Arisan


Ada satu kegiatan yang sangat saya hindari dalam berbagai lingkaran pergaulan, yaitu ARISAN! Menurut saya, arisan adalah hal yang level unfaedahnya di atas Besok Siang. Negara seharusnya menetapkan arisan sebagai kegiatan terlarang.

Tapi entah kenapa, squad bunda-bunda yang saya ikuti sepertinya gethol sekali mengajak arisan. Saya sih selalu menolak. Awalnya gampang saja menolak, karena iuran arisan yang mereka buat, biasanya lumayan gitu lah bisa buat beli benges kit-nya dek Kylie. Ya tinggal bilang saja: "maaf Bund, Dek Arum skip dulu, tidak ada uangnya."

Kalau sudah pakai alasan kemiskinan, mereka biasanya sih tidak mendesak lagi. Apalagi status saya ini kan hanyalah ART, artis rumah tangga biasa yang kerjaannya belanja online dan menghabis-habiskan uang suami. Ya kalaupun dapet uang dari nulis-nulis di Besok Siang begini, palingan receh saja pikir mereka. Jadi ya, mereka sepertinya bisa paham kalau saya dan suami memang hidupnya (( prihatin )).

Tapi pada suatu ketika, mereka membuat arisan dengan nominal iuran yang kecil. Yaaa cuma cukup buat beli sebijik lipen lokal yang mereknya sering di-idih-idih-kan begitu lah. Ketika saya ajukan alasan bahwa saya tidak punya uang, mereka ya terang saja tidak percaya. Lha muk seket ewu gelo!

Akhirnya saya pun berterus terang, bahwa saya itu benci sekali dengan kegiatan arisan. Arisan itu kok rasanya hanya mendatangkan masalah dan tidak ada faedahnya begitu lho! Bagaikan marketing MLM, mereka segera menggelar presentasi yang intinya memperbaiki nama baik kegiatan arisan di mata saya. Namun semua alasan mereka bisa saya patahkan.


"Itung-itung nabung, bund!"
Begini lho, Bund. Kalau saya tidak gegar otak, ini sudah tahun 2018, dan kalian tinggal di kota, bukan di pedalaman. Apakah tidak lebih baik menabung di bank saja? Yang sudah jelas keamanannya dijamin LPS? Ya kecuali kalian ini bunda-bunda yang tinggal di pedesaan, tidak ada kendaraan bermotor, dan mau pergi ke bank saja harus dua hari berkuda.


"Kalau pas dapet kan lumayaaan!"
Apa bedanya dengan menabung sendiri di bank atau celengan, lalu kalau sudah banyak tinggal kita pecahkan? Ya sama saja, Bund! Uang yang bakalan kita dapatkan kalau menang kopyokan ya uang kita juga. Entah kita harus iuran dulu di depan, atau mengangsur belakangan.

"Lho, ya lebih aman arisan! Kalau nyelengi atau ditaruh di rekening kan godaannya besar sekali untuk dicuthik dan digesek!"
Apakah bunda tidak pernah mendengar mengenai program tabungan rencana? Kalau tidak, silahkan googling saja. Kalau bunda kurang cerdas literasi (baca: tidak mau membaca), boleh datang ke bank dan menanyakan langsung ke CS-nya. Saya tentu tidak akan menjelaskan mengenai tabungan rencana di Besok Siang, nanti kontennya terlalu faedah.

"Oke, kita tidak membicarakan uangnya. Tapi kan ini adalah ajang kita bersilaturahmi. Berkumpul secara rutin dan mempererat tali persaudaraan."
Apakah kita tidak bisa berkumpul dan bersilaturahmi saja, tanpa melibatkan uang? Uang itu kan godaan, sering menyebabkan kesalah pahaman juga. Saya sih malas sekali, kalau sudah berteman dengan sangat baik, eh tau-tau kok ambyar cuma gara-gara masalah uang arisan ini. Terus ribet banget nentuin siapa bendaharannya, siapa yang nyiapin kocokan, dan lain-lain. Bagi saya, pertemanan yang asik itu, ya berkumpul saja cerita-cerita santai tanpa mikirin transaksi arisan. Lagipula, silaturahmi kok harus dipaksa? Kalau niatnya berteman dan bersosialisasi ya ketemuan saja, nggak usah pakai arisan. Lagian kalau sedang tidak mood bersosialisasi, tapi diwajibkan hadir, apa malah tidak rusak suasananya?


Tapi segala logika yang coba saya suntikan tersebut, tentu saja mental. Sepertinya memang bunda-bunda dan arisan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Squad bunda-bunda saya tersebut tetap melakukan arisan. Namun jangan khawatir, saya juga tetap tidak mau ikut arisan.

