[Buku Pilihan] Critical Eleven - Novel yang Membuat Saya Misuh

by - 3/11/2017

Orang yang pertama kali meracuni saya dengan novel-novel karya Ika Natassa adalah salah satu teman kampret saya, sebut saja namanya adalah Kambing karena keringatnya memang prengus. 

Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang menggemari novel drama percintaan. Tapi, karena si Kambing terus-menerus menyebut nama Ika Natassa ketika kami lagi ngobrolin novel, penasaranlah saya dibuatnya. Terima kasih untuk racunnya, Mbang, eh Mbing (FYI, bapaknya Kambing namanya Pak Bambang #penting).

Dari sekian banyak karya Ika Natassa, saya memilih Architecture of Love sebagai novel Ika Natassa yang pertama yang saya koleksi, sedangkan Critical Eleven adalah novel yang kedua. Saya memilih dua judul tersebut sebagai "pembuka" untuk menjelajahi dunia Ika Natassa karena saya sangat sangat suka dengan latar belakang kedua novel tersebut. Tapi, kali ini saya mau membahas Critical Eleven karena novel ini mampu membuat saya misuh-misuh.



Informasi Buku


Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 344 halaman
Cetakan ke : tiga belas, Juni 2016

Bisa dibilang saya sangat familiar dengan penerbangan karena pekerjaan utama saya mengharuskan saya untuk terbang dari satu kota ke kota lain. Mestinya, kantor saya membeli baju Iron Man sebagai salah satu inventaris. Kan lumayan nggak perlu beli tiket pesawat. Tapi, beli baju Iron Man, ya podo wae!

Walaupun sering terbang kesana-kemari, saya baru tahu kalau di dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven. Ndeso banget lah saya! Tsk. Critical eleven adalah sebelas menit paling kritis di dalam pesawat, tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Lah, kok bisa dibilang "paling kritis"? Ternyata karena secara statistik 80% kecelakaan pesawat pada umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.

Ngeri ya?

Untungnya saya bukan orang yang parnoan, jadi begitu sudah di pesawat, saya lupa dengan critical eleven tersebut. Mmmm.. mungkin karena begitu saya duduk di pesawat, saya langsung ngorok, jadi ya, lupa semuanya 😁

Menurut Ika Natassa di novel ini, critical eleven berlaku juga ketika kita bertemu dengan orang baru. Kesan pertama terbentuk di tiga menit pertama dan delapan menit sebelum berpisah. Rentang waktu tersebut adalah moment di mana feeling kita akan menentukan apakah pertemuan tersebut akan menjadi awal sesuatu atau malah menjadi sebuah perpisahan.

Cover Novel


Cover dari Critical Eleven menggunakan dominan warna biru langit dengan gambar ilustrasi sebuah pesawat terbang. Saya cukup suka dengan covernya karena nggak terlalu "ribet". Saya termasuk kalangan yang membeli buku karena tertarik dengan covernya. Walaupun ada pepatah yang bilang "don't judge the book by the cover", saya tetap lebih tertarik membeli buku dengan cover yang menurut saya menarik.

Hebatnya, covernya didesain sendiri oleh Ika Natassa. Sayangnya, saya kurang suka dengan tulisan sinopsis di belakang novel karena hurufnya terlalu kecil sehingga saya sedikit kesusahan untuk membacanya.



Tokoh Utama dan Sudut Pandang


Tokoh utama dari Critical Eleven adalah Ale dan Anya. Ale dan Anya diceritakan pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat dengan sosok Ale yang sedang serius membaca buku dan duduk di sebelahnya, tujuh jam berikutnya mereka mengobrol dan bercanda, delapan menit menjelang perpisahan Ale langsung yakin bahwa dia menginginkan Anya.

Saya sudah puluhan kali melakukan perjalanan antar kota, bahkan antar pulau menggunakan pesawat. Tapi, paling mentok saya duduk di sebelah bapak gendut yang tidurnya ngorok keras sekali atau mas-mas yang mulutnya bau naga. SAYA NGGAK PERNAH DUDUK DI SAMPING MAS MAS GANTENG SAAT DI PESAWAT. SEKIAN. FAK.

Saya cukup suka dengan cara Ika Natassa bercerita melalui Critical Eleven. Ika Natassa bercerita dari dua sudut pandang tokoh utama secara bergantian. Karena itu, kita dapat mengetahui karakter fisik dan sifat dari Ale melalui sudut pandang Anya, begitu juga sebaliknya. Cara bercerita yang seperti ini membantu saya untuk lebih memahami karakter Ale dan Anya. Dan pada akhirnya Ika Natassa mampu membuat saya terhanyut ke dalam karakter dua tokoh tersebut.



