Ikan Tongkol dan Kaitannya Dengan Jomblo Humanis

by - 1/30/2017

Hai!
Saya mewakili keluarga Besok Siang mengucapkan Happy Chinese New Year buat yang merayakan. Semoga tahun ini, kita semua diberikan berkah yang melimpah dan jodoh yang tidak usah melimpah, tapi cukup satu saja ya, Mblo.

Mbla. Mblo. Mbla. Mblo.

Walaupun Brarum mengaku pejuang jomblo shaming, kalian sebagai rakyat Besok Siang yang budiman dan militan tolong jangan percaya. Coba saja perhatikan di cangkeman terakhirnya, kalian akan memahami bahwa sebenarnya Brarum itu ngece saya.
Ya Allah, Tuhan YME. Negeri Besok Siang kok jadi begini. Jomblo shaming di mana-mana, bahkan dilakukan oleh teman sendiri. Kapan rakyat jomblo negeri Besok Siang menang? *Bramon*
Sumber: www.berita2bahasa.com

Mungkin kalau saya orang yang cukup selo, saya akan menghimpun rakyat jomblo di negeri Besok Siang untuk melakukan demo terhadap Brarum atas tuduhan penistaan jomblo. Di aksi demo tersebut saya selaku ratu yang mewakili rakyat jomblo negeri Besok Siang akan berorasi dengan menaiki mobil setara Pajero.

Saya akan mempersilakan kalean para pejuang jomblo militan untuk berjalan kaki dari negeri masing-masing menuju negeri Besok Siang demi menunjukkan kepada Brarum bahwa jomblo juga punya power! Dan para penista jomblo harus ditindak tegas dan dipenjarakan di Azkaban yang penuh Dementor!

Jika suasana makin memanas dan Brarum malah melakukan kriminalisasi jomblo, saya akan menawarkan penyelesaian masalah secara kekeluargaan. Jangan langsung pakai jalur hukum dong! Tapi, kalau ternyata niat baik saya ditolak oleh Brarum, saya menghimbau kepada rakyat jomblo negeri Besok Siang yang militan untuk mempersiapkan demo susulan. Mau yaaaaa.. ya? Ya? Ya?

Di era social media seperti saat ini, selain melahirkan generasi penghimpun masa dengan menyebarkan berita hoax, juga melahirkan generasi haluBanyaknya like dan comment dianggap sebagai barometer kualitas dari suatu konten. Padahal selalu ada modus dibalik like dan comment . Misalnya adalah "Follback, Kakaaaakkk.." Dan tak sedikit pula yang fotonya biasa saja justru memiliki ribuan like, sedangkan saya yang 3 jam menghasilkan makeup rewo-rewo memiliki like paling banyak 110. Di situ kadang saya merasa kebelet e'ek, eh sedih.

Fenomena halu tersebut menyebabkan sebuah viralitas suatu konten menjadi suatu hal yang haqiqi. Viralitas adalah koentji! Semakin viral suatu konten, maka akan semakin banyak mendapatkan like, comment, dan followers. Dengan begitu, potensi untuk mendapatkan traffic yang tinggi dan endorsement akan semakin tinggi. Makin keras tangisan Awkarin, maka akan makin banyak endorsement yang datang.


Sumber: www.makeameme.org

Setidaknya ada beberapa kriteria sebuah konten berpotensi menjadi viral.

1. Unik atau aneh, misalnya berita adanya manusia berkepala babi yang dikabarkan pergi ke barat mencari Kitab Suci.

2. Menyentuh hati, misalnya berita tentang perempuan yang sudah menjomblo selama 74 tahun hingga akhirnya bisa menikah #amitamitjabangbayik.

3. Bikin ngakak, misalnya berita tentang pernyataan warga di pinggir sungai tidak perlu digusur, lebih baik digeser sedikit. Ya, sedikit. Eh, itu lucu nggak sih? Menurut Mas Anang bagaimana?

Walaupun social media dinamakan dunia maya, interaksi yang terjadi di dalamnya bisa saja memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi di dunia nyata. Misalnya, Brarum melakukan jomblo shaming di forum Besok Siang yang isinya saya, Brarum, dan Bradhik. Yang marah-marah lucu paling cuma saya. Coba saja Brarum jomblo shaming di Facebook dengan tujuan lucu-lucuan dan viralitas, bisa saja Brarum malah dikecam oleh fans saya yang militan.

Itu tadi contoh yang paling simple dan sekedar dibuat-buat. Konsekuensinya "hanya" berdampak buruk ke si pembuat konten. Tapi, bagaimana kalau dampak buruknya malah menimpa si obyek yang dibuat lucu-lucuan?

Masih ingat dengan ikan kongtol dan Pak Jokowi? Ikan kongtol yang terdengar seperti ikan kontol.

Dari sisi internet marketing, video seorang anak SD yang salah menyebut ikan tongkol menjadi ikan kongtol di depan Pak Jokowi adalah sebuah konten yang berpotensi menjadi viral. Kenapa? Karena unik dan lucu. Sebagai penghuni social media, saya akui bahwa video tersebut lucu dan membuat saya ngakak. Tapi, saya sadar bahwa sebaiknya video tersebut hanya menjadi konsumsi pribadi saya.

