Dear Mahasiswa Jogja yang Jualan Bunga di Perempatan

Sumber: www.youtube.com

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi bersama dengan teman kampret saya ke suatu tempat. Berhubung teman saya ini kalau naik motor masuk angin, maka kami pergi naik mobil. Yang menyetir mobil tentu saja teman saya, lah wong saya itu ndoro. Kalau tidak salah ingat, kami perginya Minggu malam. Setiap malam Minggu atau Minggu malam, ya pokoknya hari libur begitulah, di Jogja sering ada pemandangan yang cukup menarik perhatian saya, yaitu mahasiswa yang berjualan bunga mawar di pinggir jalan atau perempatan lampu merah.

Waktu kami berhenti di salah satu perempatan lampu merah, tiba-tiba ada segerombolan mahasiswa yang berjualan bunga mawar mengerubungi mobil kami. BENAR-BENAR NEMPLOK KE MOBIL DAN MENGERUBUNGI SEPERTI ZOMBIE sambil mengetuk kaca mobil dan sayup-sayup kami mendengar mereka bilang, "Mbak, beli bunganya, Mbak. Beli, Mbak." Saya dan teman saya melambaikan tangan dari dalam mobil sebagai isyarat bahwa kami tidak ingin membeli bunga mereka. Tapi mereka itu ngeyil, tetap saja mengerubungi, "Mbak, beli bunganya aja satu, Mbak." Berulang kali saya dan teman saya menolak, tetap ngeyil loh tidak beranjak dari mobil kami.

DUA PEREMPUAN JOMBLO NGAPAIN BELI BUNGA MAWAR, COEQ? KOK ROMANTIS SEKALI.

Kejadian seperti ini nggak hanya sekali saya alami, waktu bersama Babe saya pun mobil Babe saya pernah dirubung mahasiswa zombie penjual bunga. Kalau Babe saya sih beli dan ketika saya tanya buat siapa dijawab, "Buat Mas Gyo." Baique.

Mahasiswa yang berjualan bunga seperti itu biasanya adalah mahasiswa yang sedang mencari dana, entah dana untuk acara kampus, tugas kuliah, maupun dana untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata). Yang saya bingung adalah kenapa sih mereka harus mencari dana dengan menjual bunga di perempatan lampu merah begitu? Jualan di perempatan, bawa orang sak ndayak koplak dan mengerubungi mobil orang seperti zombie. Kok unfaedah sekali. Besok Siang unfaedah itu tidak masalah, toh proyeknya Besok Siang bernilai milyaran rupiah. Lah, kalau jualan bunga?

Jualan bunga sih nggak salah ya, hanya saja tempat jualannya yang nggak tepat. Siapa sih yang butuh bunga di perempatan jalan? Ada lokasi lain yang bisa menjadi pilihan untuk berjualan bunga, misalnya saja di lokasi yang sedang diadakan acara wisuda. Kan biasanya pada so(k) sweet memberikan bunga ke temannya yang setelah sekian lama kuliah sampai lumutan akhirnya lulus juga. Semua orang yang berjualan tidak di tempat yang sesuai pangsa pasarnya ya jelas tidak laku. Dan lagi, KENAPA HARUS BERGEROMBOL SEPERTI ZOMBIE BEGITU? Dedek mahasiswa Jogja yang berjualan bunga untuk mencari dana dan membaca Besok Siang, tolong jawab pertanyaan Dek Mon di kolom komentar. Tolong.

Selain jualan bunga, mahasiswa pencari dana ini juga sering mengamen dari warung ke warung. Ada yang mengamen dengan bagus, ada yang biasa saja, ada pula yang nggilani. Yang nggilani menurut saya adalah yang mengamennya bawa orang sekampung dan suaranya tidak ada yang bagus sama sekali. Belum lagi kalau mereka jalan dari warung ke warung, NGEBAKI DALAN WAHAI DEDEK TERCINTA. Dan bayangkan lagi enak-enak makan tiba-tiba warungnya dikerubungi banyak orang, shumuk! Jogja itu sudah shumuk, Dek.

