Filosofi Pentil

by - 3/02/2017

Beberapa hari ini saya sakit. Seharusnya saya disuruh opname oleh dokter saya. Tapi karena saat itu hari sedang cerah, saya pikir sungguh suatu kesia-siaan bila saya habiskan di dalam kamar rumah sakit dengan tangan tertancap infus. Maka saya menandatangani surat penolakan rawat inap. Sebagai gantinya, dokter saya memberi saya obat minum yang jumlahnya sangaaattt banyak. Dan saya harus meminumnya sehari empat kali. Dan pada obat-obatan itu, terdapat kandungan obat tidur gajah.

Bayangkan saja aktifitas saya: pagi bangun, mandi, sarapan, minum obat, lalu tidur lagi. Siang jam 11 saya akan terbangun, makan, minum obat, lalu tidur lagi. Nanti sore-sorean jam 5 begitu lagi. Dan diulang lagi pada jam 11 malam. Aktifitas saya adalah makan-tidur-makan-tidur nyaris selama 4 hari penuh.

Masalahnya adalah, tidur saya tidak selalu pulas. Kadang saya hayup-hayupen. Mungkin akibat dari alam bawah sadar saya menolak untuk terus-menerus tidur, tapi efek obat tidur gajahnya tidak bisa sepenuhnya saya lawan. Kadang saya ngelilir, setengah sadar saya membuka whatsapp, dan membaca sambil liyer-liyer pesan-pesan yang masuk. Tapi jangankan membalas, membaca sampai habis pun saya jarang bisa. Biasanya baru setengah baca, saya sudah jatuh tertidur lagi.

Akibatnya? Banyak pesan masuk ke saya bertanda contreng dua warna biru, tapi tidak ada tanggapan dari saya. Jadi seolah-olah saya ini orang paling luck nut yang tega-tega amat  mendengar teman ngoceh anu-anu, tapi mengabaikan.


Sebenarnya saya paling males memberitahu kalau saya sedang sakit kepada orang yang nggak dekat-dekat amat. Soalnya reaksinya suka lebay. Ahelah...sakit begini doang segala mau ditengokin, terus dijapri ganti-gantian yang malah bikin saya tambah nggak bisa istirahat. Tapi ya atas nama hubungan baik, saya terpaksa memberitahukan bahwa saya sakit dan sedang minum obat tidur gajah. Saya tidak dengan sengaja nyuekin teman-teman yang menyapa atau bertanya sesuatu kepada saya.

Berat banget bagi saya lho untuk koar-koar kesana-kemari bahwa saya sakit. Beratnya yaa...males aja gitu. Semacam saya sebenarnya nggak butuh membicarakan penyakit saya kesana-kemari. Tapi sebagai manusia, saya sadar kok saya butuh teman. Dan kata "butuh" di sini sifatnya berkesinambungan. Saya nggak bisa diam sepanjang waktu, bahkan cuek saat teman saya butuh bantuan, tapi ketika saya yang butuh, dengan tanpa dosa saya tetiba muncul dan bilang: "eh tolong like/ komen postingan terakhir saya dong. Itu berbayar soalnya." Temenan memang nggak hitung-hitungan, tapi juga nggak sebercanda itu.

Tapi peristiwa sakit ini membuat saya banyak merenung mengenai hubungan antar teman. Beberapa di antara teman-teman saya ada yang terjebak dengan memperlakukan teman seperti pentil laki-laki. Maksudnya, seakan-akan teman itu nggak ada fungsinya. Coba aja googling mengenai fungsi dari pentil laki-laki. Kalau ada yang nemu artinya, boleh link-nya di-share di kolom komen.


Saya pun kurang paham. Mungkin karena merasa sedang di atas angin, merasa paling pintar, paling sukses dalam pekerjaan, lalu merasa nggak terlalu butuh orang lain. Atau karena sedang terjebak dalam hubungan pacaran yang nggak sehat. Saya cenderung mengatakan hubungan pacaran yang sampai mengabaikan lingkungan sekitarnya adalah hubungan yang nggak sehat. Karena kalaupun menikah, kita tidak akan tinggal di hutan. Kita tetap butuh teman. Pas pacaran mungkin nggak terlalu kerasa, Tapi nanti kalau sudah berumah tangga baru kerasa bahwa sejatinya manusia memang butuh teman, di luar pasangan. Percayalah, dik Arum ini sudah berumah tangga. Dik Arum dan suami juga sudah merasakan bantuan dan kebaikan hati dari beliau-beliau yang merupakan teman orang tuanya dik Arum dan orang tuanya suami.

Kemungkinan lain adalah karena merasa dirinya orang yang paling sibuk sedunia. Betapa pekerjaan saya banyak sekali, betapa saya harus bekerja di lima tempat, betapa saya harus menulis di media-media keren seminggu delapan kali, betapa saya harus mengurus pasangan. Mana sempat sih untuk remeh-temeh menyapa teman?