Mungkin tujuan awalnya adalah untuk lucu-lucuan "Ya, ampun, Dek. Kamu kok ngomong kontol ke Pak Presiden". Tapi, apa kabar dengan anak SD yang kita tertawakan tersebut? Apakah juga bisa ngakak melihat orang di sekitarnya menertawakan videonya? Kepikiran nggak siapa tahu anak tersebut menjadi obyek bullying di dunia nyata? Apalagi wajah anak tersebut tidak disensor sama sekali. Masyarakat se-Indonesia-Raya bisa mengenalinya.
"Eh, si Anak Tongkol! Tongkolnya mana, Dek?"
Satu dua kali mungkin masih bisa diterima. Tapi, bagaimana jika terjadi setiap hari? Ingat, masih anak SD loh. Kita yang orang dewasa saja kadang sebal ta kalau dijadikan obyek lucu-lucuan setiap hari. Bisa saja anak tersebut menjadi sedih karena siapa tahu dia memang benar-benar kesulitan dalam mengucapkan kata "tongkol" atau bahkan tidak tahu bahwa ada yang "salah".

Kalau diperhatikan baik-baik, anak tersebut sedikit kebingungan ketika diminta Pak Jokowi untuk menirukannya menyebut nama-nama ikan, bahkan salah dua kali dalam penyebutan kata "tongkol". Selain salah pengucapan kata "tongkol", anak tersebut juga terlihat kesusahan dalam mengucapkan nama-nama ikan lainnya. Selain fokus pada ikan kongtol, seharusnya juga memikirkan ikan pak us. Dua kali juga anak tersebut menyebut ikan pak us. Pelafalan yang bisa dibilang kurang lazim.




Dari ekspresi wajah anak tersebut, sudah jelas bahwa hal tersebut tidak dilakukan secara sengaja. Kenapa bisa sampai dua kali salah penyebutan? Bagaimana jika memang benar anak tersebut mengalami disleksia?

Sampai di sini netizen bisa terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu yang menganggap lucu-lucuan dan kubu yang simpati dengan si anak SD tersebut. Nah, sekarang di mana kita harus menempatkan sudut pandang kita? Walaupun masing-masing kubu memiliki sudut pandang yang berbeda, bukan berarti sudut pandang tersebut dapat dibenarkan dengan dalih, "Ah, tergantung kamu lihat dari sudut pandang mana."

Saya pribadi, saya lebih memilih untuk memihak kubu yang simpati dengan anak SD tersebut. Saya memilih untuk tidak menyebarkan videonya. Kenapa? Karena saya tidak sampai hati apabila anak tersebut di-bully di dunia nyata, sedangkan saya enaena mantengin traffic social media saya. Nggak semua yang enaena itu berujung ena, Kak. Jangan maunya enaena, tapi malas mikir. Teleque itu mah.

Ini bukan berarti saya menentang keras sebuah viralitas ya. Tidak semua viralitas itu buruk. Bagi sebagian orang, viralitas bisa menjadi sumber penghasilan, menjadi sesuatu yang dapat diperjualbelikan. Ya, sekarang tinggal dipilih mau jualan viralitas yang positif atau yang negatif. Mau jualan narkoba yang ena di depan tapi merusak di belakang atau mau jualan obat anti jomblo yang sudah jelas dapat menolong rakyat jomblo negeri Besok Siang. Dua-duanya bisa menghasilkan uang.

Sayangnya, banyak pengguna social media yang tidak pikir panjang dan menempatkan viralitas di atas segalanya tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Asalkan kontennya memenuhi tiga kriteria yang telah saya jabarkan tadi, tanpa pikir panjang klik Share. Padahal ada hal yang lebih penting dari "sekedar" viralitas, yaitu humanity.

Semua hal yang dilakukan baik di dunia nyata maupun maya pasti memiliki dampak masing-masing, baik itu dampak positif maupun negatif. Dengan adanya humanity di setiap diri manusia, kita juga akan menempatkan diri kita sebagai orang lain di setiap langkah yang akan kita lakukan. Human oriented, bukan money oriented. Kita juga harus ikut memikirkan dampak yang akan menimpa orang lain.

Sayangnya, sekarang banyak sekali media abal-abal yang hanya mementingkan viralitas dan mengesampingkan humanity. Contohnya saja media yang membuat judul "Kasihan Sekali, Wanita Ini Diperkosa Sampai Mati" dengan foto korban yang tidak disensor. Sayangnya,banyak netizen yang terpancing untuk share berita tersebut. Azhu sekali bukan? Bagaimana seandainya berita tersebut dibaca keluarga korban? Kalau share wajah pelaku pemerkosa sih, silakaaaannn.. Share yang banyak malah.


Sumber: www.brilio.net

Sebagai masyarakat biasa, apalagi jomblo memang akan sangat sulit untuk mengendalikan media maupun netizen. Karena itu, kontrol harus dimulai dari diri sendiri. Misalnya saja belajar berpikir terlebih dahulu sebelum klik Share. Jomblo boleh, bodoh jangan #jomblohumanis.

Kalau memang sudah terlanjur share berbagai berita yang sekiranya berpotensi menimbulkan dampak buruk, boleh loh dihapus saja. Lebih baik mengakui kekhilafan daripada lelah membela diri menjelaskan ini dan itu. Toh tidak akan menurunkan harga diri juga. Saya juga pernah begitu kok. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, Mblo.

Salam,
Jomblo Humanis

You May Also Like

0 komentar