Mengenai hobi berarisan ini, tentunya kalau sudah hobi, tidak cukup hanya ikut di satu arisan saja. Pun bunda-bunda teman saya itu. Selain arisan dalam squad internal yang saya bicarakan ini, mereka juga terlibat arisan di lingkaran pertemanan mereka masing-masing. Ada yang arisan dengan ibu-ibu di lingkungannya, arisan dengan teman sekantornya, arisan dengan kumpulan bunda-bunda di sekolah anaknya, tempat les anaknya, dan lain-lain. Dan herannya, setiap minggu adaaaa saja drama yang diceritakan berkaitan dengan arisan ini. Tapi kalau saya bilang, "Nah kaaannn, apa Dek Arum bilang?!!" Biasanya saya langsung disleding rame-rame.

Jangankan bilang begitu, ngasih emotikon munyuk ndodok saja sudah diangoti kok!


Jadi ya Momon itu sebenarnya tidak perlu berlebihan merasa sebagai korban kalau lagi ngobrol sama saya. Sebab walau saya sering mlekoto Momon, saya di grup-grup lain itu lebih terplekoto.

Cerita terakhir mengenai drama arisan dari squad bunda-bunda saya tersebut adalah mengenai rebutan kopyokan yang ditolak. Jadi, sebut saja teman saya ini bundanya Nurani. Salah satu arisan yang diikuti oleh Bunda Nur adalah arisan bunda-bunda di tempat les balet anaknya.

Suatu hari, arisan dikopyok dan yang dapet adalah mamanya Marlena. Tapi Mama Mar tidak hadir saat kopyokan, karena Marlena sedang anget badannya. Lalu mereka beramai-ramai menelpon Mama Mar. Mama Mar bilang begini: "Aduhh, maaf, Bund. Saya tidak bisa mengambil uangnya nih. Saya juga belum begitu butuh. Sudah, nama saya dimasukan lagi saja, dikopyok ulang."

Maka arisan pun dikopyok ulang, dan munculan nama Bunda Nur, teman saya itu. Bunda Nur tentunya hepi sekali. Sudah terbayang sepulang arisan ini mau mampir dulu ke Sephora membeli masker GlamGlow dan alat catokan rambut, serta beberapa Kinderjoy untuk Nurani. Tapi ketika Bunda Nur asik merapihkan uang, tiba-tiba ibunya Mukidi marah-marah.

"Sebentar, tho. Sebentar! Kok tau-tau dikopyok lagi dan yang dapet Bunda Nur. Harusnya saya langsung dapet. Karena kemarin Mama Mar bilang ke saya kalau dia yang dapat duluan, uangnya buat saya dulu. Soalnya saya sedang butuh sekali!"

Bunda Nur tidak terima dong. Sudah terbayang maskeran pakai GlamGlow je, masa tiba-tiba uangnya mau dirampas. Dengan nada suara tidak kalah nyente, Bunda Nur menimpali: "Lha wong tadi Mama Mar sudah ditelpon, tidak ada pembicaraan bahwa uangnya untuk Ibu Mukidi kok!"

Ibu Mukidi tidak mau kalah, "tapi kami sudah membicarakan berdua, begitu perjanjiannya! Lagian saya hari ini harus bayar tagihan listrik, kredit motor, cicilan KPR..."

Bunda Nur langsung memotong, "Lho kok Ibu malah curhat di sini? Ya intinya saya yang dapet! Secara adil! Memangnya ibu saja satu-satunya yang punya tagihan, hah?!"

Ndas saya langsung ngelu mendengar cerita tersebut. Maka saya tanyakan ke Bunda Nur yang sedang bercerita: "Apakah kamu sedang BU? Mengapa ngotot sekali cuma perkara siapa yang dapat duluan?"

Dan dijawab, "Ya bukan begitu! Tapi ini perkara uang lho, bukan perkara sepele! Nggak bisa kalau seenaknya begitu."

YA SITU TAU PERKARA UANG BUKAN PERKARA SEPELE, LALU KENAPA MASIH IKUT ARISAN, PENTIL BEBEK??!!!

Kemudian, Dek Arum tersleding.

36 komentar:

  1. Ah, andaikata di lingkup pergaulan saya ada lima orang saja yang punya pemikiran seperti mbak Arum, sepertinya saya gak akan dicap sebagai mbak2 anti sosyal sosyal kleb. Saya tergolong malas gaul karena yaaa pola pikir saya terlalu miring untuk mendapatkan titik temu dengan pola pikir mbak2 dan ibuk2 di lingkungan saya. Dan andaikata di lingkungan pergaulan saya ada limaaaa saja mas2 single dengan pemikiran seperti mbak Arum, mungkin saya juga tidak akan masuk kategori anti lanang lanang kleb. Soalnya saya pasti akan merasa senang ngobrol dan sharing dengan mereka, ketimbang berusaha nggajul kepala mas2 gegara adu argumen masalah pakaian saya yang cekak dan hubungannya dengan "bukan wanita baik2". Atau bagaimana kalau saya nikahi mbak Arum saja ya? Mau ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud Dek Dhian pemikiran unfaedah begitu?

