Bergaul dengan Para Bunda

by - 5/18/2017


Posisi saya saat ini adalah posisi kejepit. Sudah menikah selama sekitar 3 tahunan, tapi belum punya anak. Teman-teman saya yang cewek, terbagi dalam dua jenis. Jenis pertama: yang belum menikah. Jenis kedua: yang sudah menikah dan punya anak atau akan punya anak. Sementara saya adalah golongan yang sudah menikah, nggak punya anak, dan belum kepikiran untuk punya anak.

Harus saya akui (walau tidak diakui oleh orang-orang lain), saya adalah orang yang punya sifat-sifat princess dalam diri pribadi terdalam saya. Saya begitu anggun, memesona, dan baik hatinya. Itulah mengapa saya nggak keberatan bergaul dengan siapa saja. Bahkan sama kafir kemplu lajang koplo macam Momon pun saya bisa bergaul baik-baik lho, apalagi sama teman-teman yang sudah menyandang status sebagai Bunda. Saya bisa sangat suportif dan ibu peri dan bisa jadi adalah yang pertama ikut berbahagia kalau anaknya Bunda poop-nya lancar.

Hanya saja, terkadang para bunda ini nggak menyadari bahwa kita sudah berbeda dunia. Banyak hal yang bikin saya....mm....apa ya istilahnya? Bukan risih, bukan pula nggak nyaman. Cuma agak-agak bikin ganjalan gitu lho. Yang sebenernya nggak papa sih saya simpan dalam hati. Tapi ya agak bikin kepising.

Tahu kan kepising? Dari kata dasar Ising. I = Internet. Sing = Menyanyi.

Dan sebenernya nggak masalah juga saya kepising. Wong saya punya jamban.

Tapi saya sudah terlalu banyak melihat tulisan mainstrem mengenai keluh-kesah para Bunda di berbagai media sosial dan blog. Kali ini di Besok Siang, giliran dek Arum gantian berkeluh kesah kepada para Bunda di luar sana. Supaya dunia tahu bahwa dedek-dedek pun punya keluhan untuk para Bunda.
sekalian menghimbau untuk para Bunda di luaran sana, kalau share status orang itu mbok cantumkan sumber tah. Status ini kan walau mewakili suara hati banyak bunda, tetapi tetaplah milik Bunda Happi Hapsari.

Ini saya cuma menumpahkan uneg-uneg ya. Bukannya mau membatasi gerak para Bunda. Kalau para Bunda tidak suka, ya nggak perlu digagas segala ketidaknyamanan saya ini. Ini dibawa lucu aja bacanya. Toh saya ini kan hanyalah serpihan kopet garing yang terbawa angin lalu hinggap di makan siangmu. Nggak penting tapi bikin Disentri.


Nama Kontak
Hal pertama yang saya keluhkan adalah pergantian nama kontak. Seringkali para Bunda ini mengganti foto BBM-nya dengan foto anaknya. Dan itu nggak masalah sebenarnya. Tapi yang jadi masalah adalah ketika Bunda mengganti juga nama kontak dengan: Bundanya Jethro (contoh). Ini sama ngeselinnya dengan yang namanya Agustami, tapi nama kontaknya "Tamiii Y9 Lhelah Deecaqithi o/ Mookiidhie"

Saya suka pusing dengan yang begini. Temen saya yang sudah punya bayi, balita, dan batita itu banyak sekali. Kadang namanya bahkan ada yang sama-sama. Terus, saya ini orangnya paling susah ngafalin nama dan muka bayi. Jadi saya beneran nggak tahu, bundanya Jethro itu siapa ya? Yang mana orangnya? Dan fotonya baby Jethro di profil, walau selucu apapun, tetap nggak bikin saya jadi inget sama Bundanya.

Ehm...kecuali fotonya baby Hasan ya, yang subhanalloh lucu sampai saya jadi teringat-ingat terus sama....

