[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 3: Rahasia Bapak

by - 12/01/2016


Chapter 1 Andre

Chapter sebelumnya: Chapter 2 Keluarga Soedrajat

Aku membuka mataku perlahan. Aku mengedip-ngedipkan mataku, mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan kondisi sekitarku. Ketika kuedarkan pandanganku, hanya kegelapan yang kudapatkan.

"Haloooooooo.. apa ada orang di sini?"

Hening.

"Haloooooooo.."

Keheningan kembali menyapaku.
Di mana aku?
Aku gerakkan kaki dan tanganku, berharap aku bisa menyentuh sesuatu yang bisa kujadikan petunjuk.
Bagaimana kalau aku memegang sesuatu yang ternyata menakutkan atau menjijikkan? 
Sendirian  di tempat yang asing, gelap, tidak tahu apa yang sedang dan apa yang akan terjadi, membuatku mulai merasa ketakutan. Aku tarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku tidak boleh panik.
Semua akan baik-baik saja, Keisha.
Ya, semua akan baik-baik saja.
Aku mencoba berkonsentrasi, aku tajamkan kelima indera yang kumiliki untuk mendapatkan petunjuk, sekecil apapun itu. Aku tidak melihat apapun, aku tidak mendengar apapun, dan tidak ada apapun yang bisa kusentuh. Aku merasa seperti berada di ruangan kosong.

Kurasakan semua anggota tubuhku bisa bergerak dengan bebas. Tapi, badanku terasa berat, seperti ada tekanan dari sekelilingku. Setiap kali aku gerakkan kaki dan tanganku, aku merasa seperti menyentuh suatu permukaan lapisan.

Entah sudah berapa kali aku berputar-putar tanpa bisa melihat dan mendengar apapun. Aku gerakkan kakiku ke depan dan ke belakang untuk menjaga keseimbangan, aku juga menggerakkan tanganku untuk mengendalikan ke mana arah tubuhku bergerak. Aku seperti orang yang sedang berenang.
Tunggu!
Berenang?

Air! Ya, pasti aku sedang di dalam air!

Tapi, kenapa aku bisa bernafas dengan normal?
Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan menggapai pergelangan kakiku. Tangan tersebut terasa lebih dingin dibandingkan dengan air di sekitarku, terasa lunak seperti jelly, namun mampu mencengkeram pergelangan kakiku dengan sangat kuat.
Apakah tangan ini juga terbuat dari air?
Bertambah satu lagi tangan yang mencengkeram pergelangan kakiku. Aku merasakan air di sekelilingku mulai bergetar, seperti ada makhluk lain di dekatku.

Bertambah lagi menjadi tiga, empat, lima, enam, tujuh, kini tangan-tangan tersebut tidak hanya mencengkeram pergelangan kaki dan betisku, bahkan pahaku juga. Mereka mulai menarikku dengan kuat, menyeretku ke dasar air, semakin dalam, dan semakin dalam.

"Hei, tunggu! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan!!"

Aku berusaha tetap menggerakkan kakiku. Aku gerakkan tanganku dan berusaha berenang menuju ke atas agar tubuhku tidak terbawa semakin ke dalam.

"Hentikan! Lepaskan aku! Kalian mau membawaku ke mana?!"

Tangan-tangan tersebut semakin kuat mencengkeram dan mulai membelit tubuhku, tak terhitung lagi jumlahnya. Kini, hanya tangan dan kepalaku yang mampu bergerak dengan bebas. Aku mencoba menggerak-gerakkan tubuhku agar terlepas dari mereka.

"Aaaaaahhh.. sh*t!! Sessssaaaaakkk.."

Semakin aku berteriak kesakitan, semakin erat pula cengkeraman mereka. Aku mulai merasakan tubuhku kehabisan oksigen. Aku juga mulai kehabisan tenaga, kesadaranku mulai hilang. Aku sudah tidak kuat lagi untuk bergerak dan melawan.
Apakah aku akan mati?
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!!!" aku membuka mataku, tubuhku terduduk di tempat tidur. "Hah! Hah! Hah!" nafasku menderu, keringat dingin membasahi badanku. Kuraba bagian bawah pantatku. Tidak basah, syukurlah aku tidak mengompol.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 02.30 WIB. Bisa dipastikan, aku tidak akan bisa tidur lagi. Tai.

***

"Nggak bisa tidur lagi, Nduk?"

Suara Bapak membuyarkan kekhidmatanku menikmati desiran angin yang menyapu permukaan air dengan lembut. Gelombang air dengan pantulan lampu taman yang temaram sungguh terasa menenangkan.

"Jam segini kok malah nongkrong di luar, itu juga ngapain kakinya nyemplung ke kolam renang. Nanti kamu masuk angin," lanjut Bapak.

"Bapak ini ngagetin saja. Aku kira tadi suara setan," aku keluarkan kakiku dari kolam renang. Kulihat Bapak sedang berdiri di samping pintu, batas antara bagian dalam rumah dengan halaman belakang.

"Kalau Bapak itu setan, berarti kamu itu anak setan," canda Bapak.

Di dekat tempat Bapak berdiri, terdapat sofa yang memiliki warna senada dengan meja panjang di depannya, meja yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat keemasan dengan ukiran floral di bagian pinggirannya. Aku menghampiri sofa tersebut dan mendudukinya.

"Wahai, Bapak Setan. Sini duduk di samping anak setan, kita buat halaman belakang rumah ini menjadi kerajaan setan," aku menepuk space kosong di sofa yang aku duduki.

Bapak merupakan sosok yang pendiam, namun memiliki selera humor yang cukup baik. Bapak lebih sering membalas ejekanku dengan candaan. Aku bisa bebas bercanda tanpa takut dijewer seperti yang sering dilakukan ibu.

