

      Saya kadang-kadang heran kenapa dulu kita mau melakukan ini, pacaran beda agama ini. Apa enaknya sih nggak bisa ke mesjid bareng, nggak bisa ke gereja bareng? ("Kita"? Eh, Monica nggak masih bareng Mukidi kan, hahaha..)

      Tapi jaman sekolah dulu, mungkin beribadah bersama bukan prioritas kita. Dulu prioritas kita tuh, yang penting punya pacar. Kebetulan si cowok beda agama ini enak buat dipacarin, jadi yah..disamber aja, hahaha..

      Gitu sih motivasi awal saya. Dan itu juga jadi luka ketika kami putus.

      Belakangan tuh, setelah seiring dengan berjalannya tahun, prioritas pun berganti. Yang tadinya cuman kepingin punya partner cinta-cintaan, jadi kepingin yang lain. Saya muslim, kesengsem pingin punya partner yang bisa diajak ciuman sambil ngeliatin Ka'bah. Dan sepertinya mantan saya yang Kristen nggak akan bisa memenuhi itu.

      Dan motivasi itu juga yang akhirnya bikin saya ikhlas merelakan putusnya saya dengan pacaran beda agama.

      Kalau teman-teman sekarang belum bisa move on dari pacaran beda agama, nggak pa-pa. Jalani aja dulu. Lhoo..bener. Nanti juga terasa nggak enaknya kok. Dan seiring dengan berjalannya waktu, kita punya modal untuk mengambil keputusan, pacaran beda agama ini mau dihentikan atau dilanjutkan.
      Yang paling penting, keputusan apapun yang diambil, nggak boleh sampai bikin kita menyesal di kemudian hari nanti :-)

      Hapus
    3. Tapi jaman sekolah dulu, mungkin beribadah bersama bukan prioritas kita. Dulu prioritas kita tuh, yang penting punya pacar. Kebetulan si cowok beda agama ini enak buat dipacarin, jadi yah..disamber aja, hahaha..
      > YHA!!!!

      Iya, jalani aja itu sah-sah aja kok :D
      Yang penting sama-sama tau resiko aja. Namanya juga drama percintaan, yang penting kan nikmat #eaaaaaa

      Hapus
  4. *kemudian teringat masalalu*
    *kemudian galau*
    ☹️😂😂😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sambil nyruput kopi, biar makin galau :")

      Hapus
  5. pas baca post ini :
    1. gue kira beneran nama mantan pacarnya monik dulu Mukidi
    2. bisa dipastikan Mukidi bau tanah....

    semangat yak Mon, ternyata hidupmu sekeras renderan video yang ga kelar-kelar :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh, Pah, namanya tu memang Mukidi. Aku kenal kok :)) #LariLariKetjil #HaiMukidi #TenanPoEnakJamaneMomon?

      Hapus
    2. (((((bau tanah)))))

      Astagaaaaa... aku sudah mencoba melupakan render video!
      Kau mengingatkanku lagi :'(

      Hapus
  6. Suka bangt sama tulisan mbak monic yg ini. Luv luv buat mbak 😘😘😘.

    Lylsabine.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieeeeee.. senasib cieeeee.. 😘

      Hapus
  7. Wah aku jadi KSBB (kelingan sing biyen-biyen) :))

    Kalau dulu aku putus-nyambung. Akhirnya aku putuskan total karena aku sadar, aku terlalu memikirkan perbedaan agama sebagai alasan putus yang sebelum-sebelumnya padahal kami memang nggak bahagia (walau waktu itu dia kayaknya nggak sadar sih).

    Nice post, mbak. Doa jomblo menyertaimu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa2 KSBB doang. Asal nggak baper 😜

      Nah!! Kamu ndoain aku ttp jomblo??? 😂

      Hapus
    2. Maksudku doa jomblo (yaitu saya) menyertaimu :))

      Hapus
  8. Halo, Ay ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, Ay..
      Jangan di sini atuh :")

      Hapus
  9. Makasih ya yg semalem..
    Gak ada yg marah kan km jalan sama Mukidi lg ?

    btw, aku kangen ngelus-elus Gyo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. di kolom komentar gak ada pilihan sebagai Mukidi, Ay :)
      salam ya buat semua penunggu Besok Siang..