      Daripada Dek Dhian itu menjadi anti mangkel mangkel club, coba kirim tulisan hasil pemikiran unfaedah ke blogbesoksiang@gmail.com 👌

      Hapus
    2. Apakah ini serius? Apakah aku harus minta ijin suami pertama dulu?

      Hapus
  2. ga mau ikut arisan. ataupun perkumpulan ibu2 di tk. dapet duit arisan juga percuma. wonh buat bayar makan2 dan ngomong ngalur ngidul ga jelas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kalau kumpul2 tyda papa lah berkumpul dengan manusia. Kalau tyda mau berkumpul dengan manusia yang berbeda-beda kita juga jadinya tyda open mind dan tyda ada bahan tulisan

      Hapus
  3. Anonim3/08/2018

    Masih mending yaa arisan. Kalau ditempat saya ada tabungan hari raya juga, dimana setiap anggota wajib menabung & meminjam (min. 1x) dengan bunga 10% dlm jangka waktu 4bulan. Kan edyaan. Wong ga butuh uang kok suruh pinjam.terlalu nuruti gengsi siih bunda bunda jaman now.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dek Anonim, apakah kamu Ranty dari Jatim?

      Hapus
    2. Mungkin ini Hamba Allah

      Hapus
  4. Anonim3/08/2018

    Ikut arisan cuma sama mbok mbok komplek yang hanya 16 pasang penthil. karena sejujurnya saya agak mlz arisan karena ujung2nya eker dewe.. hemm hemm hemm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah kamu juga Ranty dari Jatim?

      Hapus
    2. Kalau ini mungkin temannya Hamba Allah

      Hapus
  5. saya juga punya pengalaman soal arisan. waktu itu saya menggantikan emak yang sedang hang out dengan geng sosialitanya untuk arisan. saat di tempat arisan, terjadi suatu insiden mengenai pengocokan nama. bu ketua merasa tersinggung karena bu bendahara sudah mengkocok nama padahal dia belum menyuruh. oleh karena itu bu ketua merasa bahwa nama yang keluar tidak fair, sedang bu bendahara tidak terima. mereka lalu berantem dan ambek ambekan sapmpai lama, padahal rumahnya berhadapan. konon kabarnya, mereka tidak mau saling bicara lagi. hmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah seru sekali. Tyda berminat menceritakan lebih detil dan panjang lalu dikirimkan ke Besok Siang?

      Hapus
  6. Arisan itu pada akhirnya cuma bikin rugi doang. Rugi waktu, rugi emosi, belom lagi biaya makan-makannya yang harus ditanggung.... Betul mba Arum mendingan nabung di bank :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul itu. Atau masukan celengan bentuk Semar

      Hapus
  7. Duh Mba Arum aku kepingkel pingkel dgn cara nulis mu yg aduhay lucu sekaleeee...bikin ga bosen bacanya
    Aku juga ga suka dgn arisan, apalagi yg jaman now ya harus pake dresscode dan tethek bengek nya haha, ujung2 nya didalem malah saling unjuk kekayaan.. unfaedah sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah unjuk kekayaannya tyda papa aku senang saja. Tapi arisannya pas dulu.

      Hapus
  8. Aku jg ndak suka mbak arum sm beraris2an sperti itu.. yg anehnya ditmpt saya kerja katanya ada arisan dan karyawannya diharuskan ikut krn arisan itu sbg indikator saya diperpnjg kontrak kerja nya apa ndak.. aneh sekali pola pikir manusia akhir zaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pindah tempat kerja saja sudah. Peraturannya kok unfaedah sekali

      Hapus
  9. Aku juga Anti arisan kleb e bunda... Soalnya males ajah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sudah besok kita bikin Arisan ya, bertiga sama momon. Arisannya genk Anti arisan.

      Hapus
  10. Ku setuju mba arum, apalg nnti ditengah2 jalan nya arisan ada anggota yg tak mau pasok. Lari dari tanggung jawab pasok, ku sedih sekali:(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih sedih lagi di tengah jalan bendaharanya minggat membawa uang yang sudah dipasok

      Hapus
  11. dian_fajar133/10/2018

    Waaa...iki..iki...ki...��
    Sbgagai pserta arisan bunda2 dsna dsni (pdhal cm ikut 2 kleb..haha) aQ mrasa tersodok...ahh,tp yasudahlah..htg2 nabung, tsk...
    Yg ptg arisannya modal kocok doang, gag pk acr mkan yg ribet okelah, kec arisan buibu komplek...hihi
    Intinya dbalik sisi unfaedah..psti berjejeran dg sisi faedah versi pribadi...((ngeles))..sperti blog ini ughaa ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hitung2 nabung sudah ada jawabannya. Tyda bisa! Arisan bukan nabung.