Tapi tanpa disadari, perilaku seperti itu menciptakan jarak dari dunia. Iya, walau remeh-temeh, teman juga merupakan bagian dari dunia kita. Bahkan bagian yang penting lho! Saya menyadari sepenuhnya bahwa pembentukan karakter saya bukan cuma dari keluarga, tapi dari teman-teman di mana setiap harinya saya berinteraksi. Teman sesungguhnya ya. Bukan teman yang selalu setuju dan memuji setiap kita nyetatus di facebook atau posting foto di instagram.

Ilmu komunikasi memang rumit sih. Terlalu cuek itu nggak bagus, berlebihan kepo juga bikin eneque. Ilmu komunikasi  ini sampai ada kuliahnya segala. Tapi ilmu berkomunikasi dengan teman saya rasa nggak perlu sampai kuliah segala. Apapun jenjang pendidikanmu, nggak kuliah ataupun sampai S3, saya rasa berkomunikasi dengan teman dan memanusiakan manusia adalah hal yang harus untuk dilakukan.

Selain pentil, teman ini bisa dianalogikan seperti memelihara blog. Blog buat saya sih penting nggak penting ya. Ada kalanya blog saya begitu-begitu saja, tapi ada juga saat-saat dimana saya mendapatkan sponsor dengan nilai puluhan juta, yang membuat saya mau nggak mau harus mencurahkan segala perhatian saya untuk blog saya dan project puluhan juta tersebut, atas nama profesionalisme dan tanggung jawab.

Tapi yang harus disadari, sebenarnya nilai puluhan juta tersebut bukanlah nilai satu proyek itu saja. Nilai itu adalah bayaran atas berjuta-juta waktu yang saya luangkan untuk mengisi dan memperbaiki blog saya. Proyek tersebut datang karena melihat bahwa blog saya digarap dengan apik dan konsisten, bukan ijig-ijig datang. Jadi saya nggak bisa kalau hanya "baik-baik" dan mengerahkan tenaga terhadap blog saat ada proyek saja. Karena semua proses yang saya lakukan terhadap blog saya dari awal dan sampai saat ini adalah berkesinambungan. Bagaimana saya memperlakukan blog saya akan menjadi jalan bila suatu saat ada proyek mampir lagi ke blog saya.


Teman ya begitu. Kita nggak bisa hanya menyapa kalau kita butuh bantuan, atau saat kita kesepian karena pasangan sudah tidur atau pulang kampung. Teman kan bukan ban serep. Kalau saya, berhubung saya sudah berumah tangga, tentunya saya punya porsi yang besar untuk suami saya. Saya nggak mungkin lah ngopi-ngopi sama teman-teman saya, kalau urusan suami saya belum beres. Pun saya juga punya banyak perkerjaan yang nggak mungkin bisa saya tinggalkan. Tapi tetap, saya merasa teman adalah hal penting dalam kehidupan saya, yang selalu punya porsi penting untuk mendapat perhatian saya.

Makanya saya merasa bahwa teman-teman saya perlu tahu bahwa saya sedang sakit. Karena saya tahu, akan sangat melukai perasaan kalau mereka tanya atau bercerita, eh malah saya cuekin aja. Atau bahkan ketika mereka bercerita, saya cuekin, dan saya malah facebookan? Duh, jangan ya. Itu nggak sopan.

Memberlakukan seperti pentil laki-laki ini juga berlaku dalam perkataan. Saya tahu, ucapan apalagi via tulisan, memang cenderung mudah untuk disalah pahami. Karena tulisan nggak punya intonasi. Tapi saya rasa ada hal-hal sederhana kok yang bisa kita jaga, meskipun tanpa intonasi.

Misalnya, daripada menekankan berkali-kali bahwa seseorang itu nggak penting dan membuat orang merasa kecil (yang mana nggak penting sebenarnya, karena mengecilkan orang lain nggak akan membuatmu menjadi lebih hebat), akan lebih baik menjelaskan bahwa kita sedang mengerjakan sesuatu yang nggak bisa ditinggalkan. Contoh simpelnya nih, daripada mengatakan: "Aku ada prioritas lain yang lebih penting." Akan lebih baik mengatakan, "Oh maaf aku sedang mengerjakan ini dan ini nih. Mungkin sampai tanggal sekian, aku fokus ke sana dulu." Atau dalam kasus saya, "Sori, bro. Aku lagi minum obat tidur gajah. Nggak tau nih sampai kapan. Doain aja cepat sembuh ya."

See? Lebih enak didengar dan lebih sopan kan? Bonusnya, kita juga akan mendapatkan doa-doa dan dukungan dari orang terdekat.

