Dari Sudut Pandangku

by - 7/20/2017


Ada rumah mungil di depan tempatku tinggal. Rumah kecil yang dulu apik terawat, dengan kursi-kursi rotan dan beberapa bunga Anggrek merah jingga. Namun kini, debu dan sawang mulai menumpuk di setiap sudutnya. Rumput yang dulu menambah keindahan, dibiarkan memanjang seakan halaman tersebut hutan belantara.

Sudah berpuluh tahun rumah itu kosong.

Menurut kabar yang berhembus, rumah itu sekarang angker. Selepas Maghrib, tidak ada seorang pun yang berani lewat jalan sini. Lebih baik memutar walau jalannya jadi lebih jauh. Karena katanya ada Kuntilanak iseng yang suka menakut-nakuti orang yang berani lewat jalan ini saat hari sudah gelap.

Cuma Pak Tino si pemulung tua yang berani lewat sini sehabis Maghrib. Pak Tino selalu lewat berjalan kaki sambil bersiul-siul riang, walau di wajah tuanya yang kotor tergurat kelelahan. Terkadang Pak Tino bahkan sejenak duduk melepas lelah di depan rumahku.

Pernah suatu ketika, ada kucing malang yang entah bagaimana tersangkut di atap rumah kecil itu dan tak bisa turun. Pak Tino mengambil tangga tempel di samping rumah dan membantu kucing itu turun. Kucing itu mengikuti Pak Tino pulang, dan Pak Tino tidak keberatan.

Pak Tino orang yang baik hatinya. Tapi kebanyakan orang hanya melihat badannya yang kotor, bau, dan kulitnya yang hitam legam disengat Matahari. Tapi bagiku, bau sampah tak mampu menutupi kebaikan hatinya.

"Pulang, Pak Tino?"

Aku menghormatinya. Aku segan padanya. Pak Tino mengingatkanku akan bapakku di desa. Namun entah kenapa, Pak Tino tak pernah mau menjawab sapaanku. Bahkan membalas senyumkupun tidak.

"Hati-hati di jalan, Pak Tino."

Tak apa sapaanku tak dibalasnya. Beberapa orang memang suka mengabaikanku dan menganggapku tak ada, sekeras apapun aku mencoba ramah pada mereka. Mungkin mereka enggan berteman dengan gadis desa sepertiku.

***

Namun ada yang berbeda hari ini. Seperti biasa, Pak Tino berjalan melewati jalan depan rumah itu. Namun siulan riang yang biasa dia senandungkan tak lagi terdengar. Pak Tino bahkan cenderung berjalan cepat-cepat, seolah ingin menghindari sesuatu.

Aku menunggu sejenak sampai dia mendekat, dan akhirnya aku melihat tiga orang laki-laki muda mengikuti di belakangnya sambil tertawa-tawa. Salah satu dari mereka membawa ranting panjang, yang sesekali disabetkan ke kaki Pak Tino sambil terus tertawa-tawa. Aku melihat ke arah kaki pak Tino, dan terlihat beberapa lecet kemerahan karena sabetan itu.

Aku geram sekali melihatnya. Akupun turun dari rumahku dan mendekati mereka. Kuhentikan sejenak langkah laki-laki berandalan tersebut, dan kubiarkan Pak Tino berjalan cepat, pulang ke rumahnya.

"Kok aku prindang-prinding ya?" Kata laki-laki pertama sambil memegang tengkuknya. Laki-laki kedua cuma diam sambil memeluk badannya sendiri yang gemetaran.

Laki-laki ketiga, yang membawa ranting, menjawab, "ah, kalian aja yang jirih. Mentang-mentang rumah itu dibilang angker, terus jadi sok-sokan punya indra keenam."

"Hahaha...sugesti," lalu mereka tertawa-tawa dengan nada terpaksa.

"Kamu sih, Cuk. Pake ngikutin pemulung. Bawa-bawa rotan lagi. Jadinya kita malah di depan rumah angker gini surup-surup!"

"Iya nih, si Kecuk sih!" Mereka mulai menyalahkan si pembawa rotan.

"Lha kok jadi aku yang disalahkan? Lagian ya wajar to aku pengen nyabeti gembel?" Dua temannya diam saja melihat Kecuk marah-marah.

"Lagian pada nggak risih apa? Itu gembel bau tiap hari masuk ke komplek kita. Gek elek. Gek ireng. Gek dilaleri. Hahahahaa!"

"Gembel-gembel juga manusia, Cuk. Coba buapakmu le dingonokne?! Kowe trimo ora?"

"Haasss! Mboh! Kalau mau jadi pejuang kemanusiaan bukan di sini tempatnya! Lagian kowe-kowe juga pada ikut kok pas aku ngikutin gembele. Kowe-kowe ra ngerti to? Pernah aku memergoki gembel itu ketiduran di taman komplek kita. Langsung tak gajul ndase. Dia lari, tak oyak. Tak antemi sampek minta-minta ampun, tapi nggak ada yang lihat. Hahahaa.."

