Membongkar Kebohongan Klenik Bersama Dek Arum, Awkarin, dan Via Vallen

by - 8/31/2017


Saat ini saya rasanya ingin mandi Junub. Bayangkan saja, selama dua hari berturut-turut, saya melihat dua buah video vulgar. Yang pertama video pria telanjang yang menerobos masuk istana negara. Yang kedua adalah video Millen Cyrus mandi bareng bersama teman se-geng-nya. Yang jadi masalah, dua video tersebut nggak disensor. Video pertama disensor sih, tapi yang disensor cuma mukanya. Tititnya enggak. Gondal-gandul dilihat seluruh Indonesia. Dan saya kok ya pas lihat T.T.

Jangan salah ya. Sebagai perempuan normal, saya harus mengaku kalau saya suka titit. I love tytyd. Tapi ya bukan dalam bentuk video vulgar tanpa estetika yang bikin penonton seketika pengen mandi junub begitu T.T.

Jadi baiklah hari ini saya nggak mau nulis yang saru-saru dulu. Tolong biarkan saya sejenak melupakan titit-titit itu T.T. Sekarang saya mau flashback saja ke zaman saya masih kuliah dulu. Zaman dimana belum ada instagram, sehingga belum ada tragedi gambar titit yang mendadak tersuguh gratis di depan muka saya.

Zaman saya kuliah, memang belum marak yang namanya media sosial. Ya ada sih, Friendster dan Facebook, tapi yang punya akun bisa dihitung dengan jari. Belum ada yang namanya selebgram, selebtwit, atau social media darling lainnya. Anak pada zaman itu juga nggak se-"visual" sekarang dalam menilai orang. Menjadi populer tidak cukup dengan kamu cantik/ gantheng dan suka dugem sambil snapgram-an, lantas bikin meet 'n greet di 9 kota dengan harga tiket 250k per kepala kalau nggak beli tiket nggak boleh foto bareng.


Tapi ya karakter manusianya tetap sama, tetap haus eksistensi dan popularitas. Wajar sih, namanya juga anak muda. Saya juga pernah kok di fase itu dan mencoba berbagai hal cuma biar dibilang keren. Tapi untunglah, se-nackal-nackal-nya saya dulu, saya nggak pernah bikin video klip pakai beha dan topeng lalu naik kuda di kebun picang. Suer.


Nah, pada zaman saya remaja dulu, ada satu golden ticket yang bisa bikin kamu langsung populer dan dianggap keren. Beneran golden ticket karena kamu nggak perlu pintar, nggak perlu berkharisma, nggak perlu kaya, nggak perlu gantheng, dan nggak perlu capek-capek beramah tamah ke semua orang. Golden ticket itu adalah: cukup mengaku bahwa kamu indigo atau punya indra keenam atau apapun lah yang berhubungan dengan hal klenik.

Kalau diceritakan begini memang agak aneh sih. Tapi beneran deh, itu nyata! Senyata kemarahan Momon ketika ada ibu-ibu random yang ngatain teteknya kecil di konter beha di Mirota Kampus. Dan ternyata, bukan cuma zaman saya dulu hal-hal klenik diminati. Bahkan sampai sekarang pun di sekitar saya, baik di dunia nyata maupun di media sosial, rasanya adaaa saja yang ngaku-ngaku indigo atau punya kekuatan supranatural kecil-kecilan. Dan herannya ya masih banyak juga yang percaya dan terkintil-kintil kalau ada yang ngaku indigo.

Kembali ke masa lalu ya. banyak banget orang muka pas-passan yang nggak mungkin mengandalkan muka dan bakat untuk populer, lalu menggunakan golden ticket alias ngaku-ngaku indigo. Biar dianggep keren dan nggak kelamaan jomblo kayak Momon. Dan saya....L E L A H! Saya lebih menghargai Momon yang menyongsong hari-hari jomblonya dengan lapang dada, daripada mereka-mereka yang sampai harus ngaku indigo cuma biar dianggap keren.

Itu tuh kayak kalau zaman sekarang, orang-orang berusaha keras anti-mainstream dengan suka lagu atau film indie. Tapi saking banyaknya yang "suka" lagu dan film indie dan anti sama lagu dan film pop, lama-lama "orang penyuka lagu indie" malah jadi mainstream. Dan entah kenapa saya malah lebih takjub kalau ada orang yang suka lagunya Via Vallen, karena penyuka Via Vallen terasa lebih otentik dan anti-mainstream saat ini ketimbang penggemar band indie yang katanya anti-mainstream.

Oke, skip soal Via Vallen.

Saya lalu punya ide untuk menguji mereka-mereka yang sok klenik tersebut. Salah satunya, sebut saja Mukidi. Mukidi ini adalah teman saya yang terkenal di seantero kampus kalau bisa melihat mahluk halus. Keren banget wis pokokke. Karena kelebihannya tersebut, hot-chicks sekampus ngantri wat dipacarin Mukidi.