...ayahnya.

sumber: bintang.com

Saya pernah di BBM oleh kontak dengan profil muka bayi dan dengan nama, "Bundanya Jethro". Karena saya nggak tahu ini siapa dan bagaimana bisa ada bayi punya kontak saya, ya saya tanya: "Maaf ini siapa ya?" Eh si bundanya Jethro membalas: "Yaalah Aruumm, sombong banget mentang-mentang blogger kondang."

Iya saya tahu, saya ini blogger Besok Siang yang (sok) kondang dan sombong, nggak bisa dipungkiri. Tapi dari percakapan di atas, saya belum merasa mengeluarkan sedulit kopet pun kesombongan saya lho! Bagian mana sih sombongnya?

Terkadang, pergantian foto dan nama ini merembet ke sosial media. Pernah saya menemui akun yang saya follow, isinya foto bayi semua. Nama instagramnya pun adalah nama lengkap si bayi. Saya coba scroll-scroll sampai ke bawah, tapi saya nggak menemukan siapa admin dibalik akun bayi tersebut. Ya nggak mungkin juga kan si bayi main instagram sendiri? Sama nggak mungkinnya dengan saya yang dengan sengaja follow akun yang isinya foto bayi dan caption-nya membahas kelucuan si bayi. Waktu itu saya pikir ini akun beli follower kali ya, makanya saya ijig-ijig follow padahal nggak ngerasa. Ya udah saya unfollow saja.

Setelah saya unfollow, baru kemudian si admin muncul dan terbaper-baper. Iya, ternyata saya kenal admin slash Bunda-nya si bayi yang memang teman kuliah saya. Foto-foto muka dia dihapus semua, karena pengen akun tersebut khusus untuk mendokumentasikan di bayi. Ya maap, Bunda.

"Lagian anakku kan lucu banget! Masa bisa nggak hafal sih sama muka anakku?!"

Iya, Bunda. Maaf. Saya memang koplo.


Nama Panggilan
Ini saya alami betul lho! Teman-teman yang awalnya saling memanggil dengan nama asli, atau nama alias, atau coeq, nyet, su, dan sebangsanya, mendadak berubah jadi "eh Bundanya Gyo apa kabhaaarrr?". Dan saya yang belum beranak ini masih risih dengan panggilan tersebut, jadi nggak ikut-ikutan. Jadi sementara teman-teman lain memangggil yang bersangkutan dengan nama Bundanya Gyo, saya tetap memanggil dengan nama asli.

Masalah? Enggak kok! Sama sekali enggak masalah. Sekali lagi, cuma bikin saya agak kepising. Bayangkan ketika reunian dan saya berada di tengah para Bunda yang saling memanggil dengan format: (Bundanya - (nama anak)). Tapi nggak ada satupun yang sudi memanggil saya dengan nama Bundanya Jimbeam. Pengen ngising, beb!

Belum kalau ada yang ngasih tahu saya: "Jeng, besok ikutan nengokin Bundanya Gyo yuk ke rumah sakit. Ambeiyen nggak sembuh-sembuh. Kasian banget ya.."

Yang sakit ambeyen sapa? Bundanya Gyo ki sopo? T.T

Yang jadi pertanyaan saya banget nih, kenapa sih para Bunda ini suka sekali saling memanggil dengan sebutan Bunda? Sementara para ayah, tidak saling memanggil dengan sebutan "ayah"? Tapi gilo nggak sih mbayangin para suami saling memanggil dengan sebutan "Ayah"? Ngahahhaaa...

Tapi walau tidak saling memanggil dengan sebutan "Ayah", para Ayah ini tetap bisa curhat juga kok. Seperti Ayah Arham Rasyid yang membalas curhatan Bunda Happi Hapsari mengenai Nia Bakrie sing babune limolas.


Pembahasan Mengenai Parenting Yang Tidak Pada Tempatnya
Sebenarnya pembahasan mengenai apapun itu nggak masalah asal dilakukan dalam forum yang tepat, atau dilakukan di akun sendiri. Intinya sih nggak membuat orang lain yang nggak tertarik jadi terpaksa ikut terjebak dalam pembicaraan tersebut.