Kutiupkan angin semilir berbau kemenyan dan bunga Melati ke arah mereka. "Weh, kok jadi bau menyan? Serem, Cuk, Pan. Pulang aja yuk!"

"Wuuu jirih! Mbelgendhes! Do bali kono!" Kecuk masih bertingkah sok jagoan. Padahal kulihat suaranyapun mulai bergetar. Sepertinya hawa ketakutan mulai menyusup di tubuh dan tulang-tulangnya.

Kedua temannya lari terbirit-birit, pulang ke rumah masing-masing. Si Kecuk terlihat sekali ingin mengikuti mereka. Tapi atas nama gengsi, Kecuk hanya berdiri berkacak pinggang menyaksikan temannya berlarian.

Sekali lagi kutiupkan angin semilir, yang membuatnya tertidur.

***

Kecuk terbangun di dalam sebuah kamar kecil yang gelap dan berdebu. Di luar terdengar suara hujan. Ditengoknya jam tangannya.

01.00.

Kecuk langsung geragapan. Ingatan terakhirnya adalah sore tadi dia bersama Halim dan Topan di depan rumah angker dengan pohon mangga rimbun di depannya.

"Jangan-jangan, aku di dalam..."

Ayo...
Kekasihku...
kita jumpa lagi....

Aku menyanyi lamat-lamat, menembus suara hujan. Kecuk langsung menoleh ke arahku yang duduk membelakanginya, sambil menyisir rambut panjangku yang indah, di depan kaca rias. Kecuk berusaha melihat ke arah cermin di depanku, namun tak ada apa-apa karena terlalu gelap.

Aku hendak meneruskan nyanyianku, tapi Kecuk mengajakku berbincang.

"Siapa kamu?"

Ah senangnya. Berpuluh tahun aku sendiri. Dan akhirnya ada yang mengajakku berkenalan.

"Namaku Nurani."

"Ini...ini dimana, Mbak?"

"Di kamar Mas Arda. Kekasih hatiku," Jawabku tanpa menoleh.

"Oh Mas Arda-nya kemana, mbak? Yang punya rumah ini, Mas Arda?"

"Mas Arda mati. Kusuruh bunuh diri. Agar kita jumpa lagi.."

Kecuk langsung berlari melintasi kamar, dan berusaha membuka pintu. Namun tentu saja tidak bisa. Sudah puluhan tahun pintu itu terkunci.

Aku melanjutkan ucapanku, "Tapi ternyata kita tidak jumpa lagi. Puluhan tahun aku menunggu. Hihihihi.."

Ketika aku tergugu terbawa suasana, Kecuk berlari kembali ke belakangku, ke arah jendela. Berusaha mematahkan teralis jendela kecil tersebut. Namun tentu saja tidak bisa. Jendela itupun sudah terkunci puluhan tahun lamanya. 

Kecuk kembali melihat ke arahku dengan ketakutan. Tepat pada saat itu, sebuah petir menyambar. Kilatnya menerangiku sesaat. Terlihat jelas bayangan Kecuk di cermin. Namun bayanganku, tentu tidak ada.

Karena aku seharusnya memang tidak ada...

Kecuk semakin ketakutan. Kakinya gemetaran hebat, tak mampu lagi menyangga beban tubuhnya sendiri. Air seni mengalir dari kedua selangkangannya. Aku menoleh perlahan. Memperlihatkan wajah cantikku yang sudah digerogoti dendam.

Wajahku begitu mengerikan. Sangat pucat tanpa darah, penuh memar dan air mata. Senyumku pun seperti seringai tak wajar. Sungguh amarah dan dendam telah menggerogoti wujud cantikku.

Aku melangkah perlahan mendekati Kecuk. Kecuk cuma bisa menangis.

"Cuk, Kecuk," kataku. "Jarang ada manusia yang lewat jalan ini. Dan tidak semua orang bisa melihatku. Pak Tino yang katamu gembel itu, tidak bisa. Tidak pula Faizal, tetanggamu yang suka membantu bapaknya jualan mainan anak-anak itu. Beberapa kali aku panggil-panggil, tapi mereka seakan tak dengar."

"Ampuunnn....." Kecuk terisak semakin parah.

"Kata orang aku ini Kuntilanak. Padahal namaku Nurani. Katanya memang orang baik tak bisa melihatku.."

Aku mengelus kepala Kecuk. Kecuk sangat ketakutan. Badannya menegang. Urat-uratnya bermunculan.

"Entah karena kamu bukan orang baik. Atau kita memang berjodoh?"

Kumiringkan wajahku, dan kudekatkan ke muka Kecuk, "Cuk, Kecuk, lekaslah mati bunuh diri.."

