Plagiat

by - 6/16/2017

Sumber: blog.devolutions.net

"Kalau nggak mau karyanya di-copas atau diplagiat ya jangan diunggah ke internet dong!"

Buat kalean yang masih punya pikiran kayak di atas, dengan rendah hati saya minta untuk MINGGATO! Minggat sing adoh! Kamu stupid! Bahkan ambu sikilmu pun nggak layak jadi rakyat Besok Siang!

sumber gambar: memegenerator.net

Sebagai blogger slash tukang curcol di facebook slash seleb instagram ala-ala, saya lumayan sensitif sama topik plagiarisme. Nggak cuma sekali-dua kali foto saya dipakai untuk testimoni palsu krim pemutih dari entut walet, atau hasil makeup saya diaku-aku sebagai hasil makeup MUA anu, atau tulisan saya di-copas tanpa mencantumkan sumber. Sakhit, khak!

Kayaknya semua orang yang bener-bener punya karya, pasti bakalan sensitif sama topik yang satu ini deh! Saya merasa sakhit bukan saat karya saya saja yang diplagiat, tapi bahkan kalau karyanya mantan-pacar-saudara-iparnya-sepupu-jauh-Gal Gadot yang diplagiat pun, itu nggak mengurangi rasa sakit hati saya. Semacam ada rasa tercubit di dalam hati ini, yang membuat saya harus menahan diri agar tidak lari ke gudang dan mengambil pacul.

Tukang copas: "Pacul wat apa, dek Arum?"
Saya: "Wat maculi ndyasmu!"

Beberapa hari terakhir ini, timeline facebook dan grup ghibah saya terbagi menjadi tiga. Golongan pertama adalah golongan mainstream alias golongan yang hidupnya tak terpengaruh dengan kondisi sekitar. Termasuk yang di sini adalah para Bunda yang sambatan betapa lelahnya menjadi Bunda sembari berusaha meng-encourage gadis belia cem saya untuk terjun ke dalam kelelahan yang sama. Golongan kedua adalah mereka-mereka yang peduli politik dan agama, dan mendapat topik empuk berupa plagiarisme yang dilakukan oleh dek Afi. Dan golongan terakhir adalah kawan-kawan blogger yang mendadak rame ghibah soal kasus "pinjam foto" dengan cara yang kurang etis yang dilakukan oleh media galau masa kini, Hipwee.

Saya sendiri adalah golongan yang maruk. Semua-semua tak tandangi. Saya maunya dilibatkan dalam semua pembicaraan dan keramaian sosial media. SKSD sana-sini demi mendapat asupan bahan ghibah agar tetap kekinian di bulan Ramadhan ini.

Jujur topik plagiarisme adalah topik yang berat kalau buat saya. Ngena dan nyakhitin banget! Jadi mohon maaf kalau saya nggak lucu. Yah seenggaknya muka saya lucu dan menggemazkan walau tulisan saya nggak lucu.

***

Marilah kita bicarakan soal dek Afi dulu. Jujur ya, meskipun sesama dedek-dedek, tapi saya bukan penggemar dek Afi. Bukan karena saya nggak setuju pola pikirnya, bukan karena dek Afi berani-beraninya menyinggung politik dan agama, tapi lebih karena saya nggak pernah mudeng sama apa yang dia bicarakan. Utegku ra nyandak. Kalau sudah pengen tau banget, kadang saya menyodorkan tulisan dek Afi ke salah satu teman seperkopetan saya, dan meminta mereka untuk menyederhanakan isinya menjadi sekitaran tiga baris saja.

Ya saya nggak ngefans, bukan berarti benci. Tapi lebih karena ora mudheng. Terlepas dari pro dan kontra (yang komen juga tolong dikondisikan, saya nggak mau bahas pro kontra pemikirannya dek Afi), cangkemane dek Afi terlalu abot untuk dedek-dedek gaul milenial cem saya.

Tapi walau ora mudheng, saya ketika itu cukup berbangga juga, ada dedek-dedek sebaya yang tulisannya bisa menginspirasi banyak orang. Sampai di undang presiden lho! Welok tenan! Kapan tim Besok Siang diundang presiden? Makanya saya pun lumayan patah hati pas tahu bahwa dek Afi ini ternyata plagiat karya orang lain.

sumber: https://www.instagram.com/afi.nihayafaradisa

Dek Afi sudah meminta maaf, tapi entah kenapa bagi saya caranya meminta maaf terasa kurang tepat. Kayaknya dek Afi belum megerti poin kesalahannya. Dek Afi masih meminta maaf dengan kata tapi. Semacam: "Iya saya salah karena udah ngece dek Momon yang 10 tahun menjomblo. Tapi siapa sih di antara kalean yang nggak pernah tergoda untuk ngece dek Mon. Jomblo, lho! 10 tahun, lho! Sampe ngakik, lho! Lagian ya saya ini kan masih anak-anak."