      Hapus
  10. ngekek aku mon baca blog mu..

    terima kasih sudah menghibur,
    dasar edaaannn, moga2 balikan ma mas mukidi (semoga mas mukidi lekas dapat hidayah),hwkakakaa, piss bro mukidi :))

    doaku dan rendy menyertaimu,
    les meneh nyokk mon :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngahahahaha.. doamu eleeeekkkk..
      Aku moh balikan wek! :p #jujurbanget

      Les opo, Shin?
      Les perkawinan? :|

      Hapus
  11. Halo, Mon. Mak sliwer ndelok tautan blogmu nang FB njuk mampir. Sejatinya, aku kaget lho dirimu pegatan sama Mas Mukidi-yang-sebenarnya-aku-tahu-identitas-aslinya. Aku kira bakalan samapai ke jenjang yang lebih sakral walaupun entah siapa ikut siapa pas momen itu. Eh, ternyata putus tak lama setelah KKN. setidaknya, sebulan sempet seatap bareng kalian, aku sedikit (banget) mengerti masa-masa kalian masih bareng dulu. Dan saktenane, aku kagum dengan kalian yang berani ambil keputusan itu dan bertahan selama itu. Tapi, seperti tulisanmu, nikah bukan cuma 2 orang saja tapi "urusan" banyak orang. Mungkin keputusa kalian bukan yang terbaik untuk kalian tapi menurutku keputusan tepat dan bijak.
    Aku ngomong serius tenan yo..
    Semoga segera dipertemukan jodohnya masing-masing, segera yo..

    PS: Mas Mukidi-yang-sebenarnya-aku-tahu-identitas-aslinya sudah move on kah? Aku sempet ketemu kok kayak e kurang gairah urip e.. tapi yo bar bali nyambut gawe sih pas kuwi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Luthfi yang-saya-juga-tahu-jati-diri-Anda, sungguh tidak pada tempatnya Anda kagum pada 2 orang gila. Eh, Monica saja yg gila, saya ndak.
      Keputusan itu adalah yg terbaik bagi semuanya, walaupun dg cara yg tidak mengenakkan bagi kami berdua.
      Dan, aamiin.. doa yg tulus adalah hadiah terbaik

      PS: Saya Mukidi yang-sudah-move on

      Hapus
    2. Sudah.. Sudah..
      Mbok yang rukun

      Hapus
    3. Katanya mas Mukidi? Kok Anonim? Sudah rukun? Kapan balikan? #eh

      Hapus
    4. Biarlah Mukidi tetap menjadi sosok yang misterius, Luth..
      Biarkan dia bahagia dengan caranya #uopooooooooohhhhhh

      Nek meh balikan, ndadak KKN neh, Luth..
      Rempong :)))

      Hapus
    5. Yowes aja balikan yo? #loh #eh
      Males le KKN e... hahahahaha

      Hapus
  12. jeng monik,,saya ngerti bgt gimana perasaan kamu karena aku juga pernah mengalami hal yang hampir sama. saya juga pernah 4,5 tahun pacaran dgn cowok beda agama, dari awal kuliah sampai lulus. begitu lulus, begitu orangtua nanyain kapan mau serius? disitulah mulai galau. apa yang tadinya berawal dari "jalanin dulu aja" berubah jadi dilema dan galon tingkat provinsi. ketika kami memutuskan untuk mengakhirinya dgn baik-baik saja, tak terkira airmata yang tumpah saat itu. tapi ya, waktu adalah penyembuh yang mahadahsyat. sekarang saya sudah menikah dengan yang seiman, dan benar-benar jodoh yang luarbiasa. namun saya mengenang saat2 bersamanya sebagai kenangan indah yang tak perlu dilupakan. cukuplah dikenang sekali-sekali. maaf ya malah jadi curhat. pokoke, percayalah kalau waktu akan selalu membawa kejutan-kejutan. salam kenal yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa lalu kan memang bukan buat dilupaka, tapi untuk dikenakan. Ya, kali yeeee.. bisa dilupakan semua. Amnesia :D

      Penyembuh yang maha dahsyat menurutku adalah tekad siiiihhh.. Mau bertahun-tahun pun kalau nggak ada tekad buat move on ya wasalam :D