Contoh kasus, di suatu grup whatsapp yang isinya sangat heterogen; ada artis, ada politisi, ada guru, ada beauty blogger, tukang masak, ibu rumah tangga, pengangguran, sampai eksekutif muda; beberapa anggota yang berstatus sebagai Bunda seringkali ngobrol sendiri,

"Bunda, anakku sudah bisa ngomong 'te-lo' lho! Pinter yaaa.."
"Duh pinter tenan. Nek anakku sudah bisa koprol, Bund."
"Wooo belum tau aja anakku kemaren menang lomba balita sehat cinta lingkungan berkepribadian teladan dan cinta negara."
"Buuunnnd, OOT, anakku gumoh piye iki?"
"Astaga? Sudah diblonyoh minyak tawon, Bund?"
"Sudah, Bund! Mungkin karena kemaren tak kasih jus duren ya?"
"Mitos itu, Bund, duren bikin bebelen. Anakku lho mpasi duren. Campur jengkol sithik."
"Woh, doyan, Bund?"
"Weeee...jangan salah! Sing doyan bapakane!"

Rasanya saya pingin nimbrung, "luweh, Bund. Luweh!"

Bukannya saya nggak ikut berbahagia dengan kondisi anak-anak para Bunda. Tapi bagaimana kalau nggak setiap menit dibicarakan? Dan kalau mau dibicarakan setiap menit, bagaimana kalau para Bunda ini bikin grup whatsapp sendiri yang namanya "Paguyuban Bunda Cetar" atau "Bunda-Bunda Berghibah Manja" atau apaan kek nanti saya bantu cari nama yang catchy. Pokoknya pastikan memang di grup atau lingkungan tempat Bunda ngomongin tekstur eek anaknya, semua member-nya interest dengan topik tersebut.

contoh nama grup khusus kebunda-bundaan

Itulah juga alasan mengapa saya seringkali menolak kalau diajakin ngumpul sama rombongan Bunda-Bunda. Karena kayaknya saya cuma jadi pupuk bawang. Obrolan utama yang paling diminati adalah soal parenting, dan saya nggak paham. Kalaupun ada yang nanya kabar atau sesuatu yang lain ke saya pun, paling cuma basa-basi yang jawabannya bahkan nggak didengerin.

"Rum, habis potong rambut ya? Bagus ih, tambah fresh. Potong di mana?"
"Di sal...."
"YA AMPUN, Bunda Owel itu dot-nya Owel bagus sekali!! Merknya apa?"
.....

Saya baru mau ngikut kalau paling tidak dalam rombongan tersebut ada yang lajang atau paling enggak ada bapak-bapaknya.


Kapan, nih?
Karena sudah merasakan betapa bahagianya punya anak, Bunda-Bunda baik hati ini ingin sekali orang lain merasakan kebahagiaan yang sama. Caranya? Dengan selalu nanya, "kapan, nih, punya dedek?" kepada kawan sejawat yang belum beranak seperti saya setiap ada kesempatan. Tidak lupa disertai wejangan khas kebundaan, "buruan nunggu apa lagi?"

Nunggu kamu nggak iyig, Bunda.

Sakin inginnya orang lain merasakan kebahagiaan haqiqi seperti mereka, terkadang tanpa ditanya pun mereka sukarela berbagi tips-tips pola makan, posisi yoga, sampai posisi berkenthu agar lekas hamil. Padahal yang dikasih tips belum tentu mau hamil cepet-cepet juga.

Saya pernah berterus terang kalau saya memang belum kepengen punya anak, karena kasian lihat salah seorang Bunda ngasih wejangan panjang lebar ke saya, padahal saya inget atau nyatet satupun wejangannya enggak. Eman ababmu lho, Bund. Tapi hasilnya saya malah tambah di wejangi. Berawal dari ekspresi prihatin dengan kening berkerut, nasihat-nasihat, dan sampai dengan larangan bahwa, "nggak boleh ngomong begitu. Anak itu rejeki dari Tuhan."