Poin yang tidak dimengerti dek Afi adalah: Perbuatannya salah. Dia harus meminta maaf karena dia salah, bukan karena nggak mau menanggung akibatnya. Salah adalah salah. Kalau ada orang lain yang pernah melakukan kesalahan yang sama, bukan berarti perbuatan tersebut njuk jadi bener. Kayak di jalan Jagakarsa itu, banyak banget yang suka putar balik lawan arus. Kalau ketemu polisi ya tetep aja disemprit. Dan si pelawan arus nggak bisa beralasan: "Siapa sih yang belum pernah melawan arus di semesta Jagakarsa ini?"

Di dunia tulis menulis, plagiat adalah dosa yang paling nista. Kalau situ memang penulis, dan benar-benar pernah menghasilkan karya dengan jerih payah dan pemikiran sendiri, pasti tau gimana perasaan sakhit saat tulisan kita sendiri dicopas tanpa menyertakan nama kita sebagai pembuatnya. Nah, sudah tau sesakhit itu, seharusnya nggak melakukan hal yang sama kepada sesama penulis lain.

Dan dek Afi juga sudah bukan anak-anak. Dia sudah 18+. Sudah dianggap dewasa secara hukum di Indonesia, sudah dianggap bisa berpikir dan mengambil keputusan, sudah boleh membaca Besok Siang, dan tentu saja kalau memang bisa menulis sudah boleh mengirim tulisan dan menjadi kontributor Besok Siang.


Saya sih paham banget kalau banyak yang menyerca dek Afi, ngatain nggak bisa nulis, tukang copas, nggak beneran pinter, dll dll. Ya bukannya saya jahat...eh sori, maksudnya, iya saya ini orang jahat sih. Maksudnya, ya itu adalah hukuman sosial yang harus ditanggung oleh seorang plagiator. Kepercayaan itu mahal harganya. Sekali kamu ketahuan nyolong, akan susah mengembalikan kepercayaan bahwa kamu itu orang yang pinter dan bisa nulis. Saran saya sih, antara terima saja sambil berusaha memperbaiki diri tanpa peduli cercaan yang sudah kadung, atau ya rehat sejenak lah dari sosial media. Toh netizen Indonesia itu cepat lupa kok. Nanti kalau muncul plagiator lain yang lebih nggatheli juga dengan cepat netizen akan melupakan dek Afi.

Tapi lain soal ya untuk yang ngebuli dek Afi kemana-mana, sampai soal fisik segala. Bahkan fotonya yang dalam pose dan mimik muka awkward dijadikan meme, foto profil, dan bahan bacotan asu. Kalau itu mah saya nggak setuju. Itu mah bukan kzl karena dek Afi plagiat, tapi memang mental situ mental pembuli.

***

Beranjak ke kasus kedua yaitu kasus Hipwee. Kalau yang ini, kasusnya adalah nyolong foto. Dan karena beauty blogger itu lumayan rawan kecurian foto, makanya kasus ini lumayan booming di kalangan teman-teman saya yang beauty blogger.

Buat yang belum dengar, bisa baca dulu artikel di kumparan.com ini: Hak Cipta, Kerikil Sandungan Hipwee?

Jauh sebelum kasus dengan mas Danar ini, Hipwee juga pernah jadi buah bibir di kalangan teman-teman saya yang beauty blogger. Dulu media tersebut pernah mengambil foto dari instagram seorang beauty blogger yang kebetulan saya kenal, dan mengunggahnya di website mereka tanpa mencantumkan sumber.

Si beauty blogger tentu protes dong. Beauty blogger yang ini memang fotonya bagus-bagus dan memang menekuni dunia foto-memoto secara serius dan profesional. Jadi foto di instagramnya pun bukan foto selfie 360 cek-ecek cem fotomu gitu lho. Dan setelah diprotes, saya agak lupa sih, antara foto dihapus atau sumber dicantumkan ya? Pokoknya masalah selesai dengan damai dan indah tanpa bercak tai.