Sama hal-nya dengan menjual bunga, nggak ada yang salah dengan mengamen, lokasi mengamenya juga sudah tepat ya, yang salah adalah cara mengamennya. Yang pertama, kenapa harus mengamen beramai-ramai? Tidak efektif sama sekali. Kenapa tidak dibagi beberapa kelompok dan mengamen di beberapa tempat yang terpisah? Dengan begitu kan tidak akan terlalu mengganggu orang-orang di sekitar. Yang kedua, kenapa tidak latihan dulu sebelum mengamen? Saya dan teman-teman saya juga pernah mengamen demi mencari dana dan saat itu kami selalu latihan 1-2 kali sebelum mengamen. Yang ketiga, jika tidak bisa menyanyi ya kenapa harus mencari dana dengan cara mengamen. Masih banyak loh cara untuk mencari dana.

1. Berjualan rongsokan

Rongsokan yang saya maksud adalah kardus, kertas dan koran bekas, botol bekas, dll. Mantan tidak termasuk rongsokan ya. Berjualan rongsokan ini sangat menjanjikan loh! Saking menjanjikannya, setiap ada event saya selalu mengusulkan berjualan rongsokan ke tim pencari dana. Pernah paling banyak dapat Rp2.500.000,00! Haibat kan?

Langkah awal tentu saja dimulai dari mengumpulkan barang rongsokan di rumah masing-masing anggota panitia, jika masih kurang lanjut minta-minta ke teman yang lainnya. Masih kurang juga? MUTER KE PERKAMPUNGAN ATAU PERUMAHAN. Yang perlu menjadi catatan adalah jangan lupa izin dulu ke pihak yang berwajib jika memang dibutuhkan. Pihak berwajib yang saya maksud adalah pak/bu RT ataupun satpam perumahan yang bersangkutan. Selanjutnya setelah terkumpul banyak, dijual ke pengepul yang mampu memberikan harga paling tinggi.

2. Mengadakan garage sale

Ini versi classy dari jualan barang rongsokan. Yang paling gampang sih garage sale baju bekas. Daripada baju menumpuk di lemari dan tidak terpakai lebih baik dijual bukan? Dulu saya dan teman-teman saya biasa membuka lapak di Sunday Morning (pasar tumpah di Jogja setiap Minggu pagi di daerah UGM). Kalaupun merasa ribet mengadakan garage sale, bisa titip jual ke orang yang memang jualan baju bekas kok, nanti tinggal bagi hasil saja. Memang untungnya tidak terlalu besar, tapi ya daripada jadi zombie penjual bunga di perempatan.

3. Meminta belas kasihan dari para alumni maupun suatu perusahaan

Jika dana hasil dari "jalur mandiri" masih kurang juga, saatnya meminta belas kasihan dari orang lain. Sekali lagi bukan dengan cara: MBAK, BELI BUNGANYA, MBAK. TOLONG. Tapi dengan cara menyebar proposal permohonan dana ke beberapa perusahaan yang relevan dan juga alumni yang sekiranya banyak duitnya atau alumni yang sudah menjadi orang beken. Biasanya sih nanti akan diminta untuk presentasi singkat sesuai dengan proposal yang telah diajukan. Lumayan kan bisa belajar jadi tim marketing?

Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan dana, yang penting halal #benerinhijab, jangan ambil jalan pintas dengan nyewa tuyul. Tidak ada yang salah dengan berjualan bunga maupun mengamen, YANG PENTING TIDAK BERGEROMBOL SEPERTI ZOMBIE BEGITU LOH, DEK.

