Menjalin Keintiman

by - 2/23/2017


Teman-teman saya sering heran ketika tahu saya suka pergi kemana-mana sendirian. Heran dan tentu saja diselipi dengan komentar, "Jomblo sih, jadi nggak ada yang diajak pergi." Senyumin aja deh sambil ngelus dada. Dada sendiri ya, bukan dada orang lain ataupun dada ayam Ka Ef Ci. Tapi, please bikin komentar yang lebih kreatif agar saya merasa lebih tertantang. Komentar seperti itu mah bukan lagi ujian bagi jomblo ngakik seperti saya.

Saya pergi kemana-mana sendiri bukan karena saya jomblo, my dear..

Saya masih punya banyak teman yang bisa saya ajak dolan kok. Tapi, ya maaf loh kalau situ adalah tipe orang yang dolannya cuma sama pacar sedangkan teman hanya dijadikan ban serep ketika pacar lagi nggak ada. Maaf looooh..

Memang ada kalanya teman-teman dekat saya tidak bisa untuk diajak dolan. Kalau sudah begitu, saya lebih memilih untuk pergi sendiri. Daripada saya pergi dengan teman yang tidak terlalu dekat, saya lebih memilih untuk pergi sendiri. Saya sering merasa kurang nyaman apabila pergi bersama teman yang hanya sekedar teman. Kalau pergi beramai-ramai, saya baru bisa merasa nyaman apabila paling tidak ada satu teman dekat saya di dalamnya.

Walaupun di luar comfort zone saya, saya tetap terbuka kok untuk diajak dolan oleh siapapun. Namanya juga jomblo selo. Obral aja lah. Obral wae rung payu :(

Pada dasarnya, saya adalah orang yang suka dengan suasana yang intim. Kalau saya pergi atau ngobrol dengan teman yang sekedar teman, susah sekali untuk membangun suasana intim. Obrolan bisa saja mengalir, tapi hanya seperti sekedar basa-basi. Kurang intim.

Menurut saya, suasana intim tidak hanya bisa dibangun ketika sedang bersama pasangan, keluarga, maupun teman. Di saat sendiri pun, kita bisa menjalin keintiman. Keintiman dengan diri sendiri.

Ketika sedang sendirian, saya dapat dengan bebas memikirkan apapun, berimajinasi apapun termasuk yang 18+ #ehem, dan melakukan apapun yang saya mau. Saya bisa fokus ke diri saya sendiri dan bisa lebih "mendengar" apa yang saya mau dan tidak saya mau. Saya bisa dengan enaknya ke sana ke mari tanpa harus bertanya, "Habis ini kita ke mana?" atau "Mau ke sana nggak?"

B-E-B-A-S

Hanya ada saya dan diri saya sendiri.

Kalau sedang ingin sendirian, biasanya saya pergi ke coffee shop. Pertanyaan yang paling sering saya dapatkan adalah, "Kalau ke coffe shop sendirian gitu kamu ngapain?" Jawabannya adalah banyak, banyak yang bisa saya lakukan ketika ke coffee shop sendirian, mulai dari melamun, membaca buku, sampai memperhatikan interaksi yang terjadi di sekitar saya. Kadang kala saya juga membawa laptop untuk menulis suatu hal yang tak berfaedah di Besok Siang. Tapi, kalau disuruh memilih antara buku dengan laptop, saya lebih memilih buku.



Mungkin bagi sebagian besar anak muda kekinian, menjadi seorang penyedot bandwidth merupakan suatu hal yang haqiqi untuk dilakukan di coffee shop, tapi saya lebih suka buku. Bagi saya, dunia maya justru mengganggu keintiman saya dengan kopi yang ada di hadapan saya. Saya lebih suka intim bersama kamu secangkir kopi dan imajinasi liar yang saya bangun dari sebuah buku. I make my own story with my book and my coffee.

Saya pribadi tidak terlalu suka apabila berkumpul dengan banyak orang. Jika jumlah manusianya terlalu banyak, manusia cenderung akan membuat kelompok di dalam kelompok. Hal tersebut membuat komunikasi yang terjalin menjadi kurang intim dan cenderung ada pihak yang akan terabaikan. Saya tidak biasa mengabaikan orang yang sedang berada di dekat saya. Yaaaah, walaupun saya sering menjadi pihak yang terabaikan *tsurhat ke po'on picang*.