"Jam segini kok ya, Bapak belum tidur?"

"Ibumu ngorok, Bapak jadi nggak bisa tidur," jawab Bapak sekenanya.

"Wah, jangan-jangan kecoa sama tikus di kamar juga ikut keluar gara-gara dengar Ibu ngorok?!"

Aku dan Bapak saling berpandangan, kemudian tertawa bersama, "Sudah lama ya, Nduk kita nggak ngobrol bareng seperti ini, hahahahaha."

"Iya, Pak," aku tersenyum memandangi wajah Bapak.

Kuamati wajah Bapak yang sudah mulai termakan usia. Bapak memiliki sinar mata yang teduh, membuatku merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Walaupun sudah cukup tua, tapi badan Bapak masih tegap dan kuat. Aku hanya bisa berdoa agar Bapak selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.

Aku gamit lengan kiri Bapak, kupandangi dan kuraba bekas luka bakar di sepanjang tangan kirinya. Aku tersenyum, menikmati keintiman yang sudah jarang terjadi. Kulihat sepintas kaki palsu di kaki kirinya, benar-benar mirip dengan kaki asli. Beberapa kalimat cemoohan dari teman-temanku kembali terlintas.

"Bapaknya Keisha kan cacat, makanya cuma bisa kerja serabutan," kata Otong, salah satu teman SMAku.

"Eh, ada Pak Wahyu si kaki buntung lewat!" seru anak-anak di kampungku.

Aku hanya bisa menangis mendengar semua cemoohan itu. Hati ini terasa amat sakit menanggung rasa bersalah atas apa yang terjadi 6 tahun lalu, peristiwa yang telah merenggut kaki kiri Bapak.

"Mikir apa, Nduk? Kok malah ngelamun," pertanyaan Bapak membuyarkan lamunanku.

Kupandangi Bapak, lalu kupegang kedua tangannya, "Maafkan Keisha ya, Pak. Seandainya saja waktu itu.....," aku berusaha menahan bulir air mataku agar tidak jatuh ke pipi.

Bapak menarik nafas panjang, menghembuskannya, kemudian menatapku, "Sudah berapa kali Bapak bilang, tidak perlu lagi membahas peristiwa itu. Kamu tidak perlu meminta maaf terus-menerus, itu semua hanya kecelakaan."

"Bukan, itu bukan kecelakaan. Keisha yakin Bapak tahu akan hal itu karena Bapak melihat semuanya dengan mata dan kepala Bapak sendiri. Kenapa Bapak nggak menceritakan yang sebenarnya ke Ibu?"

Akhirnya, aku menanyakan hal yang selama ini membuatku penasaran.

"Karena tidak penting untuk diceritakan. Apapun yang terjadi, apapun yang ada di dalam dirimu, kamu tetap Keisha anak Bapak dan Ibu," Bapak memandangku lembut, "Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Biar Bapak terlihat lebih spesial di mata kamu," Bapak mengerlingkan matanya padaku.

Anaknya sudah hampir menangis, Bapak malah mengajak bercanda. Aku tersenyum, kuciumi kedua tangan Bapak.

"Pak, Keisha boleh tanya satu hal lagi?"

"Apa, Nduk?"

"Waktu peristiwa itu terjadi, apa Bapak juga melihat sosok perempuan yang menolong kita?"

"Maksud kamu Mbak Mirna?"

"Bukan, bukan, maksud Keisha bukan Mbak Mirna. Tapi, sosok perempuan dalam kobaran api."

"Hhmmmm.. ternyata memang benar ada sosok perempuan dalam kobaran api yang menolong kita saat itu ya?"

"Jadi, Bapak juga melihatnya?"

"Iya, Bapak kira, Bapak hanya berhalusinasi karena hampir kehabisan oksigen."

Bersambung ke chapter selanjutnya...
Chapter 4: Mbak Mirna si Pelayan Bahenol

You May Also Like

10 komentar

  1. Eeettttt dah sial Bapak Setan bikin penasaran 😥😥😥

    BalasHapus
  2. Waktu baru baca paragraf awal, kirain tu bocah titisan putri duyung... Hahaha... Apakah sosok perempuan dalam kobaran api itu merupakan kuntilanak merah? Kan lagi hits tuh mbak Mon...

    Tunggu episode selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang mbahas setan2an mending Arum aja deh yang emang dah kayak setan. Biar menjiwai. Saya mah kayak malaikat.

      Hapus
    2. MANA PERNAH AKU BAHAS SETAN

      Hapus
    3. Horror bagiannya jenganten lady kan? Itu lucid dream kan secara ilmiah ada, tapi rasa-rasanya kalo di Indo lebih masuk ke hal-hal mistis...

      Mbak Mon ini genre misteri bukan yes? Soalnya banyak misteri yang belum terungkap. (komen ngawur) Ini berasa misteri soalnya tiap episode sukses bikin aku nebak-nebak 'ini genre nya mau dibawa ke arah mana?'

      Ah ses Arum kan bagian yang saru-saru itu...
      Nggak bikin resep masakan lagi ses? Tutorial nyambel, atau rebus indomie biar rasanya seenak abang-abang burjo itu gimana ses?

      Hapus
    4. Kalau maksudnya misteri itu yang dhemit atau semacam cerita detektif, jawabannya sih bukan 👻

      Ntar pelan-pelan keliatan kok genrenya apa 😌
      Di chapter 2 sebenarnya dah ada spoiler genrenya apa. Di chapter ini juga 👻

      Hapus
  3. mb mon.. ceritanya kependekan.. mending dipanjangin dikiitt lagi deh paling ga 2 bab lagi, drpd aku demo gegara drimu penistaan cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Chapter 4 akan lebih nista lagi, Khak.. 😚

      Hapus