Ketika Bobok Bersama Kau Anggap Tidak Ada Artinya



Apakah kamu pernah punya teman yang berteman hanya berdasarkan situasi? Jadi, selama ini kamu mengira kalian sungguh berteman. Eh...tapi begitu “situasi” yang dimaksud sudah berubah, perlahan dia menghilang, tenggelam, dan larut bersama debu di lautan.

Aku memang tipe yang bisa ngobrol sama siapa saja. Tapi jaraaaaaaang sekali jadi akrab dan bisa mengatakan seseorang itu sahabat, sahabat yang saking akrabnya bisa dianggap saudara sendiri walaupun beda orang tua. Saking deketnya, kami sering nginep bareng alias pajamas party.

Aku baru merasa punya sahabat sewaktu kuliah. Tahun 2009 aku masuk kuliah dan bertemu satu orang teman, yang ternyata bertahan jadi sahabat sampai sekarang. Lha yang lain, gimana? Yha baik-baik saja. Banyak yang jadi temen kok. Cuma seiring berjalannya waktu, semakin tersaring, mana yang niat temenan dan mana yang tidak, siapa yang tulus dan siapa yang ada udang di balik bakwan, dan seterusnya.

Heran adalah reaksiku, ketika melihat orang yang aku panggil sahabat tiba-tiba memutuskan kontak, padahal tidak pernah terjadi masalah sebelumnya. Dia bersikap pura-pura tidak kenal, padahal sudah pernah nginep-nginepan. Lha jadi selama ini dia pikir nginep-nginepan itu tidak ada artinya yhua? Aku kan jadi baper.

Cerita ini berawal ketika aku mengambil kuliah profesi, setelah lulus S1. Kehidupan koas mengharuskanku sering bertemu dengan teman sekelompok, yang lama-lama jadi akrab dan dekat. Awalnya kami berenam, lalu lama-lama mengecil jadi berempat.

Yang pertama keluar dari grup chat karena sudah beda kelompok. Lalu yang kedua, karena dia tukang bohong. Yha kan kalau berteman harus jujur. Ini ngakunya tidur, eh taunya jalan sama gebetan yang katanya nangis minta ketemu karena mau curhat. Pas aku datengin, dia meninggalkanku untuk mendatangi gebetannya. Padahal aku sudah pesen makanan, tapi dia bilang mau pergi saja karena sudah kenyang. Dan ternyata dia malah makan di KFC sama gebetannya. Khan malesin.

Singkat cerita tinggal sisa kami berempat, yaitu aku, Ade, Sisi, dan Vivi. Nah, Sisi dan Vivi ini lulus duluan, tapi Sisi yang pertama kali menjauh. Pertama dia pindah kos diam-diam. Chat di grup tidak pernah direspon, chat pribadi juga dicuekin. Lalu waktu mau dikasih oleh-oleh, eh dia kabur, tapi nyuruh gantungin oleh-olehnya di depan pintu kosnya. Habis itu chat gak direspon lagi. Khan kurang ajar.

Puncaknya saat dia posting sebuah foto dia bersama gengnya dengan caption bahwa dia bangga punya teman-teman satu geng, dan secara tersirat bilang bahwa gengnya tersebut membanggakan secara akademis.

Lha piye jal? Kami waktu itu tidak iri sama teman satu gengnya yha. Heran saja, kok dia tiba-tiba begitu, tanpa ada angin tanpa ada hujan. Kenapa tidak iri? Karena memang kami berempat sebelumnya bukan geng kok. Awalnya kami ini satu kelompok koas, yang kebetulan akhirnya deket. Yang saking deketnya, aku kira kami sudah melewati fase sahabat. Jadi aku kira tidak ada dusta di antara kami. Kami sih tidak iri kalau masing-masing dari kami memang punya temen-temen lain. Karena apapun yang terjadi, kami tetap sahabat. Tapi ternyata aku salah.

