Menjadi Teman Bobok Bersama Yang Lebih Santai

Rakyat Besok Siang yang budiman (dan budiwati),

Sebelum membaca tulisan saya kali ini, perlu diketahui bahwa ini merupakan tanggapan atas curhatan mbak C pada post yang berjudul: "Ketika Bobok Bersama Kau Anggap Tidak Ada Artinya". Bila ingin lanjut membaca post saya ini, sebaiknya membaca post tersebut dulu. Bila tidak mau membaca post yang itu, sebaiknya tidak usah lanjut membaca post ini. Hal ini saya sampaikan agar kalian semua nyambung dan tidak ngah-ngoh.

Saya sengaja membuat tulisan kali ini dengan sangat hati-hati dan menggunakan bahasa yang sesopan-sopannya, agar tidak disalah artikan sebagai mem-bully. Saya menyampaikan pendapat saya ini, bukan untuk menjatuhkan mbak C selaku pelacur (pelaku curhat). Melainkan ini semua karena saya (( SHAYANK )) terhadap mbak C, dan tidak ingin mbak C terperosok lebih dalam lagi.

(( Memberi waktu kepada rakyat untuk membaca postingan sebelumnya.. ))

sumber: liputan6.com

Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap mbak C, saya harus mengakui kalau saya kurang mashook dan tidak bisa bersimpati terhadap cerita mbak C. Mungkin karena dunia kita berbeda. Sahabat-sahabat sayatu tipikal orang-orang yang "low maintenance". Dan mungkin juga merupakan tipikal sahabat yang akan dibilang "oportunis" oleh mbak C. Nggak perlu dielus-elus sepanjang waktu, dan kalau lagi jeleh ya bisa saja nggak dihubungi dalam jangka waktu yang lama.

Saya nggak membayangkan kalau orang tipe saya berteman dengan mbak C. Ketika saya sedang mumet dengan pekerjaan, dan tidak ingin berbicara dengan manusia lain (yang bisa terjadi dalam jangka waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan), eh...malah digregeli. Ditanya "kenapa kamu menjauh?", lalu "kalau ada salah aku minta maaf.", lalu didatangi, lalu dibelikan makanan yang saya bahkan nggak pesen. Saya pasti ya bakalan MUNTABER.

Yang semula saya ngenthung karena memang sedang sibuk saja, atau karena butuh waktu sendiria, karena digregeli jadi gilo dan akhirnya menghilang betulan. Apa mungkin itu yang terjadi pada mbak Sisi dan mbak Vivi?


Saya mencoba berada di sisi temannya mbak C. Dan saya paling merasa kesal dengan yang ini:
"...Lalu yang kedua, karena dia tukang bohong. Yha kan kalau berteman harus jujur. Ini ngakunya tidur, eh taunya jalan sama gebetan yang katanya nangis minta ketemu karena mau curhat. Pas aku datengin, dia meninggalkanku untuk mendatangi gebetannya. Padahal aku sudah pesen makanan, tapi dia bilang mau pergi saja karena sudah kenyang. Dan ternyata dia malah makan di KFC sama gebetannya. Khan malesin."

Menurut saya, berteman itu nggak harus selalu jujur kok. Dalam artian, ini tipe kebohongan yang nggak merugikan siapa-siapa ya. Bahkan sebenarnya nggak ada kaitannya dengan mbak C. Kan hak masing-masing orang, mau bercerita atau enggak tentang hal-hal yang sedang dialami atau dirasakannya.

Nggak semua hal bisa diceritakan ke orang lain. Jangankan ke teman, bahkan ke suami sendiri kadang juga ada hal yang nggak bisa diceritakan. Dan ada lho, tipe orang yang memang nggak nyaman woro-woro kalau sedang PDKT. Saya salah satunya. Dulu, kalau saya sedang punya calon pacar potensial, saya biasanya diam-diam saja. Bahkan sudah jadian pun, kadang saya juga nggak langsung bercerita. Kalau konangan, biasanya ya dipoyoki begitu sama teman-teman saya. Di-jie-jie dan diplekoto tak berkesudahan. Tapi nggak pernah tuh, sampai dibaperi dan dicap pembohong.

Dan mbak C terbayang tidak, orang sedang asik ihik-ihik, malah diganggu, didatengi, dipesenin makanan, dibaperi. Lha kok kayak ponakan saya yang masih batita, yang nggregeli nggak mau ditinggal pas ayah-bunda-nya sesekali pengen yank-yank-an berdua saja? Apa mbak C ini ketika peristiwa tersebut sedang jomblo akut seperti dek Mon, yha? Jadi suka panas gitu, kalau melihat orang yank-yank-an.

Tega banget sih kamutuuu, mbak C. Mbok ya pengertian temannya sedang kasmaran. Dan kadang kalau lagi kasmaran, memang lebih asiktu menyimpan sendiri rasa yang ada.


Keanehan yang kedua, adalah ini:
"Puncaknya saat dia posting sebuah foto dia bersama gengnya dengan caption bahwa dia bangga punya teman-teman satu geng, dan secara tersirat bilang bahwa gengnya tersebut membanggakan secara akademis."

Saya merasa, mbak C ini posesif sekali dengan teman-temannya. Saya nggak pernah ada masalah lho, ketika teman dekat saya punya teman dekat atau squad lain. Malahan rasanya kok wajar-wajar saja ya? Berteman kan bukan pacaran. Temannya punya teman dekat atau sahabat lain, yha nggak papa sih. Lain soal kalau pacar punya pacar lain, itu namanya selingkuh. Dan lagi, apa yang salah sih dari membangga-banggakan gengnya yang oke secara akademis? Atau nggak boleh ya? Maunya temannya cuma boleh bangga sama mbak C, begitu?