Astafirullah.

Maaf, Bunda. Ya karang saya ini ncen koplo.


Kontradiktif
Ini masih berkaitan dengan para Bunda yang suka nanyain "kapan, nih?" dan terkesan memburu-buru kawan sejawatnya yang belum beranak untuk segera beranak. Di satu sisi mereka berusaha mendoktrin saya mengenai indahnya dunia dengan gumohan bayi. Bahwa seorang wanita belum bisa merasakan kebahagiaan haqiqi bila belum diileri bayinya. Bahwa bunga mawar akan lebih harum bila bercampur dengan bau pesing ompol bayi sendiri.

Tapi di sisi yang lain... Mereka juga sering sekali sambatan di sosial media bahwa jadi ibu itu nggak gampang. Bau penguk karena nggak sempat mandi adalah hal yang lumrah. Nggak perlu diet karena makan juga kalau inget dan kalau sempet. Mangan gethuk we diselakke lho, selak klopone kecut. Dan yang menarik, justru para Bunda yang merongrong saya untuk segera beranak, adalah tipikal para Bunda yang paling sering sambat betapa berat dan lelahnya hari-hari menjadi seorang Bunda.

Bukannya saya mau ngomong bahwa jadi Bunda itu nggak boleh mengeluh ya. Boleh banget! Kasian lho kalau nggak boleh, stres banget pasti! Para suami juga harusnya lebih peka dan suportif, ya. #CiwelManjaBapakBapakPembacaBesokSiang. Cuma ya tolonglah, Bunda voqus saja dengan anak dan keluarganya, nggak perlu membagi perhatian untuk saya yang nggak meteng-meteng ini..

Percayalah, Bund. Walau saya ini belum menjadi bunda dan situ sudah, kita tetap bisa berteman dan berghibah manja. Boleh lho sesekali kita meet up ghibahin Ahok atau Rafi-ATT.


Kebaperan Soal Parenting
Nah, di atas segalanya, sebenernya ini yang paling bikin kepising. Kalau udah masuk ke area yang baper-baper begini, biasanya saya minggat sejauh-jauhnya ke planet Namec. Mungkin saya bakalan menghilang sementara waktu dari kehidupan para Bunda sampai suasananya kondusif lagi.

Masing-masing Bunda tentunya berasal dari macam-macam latar belakang. Bundanya Owel memilih ngasih susu formula untuk anaknya, sementara Bundanya Gyo mah militan ASI eksklusip. Bundanya Gyo ngasih tahu pendapatnya kalau bayi seumuran Owel nggak baik dikasih susu formula. Bundanya Owel baper, dan bilang kalau dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk Owel. bunda Gyo pun panas ati, ngomel kalau bundanya Owel ini ngeyelan dan nggak mau yang terbaik untuk anak. Lalu bundanya Owel curhat kalau mau gimana lagi wong ASI-nya nggak keluar kok. Bundanya Jethro menimpali, coba makan biji duren yang banyak karena itu melancarkan ASI. Bundanya Owel menjawab kalau sudah konsultasi ke dokter dan kata si dokter biji duren pelancar ASI adalah mitos. Bundanya Jethro ikutan panas juga, bilang kalau Bundanya Owel ngeyelan, wong soal biji duren ini sudah dibuktikan sendiri oleh Bunda Jethro kok, tek! Ya gitu sih kebanyakan kerja! Kalau sayang anak mah mending di rumah dong, biar konsen ngegedein anak. Lalu Bundanya Bambang yang juga ibu pekerja terprovokasi. Dikira kalau kerja nggak sayang anak? Sini mah bukan situ yang tiap hari pakek daster mambu sekolah tinggi-tinggi ilmu nggak dipakai....dan seterusnya.

