Debat Perdana Capres-Cawapres 2019: Cukup

Saya sebenarnya bingung mau nulis apa hari ini. Tapi sebagai warga negara yang baik, saya akan merangkum Debat Perdana Capres Cawapres 2019 semalam. Debat pertama ini fokusnya adalah penegakan hukum dan HAM, serta pemberantasan korupsi dan terorisme. Mantab, bukan?

Pertama, kita lihat dulu para pasangan calon. Pasangan calon nomor urut satu adalah Ir. H. Joko Widodo dan Dr. K. H. Ma'aruf Amin. Mereka sama-sama menggunakan baju putih-putih, cieee couple-an cieee, dan visinya: "menawarkan optimisme, akses terhadap pendidikan, dan akses pelayanan kesehatan. Berkomitmen menyelesaikan pelanggaran HAM di masa lalu meskipun tidak mudah". Oke, nais. Lalu, "Penegakan hukum yang tegas untuk memberantas korupsi. Dan waspada terhadap terorisme". Yaksiplah, Pakde dan Pakyai.

Lalu pasangam calon nomor dua adalah Letjen H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Uno, B.B.A., M.B.A., yang membawa visi misi INDONESIA MENANG. Bla bla bla pokoknya gaji pejabat dan PNS seharusnya naik untuk mencegah korupsi dan untuk....solusi semua-muanya. Maaf segmen ini kurang jelas karena saya sambi makani kocheng. Pak Prabs dan Bang Sandi mengenakan setelan jas rapi, lengkap dengan dasinya. Bang Sandi tampak uwuwuwuwuw~.

Ehm...maaf, uwuwuwuwuw~ saya bukanlah pernyataan sikap politik.

Mari kita lanjutkan.

Langsung melompat ke pasangan calon nomor 10, Nurhadi-Aldo. Tidak perlu berpanjang-panjang, karena poster mereka telah menjelaskan segalanya.


Oh iya, jelang debat, paslon nomor dua sempat mengajukan perubahan visi-misi, namun ditolak oleh KPU. Lagian sih, plin-plan. Tapi saya paham perasaanmu, Pak Prabs. Dua hari yang lalu saya membeli foundation dari sebuah toko online terkemuka begitu. Setelah memilih dan sudah terlanjur transfer, eh saya malah galau kepengen ganti shade. Jadi saya menghubungi online shop tersebut dan mengajukan ganti barang. Tapi sama online shop tersebut, permintaan saya ditolak. Akhirnya foundation-nya saya jual lagi deh. Buat yang tertarik boleh buka instagram saya @racunwarnawarni, di highlight yang judulnya "preloved".

***

Nah, kita masuk ke debatnya ya. Menurut Pak Prabs, permasalahan hukum, HAM, dan terorisme di Indonesia harus diselesaikan dari (( MUARA )) masalahnya, yaitu dengan menaikan gaji para pejabat yang berwenang dan hakim, sehingga tidak tergoda bila disogok.

Sebentar, Pak Prabs. Muara itu adalah tempat berakhirnya aliran sungai. Apa tidak lebih baik bapak pakai istilah Hulu saja?

Pak Prabs juga menanyakan mengenai ketimpangan tindakan hukum. Kasusnya, ada kepala daerah yang mendukung Pak Prabs, dan ditangkap. Sementara ada kepala daerah yang juga menyatakan dukungan kepada Pakdhe Wiwi, tapi tidak diapa-apakan. Tsk...kok tidak adil?

Pakdhe pun selak,"Jan nuduh kamutu, Prabs! Ini negara hukum. Semua ada prosesnya secara hukum." Terus Pakdhe juga membuka kisah lama mengenai seorang pendukung Pak Prabs yang mukanya bengep-bengep, ngakunya sih dipukulin, eh...tenyata operasi plastik. Pakdhe gitu amat ya, padahal sebenernya nggak penting juga itu dibahas. Untung Pak Prabs nggak mutung, lalu pulang dan operasi plastik.

"Apakah Pakyai mau menambahkan?"

Pakyai: "..........................................."

Lalu, dari pak Prabs yang saya inget, beliau berkali-kali mengatakan akan menaikan gaji si ini dan si itu. Yang saya tangkap, kalau menurut Pak Prabs sih, segala akar masalah korupsi dan terorisme itu adalah gaji yang kecil. Hmm...saya sempet kepengen jadi PNS karena nonton debat semalam itu. Karena revolusi gaji tentu lebih menggiurkan daripada revolusi mental, bukan? Tapi lalu saya sadar kalau saya kan tidak suka manusia. Sementara jadi PNS itu harus kantoran dan setiap hari bertemu dengan manusia.

