Melawan Pelakor Tanpa Kekerasan

by - 11/23/2017

sumber: dukelanguage.com

Kami di Besok Siang menyebut pelakor dengan nama yang lebih imut, yaitu Hellokitty. Tapi untuk judul blogpost kali ini, saya memilih menggunakan kata pelakor karena lebih SEO friendly. Yha. Pelakor memang lebih banyak dicari daripada Hellokitty.

Dan ngomongin Hellokitty memang selalu seru. Terbukti kok, di timeline twitter @blogbesoksiang, cerita mengenai Jejedun selalu lebih banyak diritwit dan disauti dibandingkan cerita mengenai mas Darwis, butik Rabbani, bahkan Tiang Listrik. Bahkan kalau sedang ngomongin beliau si Tiang Listrik, netizen masih bisa bercanda, tapi kalau sudah ngomongin Jejedun, beuuhh...bawa golok semua!

Saya sendiri sebenarnya kurang suka membicarakan soal Jejedun di sosial media. Soalnya semua orang jadi emosyenel berlebihan dan bawa-bawa kekerasan. Ya saya tahu sih memang Jejedun nggatheli pol. Tapi saya kurang nyaman aja kalau diajak membahas di ruang publick tentang bagaimana kita harus menyakiti seseorang secara fisik. Soalnya Besok Siang sendiri pernah menyerukan anti-bullying, dan rasanya kok saru kalau tebang pilih.

Mau sejahat apapun seorang manusia, saya sih memilih mengatasi kekecewaan dengan cara yang lebih elegan dan tidak mau mendorong siapapun untuk melakukan kekerasan fisik. Lagipula, seandainya memang pelaku layak dihukum, itu tidak lantas secara otomatis memposisikan diri saya sebagai si pemberi hukuman. Lha aku ki sopo? Polisi Hellokitty?

jelas bukan saya yang lagi ngadmin #pijetpijetrai

"Ya situ nggak ngerasain sendiri, Min! Coba kalau udah ngerasaain. Dijamin bakalan lebih barbar!"

Oh saya tahu banget, bahwa saya tidak berada di posisi si korban Hellokitty. Dan saya bahkan sangat paham lho tindakan Dek S yang tidak bisa mengontrol emosi ketika berhadapan langsung dengan Jejedun. Ya siapa sih yang bisa tetap tenang dan terkendali ketika berada dalam posisi demikian? Tingkah Hellokitty memang terkenal selalu bikin kewarasan korban hilang.

Justru karena saya sangat paham, maka saya sebagai yang tidak mengalami, seharusnya bisa lebih waras dan tidak mengompori. Bayangkan seandainya dek S terkompori dan benar-benar melaksanakan segala yang diucapkan netizen; yang bacok, jeblesne ndyase, siram air keras, dll. Dek S bisa dituntut atas kasus penganiayaan, sekolahnya terhambat, dan traumanya juga lebih dalam lagi. Dan itu semua ditanggung oleh Dek S sendiri dan keluarganya. Netizen yang tadinya mengompori ya paling cuma sebatas komen kasian dan marah-marah ke si penuntut, tidak membantu lebih. Karang netizen ki isane muk nyangkem.

Dan lagi, kekerasan seperti itu nggak mengundang simpati publik lho, bisa jadi malah Dek S akan ditinggalkan oleh netizen pendukungnya kalau benar-benar melakukan kekerasan fisik di luar batas.

Dan menurut saya nih, yang dibutuhkan oleh keluarga korban saat ini bukan ajakan-ajakan untuk melakukan kekerasan. Itu mah sama sekali bukan solusi. Kata-kata penghiburan dan doa yang menenangkan akan lebih membantu dan mendamaikan mereka. Selain itu kita bisa juga mengirimkan kata penyemangat untuk move on dan melanjutkan hidup.

Lagian yang lebih aneh, kenapa sih sesama perempuan itu lebih gampang untuk menyalahkan perempuan ya? Rata-rata komentar bernada kekerasan yang saya baca diarahkan ke Jejedun lho. Tidak ada yang mengarahkan ke si Dady. Padahal perselingkuhan itu ya yang salah dua-duanya. Bukan cuma salah si perempuan.


