Jangan Ada "Mbok Uwis" Di Antara Kita

Sumber: www.selebtube.com

Saat ini saya memiliki dua masalah utama dalam hidup. Masalah yang pertama, saya harus bersabar menghadapi kebangsatan Arum yang mulai bulan ini sudah resmi tinggal di Jogja. Sejak pindah ke Jogja keiiyikannya bertambah berkali-kali lipat. Huampir setiap suaat dia bertanya tentang tempat nongkrong atau tempat makan atau tempat membeli pakan kucing di Jogja. Kalau saya lagi selo sudah pasti saya tanggapi, tapi ada kalanya saya sibuk atau lagi boker tapi nggak membawa HP. Sekarang kalau meninggalkan HP dalam waktu lama, di Whatsapp pasti sudah ada chat, "BRAH. KAMU KOK DIAM SAJA? SEPERTI ENTHUNG."

Tsk.

Mengganggu saja.

Masalah yang kedua adalah masalah Babe saya yang sedang penasaran dengan gadget, terutama smartphone. Huampir setiap huari Babe saya tanya tentang smartphone yang digunakannya.

"Ini kok temennya Babe di grup WA bisa bales omongan temen Babe yang lain kayak begini? Babe ya pengen begini."

"Ini caranya nyimpen nomer HP yang dikirim dari WA piye?"

"Nduk, kok menu-ne HP dadi awut-awutan ngene?"

YHUA.

Kalau untuk masalah ini, saya nggak berani bilang kalau Babe saya iy*k. Saya sensor karena saya takut menjadi batu. Kalau kata-kata yang saru malah nggak akan saya sensor. Karena yang saru nggak bakal bikin saya jadi batu, malah bikin ena~

Lanjut~

Suatu hari, Babe saya sambat (mengeluh) kalau pulsanya kok cepat sekali habis. Beli pulsa yang 100.000 baru dipakai telepon satu kali langsung habis, padahal katanya hanya telepon sebentar. Lalu saya bilang, "Ya, sudah protes saja ke CS-nya. Kapan? Tak temenin." Lalu Babe saya menjawab, "YHUA."

Sudah menjawab "YHUA" tapi keesokan harinya tiba-tiba laporan, "Babe sudah mengeluh ke CS-nya."

"Kenapa katanya?"

"Babe kan pakai dual SIM card, jadi pas paket internet di SIM card 1 habis, otomatis pindah ke SIM card 2. Makanya pulsa SIM card 2 jadi habis."

"WEH, YA NGGAK MUNGKIN OTOMATIS BEGITU. Wong di HP ada pengaturan mau pakai paket internet SIM card yang mana."

"Ha, tapi tadi katanya begitu kok."

"Ya, itu CS-nya bohong sama Babe. Mbuh bohong mbuh ra mudeng. Ayok balik lagi ke CS-nya, tak temenin."

"HALAH, MBOK UWIS."

Saya bingung. Babe saya itu pasrah atau sombonk ya? Saya kalau kelangan (kehilangan) pulsa 100.000 tanpa ada sebab jelas, pasti sudah mencak-mencak. Kan lumayan bisa buat beli kardus magicom, jadi tidak perlu lagi tinggal di rumah orang tua.

Saya sebal sekali kalau Babe saya atau siapapun itu bilang, "Mbok uwis." Padahal masih banyak cara yang bisa dilakukan. Kesannya kok seperti kalah sebelum berperang. Untuk masalah pulsa memang pulsa tidak akan kembali, tapi kalau dikonfirmasi lagi dan bisa mendapatkan penjelasan yang rasional dari CS-nya kan bisa lebih ayem (tenang). Di lain pihak bisa jadi bahan evaluasi untuk CS-nya kalau: PENJELASANMU RA MUTU, MBUAK.

Teman saya banyak yang seperti Babe saya. Saya pernah makan bersama teman-teman saya di suatu rumah makan, waktu itu kondisinya tidak terlalu ramai. Saya pesan sambal pete tapi yang datang sambal tomat. Pete sama tomat kan rasanya jelas beda ya, baunya juga bueda buanget. Saya bilang ke pelayannya kalau sambalnya salah. Kemudian pelayan tersebut mengambil sambal tomat untuk diganti dengan sambel pete.

Tak berapa lama pelayan (yang berbeda) datang dengan membawa sambal yang baru, yang dibawa adalah SAMBAL BAWANG. Saya protes lagi, "Saya itu pesannya SAMBAL PETE, Mas." Lalu sambal bawang-nya dibawa lagi untuk (harapannya) diganti sambal pete.

Teman saya bilang, "Mbok uwis, Mbak Mon. Wong sama-sama sambel, sambel bawang kan juga enak. Daripada nggak jadi-jadi makan."