HAH!
*Dek Arum left
Ini serius. Bukan cuma orang beragama yang suka baper akhir-akhir ini. Ketika menjadi Bunda, saya mengamati kalau teman-teman saya rata-rata menjadi lebih baperan. Ya mungkin karena terlalu capek ngurusin anak atau apalah, jadi lebih sensitif dan senggol bacok.

Itulah mengapa saya paham betul bahwa menuliskan soal ini juga riskan dibaperi para bunda. Makanya saya perlu menuliskan penutup semacam di bawah ini:


Tapi, nggak semua bunda seperti ini juga sih. Ada pula beberapa teman saya yang jadi bunda dan tetep koplo. Lalu ada jenis bunda yang suka cerita-cerita soal perihal anak dan kebundaan tapi nggak terlalu sering sampai bikin eneq. Kalau saya amati, sebagian besar teman saya yang Beauty Blogger yang juga seorang bunda, biasanya malah nggak pernah ngomongin anaknya sama sekali kalau lagi ngobrol sama saya. Malah justru saya yang kepo dan mancing-mancing lho kalau sama mereka.

Terus ada juga para bunda inspiratif, yang berbagi mengenai tips-tips seputar kebundaan di akunnya sendiri, nggak perlu ngerecokin orang lain. Jadi sesama bunda yang butuh, atau orang cem saya yang kadang kepo, bisa main ke akunnya sewaktu-waktu ingin/ butuh, dan merasa terbantu tanpa terganggu. Bunda-bunda influencer ini juga biasanya nggak pernah maksa-maksa saya untuk segera menjadi bunda. Palingan hanya sebatas berbagi mengenai indahnya menjadi bunda di akunnya sendiri.

"Haha...kamu belum jadi Bunda sih. Jadi sipil ngomong beginian. Coba liat aja besok kalau udah punya bayi sendiri. Pasti lebih nggatheli dari segala Bunda yang kamu cacat di sini."

Hmm...ya kemungkinan itu ada sih. Besar banget malah! Lha wong saya belum punya anak aja wis nggatheli je. Apa lagi kalau saya dihadapkan pada situasi stress luar biasa atau bahagia luar biasa karena menjadi Bunda. Pasti berkali lipat lebih nggatheli.

Yah pokoknya seperti apapun kelakuan kalian, saya selaku teman tetap mencintai kalean, wahai para Bunda. Memang saya terkesan sambat di sini. Tapi peeeeercayalah, saya cinta kalean! Dengan segala celotehan mengenai gumoh bayi dan nggaplekinya suami yang pura-pura tidur pas anak nangis kejer malem-malem.

Bund, ojok nesu ya, Bund! Plis, Bund. Maafkan diriku, Bund
*nggondeli sayakke para Bunda*

You May Also Like

43 komentar

  1. aku ngakakkkk pol bagian ini "Bunda yang suka nanyain "kapan, nih?" dan terkesan memburu-buru kawan sejawatnya yang belum beranak untuk segera beranak".

    Berkali2 aku ditanyain "gimana, kapan, udah ada hasil?" dan berujung dibilang "OHHH YA BERARTI BELUM DIPERCAYA TUHAN"


    WKWKWKWKWKWK *cekokin manjah kelabang*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eeeehhhh Bunda Ipeh pa khabhaaarrrr? :))

      Ku pun sudah eneque ditanya kapan kapan kapaaaannn. Masalahnya jawabanku antimainstream. Kalau jujur belum pengen ku takhut melukai hati dan harga diri para Bunda yang sedang bahagia karena telah beranak itu. :(

      Hapus
  2. Ini semacam ditanya "kapan wisuda?" atau "kapan nikah?" buat anak -anak semester akhir :'( pengen nangis banget rasanyaaaaaaa kalo orang-orang mulai tanya gitu

    Iyaaaaaaa aku akan wisuda pada waktunya kok tenang aja :')

    Dan aku juga bakalan merit. Aku pengen nikah jugaaaaaa tapi ya ga sekarang banget laaaaaah. Nanti juga ada waktunya aku menikah. huhuhuhu sedih . ingin menjawab jahat tapi kalo yang nanya ibu-ibu didesaQuh nanti aku kehilangan wibawa :'( wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini banget. Kalo udah lulus, pertanyaannya ganti ke "kapan kerja?". Padahal udah nyari2 emang dasarnya belom ada.

