Nasihat Dari Mantan Bedhes


Bulan Maret 2018 adalah bulan yang membahagiakan, karena saya banyak mendapat kabar pernikahan. Tidak, saya bukannya mau bilang bahwa harus menikah agar bahagia, ataupun yang tidak menikah itu tidak bahagia. Hanya saja, biasanya kan memang orang yang hendak melangsungkan pernikahan itu berada dalam kondisi hati yang bahagia, atau setidaknya bersemangat untuk menyambut hidup baru. Jadi bolehlah saya bilang bahwa berita pernikahan adalah berita bahagia.

Terhitung saudara saya, teman dekat saya, beberapa teman yang saya tidak mau dekat, dan beberapa teman yang memang tidak dekat-dekat amat; memberikan undangan pernikahannya kepada saya. Bahkan, mantan penyangkem Besok Siang, beliaunya Andhika Lady, juga akan menikah di bulan Maret ini.

Sebelum ada yang bertanya-tanya, saya akan menjawab terlebih dahulu, bahwa saya tentu saja tidak hadir pada pernikahan Lady. Karena ya seperti yang hamba Allah bilang, squad kami kan sudah pecah. Saya gabung di squad ibu-ibu sosialita manja kaya raya yang bermarkas di bawah fly over Cijantung, Lady bergabung dengan grup organ tunggal cilapop jaya perkasa, dan Momon nggak punya squad kasian ya?


Lagian Hamba Allah itu lho, hal seperti itu saja kok ditanyakan! Apa Hamba Allah tidak bisa menyadari dengan sendirinya, bahwa tulisan-tulisan di besoksiang.com dan sosial media kami masing-masing ini sedang banyak memuat aksi saling nyinyir dan menyakhity satu sama lain? Kalau mengaku sebagai rakyat Besok Siang sejati, ya harusnya jeli dong! Ayo, baca ulang semua post di Besok Siang! Share ke teman-temannya kalau perlu, untuk membantumu mencari kalimat-kalimat saling menyinyir.

Kembali ke topik,

Persiapan pernikahan adalah hal yang cukup membuat stres, terutama bagi calon manten perempuan. Itulah mengapa ada sebutan bridezilla, atau bride yang seperti bedhes. Karena kalau sudah setres, perempuan cenderung mengedepankan emosi dan bertingkah laku seperti bedhes. Ya, nggak usah tersinggung gitu. Anggap saja saya sedang membicarakan diri sendiri, Arum si bedhes.

Dulu pun saya mengalami. Saya sempat membedhes sesaat pada waktu persiapan pernikahan saya. Tapi untungnya hanya sesaat, karena saya segera mendapatkan sebuah pencerahan, bahwa sebenarnya calon manten itu tidak harus selalu menjadi bedhes.

Kalau yang saya amati, kita sebagai ababil milenial ini punya gengsi yang tinggi berkaitan dengan "bisa cari uang sendiri". Saya pun kadang mengamuk kalau dikatai menghabis-habiskan uang suami. Lha bedhes, saya juga kerja, Dhes! Punya uang sendiri. Nah, calon manten dari generasi ababil milenial ini juga punya gengsinya sendiri berkaitan dengan acara kawinan mereka. Maunya pakai duit sendiri dan minimalis saja. Yang diundang hanya teman dekat dan sedikit saja. Pokoknya intim dan sederhana. Uang yang mau dipakai untuk pesta besar, mending buat DP rumah atau traveling ke suatu pulau yang jauh dan instagramable gitu.

Sementara orang tua jaman now maunya show off. Pengennya ya kalau mantu dipestakan besar-besaran. Semua sanak saudara, handai taulan, kolega, anak istrinya kolega, mbahnya kolega, sampai kalau perlu Kim Jong Un dan Nella Kharisma juga harus diundang. Semacam kebangaan tersendiri buat orang tua gitu lho, untuk menunjukan ke seluruh hadirin, "nih aku sudah membesarkan anakku, dan sekarang kulepas untuk hidup bahagia bersama orang lain, dalam sebuah pesta yang penuh mevvah."

Makanya kalau ada kawan saya yang masih lajang, apalagi cah cilik yang calon pasangannya saja belum ketahuan, sudah sok tau bilang: "besok aku kalau nikah pokoknya mau di pantai aja pakai sneakers dan undangannya lima puluh kepala aja." Saya yang bakalan paling banter mbengoki: "PRET!" Kamu belum kenal dunia nyata, Dhes, Bedhes!