      Hapus
  12. akupun sering dicap anti sosial gara" udah bunda bunda tapi kagak mau ikut arisan ... bener banget sih , maless sm smua dramanya
    trs juga kok jd kayak mbayar utang gt ,tiap bulan brapa,ada yg nagih ..dapetnya pun blom tentu kapan, aku tak sanggup menanti setiap bulan berharap,"smoga bulan ini dapat arisan, nanti duitnya buat beli anu .."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah malas dapet duluan. Kok kayak utang. Mending belakangan. Tapi ya males ugha ikut arisan kituu soalnya ngga butuh amat.

      Hapus
  13. Anonim3/13/2018

    secara kebetulan, untuk pribadi sendiri saya juga cenderung tydaq syuka sama arisan mbak. namun dengan segala hormat, pemikiran seperti saya seringkali hanya dicap sebagai "pemikiran idealis" yang berujung disindir dan diceramahi oleh seantero masyarakat di jagad raya termasuk di dalam keluarga. miris dan melelahkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tyda usah diutarakan. Ditulis saja di Besok Siang.

      Hapus
  14. aahh senangnya besok siang bikin blog tentang arisan. berasa terwakili loh unek" aku tentang arisan itu ngga penting. apalagi kalo dalam agama islam emang dilarang juga. arisan kan enak kalo pas dapetnya doang lagian juga kalo pun udah dapet malah jadi beban.
    terimakasih mba arum sudah membuat blog tentang arisan ini. aku jadi ada tambahan alasan buat menjelaskan kenapa aku ngga suka sama yang namanya arisan, ke mama dan teman".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikasihkan saja artikel ini ke mama, teman, dan segenap rakyat.

      Hapus
  15. Anonim3/19/2018

    Ak dulunya menganggap bgitu jg mbak. Tapi sejak aku melihat dan menyadari bahwa ibuku bahagia dgn ikut arisan aki jd seneng. Why? Soalnya buat ibu2 usia diatas 50thn arisan itu kd ajang buat kumpul2 yg bener2 ngumpul, saling memotivasi, saling menyemangati dll. Ada tuh 1 klompok arisan ibuku yg anggotanya mrotholi siji2 karna sudah dipanggil Tuhan, nah trs sisanya mereka jd lbh solid saling menyemangati, saling curhat biar ga setres mendem masalah sendiri. Tapiiii ada lg 1 klmpok arisan komplek yg anggotanya dr brbagai mcm usia. Mamah muda bunda2 jaman now gtu lah, yaaahh ngeselin juga kakehan petingsing dan hobi mrospek MLM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alasan yang ini juga sudah disanggah. Coba perhatikan tulisan bagian ini:

      "Apakah kita tidak bisa berkumpul dan bersilaturahmi saja, tanpa melibatkan uang? Uang itu kan godaan, sering menyebabkan kesalah pahaman juga. Saya sih malas sekali, kalau sudah berteman dengan sangat baik, eh tau-tau kok ambyar cuma gara-gara masalah uang arisan ini. Terus ribet banget nentuin siapa bendaharannya, siapa yang nyiapin kocokan, dan lain-lain. Bagi saya, pertemanan yang asik itu, ya berkumpul saja cerita-cerita santai tanpa mikirin transaksi arisan. Lagipula, silaturahmi kok harus dipaksa? Kalau niatnya berteman dan bersosialisasi ya ketemuan saja, nggak usah pakai arisan. Lagian kalau sedang tidak mood bersosialisasi, tapi diwajibkan hadir, apa malah tidak rusak suasananya?"

      Hapus
  16. HAHAHAHAHA akupun kurang setuju sama arisan, entah kenapa konsepnya kurang menarik dan berdampak ada keributan yang tergambarkan disini jadilah selalu nolak. Hahaha. Kecuali uang arisannya di tanamkan di pasar modal yang bisa menghasilkan 10 M dari iuran 100rb barulah aku mao

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arisan sekaligis investasi yang membuat uangnya beranak aku juga mau sih. Jadi tyda sekedar memutar2 uang tanpa hasil begitu.

      Hapus
  17. Hello mba Arum, salam dr Bali, your newest fans hahah,.. jadi ya jam aku bc Besok Siang tuh jam segini ( jam 14.00 - 16.00 ) ketika kerjaan wes selow.. ini dari tadi arep ngguyu smpe mesti nutupi setengah wajahku pke buku, soale boss ku di ujung sana.
    Tentang Arisan wah aku punya banyak cerita nih, ... piye klo maw cerita?

    BalasHapus