Ayo mati kekasihku
Lekaslah mati, bunuh diri
Agar kita jumpa lagi..

***

Kota ini sedang geger. Ada seorang laki-laki muda, hilang selama satu minggu, dan ditemukan di dalam salah satu kamar rumah angker yang sudah terkunci puluhan tahun lamanya. Kecuk nama pemuda itu. Ada yang bilang rumah tersebut memang keterlaluan angker. Ada pula yang bilang, Kecuk itu memang berandalan dan keberadaannya lebih meresahkan warga dibanding keberadaan Kuntilanak di rumah angker.

Aku suka menguping percakapan warga, dari rumahku, dari atas pohon mangga ini. Kata mereka, Kecuk sekarang jadi gila. Kehilangan kewarasannya. Terus menerus mengigau, "ampun, Nurani. Ampuun!"

"Hihihihi...." Aku tertawa. Menertawai Kecuk. Menertawai nasibku sendiri. 

"Dik Lastri, kok kayak ada suara tawa Kuntilanak ya? Medeni.."

"Apa toh, Mas? Nggak ada apa-apa ki lho!"

Kutiupkan angin semilir berbau kemenyan dan bunga Melati ke arah mereka.

"Dik Lastri! Mambu menyan, Dik! Jigur, aku wedi."

Orang yang sendari tadi ketakutan tersebut kemudian lari sipat kuping. Perempuan yang bersamanya hanya melihat sambil geleng-geleng kepala. Aku tertawa lagi, "hihihihi..."

"Wo lha wong gendheng. Nggak ada apa-apa kok takut sendiri. Peh ngeliwati rumah yang katanya angker," Lastri grenengan sambil terus berjalan. Aku membiarkannya berlalu. Percuma, kusapa seperti apapun, dia tak akan membalas.

Kata orang aku itu usil. Padahal sebenarnya, akupun tak selalu bisa menyapa yang hidup. Akupun tak punya kuasa untuk bergaul dengan yang hidup sepertimu. Tapi bila aku beruntung, aku bisa memperlihatkan diri kepada orang seperti Kecuk.

Kata orang aku ini jahat. Suka menakut-nakuti yang hidup. Maka kuceritakan saja kisah ini, agar kau tahu sudut pandangku. Kalian yang hidup atau aku kah yang jahat?

Katanya memang orang baik tak bisa melihatku..

***

Namaku Nurani. Kisahku bisa kau baca di sini.

Dan kusarankan untuk membaca nasihatku yang ini juga, agar kalian tak bernasib sama dengan Kecuk.


~ Nurani,
yang begitu dekat denganmu ~




After credit

"Wo lha wong gendheng. Nggak ada apa-apa kok takut sendiri. Peh ngeliwati rumah yang katanya angker," Lastri grenengan sambil terus berjalan. Aku membiarkannya berlalu. Percuma, kusapa seperti apapun, dia tak akan membalas.

GEDEBUK!!!

Aku menoleh ke pohon jambu mede di seberang jalan. Mas Bangkit, si Pocong anyaran, jatuh dari rumahnya sendiri.

"Baaa...baa...bathaaaangan!!!" Lalu Pocong anyaran itu berlompatan sipat kuping menjauhiku.

Aku melihat ke arah Lastri yang masih berjalan menjauh dengan santainya. Lalu aku menoleh ke si pocong anyaran yang lompat menjauh membabi buta, "Wo lha demit gendheng. Nggak ada apa-apa kok takut sendiri." 

You May Also Like

13 komentar

  1. Cuk cuk Kecuk jenengmu kok saru nemen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sing saru wi Titit. Sama Dancuk.

      Hapus
  2. Kasihan Mas Bangkit..... Trauma :'(

    BalasHapus
  3. Dancuk itu nggak saru, jangan suka mem-bid"ah mbk :-D dancuk itu cuma kasar. Aku sampai cengar-cengir dewe mbaca ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mencerahkanku. Mulai hari ini aku takkan berkata Dancuk. Ku hanya mau misuh yang saru saru saja.

      Hapus
  4. Aku gagal paham sama si pocong 😂😂😂... Bagus bgt ceritanya kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca cerita Dik Lastri dulu baru paham :))

      Hapus
    2. Semua tulisan di besok siang harus dibaca secara menyeluruh agar paham :D

      Hapus
  5. Setelah 3 rembulan 4 purnama 9 matahari...aku ngakak kuenceng sampe njungkel����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ngakak aja lama amat, kak ^^

      Hapus
  6. Oh iki toh sing jenenge mbak Nurani.. kalau baca besok siang suka roaming nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua postingan di besok siang harus dibaca secara keseluruhan, barulah pembaca bisa menyelami misteri alam semesta.

      Selamat lembur.

      Hapus