      Btw, salam kenal juga, Ria :D

      Hapus
  13. Halo mba momon :)
    Rasanya gimana gituu pas baca ini hehehe.
    Hemmmmm mamimu masih termasuk baik ya mba, ga kyk mamiku ><
    Habis putus sedih ya?
    Aku malah ga sedih, bukan karna ga sayang atau gimana. Cuma setelah putus malah lebih plong, lega, bebannya hilang, udah ga ada perasaan ganjel dsb.
    Karna yg aku rasain hub beda agama itu,,hmm seneng ya seneng happy ya happy, bahagia kok. Cuma ada perasaan yg ngganjel, gelisah, ga tenang.m knya stlh bubar rasanya jd lbh tenang.
    Knp ak bs ngrasa gtu? Krn aku msh punya cita2 pgn nerima skramen prnikhan d greja, punya suami yg bisa jd 'imam' di keluarga.
    Makanya skrg klo ngliat cwo yg wlpun sehebat apapun tp kl beda yawis 'bhay!'
    Krn aku pny pemahaman bhwa Tuhan ga pnh mnjanjikan pernikahan atau kluarga yg sempurna. Masalah pasti lah akan selalu ada. Kalo pondasi iman kami sama dan slg menguatkan, badai masalah yg muncul psti akan bs teratasi (bukan berarti agama lain gabisa mengatasi lho) cuma kalo sama kan lbh enak. Bisa brdoa bareng, saling menguatkan, slg mengingatkan dgn ayat/renungan, klo salah/khilat ngerti harus lari kemana, ke sumber kitab yg mana, akarnya sama jd slg berusaha membngun prnikahan di atas iman.

    Setuju ga mba mon? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mamiku orangnya memang begitu sih. Lebih ke "biarin aja anak belajar sendiri lewat pengalamannya", jadi kesannya agak2 cuek :D

      Iya, memang kebanyakan alasannya adalah "yang seiman aja bisa banyak masalah, apalagi yang beda". Tapi, buatku sebenarnya, masalah akan selalu ada dan untuk saling menguatkan bisa saling menguatkan melalui jalan dan cara masing-masing. Tapi, ya lagi-lagi balik ke ternyata pemikiran kita gak selamanya bisa diterima orang tua karena alasan "orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya" :D

      Hapus
  14. Akuuu ikutan ah, yang statusnya masih pelaku hubungan beda agama. Dulu pas baru jadian juga udah sadar sih kalo beda agama nanti pasti akan susah, tapi tetep dijalanin dulu karena orangnya ganteng. #timanakgampangan

    Cuman untungnya keluargaku ngga yang saklek gitu sih sama agama, tapi masalahnya beda lagi, di masalah ras. Hahaha. Udah rempong deh kalo gitu. Cumanan karena gak ada masalah agama yang berarti dari pihak perempuan jadi yang jadi poin penting adalah poin bagaimana pihak laki-laki membuktikan kalau dia bisa jagain si perempuan dengan baik seperti waktu si perempuan tinggal sama emak-bapaknya. Itu jadi usaha berdua sih, tapi tetap menganut asas KJDA. Emang butuh waktu lama sih untuk ngebuka pikiran masing-masing. Tapi aku malah seneng kalo liat dia rajin solat, seneng dia puasanya gak bolong, ikutan pasang weker buat nelponin tiap sahur biar doi gak kelewatan, seneng waktu dia banyak baca buku yang ngejelasin soal agamanya yang ngebuka pikirannya, karena artinya dia bertanggung jawab sama hal yang udah dia pilih dan melaksanakan sebaik-baiknya. Aku? Aku ya ngikut aja mau kemana ya hayuk. #lagilagianaknyaemanggampangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada Vani :D

      Tergantung yang ngejalanin kok. Kesepakatan. Kalau memang sudah sama-sama "ayok", ya ayok aja :D

      Tapi, gara-gara pernah beda agama juga, toleransiku jadi meningkat dan malah lebih open mind. Jadi banyak belajar laaaaa... Nggak cuma cinta-cintaan aja :D

      Good luck ya, buat hubungannya :)

      Hapus
    2. *teringatmasalalu..
      Nyaris aja mau jadian sama yang beda agama. Aku tw gk mudah klo kami trus brsama. Pas dia nembak aku,aku ngalihkan pembicaraan. Aku tw dia kecewa.tp aku gk mungkin jalan sama dia.jadi ingat lagu peri cintaku.. Duh lupa sapa yg nyanyi..

