Degradasi Mbak


"MANGGIL YANG BENER! MBAK, MBAK, EMANGNYA AKU PEMBANTUMU?!"

Bentakan di atas pernah dialamatkan kepada saya di tahun 1997. Waktu itu saya baru masuk SMP. Sebelumnya, saya sekolah SD di desa, di deket rumah aja gitu. Di SD saya, budayanya kalau manggil perempuan yang sepantaran tapi lebih tua, ya dengan panggilan "mbak".

Di keluarga saya juga begitu. Saya dipanggil "mbak" oleh adek-adek saya, dan saya memanggil "mbak" kepada sepupu saya yang lebih tua. Tapi saya tentu nggak pernah menganggap mbak-mbak saya tersebut pembantu. Lha nyuruh-nyuruh juga nggak berani. Yang ada malah saya yang disuruh ini itu sama mbak-mbak saya tersebut.

Tapi setelah masuk SMP di kota dengan teman-teman dari budaya yang berbeda, saya dapat pengetahuan kalau untuk beberapa orang, panggilan "mbak" itu dipandang merendahkan. Dari situ, saya belajar untuk nggak sembarangan memanggil orang tidak dikenal dengan sebutan "mbak". Dan itu terbawa sampai akhirnya saya jadi selebg...eh maksudnya, sampai saya aktif dan bekerja di dunia maya. Dan karena males ribet kalau harus menyelidiki panggilannya dulu, ya sudah lah, semua saya panggil "ses" saja. "Ses" dengan pelafalan ala bencong prapatan manggil rekan kerjanya. Bodo amat! Wong ya pada mau aja kok followers saya dipanggil "ses".

Dasar bencong klean smwah!

FYI, zaman saya SD-SMP-SMA, saya juga punya ART di rumah. Soalnya bapak dan ibuk saya pekerja kantoran semua, jadi memang perlu bantuan untuk mengurus rumah dan makani saya. Saya ingat pembantu saya waktu itu masih muda. Saya memanggil pembantu saya tersebut dengan panggilan "mbak". Ya wajar saya panggil "mbak", karena dia adalah perempuan muda yang usianya lebih tua dari saya. Kalau sepantaran ibu saya, ya mungkin akan saya panggil "bu". Kalau sepantaran nenek saya, mungkin akan saya panggil "mbah". Kalau waktu itu saya sudah jadi blogger, mungkin akan saya panggil "ses".

Tapi, kebiasaan saja sih ya, saya nggak pernah menyebut profesinya dengan sebutan "mbak". Orang tua saya juga nggak pernah tuh. Jadi, misalkan ditanya, "Di rumah sama siapa?" Saya biasa menjawab namanya, "Sama Mbak Nurani." Kalau ditanya lagi, "Mbak Nurani itu siapa?" Ya saya jawab, "Pembantu rumah tangga saya." Bukannya menjawab, "Mbak."

Mungkin orang-orang kekinian akan berpikir, saya dan keluarga saya tidak menghargai pembantu rumah tangga karena menyebutnya dengan sebutan "pembantu". Tapi saya ingat dan saya yakin betul, pembantu di rumah saya diperlakukan dengan sangat baik lho, oleh keluarga kami. Oleh bapak saya, pembantu saya disekolahkan. Kami kalau makan juga bareng-bareng semeja makan. Nonton TV juga rame-rame di ruang keluarga, ngelesot semua kecuali bapak saya yang duduk di sofa karena encok.

Lalu nggak ada tuh adegan ala pembantu-majikan seperti di sinetron-sinetron Indonesia. Saya dan adek saya tidak diperbolehkan nyuruh-nyuruh pembantu saya. Pembantu saya cuma melakukan job-desk yang sudah disepakati sejak awal dia masuk. Jadi nggak ada adegan saya teriak, "Mbaaaaaakkkkk, ambilin minoooommm!"

Jangankan nyuruh-nyuruh. Manggil sambil tereak-tereak gitu mulut saya bisa ditampar sama emak saya. Nggak sopan lah sama orang yang lebih tua begitu! Kalaupun memang saya harus minta bantuan karena tidak bisa melakukan suatu hal sendiri, caranya juga harus sopan. Pakai kata "tolong" dan "terima kasih".

Intinya, kalau di keluarga saya, sikap hormat tidak ditentukan dari bagaimana cara kamu menyebut seseorang. Tapi dari bagaimana kamu memperlakukan seseorang. Penyebutan mah asalkan bukan ejekan dan tyda melukai hati, ya tyda ada yang harus dipermasalahkan.

Kembali lagi ke jaman now. Saya sering sekali melihat netizen perempuan berantem di kolom komen Instagram akun gosip atau akun Ayu Ting Ting. Pokoknya beda pendapat gitu deh, kemudian berujung gas-gasan. Sering kali saya mengamati, kalau sudah angot-angotan, mereka akan saling memanggil dengan sebutan "mbak".

"Iya deh, mbaknya yang paling bener!" Ucapkan dengan nada sinis.

Tapi kalau sama netizen lain yang sependapat, mereka akan memanggil dengan sebutan teteh, kakak, cece, say, atau apapun yang bukan "mbak".

Saya ngerasanya, panggilan yang awalnya dipakai untuk menghormati perempuan yang lebih tua ini kok jadi agak nista ya artinya? Orang-orang jadi agak males dipanggil "mbak" sama orang yang nggak dikenal. Mungkin itu juga mengapa banyak SPG dan penjaga toko manggil customer dengan sebutan "bunda".

"Lipstiknya, Bundaaaa!"

Coeq, saya masih pantes jadi pacarnya dedek Iqbaal Ramadhan gini masa dipanggil "Bunda"?

Ya tentunya tidak semua orang seperti itu sih. Di kalangan teman dekat dan keluarga saya, panggilan "mbak" masih digunakan sesuai fungsinya. Banyak juga kok netizen perempuan yang ketika beramah-tamah di dunia maya, saling menanggil dengan sebutan "mbak". Cuma memang beberapa kali kejadian, ada fenomena degradasi panggilan "mbak" seperti yang sudah saya ceritakan di atas.

Oh iya, saya kan blogger. Dan oleh follower saya, saya seriiiing banget dipanggil "mbak". Apakah akan tiba suatu masa ketika ada yang ngomong:

"MANGGIL YANG BENER! MBAK, MBAK, EMANGNYA AKU BLOGGER BESOK SIANG?!


*tulisan ini ada berdasarkan hasil diskusi dek Arum dengan mbak @stillthea

8 komentar:

  1. Anonim2/09/2018

    Udah?
    Gitu doang?

    Ranty, Jatim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah.
      Masalah?

      Dek Arum, bawah fly over Cijantung

      Hapus
  2. Abang aku pun sama, marah kalo dipanggil "Mbak"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakdheku juga marah kalau dipanggil "mbak"

      Hapus
    2. Buapakmu apa lagi

      Hapus
    3. Komennya mbak-mbak semwa ini wkwkw

      Hapus
    4. Padahal mamaku kan perempuan, lebih tua dari aku. Aku panggil mbak eh dia marah -.-a

      Hapus