Otak Mana Otak?

Sumber: www.kepogaul.com

Halooooo..
Wah, bingung sekali membuat sebuah kalimat pembuka setelah sekian lama tidak menulis di Besok Siang. Sungguh, memikirkan kalimat pembuka menggunakan otak besar yang mengecil dan otak kecil yang menghilang sungguh lah silit, eh sulit. Bisa-bisanya penulis kawakan macam Dek Mon ini typo "sulit" menjadi "silit". Padahal salah satu resolusi saya di tahun 2020 kelak adalah tidak lagi misuh. Sepertinya akan susah. Typo saja jadi misuh. Silit.

Tapi ada yang lebih silit.

Udah mau ganti tahun, tapi DEK MON MASIH JOMBLO AJA.

Silit.

Eh, btw kalau kebanyakan nulis kata "silit" nanti Besok Siang bakal di-ninuninu tidak? Berdoa saja tidak di-ninuninu ya. Itupun kalau kalian berdoa sih.

Selama Besok Siang vakum, banyak banget yang nanyain, "KOK BESOK SIANG NGGAK ADA TULISAN BARU?" Padahal Arum itu sudah pernah menulis tentang penyebab Besok Siang vakum loh. Masih saja bertanya. Apa kalian tidak membaca tulisannya Arum? Tapi tidak dibaca juga tidak apa sih. Baca tulisannya Dek Mon saja, awokwokwok.

Menjelang akhir tahun, seperti biasa Dek Mon disibukkan dengan pekerjaan. Bahkan ada kalanya saya dinas ke luar kota setiap minggu. Di rumah hanya di kala weekend. Eh tapi saya bekerja keras bukan karena saya miskin. Saya memang anaknya raqus, jadi walaupun duit sudah banyak tetap saja rasanya kurang terus.

Salah satu kota yang saya kunjungi akhir-akhir ini adalah Manado. Kota yang membuat saya semangat untuk dinas karena kulinernya banyak sekali dan enak! Banyak ikan dan juga... BABI. Saya nggak tahu ya babi di Manado itu dikasih makan apa, tapi kok rasa dagingnya lebih enak dari babi di Jawa. Apa mungkin babinya dikasih makan babi juga ya? Jadi babi kuadrat, enaknya kuadrat. Semacam burger yang double cheese.

Nah, di Manado itu ada satu masakan babi namanya ragey, semacam sate babi yang dibumbui dengan jeruk dan garam. Nek ra salah loh ya, nek salah ya mo'on dimaafkan. Dek Mon kan memang selalu salah. Pertama kali saya makan ragey adalah di rumah makan di kawasan Mega Mas, pinggir pantai persis. Biasanya kan kalau di pinggir pantai kan makan ikan ya. Tapi ini makan babi, awokwokwok.

Di bagian menu tertulis: Ragey 1/2 dan Ragey 1. Saya pikir itu maksudnya adalah banyaknya porsi ya. Yang "1/2" mungkin maksudnya dari 10 tusuk jadi 5 tusuk. Karena saya adalah orang yang raqus dalam segala hal, saya pesan Ragey 1.

Karena waktu itu sepi, pesanan saya pun cepat datang. Begitu pesanan saya datang, saya langsung tahu arti dari "Ragey 1", artinya adalah RAGEY 1 METER. Sate babi yang datang panjangnya 1 meter! Anjing. Pantas saja nggak ada yang pesan ragey selain saya dan teman saya. Pada pesennya babi kecap, babi panggang, gitu-gitu.

Saya dan teman saya bertatap-tatapan dan ngakak bareng. Bingung ngabisin sate babi sepanjang 1 meter dan berharap setelahnya kami tidak berubah menjadi siluman babi.

"Cinta. Deritanya memang tiada akhir."

Kalau dipikir-pikir, setiap kali dinas ke Manado itu ada saja kejadian yang anu. Ingat gempa Manado yang terjadi bulan November 2019 tidak? Tidak ingat juga tidak apa. Saya tetap akan cerita, saya tidak peduli dengan kalian. Nah saat gempa itu saya lagi di Manado. Waktu itu saya menginap di hotel-yang-saya-lupa-namanya-karena-namanya-uangel-banget. Saya dapat kamar di lantai 5 yang sebenarnya di lantai 4. Bingung tidak? Tidak usah dipikir. Wong kalian itu otak saja tidak punya.

Di suatu malam sekitar pukul 00.30 WITA, tiba-tiba saja saya terbangun karena mendengar teman saya bengok-bengok, "GEMPA, MBRO! GEMPA! GEMPA!"

Wah, saya langsung ((njenggirat)) ambil kacamata lalu menuju pintu keluar. Tapi saya langsung sadar, saya nggak bawa HP. Saya langsung mikir (tiba-tiba otak saya hadir), nanti kalau ada apa-apa dan saya tidak bawa HP, gimana saya bisa ngabari keluarga? Saya langsung, "EH BENTAR HAPEKU!"

Baru mau balik badan, gempanya malah makin gede. Teman saya langsung, "RASAH! METU SEK!" (Nggak usah! Keluar saja dulu!)

Ya sudah, saya langsung lari ke arah lift karena seingat saya memang tangga daruratnya ada di sebelah lift. Dan ternyata ingatan saya salah. Jebul yang di sebelah lift itu Staff Room. Tai.

Saya langsung teriak, "BALIK-BALIK! NGGAK ADA TANGGA DARURAT!"

Tahu tidak tangga daruratnya di mana?

DI SAMPING KAMAR SAYA.

Otak mana otak?

Waktu menuju tangga darurat kan saya melewati kamar lagi ya. Kebetulan pas lewat kamar, gempanya sudah agak reda. Saya langsung masuk buat ambil HP. Teman saya teriak dari luar kamar, "Jaketku tulung, jaketku!" Lalu saya pun juga reflek ambil jaket saya.

Akhirnya kami berhasil turun ke lobby melalui tangga darurat. Dan saya baru sadar kalau saya ra kathokan dan ra kutangan, cuma pakai kaos molor yang saking molornya jadi panjang sepaha. Tapi nek lungguh dadi ketok bokonge sithik. Untung di lobby ada bantal kursi yang bisa saya gunakan untuk menutup aurot saya dan untung juga tadi sempat ambil jaket.

Setelah menunggu sekitar 1 jam di lobby hotel dan sudah mulai kondusif, saya dan tamu hotel yang lainnya kembali ke kamar. Karena setelah ada gempa besar biasanya ada gempa susulan, sesampainya di kamar, saya masukkan barang-barang penting saya ke backpack agar jika terjadi gempa lagi, saya bisa langsung njranthal. Saya juga tidur menggunakan jam tangan dan jaket. Prepare banget lah pokoknya! Sampai saya bangga dengan diri saya yang sungguh visioner.

Tapi saya baru sadar. Saya tetap tidak kepikiran buat kathokan.

Wow.

Otak mana otak?

9 komentar:

  1. First time baca besok siang dan saya ngakak sampe nangis..

    Dasar silit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa silit, kamu tidak bisa hidup, kisanak. Kamu tidak bisa hidup tanpa Besok Siang. HAHAHAHA.

      Hapus
  2. Bhahahahahaa..
    Otakk..mana otakk...

    BalasHapus
  3. Bobok nggak pake katok itu emang anu sih soalnya, nyaman hahahaha

    BalasHapus
  4. hmmm akhirnya... ku rindu syekali
    wkwkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  5. Kathok itu apa??

    BalasHapus