Nah, ada suatu ruangan di kampus saya yang konon angker dan banyak penunggunya. Suatu hari, saya berhasil membawa Mukidi ke ruangan tersebut, berdua saja. Dan saya segera melancarkan aksi saya.
Saya: "Mas, kok di sini dingin ya? Padahal di luar nggak sedingin ini."
Mukidi: "Ya karena memang di sini sarangnya dhemit kampus, dek Arum"
Saya: "Aku merinding!"
Mukidi: "Kamu ternyata peka, dek Arum. Mas jadi kagum sama kamu."
Saya: "Maass...mas..."

Saya menunjuk ke suatu arah random sambil sok ketakutan. Lalu tanpa ngomong apa-apa lagi, saya minggat dari ruangan tersebut. Mukidi tentu mengikuti saya sambil cemas. Saya terus jalan cepat-cepat ke kantin.

Di kantin, saya bilang saya masih cemas dan minta dijajanin es teh serta bakso pak Supri. Duh bakso pak Supri. Terkonang deh kampus saya. Maka Mukidi membelikan saya es teh serta bakso. Menurut saya, bakat untuk membuat orang membelikan kita es teh dan bakso adalah bakat yang lebih berguna untuk bertahan hidup di dunia nyata ketimbang bakat bisa liat dhemit.

Saya: "Mas! Masak Mas nggak liat yang di deket jendela samping meja dosen?!!"
Mukidi: "Liat kok. Tentu mas liat! Cuma mau memastikan, dek Arum...bisa liat emangnya?"
Saya: "Baru kali ini, Mas.."
Mukidi: "Tenang, Dek. Sudah Mas pageri. Dia nggak mungkin ganggu."
Saya: "Tapi embak-embak bergigi gingsul itu selalu di situ ya, Mas?"
Mukidi: "Iya, Dek. Sejak tahun xxxx."
Saya: "Kok dia pakai baju merah-ijo, kenapa ya, mas?"
Mukidi: "Pas mati dia pakai baju itu, Dek."
Saya: "Mas sebelum ini pernah ketemu si mbak merah-ijo."
Mukidi: "Pernah, Dek. Pernah ngobrol juga. Dia nggak jahat sebenernya, cuma kadang usil."

Dan tahukah pembaca, twist dari cerita ini? Saya nggak pernah liat ataupun denger cerita mengenai dhemit gingsul baju merah-ijo di kampus saya! Jadi keberadaan dhemit tersebut 100% karangan spontan saya belaka. Saya cuma pengen tahu, bagaimana reaksi Mukidi? Karena ya nggak mungkin toh kebetulan ada dhemit gigi gingsul baju merah-ijo di sana, yang beneran dilihat oleh Mukidi, sesuai dengan ucapan saya yang ngawur. Lagian, ahelah, jadi dhemit norak amat pilihan bajunya. Sini lah dek Arum ajarin color wheel theory T.T.

FYI, Mukidi bukan satu-satunya orang yang saya bongkar kebohongan kleniknya. Beberapa orang "indigo" yang apes kenal sama saya, sudah pasti saya uji. Walau ya nggak semua ujiannya seheboh Mukidi. Ada yang ujian remeh-temeh iseng-iseng aja.

Saya: "Mas Bangkit, di area pohon beringin itu ternyata beneran angker ya?"
Bangkit: "Wo iya. Ada gendruwo di situ."
Saya: "Gendruwo? Kemaren aku sekilas sih liat anak kecil pakai cancut kuning. Mukanya serem, matanya satu."
Bangkit: "Wah, kamu barusan liat anaknya gendruwo, Dek. Memang ada juga penunggu berwujud anak kecil di situ."
Saya: *ngempet ngguyu*  

Pada masa itu, populasi dhedemitan di kampus saya terussss-menerus bertambah, dan bentuknya makin hari makin nganeh-nganehi, mengikuti imajinasi saya. Wuelok tho? Imajinasi saya ini semua didukung keberadaannya oleh para dukun-dukun dadakan di kampus.

Dan dari semua peserta ujian saya, nggak ada satupun yang lolos. Semuanya terbukti berbohong soal kemampuan kleniknya. Padahal seandainya mereka ngaku nggak lihat apa yang saya "lihat", sebenernya nggak papa kan? Kan mereka bisa aja menciptakan konsep bahwa menjadi indigo nggak selalu harus liat dhemit di setiap kesempatan. Indigo mah bebas! Toh orang awam kayak kami nggak bisa buktiin kok omongan mereka. Kalau nggak percaya kami dibilang nggak peka. Tapi kalau percaya kok ya tek kebangeten men. Pada akhirnya kami kaum awam hanya bisa ngempet ngguyu kalau para indigo sedang beraksi dan para penggemarnya terkintil-kintil minta diramal.