      Trus lama2 ganti ke "kapan nikah?", baru "kapan punya anak, anak 1, anak 2 dst?", "kapan anaknya sekolah, lulus, nikah, dll?", trus kalo ga punya "kapan beli rumah ato mobil?". Berakhir di "kapan wafat?" #DisambitSendal

      Hapus
    2. Mungkin emang bener sih ya, selama kita hidup, kita bakalan terus ditanyain pencapaian. Orang hidup harus punya target. Tapi masalahnya kzl juga ya kalau targetnya yang nentuin orang laen :))

      Hapus
  3. Oke aku masuk geng bunda koplo 😂😂

    BalasHapus
  4. Bunda, kalau mau ketemu ayahnya hasan, mereka kalau ke DSA di RS Pondok Indah. 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih infonya, Bund! Luar biyasak!

      Hapus
  5. Anonim5/19/2017

    sebagai yg single dan belum berminat menikah sy sering bgt dizhalimi para bunda. contohnya : bunda yg telat dtg saat pergantian shift karena anak ga ada yg jaga. bunda yg mendadak ga msk kerja karena anak sakit. Bunda yg uring2an di kantor karena ninggalin anak yg lg panas. Bunda yg tiba2 nangis di kantor karena merasa bersalah ninggalin anak kerja. trus aku njuk piye? bukannya ga bisa prihatin,tp kan itu resiko elu. kenapa mesti dibagi2 ke org lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh god, ini banget!
      Saat mau menikmati indahnya "me time", tiba2 dihubungi minta ganti jaga gara2 hal2 tsb. Pas ditanya knpa harus aku yg ganti, jawabannya karena masih single, jd harus ngerti dgn keadaan para bunda. #salty

      Hapus
    2. Nah aku kejepit lagi nih, Bund. Di satu sisi eug paham banget lah sama posisi lajang koplo cem klean. Tapi di satu sisi aku juga habis nyacati para Bunda di atas. Jadi nggak bisa tambah nyacat, ntar eug disambit parut.

      Jadi jawaban resminya: Yang sabaaarrrr. Memamng jadi Bunda itu lebih berat dan tanggung jawabnya lebih besar dari kita yang masih lom berbuntut. Ada baeknya kita sedikit manjangin usus dan berempati #SenyumSetengah

      Hapus
  6. Yg udah punya anak 5 aja suka ditanya kpn punya anak ke 6. Ga abis2 pertanyaannya. Lama2 ditanya kapan sampeyan modar. Disambit langsung.

    *eh tapi aku bulan bunda kek gitu loh*
    Eeeeaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha, kapan modyar itu bisa jadi bakalah dipertanyakan kalau kita sudah mencapai semua target hidup dan orang2 bingung mau nanya apa laghi. Makanya sisain satu pertanyaan, biar orang nggak mentok trus nanya 'kapan modar' :))

      Hapus
  7. Ngekek tek...untungnya aku ndak trmasuk bunda2 itu menurutku yaaa hahahaha...akupun tak suka dipanggil bunda..wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Bunda Unknown ^^

      Hapus
    2. Tek..ini akyuu..titi wkwkwkw..bingung loginnya kok jd unknown wkwkwkw

      Hapus
    3. Bikin aku google lah, Bunda Teteeekkk :))

      Hapus
  8. Bunda Jimbim, kapan yha kira-kira kita bisa bertemu lagi? Butuh curhat ni, anak saya mulai punk. Anti kemapanan. :(

    wassalam,
    Bunda Mengi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, bundanya Mengi, cepetan lho Mengi-nya lek dirukiyah. Gawat itu kalau udah anti kemapanan. Biasanya lanjutannya adalah rindu kekenyalan.

