Cowok Gantheng Vs Cowok Pintar


Kalau ngikutin instagram saya, dan suka kepo sama IG story saya, pasti sudah hapal kalau saya kadang suka melempar statement yang nganeh-anehi atau anti-mainstream. Kalau kata teman-teman saya, ini namanya cari masalah. Tapi kalau menurut saya sih, ini namanya eksperimen sosial.

Saya memang suka melempar statement atau opini yang tidak populer, lalu ngumpulin reaksi dari temen-temen kepoers yang masuk ke saya. Untuk apa? Ya untuk bahan ghibah. Kalau tanggapannya keren, orang tersebut akan saya catat dan saya puja bersama indomie goreng pakai cabe rawit lima. Kalau tanggapannya ndeso, tanggapannya akan saya jadikan bahan ghibah di Besok Siang. Orangnya kalau bisa akan saya lupakan. Tapi nggak janji ya.

Lalu apakah pendapat saya selalu se-anti-mainstream itu? Yha, tyda. Namanya juga eksperimen. Kadang saya cuma bercanda. Sobat-sobat sosialita saya yang cuma sedikit itu biasanya sih tau, kapan saya bercanda dan kapan saya serius. Tapi kepoers rakyat jelata cem kalian belum tentu paham. Apalagi kalau kepoers anyaran. Nah, yang belum paham ini yang biasanya reaksinya lucu-lucu.

Kalau saya amati, kamu-kamu (dan saya) itu punya kecenderungan ingin diakui oleh manusia lainnya. Diakui apa saja! Termasuk diakui bahwa pikiranmu, pilihanmu, standar hidupmu, nilai moralmu, kepercayaanmu, dan kelakuanmu adalah yang paling benar. Kalau nggak benar, ya minimal dianggap keren lah. Kalau ada orang lain yang punya standar berbeda denganmu (dan saya), terkadang secara nggak sadar kamu (dan saya) akan bereaksi kontra. Kadang ngontra-nya kalem. Kadang angot. Kadang ngamuk. Tapi kalau di dunia maya sih seringnya ngamuk. Ya kan gampang tinggal menulis kasar, nggak harus face to face dan nggak takut di-sleding ndyas-mu.

Ya itu wajar lah. Manusiawi. Tapi jadi njelehi ketika kamu (dan saya) menjadi reaktif menjurus rese kepada hal-hal yang sebenernya nggak ada urusanya denganmu. Contoh yang sering terjadi di kehidupan saya sih, reaksi orang soal saya yang sudah menikah selama lima tahun tapi belum juga kepengen punya anak. Ada yang menasihati, bawa-bawa firman Tuhan, sampai ada yang mangkel karena menilai saya ngeyel dan nyumpahi yang jelek-jelek. 

Padahal ya, ngapain juga mangkel? Persoalan saya ingin punya anak atau tidak, kan sebenarnya nggak ada kaitannya denganmu? Saya nggak punya anak, atau punya anak selusin, hidupmu juga tidak akan berubah kan? Lalu kenapa harus mangkel dan merasa perlu meluruskan pemikiran saya yang kamu anggap salah?

Tapi ya nggak usah ngomongin hal berat dan prinsipil seperti keinginan untuk punya anak ya. Masalah sepele seperti saya lebih memilih cowok pintar atau cowok gantheng, ternyata juga bisa memicu reaksi nggatheli. FYI, saya ini memang orangnya visual banget. Mau ada mas-mas yang pinternya sampek rengking satu se-jagad abuh, kalau visualnya tidak menarik mata saya, ya tidak bakalan turun ke hati. Tapi beruntungnya, walau saya anaknya visual banget, tapi mata saya mudah dipuaskan. Jadi saya bisa menerima keganthengan jenis apapun. Visual tapi geleman lah, kasarane.

Pernah saya terlibat percakapan sambil ngopi-ngopi, dengan teman saya, namanya Varo. Cik Varo ini merasa heran, kenapa sih tante-tante jaman now tergila-gila kepada dek Iqbaal Ramadhan?

"Ha, ngguantheng, ok!" Jawab saya tangkas.

"Enggak ah! Mukanya itu rata-rata, seperti muka orang kebanyakan."

Lalu saya balik bertanya, "hmm...oke. Lalu siapa yang gantheng menurutmu?"

"Fahri."

"Ohh...Fedi Nuril? Iya itu juga gantheng sekali!"

"Bukaaannn. Fedi Nuril mah ireng elek. Maksudku Fachri Albar. Nah itu baru gantheng!"

"Oh iya, gantheng itu!" Saya manggut-manggut mengiyakan.

"Nah, kan?!" Kata cik Varo jumawa. Dia lupa saya sebelumnya bilang kalau Iqbaal Ramadhan dan Fedi Nuril juga gantheng.