Saya pun menganggap bahwa ini hanya kekhilafan semata. Ya siapalah kamu ini hanya mahluk yang fana dan tiada sempurna. Pevita Pearce aja konon bisa berbuat salah, apalagi rakyat jelata sepertimu. Tapi salah satu kali bisa dianggap khilaf. Salah dua kali, wajib dighibahi biar kapok dan tidak mengulangi. Biar kedepannya bisa berubah menjadi lebih baik lagi.

Kembali ke kasus mas Danar, saat tahu fotonya dipakai tanpa ijin dan diberi watermark pula, mas Danar langsung melayangkan email teguran dan invoice. Pihak Hipwee bilang menyayangkan tindakan tersebut, kenapa nggak diskusi baik-baik dulu dan langsung melayangkan invoice? Ya gimana dong, barang sudah terlanjur dipakai kok, sudah tayang selama dua hari. Kan adalah tindakan yang benar kalau si "penjual" melayangkan tagihan?

Kalau boleh memberi saran sih, media sebesar Hipwee seharusnya bisa berinvestasi sedikiiittt saja ke alat fotografi. Atau kalau memang mepet banget dananya (kok pengen ngising, ya?), ya bolehlah beli kamera mirorless yang lebih user friendly dari DSLR, jadi hampir semua orang bisa memakai, nggak perlu bayar fotografer lagi. Terus lengkapi dengan mini studio yang menunjang kegiatan foto-foto ini. Nggak perlu mahal-mahal kok, coba aja googling, sudah banyak orang yang menuliskan cara membuat DIY softbox, DIY ringlight, DIY alas foto, DIY backdrop yang bisa diganti-ganti, dan lain sebagainya. Sesimpel dan semurah itu, tapi niscaya akan memberikan sentuhan baru yang besar untuk artikel-artikel dan juga akun sosial medianya ;).

***

Memang kalau bukan karya ilmiah atau nggak dipatenkan, menjiplak sebuah karya itu nggak bisa dituntut secara hukum. Tapi ini soal etika sih. Manner. Ibaratnya, masa nggak malu sih ngaku-ngaku hasil karya orang lain sebagai hasil karyamu sendiri?

Gini deh, saya kasih contoh yang bisa masuk dilogika rakyat jelata cem kamu yang nggak pernah nulis dan fotonya elek jadi nggak colongable.


Contoh 1:
Dek Arum buka toko kancut. Dek Momon sering dolan ke tokonya dek Arum untuk sekedar ngobrol dan nyingsoti koncil-koncil yang langganan beli sempak di toko dek Arum. Tapi dek Momon memang koplo, suatu hari pas dek Arum ngising, dek Momon mengambil satu cawet jualan dek Arum dan langsung dipakai. Ngomong sih, "njaluk cawetmu ya?!", tapi nggak nunggu dek Arum selesai ngising dan menjawab, langsung main dipakai saja.

Sudah sewajarnya kan dek Arum marah dan meminta dek Momon membayar seharga cawet tersebut? Wong cawet dagangan kok sakpenake dipakai? Dek Momon nggak mau membayar dan beritikad mengembalikan cawet tersebut, ya dek Arum tetep nggak mau dong! Wong dek Momon sudah terlanjur "memakai" barang dagangan tersebut kok, masa mau dibalikin? Dek Momon sudah menikmati manfaat dari barang dagangan tersebut, maka sudah selayaknya dek Momon bayar.

Dek Momon: "Kok nggak bicara baik-baik dulu, langsung main suruh bayar?"
Dek Arum: "Lha kamu juga kenapa njupuk cawet, nggak bicara baik-baik dan beli dengan cara yang sopan?"


Contoh 2:
Dek Arum koleksi novel. Dek Momon lagi kere tapi pengen baca novel. Dek Momon meminjam novelnya dek Arum, dan karena dek Arum orangnya baik dan cantik, makan dipinjamkanlah salah satu novelnya. Eh, ternyata dek Momon ini koplo. Novel milik dek Arum, sama dek Momon malah ditandatangani di bagian sampulnya, seolah-olah novel itu milik dek Momon.

Wajar kan kalau dek Arum marah? Bahkan juga wajar kalau dek Arum meminta uang ganti rugi seharga novel tersebut, karena dek Arum yo tek wegyah nyimpen buku yang sudah ditanda-tangani oleh dek Momon.