Saya lebih suka komunikasi yang bersifat intim, bukan intim yang berarti topik obrolannya kementhu. Biarlah Brarum saja yang kementhu. Intim yang saya maksud adalah intim dalam artian komunikasi dari hati ke hati dengan tujuan dapat lebih saling mengerti satu sama lain. Yang saya maksud di sini adalah komunikasi di dunia nyata ya. Tentu saja mengobrol di Whatsapp akan memiliki feel yang berbeda dengan ketika mengobrol di dunia nyata bukan?


Sebagai contoh adalah ketika kalian mengobrol dengan Brarum melalui Whatsapp. Setelah mengobrol selama dua minggu, mungkin kalian akan merasa kadar kekopetan Brarum adalah 25%. Tapi, coba kalian ngobrol berdua dengan Brarum di dunia nyata dalam waktu yang cukup lama, kalian akan mengerti bahwa sebenarnya kadar kekopetan Brarum adalah 99,99% karena kekopetan 0,01% untuk suaminya.

Saya suka gumun dengan tipe orang yang datang bersama dengan teman-temannya, duduk bareng, makan bareng, tapi masing-masing sibuk dengan laptop maupun smartphone-nya. Yang setelah saya kepo-kepo, pol mentok sedang berselancar di Twitter, Facebook, atau portal berita. Yang di dunia maya di-stalking, yang ada depannya dianggurin #ehem. Warnet kembali hidup, hanya saja berpindah tempat.

Pernah nggak terpikir bahwa pasangan, teman, atau saudara yang sedang duduk di dekat kita sedang mempunyai masalah dan menunggu kita bertanya, "Kok tumben diem, ada masalah?" tapi dengan kopetnya kita malah ngobrol di grup Whatsapp yang tidak berfaedah seperti grup Whatsapp Besok Siang atau malah asyik memperhatikan etalase online shop di Instagram. Kalaupun ada urusan kerjaan yang penting dan harus mengelolanya melalui smartphone, sebenarnya bisa kalau "Sek ya. Tak mbalesi email klien." atau "Sek ya. Lagi nyari cowok di OLX buat gandengan kondangan besok. Urgent."

Sesusah itu kah memanusiakan manusia yang ada di dekat kita? Sepenting itukah social media?

Jujur, saya sudah cukup lelah dengan social media dan segala informasi negatif yang beredar di dalamnya. Walaupun sekarang timeline social media saya sudah cukup "bersih", terkadang saya tetap menemukan beberapa teman Facebook yang asal share berita dengan judul provokatif yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Provokatifnya tidak tanggung-tanggung karena menjadikan agama sebagai alat penunjang viralitas. Saya rasa orang waras pun lama-lama bakal ikutan gila saking gerahnya.


Duduk dalam satu meja dan saling berbagi cerita bersama dengan orang terdekat sembari menikmati secangkir kopi tanpa peduli agamanya apa, kerja di mana, lulusan mana, jenis kelamin apa, bagi saya itu seperti surga yang dirindukan. Ada keintiman di dalamnya. Sebuah momment yang menciptakan sebuah jeda dan ruang kosong dari segala kegilaan yang ada.
“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?”
Sebenarnya tulisan ini juga menjadi self reminder untuk diri saya sendiri bahwa di tengah segala aktifitas yang ada, menjalin keintiman dengan diri sendiri, dengan teman, maupun dengan keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kewarasan diri. Dan tak lupa juga, membangun keintiman dengan Tuhan #benerinhijab.

Saya juga tidak selalu selo untuk sekedar basa-basi menyapa teman. Saya juga paham semua punya kesibukan masing-masing. Ada yang berjuang dengan thesis, ada yang berjuang di pedalaman, ada yang sibuk dengan keluarga kecilnya, ada yang sibuk membangun bisnis, ada yang sibuk dengan pacarnya, dan lain sebagainya. Seringkali saya WA teman saya hanya dimulai dengan, "Coeg, isih urip ta?" Dan biasanya, kemudian berlanjut menjadi jancuk-jancukan. Ya, begitulah. Saya rasa mengungkapkan rasa kangen kepada orang terdekat tidak ada salahnya. Kalau memang kangen siiiiih.. Kalau cuma mau utang, bye.

