Penjelasan Mengapa Post Kisah Nyata "Lucid Dream" Dihapus

by - 12/13/2016

Rakyat Besok Siang yang perhatian dan tidak baperan,

Beberapa waktu yang lalu, Dhika mengawali menulis sebuah kisah nyata di Besok Siang mengenai Lucid Dream. Kisah tersebut dimaksudkan akan menjadi kisah bersambung, yang dibagi menjadi beberapa part. Dalam waktu singkat, part 1 telah dibaca lebih dari 3000 kali. Banyak rakyat yang ikut berbagi pengalamannya sendiri, baik di kolom komen maupun di akun instagram kami.

Tapi dengan sangat menyesal, kami memutuskan untuk menghentikan kisah tersebut. Kami juga memutuskan untuk menghapus tulisan yang sudah dipublikasikan. Tentunya bukan tanpa alasan. Ada beberapa hal yang membuat kami (dengan berat hati) memutuskan hal yang ada kemungkinan mengecewakan pembaca. Saya sebagai orang awam dan yang paling nggak peka terhadap hal-hal gaib, memilih untuk menjadi sukarelawan menjelaskan alasannya.


Dhika sebenarnya sudah lama nggak mengalami Lucid Dream. Dan juga tentunya sudah lama pula nggak mengalami gangguan-gangguan sampingan yang disebabkan oleh Lucid Dream. Dhika menuliskan pengalaman Lucid Dream yang pernah dialaminya, dengan maksud sekedar berbagi pengalaman unik yang mungkin dapat menarik lebih banyak pembaca. Tapi semenjak Dhika menuliskan pengalaman tersebut, gangguan kembali muncul, dan sudah dalam level yang sangat mengganggu.

Secara medis, Lucid Dream bisa dijelaskan sebagai sebuah fase tidur. Kalau kata teman saya yang orang Psikologi, Lucid Dream adalah hal yang wajar, yang bisa dialami semua orang. Penjelasan singkat dan kasarnya adalah cuma seperti orang melamun dan berimajinasi, tapi dalam kondisi tubuh tertidur. Tapi kalau saya lihat, orang-orang yang mengalami Lucid Dream punya pengalaman dan kesannya sendiri-sendiri.

Misalnya Momon, juga pernah cerita kalau dia mimpi bertemu eyangnya yang sudah meninggal. Dalam mimpi tersebut, Momon sadar 100% bahwa dia sedang bermimpi. Jadi dia bisa mengendalikan apa yang ingin dia lakukan, akan berjalan kemana, akan berbincang apa dengan eyangnya, dll. Terdengar seperti Lucid Dream ya? Ya memang kayaknya itu namanya Lucid Dream kalau dilihat dari sisi medis. Mungkin Momon kangen sama almarhum eyangnya, dan kemudian alam bawah sadarnya memikirkan terus dan berhalusinasi sampai terbawa mimpi, siapa tahu? Tapi hal yang dialami Momon ini nggak begitu istimewa, karena sepertinya juga pernah dialami oleh banyak orang. Mungkin cuma saya yang belum pernah mengalami :D.


Lain lagi dengan Dhika. Pengalaman Lucid Dream yang dialami Dhika, menurut saya jauh lebih intens. Lebih sering terjadi, lebih variatif alam mimpinya, dan mempunyai side effect yang kurang sedap. Efek samping itu antara lain: tindihen yang terlalu sering dalam jangka waktu yang lama, diperlihatkan hal-hal yang seharusnya nggak bisa dilihat oleh manusia, dan diajak berkomunikasi oleh mahluk-mahluk yang seharusnya nggak terhubung dengan dunia kita. Dan setelah melalui banyak cerita yang terlalu rumit dan panjang untuk dijabarkan di sini, saya rasa ini beda sih dengan Lucid Dream yang dijelaskan secara medis atau psikologi. Mungkin ini memang bukan Lucid Dream, tapi entah apa namanya. Tapi ya sudah untuk gampangnya saya tetap menyebutnya Lucid Dream.