Di lain pihak, solusi yang dipaparkan oleh Pakdhe terdengar lebih taktis, dengan pelaksanaan program antiteror dan pembubaran ormas-ormas berideologi anu. Seandainya Besok Siang adalah ormas, apakah akan dibubarkan juga ya oleh Pakdhe? Karena Besok Siang juga agak anu.

Yang bikin saya agak maju ke depan televisi adalah, statement Pak Prabs ketika menanggapi pertanyaan terkait beberapa caleg Gerindra yang merupakan eks-napi korupsi, "...korupsinya mungkin tak seberapa. Kalau trilyunan harus ditindak."

Kok seperti Mukidi dan Momon saja, yang enaknya mungkin tak seberapa, tapi ngomongnya kemana-mana. Kzl sayatuuu! Korupsi mah beda sama ena-ena. Mau besar atau tak seberapa, ya mentalnya tetep maling uang negara dan memanfaatkan jabatan dong ah, Bapak. Grujukin foundation juga nih :|.

Tapi ya mungkin karena ini masih debat perdana, makanya paslon nomer dua masih (( GROGI )) begitu. Siapa tahu debat selanjutnya bisa lebih baik performanya.

Kalau menurut Pakyai, "...........................................".

Kalau Bang Sandi mah terserah mau ngomong apa, tetep uwuwuwuwuw~.

***

Mongomong setelah sesi ini saya pipis, Gaes. Lalu setelah pipis, saya dihadang oleh ibu mertua dan tante saya yang sedang bergosip: "eh, kancamu si J kae sidane meh kawin karo B wong Mancasan kene yha?"

Saya pun berhenti untuk menjawab dan sekaligus berharap mendapatkan asupan ghibah lebih lanjut, "Iya'e. Katanya sih Oktober kemarin. Tapi kok mundur ya.."

"Padahal pacarannya lama sama orang Turi, kok nikahnya sama B?"

"Ohhh...itu. Jadi begini lho, Buk. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya..."

Baiklah waktu saya percepat. Karena pembaca Besok Siang tidak perlu tahu gosip lokal Mancasan. Selesai bergosip saya kembali ke depan televisi.

***

"...dipersilahkan kepada para paslon untuk memberikan kata penutup yang menyejukan, dan kalimat apresiasi untuk pihak lawan." Begitu kata mbak Ira Koesno setelah saya selesai pipis.

Dan kemudian dilanjutkan dengan kata-kata penutup dari masing-masing calon yang tidak perlu dituliskan di sini, karena menurut saya hanyalah e'ek bantheng belaka.

Setelah itu,


Mbak Ira: "Paslon satu, mau menambahkan kata-kata tentang kebaikan lawan anda?"



Pakdhe: "Cukup!"



Pembaca Besok Siang: "Ah, Besok Siang nggak netral nih!"



"CUKUP!"


Tidak membayar kok iyik mau mengatur-ngatur pandangan politik penulis.

Tsk.

9 komentar:

  1. Seru akutu bacanyaaaa, lagi lagi lagiiiiiiiii..... ditunggu post selanjutnya, unch

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tidak bisaaa. Nunggu debat selanjutnya. Atau kamu minta mereka debat lagi sana biar Besok Siang ada bahan tulisan.

      Hapus
  2. "Tidak membayar kok iyik mau mengatur-ngatur pandangan politik penulis."

    Wakakkkk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak membayar kok memaksa netral

      Hapus
  3. Wkkw jadi kocak debatnya.

    Tapi yang saya tangkap dari solusi Prabowo, semakin banyak korupsi, semakin sering naik gaji uuuwh enaaa

    BalasHapus
  4. Ooh jadi mb Arum tuh preloved foundie gegara modus dari pak prabs to? Ndak ilok niku, korupsi nepostisme niku, nanti saya naikin gaji para blogger lho!!

    BalasHapus
  5. Ayu Dea1/22/2019

    "Grujukin foundation juga nih"

    Ya Tuhan.. Kau bikin dari apa otak penulis ini bisa koclak gitu??

    Ampuuuuuuunn Tuhan.. mohon ampun.. jangan biarkan otaknya bener lagi Tuhan.. saya "butuh" dia bwt berceloteh disini.. ahhahahaa...

    BalasHapus