      Hapus
  9. Lucu banget sih mba arum.. ga kelar2 ketawa ini.. salam kenal dr Bundanya Catherine dan Sabia :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal balik dari Bundanya Jimbeam dan Lilly :P

      Hapus
  10. Hoo e bun. Jujur aku jg eneque dengan persaingan para bunda sekarang. Jd sekarang kl sharing anak di ig soal klucuannya aj.soal mpasi gumoh dll simpan aja lah drpd nanti dinasehatin org entah siapa panjang lebar krn bunda sempurna banyak sekali bertebaran di ig sekarang hik hik. Begitupun yg suka ganti nama bbm line dll itu. Duh emang pusing sih. Tenang aja bunda arum, yg eneque sm yg lebay2 ga cm kamu kok bun haha. Aku malah ngakak loh bacanya. Aku jg krg suka dipanggil bunda2 sm org yg ga dikenal kecuali spg susu hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah, Bund. Jebul yang bunda-bunda juga kzl sama bunda-bunda pinter tah. Aahahahhaa.. Hooh suk kalau ada yang manggil aku Bund lagi, tak cariin lowongan kerja SPG susu bayi.

      Hapus
  11. Ngakak pol pas bagian "Nunggu kamu nggak iyig, Bunda." Aku pinjam ya Mbak, akan aku pake omongan ini kalau ada orang nanyain hal-hal nggak penting :))

    Kemarin habis dicurhatin sama teman, kalau dia sedih karena udah nggak nyambung lagi kalau ngobrol sama sahabat-sahabatnya yang sudah menikah dan punya anak. Kalau sudah begitu, memang harus cari teman lain yang paling nggak setara dalam perjuangan hidupnya tapi tanpa memutus pertemanan sama yang beda. Ada porsi ngobrolnya masing-masing kali ya.

    Suka sama tulisanmu, Mbak!

    TTD, Aunty Koplo :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Aunty Koplo,

      Hahahha...akupun kalau udah kumpul sama temen-temen bunda, kalau obrolannya udah bahas anak, bayi, sampai beratnya beban hidup berumah tangga, aku mlipir kok. Nantik gabung lagi kalau mereka ngomongin makeup, salon, atau sembarang yang receh dan hore2 lainnya :D

      Hapus
  12. Anonim5/20/2017

    Aku gktau sih itu emang dasar pribadinya yg lebay atau emang kalo udah punya anak tu otomatis diri jadi berubah gitu ya?
    Aku perhatiin org2 pd gtu e soalnya... Misal ada pncapaian2 lain kyk wisuda, nikah, punya kerja dll orang show off tapi gak ada yg sebegitu lebaynya. Tapi klo udah menyangkut hamil punya anak persis bgt kyk yg ditulis mb arum.. Feed ig jadi full foto anak lahh which is itu nyampah. Di grup ngmgin anak. Ketemu ngmg anak. Sampe ujung2nya baper2 dan berantem..

    Pernah gak ngintip grup watsap orang tua kita? Banyak yg suka pamer 'iki lho putuku.. Lagek momong putu ki' sedangkan ada ibu bpk yg gak punya anak, punya anak tapi brkebutuhan khusus, punya cucu tp bkn cucu kandung. Ini fakta sih mbak d grup mama aku...