***

Tapi jangan salah sangka. Saya bukannya nggak percaya sama sekali mengenai keberadaan hal-hal seperti itu. Cuma pemahaman saya mengenai klenik dan dhedemitan agak berbeda sih dengan orang kebanyakan. Banyak yang bilang pemahaman saya salah, tapi ya po pada bisa buktiin siapa yang bener dan siapa yang salah?

Saya sendiri punya pengalaman pribadi dengan orang yang memang punya kelebihan alias indigo. Tapi sampai saat ini, orang tersebut juga nggak secara gamblang ngaku ke saya kalau dia bisa lihat dhemit ataupun punya kelebihan lainnya. Saya pun entah bagaimana, merasa sungkan untuk menceritakan mengenai kelebihannya kepada orang lain, semacam saya sudah dipageri juga untuk nggak nggambleh kemana-mana.

Di suatu obrolan ringan kami, orang tersebut juga pernah ngomongin soal fenomena orang-orang yang ngaku-ngaku indigo ini. Intinya dia percaya kalau orang indigo itu ada, tapi ya nggak sebanyak itu juga. Dan mereka nggak mungkin seenteng itu ngaku kalau dirinya indigo. Orang terdekat mereka juga biasanya entah bagaimana paham untuk nggak nggambleh soal ke-indigo-an tersebut kemana-mana. Itulah mengapa persoalan dunia klenik ini seolah-olah ada di area abu-abu, karena memang pelaku sesungguhnya biasanya menolak untuk nggambleh. Tapi memang sih, di tiap tikungan pergaulan, pasti adaaa aja yang ngaku-ngaku atau diceritakan sebagai indigo. Dan saya biasanya nggak bakalan percaya sama yang ngaku-ngaku atau diceritakan sebagai indigo.

Tapi bukan berarti orang yang ngaku-ngaku indigo itu berbohong ya. Saya nggak menuduh seperti itu. Saya hanya nggak percaya mereka beneran indigo. Bisa saja yang mereka alami adalah halusinasi atau mimpi, dan mereka terlalu baper mengira para dhemit beneran pengen kenalan sama mereka.

Saya juga tetap percaya bahwa dhemit itu ada. Soalnya dengan percaya, saya jadi punya alesan untuk nampol-nampolin muka Momon pas nonton film horor. Tapi saya menolak percaya kalau dhemit itu bisa seenaknya menampakkan diri, apalagi merasuki raga orang ngalamun segampang itu. 

Menurut saya, sekuat-kuatnya energi dhedemitan, manusia itu lebih kuat. Jadi kalau kita sebagai manusia itu takut sama dhemit, dhemit itu ya lebih takut sama kita kali! Si dhemit ya pikir-pikir juga kalau mau ndhemitin kita. Ini kayak kalau kita berencana mau ngamplengi Mayweather. Lak yo pikir-pikir, tha? Kemungkinannya lebih besar kalau ndas kita yang benjut, tha?

Makanya saya bencik sama film-film semacam Anabelle Creation. Saya rasa kalau dhemit itu beneran ada, dia juga punya etika perdhemitan kali. Saya yakin mereka nggak bisa semena-mena bunuh-bunuhin manusia, apalagi manusia yang hatinya baik dan selama hidupnya selalu tertindas. Mendingan mereka ndhemitin manusia yang pakai topeng dan beha lalu naik kuda di kebun picang.


Saya juga punya satu pengalaman, yang membuat saya menuliskan kisah-kisah Nurani di Besok Siang ini. Saya belum siap bercerita mengenai pengalaman tersebut saat ini. Yang jelas, pengalaman saya tersebut adalah jawaban mengenai eksistensi Nurani; apakah dia benar-benar ada atau hanya imajinasi. 

Tapi saya yakin, ada di antara pembaca Besok Siang yang sudah mendapatkan jawaban mengenai eksistensi Nurani :).


*Catatan: Semua gambar pada postingan ini diambil dari instagram @awkarin.

You May Also Like

10 komentar

  1. Mbak, itu temen2-nya gitu amat pengen femes sampe ngaku2 indigo 😂 Di kampusku kok ngga ada yg begitu hahaha Kalo pengen femes, rambutnya kudu dicatok curly tiap hari #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu lom ada catokan kurliii, khakk. Mau kurli harus ke salon ^^

      Hapus
  2. Kak, sekarang foto-foto di Besok Siang aestetik semua yak! Sukak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiwa seniku sepertinya semakin terasah!

      Hapus
  3. Terkintil-kintil apaan khak?

    BalasHapus
  4. Hahaha kui kampus ngendi ya? UNY ga si? Di tempatku ga ada yg gitu untungnya. Mau qeren kudu nongkrong di kantin atau tangga sansiro. Jan lupa rambut dicatok kruwel. Sip lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama kampus dirahasiakan ^^

      Hapus
  5. selalu suka sama postingan besoksiang 😘
    banyakin cerita tentang hal klenik dong mba arum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Akan diperbanyak soal yg horor2 :D

      Hapus