(( MBOK UWIS ))

Bukan masalah enak atau tidak, permasalahannya adalah sambal tersebut tidak sesuai dengan apa yang saya pesan. Mintanya apa, dikasihnya apa, harus bayar pula. Tsk. Ya, kecuali mintanya cowok ganteng tapi menikahnya dengan cowok jelek, itu sih nasib, tidak boleh protes.

Saya itu takutnya begini loh, karena keseringan "mbok uwis", tidak mau ribet, tapi aspirasi nggak tersampaikan lalu ujung-ujungnya hanya bisa ngrasani di belakang. Ngrasani terus ujung-ujungnya benci.

"Kemarin aku makan di sana pelayanannya nggak bagus! Kuapoookk!!"

Ya, bagaimana pelayanannya mau bagus wong dikasih makanan yang salah nggak protes. Pegawai dan pemilik rumah makan sudah jelas merasa tidak ada yang aneh dengan rumah makannya. Sukanya kok memendam rasa tidak suka. Seperti tai saja, dipendam. Padahal siapa tahu pihak yang bersangkutan punya penjelasan tersendiri, "Maaf, Mbak. Yang tadi nulis menunya tulisannya nggak jelas. Tulisannya pete kebacanya tomat."

Sama hal-nya dengan pertemanan. Saya nggak suka dengan sifat Arum yang iyik, tapi saya diam saja, nggak menyampaikan ke Arum. TAPI SAYA NGRASANI ARUM KE TEMAN KAMPRET SAYA YANG LAIN. Kalau begitu caranya sampai Dek Mon punya cucu juga Arum bakalan iyik dan nggriseni. Ya walaupun kalau saya sampaikan ke Arum, keiyikannya tidak akan berkurang karena hukumnya adalah "Arum selalu benar."

Bajingan memang, seperti Mukidi, tapi ya begitulah Arum. Karena itu saya nggak ngrasani Arum ke teman kampret saya yang lain. TAPI SAYA TULIS DI BESOK SIANG.

Dulu saya juga tipe yang "mbok uwis", mungkin karena keluarga saya juga kebiasaannya seperti itu. Tapi setelah bergaul dengan Arum, saya jadi manusia tukang protes. Tsk.

Saya keluar saja dari tim Besok Siang bagaimana? Biar jadi orang yang lebih kalem dan nrimo.

Bagaimana?

12 komentar:

  1. Anonim4/24/2018

    Mbok Uwis disini aja mbak Mon, nek takdir e wes jd tukang protes dan tukang iyik di Besok Siang, Besok Sore, Besok Pagi, sampe Besok Ngising ya tetep wae podo ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yhua sudah. Uayo nguising buareng.

      Hapus
  2. Mbok uwis kalau sambal petenya ga jelas dan habis, diganti sambel kaviar aja, atau ganti sambel ayam salmon. nha gtu baru mbok uwis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sambelnya orang (( KAYA )). Cocok sekali untukku.

      Hapus
  3. Mbok wes ndang langsung rencana wingi pas arep neng tongkrongan dilaksanakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. YHUA UAYO KUAPAN. BUISANYA WEEKEND TUAPI.

      Hapus
  4. Aku paling ga bisa nrima hal2 yg injustice kyk gtu, ga bisa mbok uwis aja..smp gak datangi chef nya hotel bintang 5, mnt sup jamur,bayar mahal, yg dpt sup jamur kalengan biasa aku makan..terbakaaarrrrrr...
    Emmooossiii...
    Bhihihhik
    Smp2 sering di samperin manejer restoran krn aku ga terima ketidak adilan mrk..
    (Muka ku resting bitch syndrome, jd makin terlihat sangar klo marah)

    betul mbakdekmon, klo kita pendam trus ngomong di belakang, ya ndak guna..servis nya jg ga bakalan improve ya tah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku pernah debatnya sama manajer keuangan suatu hotel, hahahaha. Gara2 service-nya menyebalkan. Tyda terima akutu~

      Hapus
  5. Ah mbak mon! Ini persis sama yang pernah aku tulis. Apalagi jaman2 kuliah dulu karena di dominasi cowo, temen2 ceweku pada ga berani "bersuara". Isone sambatan tok nang mburi. Lakyo mending le sambatane dewe. Sambatnya ki malah ngajak2 kan males ya mbaak. Ha wong saya ga kaya mereka kok.

    #shombonk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal kalau sambat thok nggak bakal merubah apapun ya. Sebenernya karena ngerasa nggak enak mengutarakan ke orangnya langsung dan memang ada beberapa tipe orang yang bikin kita malas untuk menyampaikan pendapat. Tapi, kadang aku luweh aja sih. Hahahaha..

      Hapus
  6. ya ampun ketinggalan banget baca besok siang biasanya selalu on time baca blog unfaedah ini.
    btw, tumben mba mon bahasa jawanya dikasih translate gitu jadi makin seneng bacanya gak perlu mikirin arti. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kamu itu mudah dibahagiakan ya. Bagus.

      Hapus