Ya intinya bisa disimpulkan lah ya. Saya suka cowok gantheng, tapi standar gantheng saya juga nggak yang filosofis banget. Ya kalau menurut saya muka oke, body oke, pembawaan oke, ya gantheng, sudah! Nggak pakai acara, "gantheng sih, sayangnya bukan tipe akoohh!" Ah riwil. Bukan tipe kamoh tapi ngga bakal mau sama kamoh ugha.

Oke, kembali ke topik.

IG story cowok pintar vs cowok gantheng tersebut menuai banyak reaksi. Ya kebanyakan sih reaksi lucu-lucuan. 

"ya pilih cowok gantheng dong. Cowok pintar tidak bisa diapusi."

"cowok pintar lah! Karena keganthengan itu sia-sia bila kelak beristri dua." 

dan yang paling mantab: 

"PILIH SING NGGANTHENG TUR SUGIH!" 
Yoh, mbak! Karepmu!

Tapi ada juga nyelip-nyelip, yang marah-marah akan pilihan saya terhadap cowok gantheng. Saya bisa membedakan lho, mana marah yang bercanda dan mana yang serius. Saya jelas bisa menangkap, mana tulisan yang kopet dan mana yang emosional. Nah, yang saya bahas ini yang angotnya serius. 

"BACOD! MAKAN TUH GANTHENG! Kalau tua ubanan buncit juga nggak gantheng lagi, trus lu mau apa?!!"
Mau kulit ayam goreng KFC :(.

"Hahaha...ternyata kamu pikirannya cethek ya. Gantheng tuh nggak dibawa mati. bla bla bla.."
Ya kenapa mati dibawa-bawa? Kan jadi serem :(.

"Ya elah, umur berapa sih? Nanti kalau sudah waktunya kamu akan paham kalau cowok gantheng bukan segalanya. Pilih cowok itu harusnya yang bla bla bla..."
17, kak. Maklumin, yha :(.

"Terus kalau gantheng mau ngasih makan kamu pakai apa? Yang PINTER itu lebih menjamin masa depan. bla bla bla..."
Dek Arum tyda butuh nasi. Bisa kenyang makan keganthenganmu saja, maz~

"Kalau kamu PINTER, pasti pilih yang PINTER!"
Tapi kalau aku cantik. Gimana dong?


....dan lain-lain.


Apakah saya marah ketika ada yang bereaksi angot begitu? Yha, tyda. Saya sudah memperkirakan. Tinggal screenshoot-screenshoot saja buat bahan ghibah. 

Wong pilihan cowok saya sendiri, nggak ada kaitannya sama kamu. Kok kamu yang kebakaran jembut, Ndes?

36 komentar:

  1. Anonim3/15/2018

    Mbakk saya mau cerita pengalaman saya. Saya pernah pacaran 2 kali.
    Yang pertama pinter, tapi wajahnya B aja. Lalu putus.
    Yang kedua sangat ngganteng, tapi ternyata ndak pinter. Dan itu bikin ilfeel banget :( ngomong ga nyambung bahkan bercanda pun ga nyambung.
    Jadi intinya saya pilih cowok pinter aja...

    D, 21 tahun, semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku berapa kali pacaran ya?? Lupa.
      Pengalamanku berkebalikan denganmu. Pernah ditaksir dan diPDKT cowok pintar. Tapi visualnya kurang masuk ke hati jadi skip.

      Hapus
  2. Aku sii mending cwok biasa aja asal ganteng setia dan akeh duit nya.secara muka ku juga biasa aja pilih yg ganteng ga bakal ada yg mau.lagian cwok ganteng kl tulalit nilainya nol dek arum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabanmu tyda nyambung, mbak Nia. Tidak ada yang bahas soal setia dan duit. Cowok ganteng bisa setia dan duitnya okeh. Cowok pintar juga bisa.

      Sekarang coba baca ini:
      "lagian cowok pintar kalo huelik nilainya NOL, mbak Nia" :D

      Hapus
  3. Saya juga pengennya cowok ganteng. Kalo bisa yang wajahnya oriental (?) Tapi jangan tulalit-tulalit amatlah biar nyambung kalo diajak ngobrol hehehe. Tapi dia mau ga ya sama saya, kan saya aslinya jelek :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa sih ternyata ada rakyat besok siang insekyur begini? Ku merasa gagal...

      Hapus
  4. Anonim3/15/2018

    Jadi....ganteng mana Nicholas Saputra atau dedek dilan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bilang ke mereka berdua ya, aku terima mereka apa adanya kok..

      Hapus
  5. Aku pilih yang ganteng aja,, lumayan kan bikin sirik kalau dibawa kondangan. Lalu bilang, kamu nanti senyam senyum aja gak usah ngobrol. Soalnya gak nyambung.

    BalasHapus
  6. Emang gak boleh pilih kedua-duanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yha tyda. Kalau boleh pilih keduanya tyda usah dibikinkan tulisan saja.

