[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 1: Andre

by - 11/18/2016


Hai.

Namaku Keisha.

Aku tinggal di salah satu kawasan elit di Yogyakarta. Rumah 2 lantai dengan luas tanah 520 meter persegi, memiliki desain minimalis modern dengan cat didominasi warna putih. Furniture kayu berwarna coklat yang menghuni setiap ruangan memberikan kesan modern dengan sentuhan vintage. Dan ukiran di setiap furniture menambah kesan apik di rumah ini.

Bagian rumah yang paling aku suka adalah halaman belakang. Kolam renang di halaman belakang adalah the best spot untuk melamun dan menggalau di malam hari ditemani oleh temaramnya lampu taman di setiap sudut halaman. Kalau insomniaku kambuh, aku akan menghabiskan malam dengan duduk di tepi kolam renang dan memainkan air menggunakan kakiku. Cahaya perpaduan dari cahaya bulan dan lampu taman yang dipantulkan oleh air dari kolam renang seringkali menambah suasana menjadi syahdu.

“Keishaaaaaaaa.. Ayo, berangkaaaattt. Duh, lama amat sih!” teriak Rasha dari dalam mobil yang diparkir di depan garasi.  Jam tanganku menunjukkan pukul 06.40 WIB, kulihat matahari bersinar dengan gagahnya.

“Iya, Shaaaa.. Sebentaaaarrr. Baru pakai sepatuuu...” teriakku dari teras.

“Rrrrrrrrr.. Tidur dah kayak kebo! Dibangunin susah banget!” omel Rasha.

“Iya, iyaaaa..” aku menyambar tas dan menghampiri Bapak dan Ibu.

“Pak, Bu, Keisha berangkat kuliah dulu ya. Itu si Rasha udah teriak-teriak nggak jelas," pamitku kepada Bapak dan Ibu.

“Iya, hati-hati ya, Nduk," sahut Ibu sambil mengelus rambutku. Setelah mencium tangan Bapak dan Ibu, aku pun menuju mobil tempat Rasha teronggok sambil mengomel.

“Pak, Buuuu.. Kami berangkat kuliah dulu yaaa..." pamit Rasha kepada Bapak dan Ibu.

“Iya, Nduuuk.. Hati-hati ya, nyetirnya jangan ngebut-ngebut," sahut Bapak.

“Siap, Pak!” jawab Rasha sambil menjalankan mobil.

“Makasih, Pak Unang," kataku kepada Pak Unang yang telah membukakan pintu gerbang. Mobil kami pun meninggalkan rumah secara perlahan.

Selamat pagi, Kehidupan!

***

Aku dan Rasha kuliah semester 5 di salah satu universitas swasta di Yogyakarta, Fakultas Teknik, Program Studi S1 DKV (Desain Komunikasi Visual). Kadang kami mengambil kelas yang sama, kadang juga mengambil kelas yang berbeda. Kebetulan, pagi ini kami ada di kelas yang sama.

"Udah tau ada kelas Pak Eka pagi ini, masih aja begadang! Susah pula dibangunin!" terdengar Rasha yang ternyata masih mengomel.

"Sha, aku telat bangun bukan gara-gara begadang. Tapi, gara-gara alarm HP-ku nggak bunyi. Biasanya, aku tetep bisa bangun walaupun begadang kan? Lagian aku begadang juga buat ngerjain tugas, dan ternyata habis tugas kelar, malah keterusan nggak bisa tidur," jelasku panjang lebar.

Terdengar lagu Chainsmoker-Closer yang mengobati telingaku yang mendengung mendengar suara Rasha yang masih saja terus mengomel sepanjang perjalanan.
So, baby, pul me closer
In the back seat of your Rover
That I know you can't afford
Bite that tattoo on your shoulder
........................ 

***

Setelah memarkirkan mobil, kami berlari menuju Ruang Syahrir karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB yang berarti kami sudah telat 10 menit. Damn! Macetnya Yogyakarta sudah hampir menyamai Jakarta. Sesampainya di Ruang Syahrir, pelan-pelan kubuka pintu, aku bernafas lega karena ternyata Pak Eka belum datang.

Pak Eka adalah dosen yang terkenal memiliki disiplin yang tinggi. Telat lebih dari 3 kali dalam satu semester, selamat datang nilai E! Aku dan Rasha sudah 1 kali telat, kuota telat kami tersisa 2 kali.

“Pak Eka belum dateng, San?” tanyaku pada Santi.

“Kata Bagian Akademik, Pak Eka sakit, Kei. Tapi, katanya ada tugas. Ini baru nunggu fotokopi soal," kata Santi.

“Yaelah! Tau gitu nggak perlu lari-lari!” omel Rasha.

Aku dan Rasha segera duduk di kursi yang paling depan karena hanya kursi barisan depan yang tersisa. Dan Rasha segera bergabung di grup sebelahnya untuk memulai ghibah pagi hari.

Situasi kelas pagi ini cukup ramai dengan tawa dan canda. Sepertinya banyak yang senang karena Pak Eka sakit. Di tengah orang-orang yang mengobrol, ada pula yang lebih memilih asyik dengan handphone sendiri. Tapi, tidak sedikit pula teman-temanku yang terlihat sedang mengerjakan tugas kuliah untuk kelas selanjutnya. Kantung mata terlihat jelas di mata mereka.

“Kok telat, Kei?” Keasyikanku mengamati kondisi kelas terbuyarkan oleh suara Anton yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.

