Satu Masa Tanpa Pembalut

by - 8/10/2017


Dalam satu bulan, ada masanya di mana saya mendadak uring-uringan dan melow tanpa sebab. Kalau masa itu tiba, saya bisa menjadi orang yang super kopet. Oke, oke, saya memang kopet setiap harinya, tapi ketika masa itu tiba, tingkat kekopetan saya ke orang-yang-nggak-terlalu-dekat bisa naik hingga 50%.

Kalau ke teman-teman kampret saya beda lagi, bisa meningkat hingga 200%. Tapi, ini nggak berlaku untuk klien kantor karena bisa berujung pada pemecatan. Nggak berlaku pula untuk klien makeup saya karena bisa berujung pada matinya pasaran saya. Dek Mon tetap profesional. Cam kan itu, Akhi dan Ukhti.

Contoh kekopetan:

Dek Mon (08:00 AM): Braaaaa..
Dek Mon (10:01 AM): Braaaaa.. koe kok meneng aeee.. Aku pengen mati wae nek nganaaaa!!!
Bunda Arum (10:02 AM): Pa
Dek Mon (10:03 AM): Kenapa aku harus menunggu 2 jam 2 menit untuk menunggu balesanmuuuu??
Bunda Arum (10:03 AM): Sibuk, Coeq!
Dek Mon (10:04 AM): Rha
Bunda Arum (10:04 AM): Yha
Dek Mon (10:06 AM): Braaaahhh.. Saiki kau nyuekin aku 2 meniiittt!!
Bunda Arum (10:07 AM): Piyeeeeee..
Dek Mon (10:07 AM): Ku PMS!!!
Bunda Arum (10:08 AM): Yha

Kurang lebih begitulah bau kekopetan saya.

Tapi, lebih jauhnya saya nggak akan ngobrolin masalah PMS sih. Saya ngobrolin PMS di awal tulisan untuk pemanasan sebelum masuk ke topik utama. Menulis itu ibarat kutek-kutekan. Perlu foreplay terlebih dahulu biar makin.... Oke, nggak perlu dibahas lebih lanjut.

Perempuan erat kaitannya dengan PMS, PMS erat kaitannya dengan mentruasi, menstruasi erat kaitannya dengan pembalut, dan saya erat kaitannya dengan Mukidi walaupun nggak ada Mukidi yang berpembalut #semogaiya maupun Mukidi yang jualan pembalut. Sebagai perempuan, pembalut merupakan hal yang sangat penting terutama pada saat menstruasi. Selain penting bagi perempuan yang sedang menstruasi, pembalut juga penting bagi yang memiliki penyakit ambaien. Buat kalian yang belum tahu, bagi yang penyakit ambaiennya sudah cukup parah, bisa mengeluarkan darah walaupun masih jauh lebih banyak darah menstruasi.

Tapi, hati saya remuk ketika mengetahui bahwa ternyata pembalut itu menjadi salah satu penyebab susah punya anak. Bagi yang belum tahu, bisa dibaca di sini. Pembalut yang selama ini penting bagi kelangsungan hidup saya, ternyata dapat menyebabkan susah punya anak. Itu sama halnya dengan betapa pentingnya Dik Lastri bagi hidup Mas Bangkit, tapi ternyata Dik Lastri adalah..... Ah, sudahlah. Saya ikut sedih jika mengingat cerita itu.

Siapa bilang perempuan itu selalu benar? Siapa? Pakai hot pants dibilang murahan, umur 27 tahun belum menikah dibilang jual mahal, melahirkan caesar dibilang kerasukan setan, pakai high heels dan pembalut nanti susah punya anak. Yang bilang melahirkan caesar dikarenakan kerasukan setan pasti belum pernah bergaul dengan para bunda. Welcome.


Ah, walaupun saya sedang emosi, saya harus bisa tetap berpikir jernih, saya nggak mau menjadi manusia bersumbu pendek. Saya harus mencoba mencari solusi dari permasalahan pelique ini. Saya nggak ingin mandul. Sungguh tydac ingin.

Sebelum ditemukannya pembalut, orang-orang zaman dahulu menggunakan gombal atau kain untuk menahan agar darah menstruasi nggak merembes. Mungkin gombal bisa menjadi alternatif utama pengganti pembalut. Toh orang zaman dahulu juga masih bertahan hidup sampai sekarang.

Tapi, perlu diingat bahwa gombal memiliki kelemahan utama, yaitu masalah ketebalan. Berbeda dengan pembalut yang walaupun tipis masih bisa menampung darah menstruasi cukup banyak, kita harus menggunakan gombal atau kain yang cukup tebal apabila memang ingin bisa menampung darah menstruasi lebih banyak dan lebih lama. Saya nggak bisa membayangkan ada gombal tebal di atara selangkangan saya, kemudian saya harus jalan ngangkang.

Dan yang nggak kalah penting tentu saja pilihan jenis gombal yang digunakan sangat menentukan tingkat kenyamanan si pemakai. Berdasarkan hasil diskusi saya dengan pedagang kain yang keprofesionalannya nggak perlu lagi ditanyakan, saya sarankan untuk memilih bahan katun viscose karena selain memiliki daya serap yang bagus, katun viscose juga lebih lentur dibandingkan dengan katun biasa.