FYI nih, sekedar pengetahuan saja. Ya amit-amit ya ada yang membutuhkan pengetahuan bagaimana caranya membikin kapok di Hellokitty.

Alih-alih mendatangi Hellokitty dan melakukan kekerasan yang malah membuat kita pun bisa dituntut pasal penganiayaan, sebenarnya kita bisa menyerahkan kepada negara lho! Laporkan saja, karena negara juga punya peraturan KUHP pasal 284 mengenai perzinahan.


Tapi memang nggak banyak perempuan korban Hellokitty yang mau melawan suaminya sendiri secara hukum. Banyak faktor, dari persoalan masih cinta, masalah budaya, sampai persoalan ekonomi. Saya sendiri nggak pernah (dan amit-amit jangan sampai) berada dalam posisi mereka. Jadi saya pun tidak mau menghakimi bahwa mereka harus begini dan begitu. Saya sih cuma bisa menghimbau rakyat Besok Siang yang tidak terlibat secara langsung, untuk memberikan dukungan yang layak, waras, dan elegan. Tidak perlu bawa-bawa anjuran kekerasan.

Nah, karang netizen kuwi isane muk cangkeman, yuk cemangkem yang tidak memperburuk masalah! Unfaedah tydac apa-apa. Tapi jangan sampai menjadi lumpur yang memperkeruh suasana. Dan kalau bisa sih, cemangkem-nya itu jadikan minimal 500 kata, save, lalu kirimkan ke blogbesoksiang@gmail.com ;).

You May Also Like

14 komentar

  1. Pelakor kelak akan dipelakorkan, khan maend

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ku tidak sedang membahas soal itu. Ngga bang makasi~

      Hapus
  2. Inilah berita yang berimbang! Salam perdamaian. Hadapi pelakor dengan elegan sis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, kita harus tetap syantieq lahir dan tetap elegan dalam bertindak ala hukum apapun

      Hapus
    2. Yes! Harus elegan. Apalagi kalau cuma penonton dan tydac terlibat langsung ;)

      Hapus
  3. Bener, kenapa kitty-nya yang disalah-salahin mulu? yang nyalahin kebanyakan sesama kitty juga (oups salah, maksudnya sesama wanita). Kenapa juga kaga ada yg ngasih bimbingan rohani, kata-kata mutiara tanpa makna atau sekedar basa basi belaka bahwa "itu" salah dua-duanya?? Sadar ga sih. kita secara ga sadar sebenarnya sudah menjurus ke gender? *bicara apa akuh ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan yang menyalahkan biasanya perempuan juga. Semacam ada kecenderungan perempuan itu akan selalu menjatuhkan perempuan lainnya. Cedih akutuuu~

      Hapus
  4. Kak, akkoh yomblo. Dan akkoh ingin nyalahin kammoh.
    Bole?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu tydac. Dek Arum selalu benar.

      Hapus
  5. Sebenernya nggak hanya perempuan. Biasanya kalo perempuan selingkuh, yang cowok juga nyalahin cowok yang jadi selingkuhan.

    Bedanya mungkin yg cowok nggak laporan di sosial media, tapi langsung labrak atau hajar, jadi tydac terexpothase.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ku baru tahu yang ini. Hmm bisa juga yha. Kita memang cenderung menyalahkan sesama. Sedi sih...

      Hapus
  6. Well, mantap kali ini info undang2 dari .besoksiang. ini sudut pandang yg netral, mantep deh
    Bagaimana salah seorang dipermasalahkan untuk suatu kegiatan yang dilakukan 2 orang :) memang kurang tepat, ses, saya setuju
    Tak ada yg bisa betul2 merebut seseorang tanpa ijin dari orang tsb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul! Laki-laki bukan barang. nggak bisa direbut begitu saja.

      Hapus
  7. Wah sy pernah di pihak pelakor. Sy dlunya korban kbohongan laki, ngaku bujang nyatanya punya istri. Pdahal sy sdh ada pcar, tpi sy pilih yg beristri. Akhirnya sy tdk pilih dua2 nya dan saya memilih jomblo lama. Curhat ya malah..🙄🙄

    BalasHapus