Contoh 3:
Dek Arum masak bayem, enak tenan. Saking dek Arum leh baik dan cantik, dek Arum membagikan sayur bayem tersebut kepada dek Momon. Tapi ya karang wong koplo, dek Momon malah bilang ke Mukidi: "mas, dem Momon habis masak bayem enak tenan lho!" Dan entah bagaimana, dek Arum pada akhirnya tahu bahwa dek Momon mengaku-aku bayem buatan dek Arum sebagai buatannya.

Wajar juga kan dek Arum marah? Bayangkan, dek Arum yang susah-susah belanja ke pasar rebo, ngelewatin protelon Cijantung yang macete nauzubillah min zalik, cari parkiran susah banget, ngelewati bakul iwak yang amis banget, lalu sampai rumah masih harus nangis-nangis ngonceki brambang, dan segala usaha lainnya untuk menghasilkan sayur bayam, tidak dianggap! Seluruh Mukidi di dunia tahunya bayem tersebut adalah masakan dek Momon. Padahal itu jerih payah dek Arum. Sakhit nggak?


Masih mau bilang: "Kalau nggak mau karyanya dicopas atau diplagiat ya jangan diunggah ke internet dong!"?

Sini saya kasih tau:

  1. Kalau nggak mau di-helokiti-in, jangan punya suami dong!
  2. Kalau nggak mau dirampok, jangan punya harta dong!
  3. Kalau nggak mau dijorokin, jangan berdiri dong!
  4. Kalau nggak mau dibunuh, jangan hidup dong!

Ah, silit, kaw!

You May Also Like

14 komentar

  1. ah silit kaw - dek arum, 2017

    BalasHapus
  2. Cawetku wis akeh sak ndayak kemplu. Rasah nyolong nang tokomu 🚢🚢🚢

    BalasHapus
  3. Anonim6/17/2017

    Aku sih malah salfok sama postingan foto2 di ignya mbak.. Always share kegiatan2nya di publik, berita2nya di koran lah, dll show off bgt lah kesannya. Gara2 warisannya yg so touching. Tp trnyata kabarnya tulisan yg copas gak cuma 1-2 tp ada bbrpa. Trs pnh bilang plagiat sm rndahnya dgn mencuri. Yg aku heran kenapa dia bisa begitu ya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sebenernya karna kita-kita juga sih. Yang terlalu muji2, atau terlalu benci2. Jadi si anak semacam punya beban untuk terus "berkarya".

      Ini analisa sotoy :D

      Hapus
  4. Kalau nggak mau dibunuh, jangan hidup dong! haha jawabane ngene *lha sekarang jaman HP RAM gede ROM gede biar bisa multitasking, iso selpi karo ngupil, iso maem karo videonan njk lgsg diupload, it means njuk kuburan ya iso nggo ngubur wong urip tp kopolo kek sampean, kuburan bukan cm buat ngubur orang yng sudah dibunuh kaak*

    BalasHapus
  5. Plagiarism ini udah hawt semenjak aku kuliah mbak. Nggak nyangka jadi blogger malah bersinggungan langsung πŸ˜…

    Itu yang ngomong kalo nggak mau diplagiat nggak usah diunggah mungkin nggak pernah kuliah atau mental maling emang πŸ˜‘ #jadikzl

    Oh alternatif lain yg lebih murah untuk image stock, di web2 image stock gitu bisa beli bundle kok. 100rb udah dapet banyak, malah kalo promo bisa unlimited download. Lebih murah ketimbang beli kamera πŸ˜‚

    Itu juga kalo perusahaannya bondo, kalo ga bondo ya nyomot neng Google kui tanpa memperdulikan fitur filter copyright-nya πŸ˜“

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ngomong begitu buanyak banget, Nind. Bahkan dulu ada di suatu fb group yg isinya blogger semua, temenku fotonya dicolong blogger lain, eh yang dibelain malah pencurynya becoz si pencury lebih seksi lebih putih bajunya lebih mini jadi lebih banyak yg ngefans. Kan silit yha!

      Nah iya bisa ugha. Ku pun sedang memikirkan itu untuk besok siang.

      Hapus
  6. Anonim6/21/2017

    aku klo jadi si afi pas tau tulisanku jadi viral buru2 kuhapus dan bilang bahwa ini karya si anu.. palagi sampe diundang istana pasti langsung nolak krn klo ketauan hasil nyolong kan serem bgt.

    -erika.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya serem sih ya. Kupun kayaknya juga bakalan begitu ^^. Karena kalau udah viral, pasti kan sampai ke penulis sesungguhnya. Malu kaaann.

      Hapus