Dari Dhika saya tahu, bahwa di dalam agamanya memang dipecaya ada gangguan-gangguan yang disebabkan oleh jin. Di antaranya ya gangguan tidur tersebut. Memang sih kesannya "gitu doang". Tapi lha bener-bener mengganggu mau gimana? Waktu yang harusnya bisa dipakai istirahat jadi terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya nggak perlu dialami.

Pada akhirnya disimpulkan bahwa ada yang merasa terganggu saat Dhika berbagi informasi mengenai pengalamannya. Bahkan karena di part 1 sempat dituliskan cara-cara untuk masuk ke alam Lucid ala Dhika, beberapa di antara pembaca iseng mencoba dan ada yang berhasil. Padahal, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Lucid Dream yang dialami oleh Dhika ini bukannya tanpa efek samping. Dan efek sampingnya nggak langsung diketahui saat ini juga, tapi semacam menunggu si pelaku terjerumus lebih dalam dulu.

Dan lagi, bermain-main dengan alam lain konon berbahaya. Kalau kata yang mengerti, bermain-main dengan alam lain sama dengan menapakkan sebelah kaki ke sana. Bayangkan kalau kalian coba-coba masuk ke alam lain dengan media mimpi, lalu terjebak dan nggak bisa balik, horo piye? Akan lebih bijak kalau nggak usah coba-coba, apalagi minta atau mengharap sesuatu dari "yang lain".

Saat ini, Dhika sedang meluangkan waktu di antara kesibukannya untuk banyak-banyak ibadah dan belajar agama dari yang memang mengerti. Aktifitas yang positif sih menurut saya. Dengan atau pun tanpa mengalami gangguan, beribadah itu baik. Beribadah mengingatkan kita untuk nggak sombong dan selalu berterima kasih atas nikmat yang kita rasakan. Dan kalau dengan beribadah bisa menghalau gangguan-gangguan yang dialami Dhika, ya kenapa enggak?

Untuk yang nggak percaya klenik, atau merasa bahwa penjelasan yang nggak bawa-bawa hal gaib lebih mudah diterima, mungkin begini saja biar simpel: Dhika punya imajinasi yang lebih tinggi dan lebih banyak pikiran dari pada Momon. Semua tumpang tindih di alam bawah sadarnya, pada akhirnya terbawa tidur, dan kemudian menjelma menjadi mimpi yang lebih kompleks dari mimpi kebanyakan orang. Wis, nggak usah didebat! Mau percaya yang ini boleh, yang klenik juga boleh. Intinya sebenernya sama: Dhika merasa terganggu dan nggak memungkinkan untuk melanjutkan tulisannya!

Mungkin ini bukan alasan yang logis dan masuk akal bagi sebagian pembaca. Saya pun adalah orang yang belum pernah bersentuhan dengan pengalaman gaib. Kalaupun ada pengalaman, ya minim dan samar-samar sekali, okeh ndobose. Kalau tanya saya percaya atau enggak, itu ibaratnya nanya ke saya semur jengkol itu enak atau enggak. Karena sama kayak hal gaib, saya juga belum pernah ngerasain Jengkol. Ada yang bilang jengkol itu enak, apakah saya percaya? Hmm...nggak juga. Tapi bukan berarti kemudian saya percaya bahwa jengkol itu nggak enak. Lha wong saya belum pernah ngerasain, kok tek?

Tapi nggak percaya dan nggak takut itu bukan berarti nggak menghormati dan harus nantang-nantangin, ya kan?

Semoga penjelasan di atas bisa diterima dan mengobati sedikit rasa kentang di lidah pembaca.

Yang mau tanya atau share pengalaman soal Lucid Dream atau dunia mistis, jangan ke Dhika ya. Karena yang bersangkutan aja sedang berusaha lepas kok malah ditanya-tanya. Mending ke saya aja. Nanti saya dobos-in :).