      Hapus
    3. Yang nyanyi Marcell :D

      Hapus
  15. Ivon jayawati11/15/2016

    Halo Mba Monic,
    Br kali ini ak komen #jadimalu
    Kbtulan pas cri2 bacaan ttg pacaran beda agama :D
    Aku skrg uda 7 taun sama si doi yg beda agama daaan beda ras juga ~herder kali ya pake ras hahaha
    Uda jelas ya banyak drama slama 7 taon dan endingnya...
    ....
    ......
    .......

    Tanggal 1 desember kita nikah. Emang sih ga bisa nikah secara agama, dan mungkin bakal ada drama lagi, tapi saat restu dari smua kluarga ud mengalir lancar rasanya tuh plonggg #lega
    Tapi yang bikin kesel tu para penonton yg nyinyir �� ikut susahnya juga engga, tapi ikut komentarnya banyakkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaaaah, Ivoooonnn..
      Selamat yaaa.. Eh, beneran aku seneng bacanya! 😄

      Drama dalam idup akan selalu ada lah ya. Yang penting restu orang tua bisa didapat. Yang lain, biarlah berlalu 😜

      Sekali lagi, selamat yaaaaa.. Semoga langgeng, dear 😘

      Hapus
  16. hai mbk monmon yg cangkemannya slalu eyecatching buat dimampiri ��

    pacaran beda agama pasti byk "kerikil2" nya. apalagi di indo skg lg hits rame kasus ahok MUI FPI #huopohiki #gagalfokus

    ortuku beda keyakinan. sbg anak, g bingung? pas kecil y bingung, mau ngaji sore bareng temen2 Kampung atau main2 di sekolah minggu ���� Tp skg dah mantep, kan dah gede ��

    untungnya ortu liberal, bebas, terserah... asal selalu bs bedakan baik & buruk, dan g malu2in nama keluarga. Keluarga besar jg asik2 aja, misal ada yg nggerundel y biarin aja di blkg, cuekin aja, toh org2 nyinyir pasti selalu ada ��

    Tiap thn ngerayain hr raya 2x. Natal ikut, lebaran y ikut. Klo pas puasaan anggota keluarga yg g puasa biasanya jg nemeni yg lg puasa, lalu buka puasa bareng. Doa brsama di rmh ya dg cara masing2 (ky meme meme di fb itu ��) tp kami percaya Tuhan Maha Tau, cm cara kami berbeda. Sedihnya momen ke greja bareng lengkap itu langka, polpolan pas misa khusus aja, ky Malam natal atau jumat agung.

    g tau deh dulu ortu pacaran model apa, yg jelas mreka pasti strong, apalagi anak dah hampir seperempat abad gini �� g pernah tuh rame teriak lempar ala sinetron cm gara2 g sepaham.

    jadi pacaran beda agama gpp? Jodoh itu kita memilih dan pilihan Tuhan. Kita berhak memilih calon jodoh & memperjuangkan, tp jd gak nya biar "Bos Besar" yg ngatur, pasrah dah. Aku pribadi sih pengennya *pgn bgt* y seiman, biar bs terima Sakramen di greja. Soalnya sering baper Klo liat ada kakek nenek di greja bareng, duduk sandingan, gandengan �� sweet kan y ��

    Tp sygnya aku cm masih dlm pencarian ky km. Keep strong sis, be high quality jomblo! *berasa tmen senasib* ����

    salam tos jombloers ! ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo.. Wah, sayangnya kamu anonim :(
      Padahal tsurhatanmu bagus.

      Aku juga punya temen yang ortunya beda agama. Bapaknya Muslim, sering nganter Ibu sama temenku ke gereja. Bahkan, Bapaknya ikut masuk walaupun cuma sedakep, hahahaha..

      Menurutku juga nggak apa-apa, selama pantas dan mau memperjuangkan, serta keluarga utama yang mendukung :)
      Tapi, ya ada ego untuk nikah di gereja, makanya kupilih yang nggak usah pakai drama aneh2 deh :D

      Hapus
  17. Wah,pas banget sama aku ka. Aku muslim, pacarku kristen (gatau katolik apa protestan). Tapi so far kita gak apa-apa kok. Jangan dijadikan perbedaan agama itu alasan buat berpisah kalo emang gaada masalah dari awal #eaaakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loooohhh.. pacar sendiri kok ndak tau Katholik apa Kristen Protestan? 😂

      Jalani dulu aja eaaaakk? 😋

      Hapus