Sebagai penggiat sosial media, saya tahu juga bahwa akhir-akhir ini banyak sekali berseliweran berita dan gosip menarik. Paparan-paparan informasi tersebut terus-menerus menerpa dengan cepat. Belum selesai cerita soal Raja Salman bawa eskalator, eh muncul cerita soal salah penyebutan judul film pemenang di perlehatan Oscar. Setelah itu langsung muncul foto koh Ahok salaman sama Raja Salman, dan disusul dengan vlog swag Pakde Jokowi bersama Raja Salman. Belum ada hitungan jam, pak Jonru kemudian koar-koar bahwa foto koh Ahok bersalaman dengan Raja Salman adalah hoax. Dan kemudian diralat sendiri oleh Jonru, bahwa itu bukan hoax.

Bahkan sampai saya menuliskan ini pun, aliran-aliran peristiwa dan informasi terus bergulir di timeline sosial media saya. Setress saya kak Emma!

Dan terkadang kita semacam terpacu untuk nggak mau ketinggalan. Pokoknya saya harus share meme lucu tentang anu. Oh...saya juga harus berkomentar soal film inu. Biar kekinian. Biar nggak dikira kudet. Biar orang tahu saya pintar. Padahal ada yang lebih penting dari sekedar dikira pintar oleh follower sosial media yang kita sendiri belum tentu kenal, yaitu hubungan yang real dengan teman di dunia nyata. Memang ada sisi sosial media sebagai jendela dunia, namun akhir-akhir ini, sosial media seringkali malah menarik seseorang dari dunia nyata.

Percuma sekali kan tahu apa yang terjadi di panggung Oscar, tapi kabar terbaru temanmu saja kamu nggak tahu?

Saya sendiri bukan orang yang terlalu banyak bersosialisasi. Adakalanya saya menyapa teman lebih karena kewajiban, karena sopan-santun. Yang kenal saya di dunia nyata, pasti tahu saya ini tipikal introvert dan lebih suka berada di rumah dikelilingi kucing-kucing saya daripada bergaul kesana-kemari. Tapi yah kembali lagi saya berpikir, mau kah saya menarik diri dari dunia? Bagaimana kalau suatu saat saya butuh bantuan teman-teman saya? Toh waktu yang saya luangkan nggak sebanyak itu, dan saya juga nggak berkorban sedemikian besarnya kok dengan menyapa teman dan menjaga perkataan.


Meskipun bagi saya teman ya tetaplah ibarat pentil lelaki saat ini. Tapi saya merasa bahagia ketika sapaan saya berbalas dari penti-pentil lelaki saya. Atau ketika mendengar riuh rendah kabar dari para pentil lelaki saya, yang dengan enteng berkabar kepada saya, karena saya pun berkabar pada mereka.

Untuk teman-teman saya dimanapun kalian berada, kalian itu memang hanyalah pentil lelaki. Tapi pentilnya Chicco Jerikho. Tak berguna namun indah, dan susah untuk diabaikan ;).

You May Also Like

8 komentar

  1. Ooo jadi pindah ke Chico Jerikho nih? Bukan pentil Nicsap? #eh 😆

    Ngomongin topik ini, aku jadi inget sama quote seorang bule yang dipost temen di FB. Intine sekarang jamannya mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ada benernya ya nggak sih? Soalnya kalo lagi sama temen, agak susah ketemuan non virtual tapi kalo di grup chat cevats 😆

    Aktivitas juga menjadikan orang jadi detach sm lingkungan. Contohnya kerjaan di bidangku, minim chitchat dan yang dihadapi layar mulu. Jadi makin jarang ngobrol juga.

    Balik-balik ketemunya Tim-Tam 😂 Yoweslah, daripada ketemunya mantan #eaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nicsap itu....cinta sejati. Jangan kaw bandingkan Nicsap dengan siapapun!

      Iya betuls. Termasuk kasus ini nih: Kalau ketemuan di dunia nyata, eh malah pada sibuk pegang hp. Whatsapp-an sama yang nggak ada di sana atau malah mainan facebook. Piye tokh! :D :D

      Aku sering ketemu mantan lho. Dan oke-oke aja :D

      Hapus
  2. Kak Ema, eh Kak Arum..

    Pentilnya Mas Cicho memang sungguh menggoda. Tapi menurut Dek Momon, pentilnya Kak Cicho itu berguna. Memberi inspirasi pada Kak Arum 😌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya juga ya. Mari kita nobatkan pentik Ciccho sebagai sumber inspirasi yang hqq!

      Hapus
  3. Pentil laki-laki kalo udah jadi suami berguna sebagai subtitusi pentil ibu #apasih

    BalasHapus
  4. Pentil pria: berfungsi utk membedakan mana dada mana punggung :v.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas pengetahuannya. Sangat berguna. Terus berbagi ilmu di Besok Siang ya, gan!

      Hapus