“Ya, ampun Anton! Ngagetin aja! Sejak kapan kamu duduk sini?!” tanyaku.

“Daritadi kok”, jawab Anton dengan wajah tanpa ekspresi.

"Oh, mmm.. Iya, tadi telat bangun," jawabku sekenanya.

Anton dikenal dengan sebutan The Invisible karena aura kehadirannya sulit untuk dirasakan. Padahal hantu saja masih bisa dirasakan kehadirannya. Anton juga terlihat jarang bergaul, model mahasiswa “kupu-kupu” atau kuliah-pulang-kuliah-pulang. Bahkan, Rasha tahu makhluk bernama Anton baru kemarin.

“Kei, sejak kapan ada makhluk bernama Anton?! Kok aku nggak pernah tau?" tanya Rasha. 

“Daridulu satu angkatan sama kita kaliii.. Sering satu kelas bahkan,” jawabku.

WHAT?! Kok aku nggak pernah lihat ya? Aku bahkan baru sadar ada yang bernama Anton di kelompokku setelah 3 kali ngerjain tugas kelompok, padahal dia bilang kalau selalu ikut ngerjain tugas. Kutanya anak-anak yang lain, ternyata hanya satu dua yang notice kehadirannya,” kata Rasha dengan ekspresi setengah tidak percaya.

Masih sedikit kaget dengan kehadiran Anton, tiba-tiba aku merasa diawasi dari belakang. Kuarahkan pandanganku ke bangku barisan belakang. Kuamati satu per satu penghuninya, dan pandanganku tertuju pada Andre yang duduk di kursi belakang di salah satu sudut ruangan, matanya menatapku tajam. Ketika pandangan kami saling beradu, dia menatapku sejenak, kemudian kembali asyik dengan buku gambar dan headset di telinganya.

Berbeda dengan Anton, Andre cukup dikenal di kampus karena karya-karyanya beberapa kali menang lomba tingkat internasional. Karyanya memang sangat luar biasa, aku pun mengaguminya karena selalu ada makna yang "dalam" di setiap karyanya. Walaupun karyanya cukup dikenal, tidak banyak yang tahu kehidupan yang sebenarnya dari seorang Andreas Aditya.

Selain nama panjang dan hobinya bermain basket, tidak ada lagi informasi penting yang dapat diketahui. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu dia tinggal di mana. Rasha pernah mencoba membuntutinya, tapi selalu gagal karena selalu kehilangan jejak.

Jika ada yang bertanya, "Rumah atau kosanmu di mana sih, Ndre?" Andre hanya menjawab sambil tersenyum, "Di daerah utara." Aku curiga, Andre adalah cucu Mak Lampir yang tinggal di bawah kaki Gunung Merapi.

Andre berkulit sawo matang dan memiliki wajah yang manis. Brewok yang malu-malu tumbuh di sekitar dagu  dan rambut sebahu yang selalu diikat tidak membuat wajahnya terlihat dekil. Gayanya yang casual dengan celana jins dan snikers yang selalu menemaninya, ditambah dengan sosoknya yang misterius, membuat mahasiswi di kampusku menggilainya.

“Cowok bangeeeeetttt..” kalau kata Rasha, "Tatapan matanya juga tajam. Bikin meleleh deh, Kei!" Walaupun Rasha menggilainya, tapi aku merasa kurang nyaman dengan tatapan Andre kepadaku.

Seringkali aku mendapatinya sedang menatapku secara diam-diam, tapi bukan dengan tatapan laki-laki yang memperhatikan perempuan pujaan hatinya. Mungkin lebih tepat jika dikatakan mengawasi dibandingkan dengan memperhatikan.

Pernah suatu hari, ketika pandangan kami saling beradu, aku mendatanginya dan bertanya, “Kenapa, Ndre? Ada yang perlu diomongin?” Andre hanya menjawab, “Nggak,” dan meninggalkanku begitu saja. Ekspresiku kala itu seperti perempuan yang dicampakkan.

Selain Andre, aku merasa ada orang lain yang juga mengawasiku. Tidak hanya membuatku merasa tidak nyaman, kadang aku juga merasa terancam. Seperti yang kurasakan saat ini, entah sejak kapan, ada orang lain yang mengawasiku.

Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, tidak ada yang mencurigakan, semua sibuk dengan dunianya. Kembali kulihat Andre, ternyata dia masih asyik dengan buku gambar dan headset di telinganya. Ah, mungkin hanya perasaanku.

Bersambung ke chapter selanjutnya...
Chapter 2: Keluarga Soedrajat

You May Also Like

7 komentar

  1. Jangan2, setan kampus lagi...
    *efek kebanyakan baca yang horor-horor*

    Masih menebak-nebak ini genre nya bakalan jadi apaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bocoran aja sih. Ini genre-nya XXX bondage jadi porn terus semi-semi gore gitu




      #laludiunfollow

      Hapus
    2. Itu mah kalo ses Arum yang nulis...
      Aku curiga mbak Mon mau bikin drama romansa yang termehek-mehek buat nyaingin cerita sinetron di RCTI.
      *insting detektif gadungan*

      Hapus
    3. Sebenarnya, benar apa kata Brarum. Nanti akan berujung............ porn yang termehek2 💩

      Hapus
    4. Aku skip-skip bacanya aja. Kuvepetin bagian porn nya aja...

      Hapus