18 komentar:

  1. Anonim4/17/2018

    kalo dulu tim KKN ku yang poin 3, itu menyenangkan sekali mba. jadi melatih soft skill macam presentasi, buat proposal, FU dengan baik, dll. mungkin karna tim kami pada sibuk sama organisasinya masing2 dan pada ra konco kenthel jadi poin yang ketiga itu yang paling asique. tapi apapun itu sebenernya bagus2 aja, yo tapi bener apa kata mba e, kenapa harus di perempatan jalan?. kalo di cafe2 romantis yang bertebaran di Jogja emang tak bisa po?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, asique. Asique tapi ngeri2 sedap pas presentasi langsung ke owner. Paling enak kalau ada link "pintu belakang", hahahaha

      Hapus
    2. Anonim4/18/2018

      tul mba Mon, lebih mulus haha :D sayange kelompokku gak ada yang kenal (paling alumni) dan modal nekat, jadi ada yang tembus, ada yang enggak haha
      maaf ya mba, aku anonim, ada temenku yang dulu marahin aku gegara komentar soal mahasiswa2 yang jual bunga di perempatan, nek ketahuan komen neh wedhi disengeni meneh #habisiniketahuan

      Hapus
    3. Kamu ini loh. Takut kok sama teman. Mushrik.

      Hapus
  2. TERIMA KASIH SUHU MOMON YANG SUDAH MENYUARAKAN UNEG-UNEG TERPENDAM DALAM HATIKU. Sumpah sebel banget. Mbok yo mending dodolan risol mayo opo mendoan ning kampus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAH IYO. KULAKAN MENDOAN ANGET. ITUNG2 NGEWANGI IBUK BAKUL GORENGAN.

      Hapus
  3. Sumpah ketiga caramu mbak ku tahu kau lulusan anak Cerdas dan Humanis. Wkwkwkwkw. Aku bocahmu mbak mon. Jualan rongsokan sampe ngambilndi tong sampah kampus Njupuki botol bekas. Jualan garage sale sampai pasar nggodean subuh subuh. Salam cerdas dan humanis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyha, Dek Mon lulusan UCH. Universitas Cerdas Humanis. Lulusan terbaik. Haibat banget lah Dek Mon ini.

      Hapus
    2. Dan pasti wisudanya dilapangan yeee.... Wkwkwk.

      Hapus
    3. Tidak. Dek Mon wisuda di rumah. Rektornya yang nyamperin ke rumah 👌

      Hapus
  4. aq ga tau kalo kkn perlu dana sampek jual bunga. maklum ga pernah kkn 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau KKN memang butuh dana buat bikin program begitu, jadi butuh dana tambahan di luar dana dari kampus. Belum lagi kalau KKN ke luar pulau :D

      Hapus
  5. Apalah aku yang mahasiswi semester 4, belum KKN. Dan selama ini kupu-kupu aja 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. YANG PENTING PAS CARI DANA BESOK TIDAK MENJADI ZOMBIE.

      Hapus
  6. Wkwkw bar ngene onok perda pelarangan menjual bunga mawar di jalanan haha ajur kuwi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meh jualan apa aja nek di jalanan ya sebenere bahaya, meh bunga lah, koran lah. Bisa keserempet dan kepanasan (nanti kulitnya goshonk Beb!).

      Hapus
  7. Oh kirain yang jual bunga itu emang jualan permanen, ternyata cari dana ya mbak �� Baru ini tau mahasiswa cari dana dg jual bunga.

    Kalo di kampusku dulu ngumpulin koran bekas trus diloakin biar jadi duit. Selain itu, ada yg jualan makanan juga. Snack2 gitu pas penerimaan mahasiswa baru atau ya keliling aja pas jam maksi ke tempat mahasiswa2 nongkrong. Lebih laku drpd jualan bunga, dimakan ya ga bisa, dipajang kok ya nelangsa ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh nggak tau kota lain. Kalau di Jogja emang kebanyakan cuma buat cari dana gitu loh.

      Iya, enaknya dibagi beberapa tim. Ada yang jual koran, barang bekas, makanan, dll. Jadi biar cepet gitu dapet duitnya, hahaha

      Hapus