Saya juga bukan tipe anak rumahan yang menghabiskan banyak waktu di rumah bersama keluarga. Mami saya kadang protes karena saya jarang bisa betah duduk di rumah. Tapi, sekalinya kangen, saya minta kelon sama Mami saya :D

Boleh saja kita menjadi orang pertama yang tahu Awkarin main kuda-kudaan di kebun pisang, tapi juga jangan lupa akan kabar orang-orang terdekat kita. Siapa tahu mereka ketularan Awkarin main kuda-kudaan di kebun pisang. Kan bahaya.

Sudah sana jalin keintiman dengan pasangan, teman, atau saudara yang sedang duduk di dekatmu. Bukalah dengan pertanyaan, "Kamu tahu Besok Siang?"

You May Also Like

12 komentar

  1. Oh sudah, Mbak Mon... Saya membuka percakapan sama suami kemarin dengan nanya, "Abang tau Besok Siang?" hahahaha
    Dan langsung mengalirlah obrolan-obrolan membahas tentang artikel di Besok Siang :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bagus. Kamu memang rakyat Besok Siang yang taat. 😌

      Hapus
  2. Ah ... untungnya teman-temanku nyaris nggak pernah utak-utik smartphone pas lagi kumpul

    BalasHapus
  3. Weh, aku juga kalau ke mana-mana seringnya sendirian mbak hahaha. Ada yang pernah komentar, "Kamu bisa gitu, jajan sendirian?"

    Hmm. Mungkin ketidakpahaman dia berada di level yang sama dengan ketidakpahamanku terhadap orang-orang yang 'nggak bisa' jajan sendirian.

    (Aku kasih tanda '' karena aku yakin mereka bisa, cuman nggak mau aja --> tanda kalau aku juga kurang memahami orang-orang yang seperti itu)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeeesss.. nggak mau karena bingung. Kalau sendirian mau ngapain. Ada juga yang malah nggak PD karena takut dibilang aneh karena jalan sendirian, padahal ya nggak masalah :D

      Hapus
  4. Kok sama sih yaaa... Aku seneng jalan2 sendiri, tapi orang orang Suka pada nyinyir yaelahhh jomblo sih ya makanya Jalan sendirian, pada ga ngerti aja kalo Jalan sendirian tu lebih asique apalagi Kalo belanja gitu lah soale nek dewe kan gak ono sek ngribeti bebas mau kemana ga ada yang rewel bilang "astagaaa Kita udh muterin tempat ini sekian Kali" hahahaha kan mengganggu kekhusukan belanja, ya to?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bangeeeetttt! Nggak perlu nanya, "Habis ini mau ke mana?" atau "Habis ini mau makan apa?"
      Belum lagi misal janjian, "Jadinya jam berapa?"

      #kokkzlyha

      Hapus
  5. Aku kalo sama teman ku yang bener bener intim ,jarang banget pegang hape, isinya ngobrol a-z. Tapi kalo pas di suatu kelompok (seperti yg kamu bilang mba) yang isinya nge geng sendiri sendiri, malah malas ngobrol, jadinya aku pasti pegang hape terus :')
    Karena kalo ngobrol yang ada pada rebutan topik atau aku ngomong a dijawab z,

    Kadang sebel sih sama diri sendiri, main hape terus, tapi karena bingung sendiri dan males basa basi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali!
      Makanya aku males kalau diajak pergi atau nongkrong sama yg nggak terlalu akrab. Daripada zink ya kan 😂

      Hapus
  6. Aaah kita setipe mbak.. Aku demen bgt jalan sendirian kalo belanja plus ngopi sambil baca buku kalo ngga nulis :") salam kenal mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak gitu yeee.. Nggak pusing mikir idup orang lain 😂😂😂

      Salam kenal juga 😄

      Hapus