Aku, Ade, dan Vivi sempat meratapi perubahan itu. Akhirnya memang sisa kami bertiga di grup aplikasi chat itu. Tapi baru beberapa bulan berlalu, si Vivi mulai mengeluarkan gelagat yang sama seperti Sisi. Bedanya si Vivi ini masih lebih alus, yaitu chat tetap dijawab, tapi dalam masa kerja dua hari sampai seminggu kemudian. Lama amat yha? Ketika dia pindah ke Jogja pun, dia masih pamitan walaupun mendadak bilangnya, sampai aku dan Ade tidak sempat mengantar kepergiannya di bandara.

Puncaknya ketika hari ulang tahunnya, pada bulan September 2017. Aku dan Ade mengirim sebuah hadiah. Sampai hari dia menerima hadiah itu, tumbenan dia bales chat-nya secepat kilat. Yha kami memang tau dia aktif di socmed, walau jarang balas chat. Tapi entah kenapa, kami memahami saja, mungkin dia sibuk mikir buat jawab chat di grup yang ngalor-ngidul nggak penting itu. Walaupun chat pribadi dia cuekin, tapi kami berusaha tidak sakit hati. Karena yha gak semua orang stand by bawa handphone kemana-mana khan? Singkat cerita setelah hadiah dia terima, dia tidak mengucapkan terima kasih secara pribadi, tapi malah pamer di instastory. Sampai-sampai aku yang kirim paketnya aja nggak tau kalau paketnya sudah dia buka lho!

Setelah hari itu, dia tidak pernah tertarik lagi menjalin pertemanan dengan aku dan Ade. Bahkan ketika aku baru melahirkan, dia tidak mengucapkan selamat. Aplikasi chat BBM di delete contact. Instagram suamiku dan mamaku, serta punya Ade, di-hide dari viewers instastory dan Whatsapp story-nya. Penting sekali khan, sampai suami dan mamaku saja dia hide dari instastory-nya?

Kecewa. Tapi karena aku ksatria, walaupun LINE dan Whatsapp dia block, aku mengirim pesan melalui SMS. Dua bulan setelah melahirkan, kuketik SMS panjang lebar, yang isinya menanyakan mengapa dia begitu, dan terakhir kuucapkan semoga hidupnya bahagia selalu. Walaupun terkirim, tapi dia tidak pernah membalas SMS itu. Khan semprul! Kalau sudah tidak cocok berteman, ya sudah! Tapi tidak perlu diam-diam begitu. Harus jujur saja, karena khan kami pernah pajamas party bersama, yang artinya deket sekali. Toh kalau dia tidak suka berteman lagi, kami juga tidak memaksa. Sedih sekali rasanya kehilangan orang yang pernah kuanggap sahabat bahkan saudara sendiri. Aku berusaha mencari jawaban, namun tak ku temukan *dih*.

Ternyata Vivi dan Sisi adalah seorang yang oportunis.

Menurut KBBI, oportunis adalah:

oportunis/opor·tu·nis/ n Pol orang yang menganut paham oportunisme

Asumsi saja, mungkin dia tidak suka berteman dengan aku dan Ade, karena tidak sealiran dengannya. Atau ya pertemanannya selesai seiring bubarnya kelompok koas (oportunis). Tapi jawaban singkat yang bisa ku ambil adalah, ternyata orang yang berteman hanya karena dipaksa oleh situasi itu memang ada. Seiring berjalannya waktu, bukan cuma sekali atau dua kali bakal kita temukan. Bahkan banyak yang suka nge-geng untuk nilai prestisius. Walaupun sebenarnya tidak seakrab itu, tapi kayak’e keren ngunu lho, kalau pamer di socmed.

Mantapkan hati saja, karena jika itu memang sahabat, dia akan teruji sendiri. Kalau bukan sahabat, ya berarti teman saja. Kalau masih tidak berteman, ya mungkin takdirnya hanya sebatas kenalan saja. Yha asal tidak kurang ajar saja. Kalau kurang ajar sampai menyakiti hati berkali-kali, berarti dia tidak pantas jadi teman.