Lalu yang ketiga:
"...Kalau sudah tidak cocok berteman, ya sudah! Tapi tidak perlu diam-diam begitu. Harus jujur saja, karena khan kami pernah pajamas party bersama, yang artinya deket sekali. Toh kalau dia tidak suka berteman lagi, kami juga tidak memaksa."

Paragraf di atastu kontradiktif. Kalau "ya sudah", ya artinya ya sudah. Nggak perlu diratapi. Lagi pula menurut pengalaman saya, teman yang menjauh secara baik-baik ya prosesnya memang diam-diam begitu. Lama-lama terpisah karena jarak atau kesibukan masing-masing. Karena kalau nggak diam-diam, jadinya itu malah nggilani lho.

Bayangkan skenario ini. Saya tau-tau datang ke rumah dek Mon, lalu bilang, "dek Mon, dek Arum sudah tidak mau lagi berteman denganmu. Tolong jangan hubungi dek Arum lagi sampai kapanpun." Aneh, kan? Tidak natural begitu lho. Dek Mon pasti juga akan menjawab, "kowe ki ngemeng epeh? Yang mau menghubungimu tu ya sapa?" Dan saya malah malu sendiri. Apa mbak C ini maunya didatangi dan ditegaskan kalau mbak Sisi dan mbak Vivi sudah tidak mau berteman lagi? Kok seperti pacaran saja, harus ada katakan putus.


"Heran adalah reaksiku, ketika melihat orang yang aku panggil sahabat tiba-tiba memutuskan kontak, padahal tidak pernah terjadi masalah sebelumnya."

Nggak perlu heran kalau ada teman nginep-nginepan yang memutuskan kontak. Jangankan teman yang nginep-nginepan, bahkan teman yang tititnya masuk-masuk saja sering kok memutuskan kontak. Rak lebih perih to? Tanya saja ke dek Mon bagaimana perih-nya. Kalau saya memang tidak berpengalaman dalam urusan pertititan ini.


Yah, pada akhirnya, saya ingin mengajak mbak C untuk lebih rileks dalam menjalani "persahabatan". Kalau suatu saat menemukan sahabat lagi sebagai pengganti mbak Sisi dan mbak Vivi, coba perlakukan dengan lebih santai. Hilangkan sifat posesif dan cemburuan itu.

Kalau temannya sedang ingin bersama gebetan, pacar, keluarga, atau teman dekat yang lain, atau bahkan sedang ingin sendiri, ya biarkan saja. Kasih waktu lah. Sementara itu, mbak C mungkin bisa memperluas pergaulan dengan teman yang lain juga, atau quality time bersama keluarga, atau me time mengerjakan hobi.

Kalau temannya tidak ingin berteman lagi dengan mbak C selama-lamanya, ya sudah, biarkan saja. Nggak semua orang itu harus mau berteman dengan kita kok, mbak. Nggak perlu lah "ngemis-ngemis" meminta maaf, SMS atau whatsapp atau telpon berkali-kali, mendatangi, mesenin makanan lalu sakit hati sendiri ketika makanan pesenanmu tidak diterima. Ibarat kata orang sudah bosan atau sudah tidak suka, makin dikejar-kejar kan ya bukannya senang, malah makin muak.

Dah, santai ya, mbak C. Niscaya kalau mbak C lebih santai, hati juga bakalan lebih tenang, pikiran lebih jernih, aura lebih positif, dan orang-orang di sekitar akan lebih (( SHAYANK )) dan nggak meninggalkan mbak C.

6 komentar:

  1. Setujuuu shay..intine sing woles wae,...jangankan bertemen, pacaran pun kalo si laki diem2 menjauh kita akan tau diri... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yha. Woles saja lah intinyatu.

      Hapus
  2. Pernah di posisi itu. Digeruduki chat dari berbagai macam pihak karena ku sudah menyingkir dari kehidupan temanku. Bukan karena benci tapi ku tak bisa memaksakan pertemananku. Kalo kata orang yang sedang yank-yankan, aku sudah ilfeel. Jadi mau gimanapun dipaksa buat deket lagi akutu ga bisa. Ya gitu sih, temen jangan posesif. Wong temennya udah ga nyaman kok malah dipaksa. Siapa suruh dulu bikin ga nyaman? Siapa suruh menyinggung prinsip dan urusan pribadi? Ga selamanya harus bersama. Bila bersama hanya meninggalkan luka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat menempuh hidup baru

      Hapus
  3. Anonim9/05/2018

    Ku pikir mbak C ini Mgkn dia hanya shock aja. Secara dulu sering kontakan. Trs tb2 putus kontak. Tapi ak gktau sih diam dan putus kontaknya spt apa. Aku pun punya temen yg jaman dulu sering bgt kontakan .Trs skrg udh ga pernah. Smua brubah karna hidup kami jg brubah. Dia krja di luar pulau, berumah tgga dll. Tapi sesekali kita msh kontak just say halo apakabar wlpun kmudian ya obrolannya menguap smpe disitu saja. Dan ak pikir itu wajar. Karna smkin ke sini ya org sibuk dgn urusan masing2 dan lingk hidupnya pun ikut berubah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm...shock-nya terlalu panjang dan lama. Maksudnya sudah ada pengalaman serupa sebelum2nya. Lalu kejadian juga sudah lama berselang. Makanya kami dari Besok Siang berusaha mengajak mbak C untuk "bangun" dan mulai menerima keadaan. Tida terlalu lama terpuruk dalam syok tadi itutuuu.

      Hapus