[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 6: Ide Bodoh

by - 3/23/2017


"Siapa kamu?" tanyaku kepada suara perempuan yang tak bisa kulihat sosoknya.

"Kembalilah ke Dimensi Tengah, mereka membutuhkanmu."

"Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku. Siapa kamu? Apa maksudmu dengan Dimensi Tengah? Di mana itu?"

"Aku tidak bisa berlama-lama berkomunikasi denganmu. Bicaralah dengan Pak Soedrajat dan Zahra, dia akan membantumu. Jaga dirimu baik-baik."

***

Kubuka mataku perlahan, cahaya lampu terlihat sedikit menyilaukan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang memiliki interior dengan dominasi warna putih, senada dengan pakaian yang kukenakan saat ini. Kuhirup nafas dalam-dalam, tercium aroma yang memberikan kesan tipisnya batas antara hidup dan mati, aroma yang tidak terlalu kusukai. Aku berada di rumah sakit.

Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini, kecuali diriku.
Tunggu, di mana Rasha?!
Kusibakkan selimutku dan segera turun dari ranjang, kemudian kuraih infus yang ada di samping ranjangku. Aku berjalan menuju pintu. Belum sempat aku meraih gagang pintu, pintu kamarku sudah terlebih dahulu dibuka oleh seseorang.

Terlihat sesosok laki-laki berkulit sawo matang dengan tinggi sekitar 180 cm dan rambut gondrong yang diikat rapi ke belakang.

"Andre?" langkahku terhenti, menatap dengan tatapan tak percaya.

"Sudah bangun rupanya. Mau ke mana?" tanya Andre.

"Rasha mana?" tanyaku langsung. Saat ini informasi kondisi Rasha lebih penting dibandingkan dengan alasan Andre ada di sini.

"Ada di kamar sebelah. Dia baik-baik saja. Kamu nggak perlu cemas. Sebentar, aku panggil dokter dulu. Kembali saja ke ranjangmu," kata Andre.

Entah kenapa aku menuruti apa yang dikatakan Andre, walaupun aku masih mencemaskan kondisi Rasha.

Tak berapa lama kemudian, Andre datang bersama dengan dokter dan perawat yang kemudian memeriksa kondisiku.

"Merasa pusing atau mual?" tanya dokter itu.

Aku menjawab dengan gelengan kepala.

"Badan ada yang terasa sakit? Kaki, tangan, atau kepala?"

Untuk kedua kalinya aku menggelengkan kepalaku.

Dokter itu terdiam dan memperhatikanku dengan seksama, kemudian menghela nafas.

"Sungguh mukjizat. Waktu pertama tiba di rumah sakit, tubuhmu penuh dengan luka dan sepertinya kepalamu terbentur cukup keras. Tapi, ternyata tubuhmu pulih dengan cepat. Bahkan, mungkin terlalu cepat."

"Dokter juga yang memeriksa Rasha? Pasien di kamar sebelah," tanyaku untuk memastikan bahwa ucapan Andre benar. Aku tidak terlalu menggubris perkataan dokter itu, aku tahu diriku baik-baik saja.

"Oh iya, dia juga sama sepertimu. Pulih dengan cepat. Sungguh mukjizat. Kalian berdua sangat beruntung."

"Kepalanya bagaimana? Bahunya? Apakah bahunya baik-baik saja?" Aku berusaha memastikan karena sedikit tidak percaya dengan perkataan dokter itu. Terakhir kali kulihat Rasha, kepalanya berdarah dan bahunya pun membentur aspal. Bukan berarti aku tidak senang mendengar Rasha baik-baik saja, tapi sedikit tidak mungkin apabila dia benar-benar tidak apa-apa.

"Iya, dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang istirahat. Kamu juga istirahatlah. Jika besok kalian membaik, kalian boleh pulang," kata dokter itu sambil tersenyum, kemudian pergi bersama dengan perawat.

"Mikir apa?" tanya Andre yang melihatku terdiam.

"Aku mau lihat keadaan Rasha," jawabku sembari bersiap turun dari ranjang. Namun, Andre segera menghentikanku.

"Dia baik-baik saja. Sekarang kamu istirahat saja biar cepat pulang," kata Andre.

"Kamu benar-benar sudah melihat kondisi Rasha?"

"Iya, dia bahkan siuman lebih dulu daripada kamu."

"Dia benar-benar baik-baik saja?" tanyaku.