Atau mungkin pembaca Besok Siang ada pendapat lain dari curhatan baper ini? Boleh saja, aku tidak gampang tersinggung kok.

Sesekali bahasan di Besok Siang agak serius nggak apa-apa khan?

Salam hangat,

C



*Dek Mon akan menanggapi tulisan para pelacur jika tiba giliran Dek Mon menulis atau ketika Arum (( MALAS )) menulis.

**Dek Arum akan menanggapi lacuran ini. Dek Arum tidak pernah malas. Yang edit tulisan ini saja pada akhirnya Dek Arum, padahal seharusnya ini jatahnya Dek Mon.

10 komentar:

  1. Ya, itulah mengapa, seperti halnya mbak Arum, saya juga lebih senang mengobrol dengan kucing, anjing, dan tembok. Untuk mbak C, mungkin lain kali bisa dicoba mengobrol dengan tembok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku ngobrol sama kamu apa boleh?

      Hapus
    2. Pasti boleh lah. Dek Mon kan sejenis suket-suketan

      Hapus
  2. Aku merasa ada yang tidak diceritakan oleh Mbak C. Ya bukan berarti Mbak C ini harus menceritakan segalanya sih, tapi rasanya cerita ini nggak lengkap aja.

    Mbak C, masak nggak terbersit kira-kira kenapa mereka menjauh? Kira-kira aja deh. Kenapa gitu. Ada kejadian apa? Kapan mulai menjauhnya dan pas itu ada apa? Adakah drama di antara kalian sebelumnya?

    Sebeda apapun sekelompok sahabat, kalau mereka solid berarti ada setidaknya satu kesamaan. Kalau nggak ada kesamaan sama sekali? Nggak mungkin tetep bareng, pasti bubar. Kesamaan ini banyak jenisnya ya, bisa dari satu kelas, bisa satu fandom, bisa sama-sama korban si Mukidi (eh), atau bisa juga satu prinsip misalnya selalu jujur blak-blakan satu sama lain, dll. Mungkin kelompok sahabat ini kesamaannya cuman satu kelompok koas aja.

    Jadi...let it go.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Mukidiku dibawa2, aku kan jadi gatel ingin ikut komen.

      Satu hal yang paling terlihat dari lacuran ini adalah statementnya yang sebagian kontradiktif. Khas orang curhat memang. Banyak yang curhat karena ingin (( dibenarkan )) jadi secara nggak sadar bakal ada beberapa bagian cerita yang miss atau bahkan kontradiktif. Contohnya saja bagian Sisi selfie bersama teman2nya yang lain. Bilang tidak iri dengan teman2nya itu tapi kok sebal. Kalau tidak iri ya biarkan sajalah selfie dengan siapapun. Mau membanggakan kucing peliharaan juga tidak jadi masalah.

      Wah panjang.
      Tulis di postingan yang lain saja ah.

      Hapus
  3. Sebenernya aku kurang mashook dan tidak bisa bersimpati dengan curhatan ini. Lha masa teman lagi PDKT dan lebih memilih makan bersama gebetannya saja dibaperi. Aku dulu kalau PDKTan juga diam-diam begitu sih, tidak bilang-bilang. Kalau konangan ya muk DIPLEKOTO begitu diece-ece, tidak dibaperi atau dibilang (( PEMBOHONG )).

    Mungkin hal-hal begitu juga yang bikin temannya pergi ya? Habis pertemanan kok mengikat sekali, melebihi pacar saja ^^.

    BalasHapus
  4. Aku lebi ke penisirin kenapa Sisi dan Vivi harus dicari, ? Bantu po'o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena Vivi dan Sisi adalah koentji dari cerita yang sengaja dihilangkan oleh mbak C. Seperti yang dibilang mbak Arnindhita Lei di atas, memang seperti ada yang miss dalam curhatan ini. Misalnya:
      1) Kenapa diam-diam makan bersama gebetan di KFC kok seperti sebuah kesalahan besar?
      2) Mengapa selfie bersama teman-teman lain selain mbak C itu menjadi masalah?
      3) Mengapa pada akhirnya Vivi dan Sisi memilih pergi?