Di seperempat novel, saya berhenti membaca cukup lama, sekitar dua miggu karena saya gemas dengan tokoh Ale. Begitu saya melanjutkan membaca sampai setengah novel, saya berhenti lagi selama satu bulan karena saya gemas dengan tokoh Anya. Saya mah gitu, kalau ada tokoh yang menyebalkan, saya bisa mutung.

Ya, Ika Natassa berhasil mengubah-ubah opini saya terhadap dua tokoh tersebut, sebentar suka sama Ale, sebentar benci sama Ale, sebentar simpati dengan Anya, sebentar gemas sama Anya. Hingga pada akhirnya, saya dibuat paham dengan apa yang dirasakan oleh Anya dan salut oleh sikap Ale dalam menyelesaikan masalah.

Alur Cerita dan Konflik


Konflik yang diangkat adalah konflik dalam kehidupan berumah tangga di mana Ale membuat suatu kesalahan yang sangat besar dan membuat Anya mempertanyakan keputusannya kenapa dulu dia mau menikah dengan Ale. Mungkin itu yang menyebabkan saya sedikit kurang memahami perasaan Anya di awal cerita kenapa Anya bisa sebegitu marahnya dengan Ale, lah wong jangankan berumah tangga, punya pacar saja belum. Tapi, melalui Anya, saya sedikit demi sedikit belajar tentang perasaan seorang ibu #tsaaaaaaah.

Menurut saya, Ika Natassa cukup piawai dalam memainkan konflik di antara dua tokoh utama tanpa membuat alur cerita menjadi terkesan bertele-tele dan membosankan. Walaupun alur ceritanya tidak membosankan, Critical Eleven bukan tipe novel yang membuat saya penasaran dan membacanya sampai begadang, mungkin karena tidak ada alur twist yang bikin greget. Tapi, buat para penggemar novel drama percintaan, saya pikir alur dan konflik yang disajikan cukup menarik.

Gaya Bahasa dan Tulisan


Dari dua novel yang pernah saya baca, Ika Natassa memiliki gaya bahasa yang sama, yaitu ringan dan cukup mudah dimengerti. Sayangnya satu gaya tulisan Ika Natassa yang membuat saya sedikit mumet karena terlalu sering mencampur antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris sehingga hampir di setiap halaman ada huruf italic-nya. Bagi saya pribadi, hal tersebut membuat saya sedikit mumet walaupun nggak semumet kalau ditanya, "Kok pacarnya nggak pernah kelihatan?"

Kesimpulan


Kalian sudah tahu kan kenapa novel ini mampu membuat saya misuh-misuh?

Yha.

Karena kenapa sebegitu mudahnya Anya bertemu dan berkenalan dengan cowok sekeren Ale dalam satu kali penerbangan? Sungguh saya tidak terima. Saya merasa penerbangan yang selama ini saya lakukan tidak berfaedah. Tsk.

Buat yang suka membaca novel dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah untuk dimengerti sehingga membacanya nggak perlu memakai 99% dari kemampuan maksimal otak kalian, saya rekomendasi Critical Eleven karangan Ika Natassa ini.

Siap-siap memasuki dunia Ika Natassa dan dibuat baper oleh sosok Ale.

You May Also Like

6 komentar

  1. aku nunggu updatenya besok siang tentang buku lho dan pas banget kmrn baru "grenengi" ika natassa.. mba mon suka ya ternyata? di goodreads sih ratingnya banyak yg kasih bagus tapi ada yg jeblok juga. dibilangnya kurang riset tentang buibu hamil, too much detail barang2 branded sama banyak frasa basa inggris kaya mba mon bilang. mba jadinya ngasih rating brapa bintang buat buku ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka, cuma bukan buku yg akan kuingat sepanjang masa 😹

      Karena aku nggak terlalu suka drama, aku kasih 6 aja deh..

      Hapus
  2. Ika Natassa is one of my fave Indonesian authors mba Mon 😄 Nulisnya detail, sukak akoh! My very yuppy wedding juga bagus, novel lama tapi dari situ aku langsung kesirep 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.. nek suka drama percintaan, novel Ika emang bagus banget. Sayangnya aku bukan penggemar drama percintaan 😹

      Hapus
  3. Doh mbak MOMON, memang itu novel bikin greget kok hahahaha.

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekalinya baca novel drama, langsung kzl 🙀

      Hapus