You May Also Like

12 komentar

  1. Yah sayang sekali. Tapi sebagai org yg udah pernah ngalamin dan dulu juga sering kena 'tindih', aku ngerti kok. Emang ga enak banget, serem untung udah nggak lagi (dan jangan sampe kena lagi deh). Yg belum kena juga jgn coba2 deh. Entah emang gr2 psikologi ato jin, apapun penyebabnya hasilnya tetep ga enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masih sering kena tindih. Enak kok.. Kena tindih suami tapi.....

      Hapus
    2. Hush.. saru mbak, marai liyane kepingin juga hihii. Mengeni lucid dream sendiri, ada tips / ilmu untuk mengurangi/mencegahnya ga yaa? Aku dulu sering banget gitu, nightmare bahkan.Tapi sekarang jarang.

      Hapus
    3. Kalau percaya bahwa lucid dream-nya disebabkan karena klenik, ya cara yang tepat adalah beribadah sesuai kepercayaan. Mendekatkan diri sama Tuhan.
      Tapi kalau lebih percaya bahwa ini efek psikologis, ya coba dicari akar masalahnya. Mungkin ada sesuatu yang bikin resah, atau imajinasi yang kebablasan sampai terbawa ke mimpi. Kalau udah sangat mengganggu bisa konsultasi ke psikolog.

      #MbakArumNdobos2016

      Hapus
  2. Ooh begitu ya. Aku maklum, semoga yang lain juga maklum. Hal-hal seperti itu memang butuh pertimbangan lebih bahkan untuk sekedar share aja sama orang lain. Semoga mbak Dika menemukan apa yang dia cari dan kondisi makin mudah terkendali ya~ :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih yaa... Ini lagi mencari. Mencari yang menindih. Maksudnya suami... Hihi.. Sekarang alhamdulillah sudah aman terkendali kok

      Hapus
  3. Aku pernah baca postingan seseorang di social media yg katanya pengen bisa lucid dream gitu deh -entah apa tujuan nya, tapi kok aku nggak suka ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kemungkinan orang tsb menganggap LD adalah sebuah kekuatan atau hal yang bikin penasaran. Ya nggak masalah sih, sejauh orangnya sudah paham resiko

      Hapus
  4. Aku kira lucid dream yang jenganten alami itu yang menyenangkan (soalnya aku gitu). Ternyata malah ada bau-bau mistis nya. Kalo mimpi buruk, dalam Islam emang nggak boleh diceritakan. Semoga jenganten mimpi indah yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyenangkan, kalo lagi menyenangkan Ses. Tapi banyakan keganggunya. Jadi aku putuskan buat stop. Tubuh kita itu paham kok apa yang kita mau. Kalau mau stop. InsyaAllah berhenti dgn sendirinya

      Hapus
  5. Ah aku baru faham LD itu dari tulisan ini. Dulu temennya temen aku juga katanya sering banget LD dan orangnya bilang mau tidur ngga tidur sama capeknya soalnya otak berasa ga ada istirahatnya.
    Semoga jenganten mimpi indah terus ya, aamiin :)

    BalasHapus
  6. Shinta2/14/2017

    Sebelum blog ini sempat di-private, post terakhir yg saya baca itu yg tentang Lucid Dream. Jujur baru tahu istilahnya dari blog ini haha *katrok. Pdhl pertama kali mimpi kayak itu udah 20 taunan yg lalu. Rekornya adalah 4-5 malam berturut-turut. Memang menyenangkan ya, kalau mimpinya yg menyenangkan. Tapi kalau apes, dapet yg horror, trus sadar sih kalau itu cuma mimpi makanya belagak santai trus baca-bacaan eh tapi malah diketawain si uka-uka. Di situlah derita sesungguhnya. *pengsan*

    BalasHapus