      Hapus
  7. Gimana yha, abis si ganteng bikin kita bisa panjat sosial diantara teman soalita kita. Bisa jadi penjaga dari gunjingan haters karna sesungguhnya netijen mengagunggkan kesempurnaan. Jadi ya, saya pilih ganteng aja ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena hidup kita di tangan netijen!!

      Hapus
  8. Pilih yg gantheng dong. Nek huelik yo meh nyawang we malez. Apalagi huelik + bodho. Bye maksimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huelik + bodho. Kok mesakne yha :(

      Hapus
  9. Nak dikon milih ya milih cowok ganteng lah. Muna paripurna kl bilang "liat cowok jangan dari fisik thok". Hayah. Liat Liam Hemsworth sama Chris Evan juga mimisen paling. #StopDadiWongSokSokan

    BalasHapus
  10. Aku pilih cowok ngganteng ae mbak. Yha itu kalo doi mau ama aqu juga sih 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa sih ternyata ada lagi rakyat besok siang insekyur begini? Ku merasa gagal... (2)

      Hapus
  11. jadi sepertinya suamiku memilihku karena ku cantyk~ hmmm ku semakin yakin setelah membaca ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yha baiklah, bund. Begitu juga boleh.

      Hapus
  12. aku pilih ganteng asal ngga cuma mokondo aja sih hahaha mba.
    pernah pacaran sama orang yang pinter malah diceramahin mulu plus dibohongin mulu sangkin kepinterannya. temennya aja yang ganteng setia nah dia yang muka pas"an sok"an jadi playboy. btw maap yah mantan aku jadi ghibahin kamu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tyda ada yang suka dengan mokondo kecuali Eli Sugigi.

      Hapus
  13. Saya pilih cowok ngguantheng. Karena berpacaran dengan cowok ngguantheng meningkatkan nilai jual saya dimata pria dan wanita. Mereka akan berpikir bahwa "iya yha, si Hana ternyata cantik. Pantes mas ganteng terkini mgkin tol". Kalaupun ternyata mereka menganggap saya jelek, tetap saja ada nilai saya meningkat "Si Hana gak begitu cantik koq mas ganteng mau ya? Pasti ada sisi lain dari Hana yang kita yang gak tau". Okefix, saya pilih cowok ngguantheng karena meningkatkan citra diri saya sebagai manusia. Pencitraan adalah sebagian dari jalan menuju kesuksesan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti anda pintar kaya ses Arum dik Dhian.. orientasi anda adalah kesuksesan yg mana blabla... :-)

      Hapus
    2. Wah ternyata ada filosofinya juga memilih cowok gantheng. Aku baru tahu.

      Hapus
  14. Saya pilih cowok ngguantheng. Karena berpacaran dengan cowok ngguantheng meningkatkan nilai jual saya dimata pria dan wanita. Mereka akan berpikir bahwa "iya yha, si Hana ternyata cantik. Pantes mas ganteng terkintil-kintil". Kalaupun ternyata mereka menganggap saya jelek, tetap saja ada nilai saya meningkat "Si Hana gak begitu cantik koq mas ganteng mau ya? Pasti ada sisi lain dari Hana yang kita yang gak tau". Okefix, saya pilih cowok ngguantheng karena meningkatkan citra diri saya sebagai manusia. Pencitraan adalah sebagian dari jalan menuju kesuksesan.

    BalasHapus
  15. aku jelas pilih cowok ganteng. kalo cowok pinter takut di kibuli. kalo cowok ganteng nggak pinter kan aku yang ngibuli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yha betul. Kita yang kibul2

      Hapus
  16. Akhirnya baca Besok Siang lagi :D
    Mbak, pilih! Nicsap, Iqbaal Ramadhan, atau Chicco Jerikho yangkinipentilnyadimilikiPutriMarino? Pilih, Mbak! siapa yang paling ganteng di antara mereka?! Kubutuh jawaban!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa yang menyuruhmu bertanya? Nico, Iqbal atau Ciko? Bilang ke mereka, jangan khawatir. Cintaku bisa sepenuhnya untuk masing2 dari mereka tanpa terbagi karena aku cerdas dan multitasking. Begitu.

      Hapus
  17. Ngakak sendiri baca komen yang emosi jiwa itu ������ Ketauan banget itu antara follower baru atau orang numpang lewat nemu bahan lalu komen ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu akan mengakak bila bis mengintip DM instagramku setiap hari buuunnnddd

      Hapus
  18. Mbak soale story mu ki cen mengundang emosi. Kadang aku ingin berkomentar di storymu tapi lebih suka baca nya aja. Biarkan yg lain yg membanjiri story anti-mainstreammu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngahahahahhaa...
      Nha gitu dong emosi!

      Hapus