Antara keinginan calon manten dengan keinginan orang tua, biasanya memang tidak sejalan. Dan jujur nih, pada kesempatan kali ini, saya mau bilang kepada kalian para bedhes, "ngalaho, Dhes!" Karena memang persoalan konsep pernikahan inilah yang biasanya membuat calon manten kemudian membedhes. Padahal cobalah para bedhes duduk sejenak dan memikirkan, apakah bentuk sebuah pesta pernikahan adalah sesuatu yang penting dan haqiqi untuk kehidupan rumah tanggamu kedepannya? Apakah se-worth it itu untuk diperjuangan, sampai bela-belain gontok-gontokan dengan orang tua atau calon mertuamu?

Kalau kamu ngotot ingin pesta sederhana (atau sebaliknya, ngotot pengen mewah sementara orang tua maunya sederhana), apa sih yang akan kamu dapatkan setelah pesta impianmu tersebut terlaksana? Sudahnya capek dan emosi karena angot-angotan sama orang tua, lalu bikin orang tua sedih saat proses persiapan hari bahagiamu. Apa itu, definisi pernikahan bahagia bagimu, Dhes?

Padahal kalau manut dan pasrah bongkokan saja, dan menyadari bahwa ini memang moment terakhir bapak-mbokmu memestakanmu untuk melepasmu bersama bedhes lanang yang kau cintai, kamu tidak akan capek dan emosional, Dhes. Moment pernikahanmu pasti juga akan jauh lebih membahagiakan dengan kondisi mentalmu yang sehat.

Simpan saja segala emosi dan energimu itu untuk persoalan yang lebih haqiqi. Misalnya, untuk nyantlap teman-temanmu yang telah menjadi bunda terlebih dahulu, yang sibuk sekali menasihatimu untuk segera punya anak, padahal kamu masih kepingin pacaran dan hanimun saja sama suami.


Dek Arum,
pernah menjadi bedhes.

*post ini sekaligus sebagai ucapan selamat menempuh hidup baru untuk Andhika Lady. Semoga menjadi keluarga yang bahagia lahir dan batin. Dan semoga tyda akan pernah ada bedhes dalam rumah tanggamu.

10 komentar:

  1. Yes aku first comment.
    Bedhes itu apa ya mbak arum btw ?
    Masih mencari pencerahan tentang arti bedhes sebenarnya itu apa. Tolong dibantu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti pada gambar paling atas

      Hapus
  2. Waw jadi teringat acara Tasya Banyak Acara Niksh Farasya yang katanya awalnya gak mau dirayain gede gedean. Tapi akhirnya ya.. Begitulah.
    🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, pinter itu mbak tasya. Daripada kecapekan nolak-nolak dipestain, mending kecapekan milih MUA, mikir thema, design baju, dan capek-capek lainnya yang lebih faedah

      Hapus
  3. Hahaha setuju, aku ya pasrah bongkokan ses. Malah temen-temen yg pada komen gitu, "bagusnya gini er gitu er," ato komentar lain... Akunya wes lah aku mau gini. Tak ajukan ke ortu. Ditolak? Gapapa... Manut wae. Mending kusimpan tenaga untuk tersenyum cantik nyalamin orang.... Dan menahan pegalnya berdiri beberapa jam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul. Manut saja. Yang penting sah. Oke, Dhes?

      Hapus
  4. langsung teringat kemarin ribut dengan emak soal pesta nikahan (padahal calonnya saja belum ada). aku maunya yang sederhana, nikah di kua terus makan makan sama keluarga di rumah makan yang ada pemancingannya itu, tapi emak ingin pesta yang meriah. akhirnya 3 hari3 malam ku diceramahi emak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. (( padahal calonnya belum ada ))

      Ributmu kok unfaedah sekali, seperti Besok Siang :))

      Hapus
  5. Dear Petinggi Besok Siang,
    Apakah kalau aku meniqah, kalian sudi datang ke pesta pernikahanku? supaya rakjat lainnya iri padaku.

    Salam,
    salah satu rakjat djelata Besok siang, calon Bedhes

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tentu saja mau. Kalau dikirim undangan dan uang transport.

      Salam,
      salah satu petinggi Besok Siang, sosialita manja kaya raya.

      Hapus