Metode gombal ini nggak terlalu cocok bagi yang memiliki jadwal padat, misalnya saja perempuan kantoran seperti saya. Saya membayangkan di tengah saya presentasi di hadapan klien, saya harus bolak-balik izin untuk mengganti gombal sekaligus umbah-umbah. Yha! Saya harus membawa detergen ke mana-mana. Noda darah susah sekali dihilangkan, Akhi dan Ukhti. Jadi, mau nggak mau begitu tugasnya selesai, katun viscose harus segera dicuci. Kalau saya menggunakan metode sekali-pakai, bayangkan di rumah saya akan ada bergulung-gulung kain katun viscose. Saya belum berniat menyaingi Mac Mohan.

Metode ini paling cocok untuk kalian yang masih anak sekolah. Kalian nggak perlu lagi berbohong pergi ke UKS karena sakit, padahal aslinya hanya ingin membolos. Kalian bisa menggunakan mengganti gombal dan umbah-umbah sebagai alasan untuk kabur dari pelajaran Kewarganegaraan yang sangat membosankan itu. Ah, Kewarganegaraan saja membolos, mau jadi apa negara ini nanti.

Tunggu sebentar, sepertinya saya melupakan satu hal.


Ah, tai. Saya melupakan jemuran. Setelah umbah-umbah kan gombalnya harus dijemur. Oke, metode ini bukan alternatif yang solutif. Ya kali, bawa tali jemuran ke mana-mana. Metode ini malah menambah beban hidup. Mari kita cari alternatif lain yang lebih masa kini.

Saya mengusulkan pembuatan sempaque berbentuk seperti popok kain cuci ulang. Tahu kan bentuk popok kain cuci ulang seperti apa? Solusi ini sebenarnya nggak jauh berbeda dengan dengan solusi gombal karena sama saja harus umbah-umbah, tapi kita nggak perlu membeli kain katun viscose bergulung-gulang sampai menyaingi Mac Mohan. Praktis karena kita membeli sudah dalam bentuk sempaque. Anggap saja metode gombal adalah versi DIY (Do It Yourself) dari popok kain cuci ulang.

Selain lebih praktis, penggunaan popok kain cuci ulang bisa terlihat lebih fashionable yang walaupun hanya diri sendiri dan muhrimnya yang dapat melihat sempaque yang sedang dipakai. Tapi, hei melihat sempaque sendiri yang fashionable merupakan kepuasan batin bukan?

Penggunaan popok kain cuci ulang juga dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang perempuan, terutama perempuan yang memiliki bokong #ehem tipis. Saya sarankan kepada para calon produsen popok-kain-cuci-ulang-perempuan-dewasa untuk melakukan custom di bagian bokong sehingga pada bagian bokong diberikan bahan yang lebih tebal dan sedikit kenyal. Mungkin bisa sedikit menyontek bentuk celana booty booster, bisa dilihat di toko-toko pakaian dalam perempuan. Jika berhasil membuatnya, para perempuan berbokong tipis akan sangat berterima kasih pada kalian. Termasuk saya.

Saran lain saya untuk para calon produsen, mungkin akan lebih baik apabila popok-kain-cuci-ulang-perempuan-dewasa dibuat dari ekstrak daun sirih karena baik untuk kesehatan daerah kewanitaan. Selain itu juga biar daun sirih nggak iri dengan kulit manggis. Masak iya, cuma kulit manggis yang ada ekstraknya.

Mungkin agar terlihat lebih masa kini dan solutif dibandingkan dengan gombal, penjualan popok-kain-cuci-ulang-perempuan-dewasa bisa dibuat sepaket dengan teknologi pengering pakaian dalam sekejap yang bentuknya handy. Tentu saja material dari popok-kain-cuci-ulang-perempuan-dewasa juga merupakan material yang mudah kering. Jadi, walaupun tetap harus umbah-umbah, paling tidak nggak perlu membawa-bawa tali jemuran.

Ah, solutif sekali tulisan saya kali ini.

.
.
.
.

SE-BEN-TAR.

Pembalut itu menyebabkan susah punya anak kan karena pada intinya, pembalut dapat mengembalikan bakteri yang telah keluar. Berarti gombal dan popok kain cuci pakai juga dapat menyebabkan kemandulan dong!

Berarti sempaque juga? Sempaque bisa mengakibatkan kemandulan? Nggak boleh pakai sempaque?

Lencung sekali. Ini terlalu pelique!

You May Also Like

12 komentar

  1. Sumpah peliq banget bacanya. Apalagi pas baca pas lagi pake pembalut.
    Kalo soal sempaque sekali pakai ud ada pendapat yg menyebabkan kemandulan gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja, Mbak Aqied..
      Semua bisa memasukkan kembali bakteri :(
      Kewer2 ae brarti :(

      Hapus
  2. makanya mbakmon kalo mau u'uk jgn pake sempaque apalagi pembalut. ga bisa hamil!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. U'uk itu apa sih, Kak Rez?
      Dek Mon taunya e'ek..

      Hapus
  3. Kembalikan 10 menit yang saya habiskan utk membaca artikel ini. Kembalikan kecerdasan otak saya yang terkuras utk mencerna tulisan ini. Kembalikaaaan...

    BalasHapus
  4. Aku mendadak puyeng, Mbak Mon... hahaha
    Peliq sekali jadi perempuan yha

    BalasHapus
  5. Saya pernah liat tetangga njemur nana dalem yg khusus untuk mens, bentuknya kaku kaku mengenaskan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. astagaaa.. itu nana dalem apa dipan teras rumah? :(

      Hapus
  6. Pantyliners kain ada mbak. Ada motifnya lucu-lucu kayak popok bayi yang reusable gitu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetep nggak bole 😥😥😥

      Hapus