"Harus berapa kali aku bilang bahwa Rasha baik-baik saja? Bahkan, dokter sudah menjelaskannya bukan? Kamu ini aneh. Harusnya kamu seneng kalau Rasha baik-baik saja."

"Bukan, bukan, bukannya aku nggak senang. Hanya saja terlalu aneh karena dia....."

"Pulih terlalu cepat sepertimu?" tanya Andre memotong perkataanku.

"I.... ya," kataku sedikit tertahan.

Andre sedikit menahan senyum, "Sudah. Kamu istirahat saja. Aku berjaga di luar. Oiya, tadi Rasha sudah telepon Bapak dan Ibumu. Dia bilang bahwa kalian ada acara menginap di rumah teman kuliah secara mendadak, jadi malam ini kalian tidak pulang ke rumah. Rasha tidak ingin mereka khawatir."

Sebelum aku menanggapi perkataan Andre, dia sudah berjalan ke arah luar dan menutup pintu.
Berjaga di luar?
Kenapa Andre harus menjagaku?
***

Mataku menatap jam dinding yang ada di depanku. Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Aku berulang kali memejamkan mata, berusaha untuk tidur, tapi gagal.

Luka-luka di badanku nyaris tak lagi terlihat. Bahkan, aku tidak merasa sakit ketika kutekan luka di kepalaku. Aku tersenyum kecil membayangkan betapa anehnya ekspresi dokter tadi ketika besok melihat kondisi tubuhku yang benar-benar sudah sembuh.
Gggrrrrrrrmmmm....
Tiba-tiba dari arah luar kamar terdengar suara seperti geraman. Geraman seekor hewan yang bertubuh besar. Kutajamkan lagi pendengaranku. Geraman itu terdengar sekali lagi.

Aku turun dari ranjang dan mencabut jarum infus yang membuat pergelangan tanganku kebas dan nyeri. Aku buka pintu perlahan dan kutengokkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, lorong rumah sakit terlihat lengang. Tak ada tanda-tanda adanya hewan yang berkeliaran. Mungkin kalau aku melihat hewan berkeliaran di lorong rumah sakit, aku benar-benar sudah menjadi gila.

Tiba-tiba saja terlintas ide bodoh di kepalaku. Aku keluar dari kamar dan mulai menyusuri lorong rumah sakit. Sebenarnya, aku penasaran dengan keadaan Rasha. Tapi, sudahlah. Aku ingin sejenak melupakan segala keanehan yang ada. Aku juga ingin mengusir rasa bosanku berada di ranjang rumah sakit yang justru membuat punggungku sakit.

Kutelusuri lorong rumah sakit yang lengang dengan pencahayaan yang minim. Tidak terlihat satu pun dokter maupun perawat jaga yang lewat.

Tak berapa lama setelah melewati beberapa lorong, tampak sekelebat bayangan besar lewat di depanku disertai dengan suara, "Di mana batu itu?"

"Siapa itu?!" Kuedarkan pandangan ke sekelilingku, tidak ada siapa-siapa.
Gggggrrrrrrrrrmmmmmm..
Suara geraman hewan kembali terdengar. Kali ini suara itu terdengar dari arah belakang tubuhku. Aku telan ludahku dan kubalikkan tubuhku perlahan.

Aku termangu. Tubuhku terasa kaku.

Jarak 5 meter di depanku, terlihat sosok anjing bertelinga lancip dan berwarna hitam. Bukan anjing biasa, melainkan anjing dengan tinggi kurang lebih 3 meter. Tak hanya ukuran tubuhnya saja yang tidak lazim, jumlah kepalanya juga tidak lazim. Anjing itu memiliki tiga kepala.
Ggggrrrrrrrrrrmmmm.. Gggrrrrrrr...
Anjing itu menggeram kembali. Air liurnya menetes dari sela-sela giginya dan melelehkan lantai di bawahnya. Matanya yang merah menatapku dengan dengan bengis. Keempat kakinya memiliki kuku berwarna merah dan menyala seperti bara api. Kaki-kakinya membentuk kuda-kuda yang sempurna, sempurna untuk menerkamku.
Hahahahaha..
Nggak lucu!
Bersambung ke chapter selanjutnya... 

You May Also Like

2 komentar

  1. Woah... Akhirnya berlanjut juga. Kirain bakalan hiatus lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah berlanjut, semoga nggak hiatus lagi 😂

      Hapus