    Thats it.. Orang sampai kapanpun gak akan pernah berhenti nunjukin pencapaiannya ke orang2 alias pamer dan ujung2nya bikin risih orang. Dan yg bisa kita lakukan yaaaa cuma diem dan sabar aja. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm...kalau aku sebenere memaklumi sih. Ku belum punya anak, tapi sedikit banyak paham rasanya punya bayi dan pengen pamer/ ngomongin terus. Mungkin karena aku punya kucing ya, dan memang rasanya pengen pamer dan ngomongin kucing terus kalau ketemu sama sesama pecinta kucing. Yang kupermasalahan sebenernya adalah hal-hal lain yang bikin susah kayak: ganti nama dan foto kontak sampe nggak dikenali lagi (banyak foto bayi nggak papa selama masih ada keterangan itu akun/nomor siapa), terus seakan-akan maksa yang belum punya anak untuk bersegera, dll dll :D

      Kalau pamer, ya seperti kata neng/mas Anon. Nggapapa. Kita harus menyadari bahwa "Orang sampai kapanpun gak akan pernah berhenti nunjukin pencapaiannya ke orang2 alias pamer". Ngga perlu risih :D

      Hapus
    2. klo sekedar pamer sih masih maklum, cuma emang bener kebanyakan bunda mode *senggol bacok* dibecandain dikit aja uda baper, atuut khaak

      Hapus
  13. Bund, memang ditanyain "Kapan nikah?" lebih melelahkan dari dicakiti oleh Mukidi :(

    Btw, Bund..
    Mas Nuno apa kabar? Mas Gyo mau kenalan.

    Bundanya Gyo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dijawab dong, Bund: "Nanti-nanti lah nikahnya. Saya masih pengen seks bebas." Gitu...

      Bulan depan eu ke Jogja, Bund. Niliki Mas Nuno

      Bundanya Jimbeam, Lilly, dan bunda tirinya Nuno

      Hapus
  14. Ya ampun.. ini blognya mbak arum juga? ngakak pol bacanya.. bahasanya masih nyleneh dan nyentrik tp ini lebih bebas, sukaaaaaaaaakk jempol jempol pokoknya buat semua tulisan mbak arum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog ramean Bundaaaa :D
      Makasih ya

      Hapus
  15. Ditanya gerecokinnya sih aku masih bisa terima lah, tapi kalo udah ngasih nasehat panjang lebar apalagi di serius-seriusin rasanya pengen ninggal. Hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang sampe nasehatin itu kadang melelahkan. Bukan pengen ninggal kalau aku. Tapi pengen komen: "meninggal cajalah akuw!" :))

      Hapus
  16. Hahaa aku ingin komen tapi lebih panjang dan lebih lebar komenku dari postingan punya mbak arum, yaudah cukup aku share aja di fb yak. Btw aku bole ndaptar jadi member grup "bunda koplo" nggak? *dari eijke calon bunda yang uda merit 3 taun lebih tp blm kepingin apalagi kepikiran jd bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini-sini daftar!
      Ikut nulis di Besok Siang jadi tamu koplo boleh kok :")

      Hapus
    2. Ayok sih daripada cuma nyetatus di FB, mending kirim tulisan ke Besok Siang :D

      Hapus
  17. Cihiy, se-geng!
    Aku nikah udah 6 thn belum punya anak karena memang..belum pengen.
    Duh nista dunia yang pernah kuterima karena iseng jawab jujur belum pengen punya anak.
    Abisan kesian, udah muka prihatin nyaranin ini itu padahal ya..sini sengaja, cyin =P
    Betul banget, yang getol nanya itu kok ya yang sering ngeluh dan yang bikin aku bersyukur gak punya anak *ngakak
    Sehinggaaa..waktu pertanyaan itu datang di saat otak lagi gak imbang, aku pernah nanggepin dengan "Kapan? Ya kalo situ gak ngeluh lagi soal anak kali yaaa..hahaha."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau lagi suuzon parah ku ingin berkata: "mengapa kamu ingin sekali aku menderita sepertimu?" :))

      Hapus
  18. wahahaha, tenan mbak, ojo menungso, kucing ae lak dadi ibuk2 yo galak baperan je. makane aku yo males kadang kumpul2 ro bunda2, sepurane yo, polae aku dewe yo bunda, dadi apal wes opo wae seng diomongke. kadang malah marai duso. wes mending meneng wae lak wes kepekso kumpul ki. po dadi pendengar setia wae.

    BalasHapus