      Ibarat pasangan putus, pasti ada cerita dari masing2 sisi.

      Hapus
  5. Saya adalah perempuan, perempuan suka diseriusin daripada digodain. Jadi saya akan berpendapat dengan serius. Menurut saya, C ini kecewa karena pada intinya
    1) Merasa diapusi.
    Nanya ke mbak Kedua, lantas mbak K bilang tidur, eh tibakno jalan2 makan2 ma gebetan. Kenapa ga bilang "C, aku lagi pdkt ama Mukidi, sakwayah-wayah aku mau jalan-jalan dan makan-makan kalau Mukidi ngajak. Jangan ujug-ujug datang main ke aku ya, ntar malah ngganggu aku".
    Seharusnya sih mbak K kalau ditanya boleh main ke kosnya atau ga, tinggal jawab gitu, mudah, simpel dan ga ribet. Dan mbak C juga kudu tau diri kalau K udah menjawab begitu, ya jangan main, mampir apalagi membawakan makanan ke K tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bikin rempong dan nggegirisi tau ga kalau mau main aja pakai acara maksa.
    2) Pindah kos diam-diam.
    Adalah hak menurut saya. Ngapain juga pindah kos harus pengumuman? Emangnya situ mau urunan mbayari kos? atau mau bantu ngepel kos? Nek saya malah seneng ada teman kos yang pindah ra omong-omong, ndak malah kon ngrewangi usung-usung, adek bisa lelah bang.. Masih bejo disuruh ngrewangi usung-usung, lha kalau disuruh nutup tanggungan bulanan kosnya dia rak malah luwih mangkelke? Kecuali kalau ada kepentingan, ya silakan aja ngabarin teman, saudara, tetangga kalau mau pindah kos, sekedar sopansantunlah. Siapa tau ada yang cari Sisi mau kasih Avanza tapi gatau kalu Sisi udah pindah kos. Kan kasihan tuh Avanza-nya.
    3) Kasih oleh-oleh, yang dikasih kabur.
    Bukan salah si Terkasih kalau dia kabur, memangnya dia tau kalau mau dikasih oleh-oleh? Kalau ga bilang dulu mau ngasih, ya jelas gatau ya kan? Atau mungkin Terkasih ga suka oleh-olehnya jadi pilih menolak dengan halus dengan cara kabur. Tapi sebagai Pengasih oleh-oleh yang baik dan tulus, tentunya Pengasih harus ikhlas, sabar, tawakkal dan tanpa pamrih saat mengasih oleh-oleh tersebut. Lha masalahnya adalah, Pengasih mau ngasihken oleh-oleh kok kudu ketemu yang Terkasih? mau ngasih oleh-oleh apa jumpa fans?
    4) C yang baper dan terlalu ngarep-arep vs Vivi yang ga sopan tapi tukang pamer.
    Memang sebagai manusia biasa, adakalanya kita menunjukkan rasa kasih sayang persahabatan dengan memberikan hadiah kepada teman atau sahabat. Dan sebagai manusia yang beradab, kalau kita dikasih hadiah (khususnya yang kita sukai) ya wajarlah mengucapkan terima kasih ke pemberi, bukannya nerima dan diam aja, tapi malah pamer di instastory. Kan wagu to? emang yang ngasih hadiah insta-nya? C ini mungkin mengharap semacam pengakuan kalu dia yang ngasih hadiah, tapi malah Vivi-nya ga peka. Ya sudah nasibmu kalau itu mbak C, ikhlasin ajahadiahmu dan gausah berharap terima kasih ke Vivi daripada kamu sedih.

    Di antara kebingungan yang beragam ini, saya akhiri pendapat saya. Sekian.

    BalasHapus